Co-founder ID COMM, Asti Putri: Era Mobil Listrik, Sejauh Mana Indonesia Siap?

banner 468x60

Jakarta, VictoriousNews.com – Di balik berbagai keputusan penting di dunia bisnis, kebijakan publik, hingga strategi komunikasi, terdapat satu fondasi yang kerap tidak terlihat: riset. Proses ini menjadi landasan utama dalam menghasilkan kajian yang berkualitas karena mampu menjawab pertanyaan secara sistematis dan terukur.

Riset biasanya berawal dari rasa ingin tahu atau keraguan terhadap suatu fenomena. Dari situ, pertanyaan dirumuskan secara lebih terstruktur sebelum ditentukan metode yang paling tepat untuk mencari jawabannya.

Secara umum, riset menggunakan dua pendekatan utama. Metode kuantitatif digunakan untuk mengukur dan menguji fenomena melalui data angka serta analisis statistik. Sementara metode kualitatif berfungsi menggali persepsi, pengalaman, serta dinamika yang tidak selalu dapat diterjemahkan dalam angka. Dalam praktiknya, kedua pendekatan tersebut kerap dipadukan untuk menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Pemahaman mengenai proses riset ini disampaikan Asti Putri, Lead Research sekaligus Co-founder ID COMM, saat menjadi dosen tamu dalam sesi kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Serpong beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Asti membagikan pengalaman timnya saat melakukan riset bertajuk “Menuju Erat Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap?”
“Riset dimulai karena ada sesuatu yang belum pasti. Ada hal yang perlu dicek dengan data, bukan sekadar asumsi,” ujar Asti.
Menurutnya, riset tentang kendaraan listrik tidak hanya melihat tren penjualan semata, tetapi juga memetakan kesiapan berbagai sektor yang terlibat.

Pertama, kesiapan industri.
Peneliti menelaah apakah produsen kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia benar-benar membangun basis produksi di dalam negeri atau sekadar menjual produk. Selain itu, riset juga menyoroti kesiapan rantai pasok, termasuk produksi komponen kecil dan suku cadang.

Kedua, kebijakan pemerintah.
Regulasi menjadi faktor penting dalam menentukan arah industri. Peneliti menilai apakah kebijakan dari hulu hingga hilir sudah sinkron, apakah tersedia insentif yang memadai, serta sejauh mana regulasi mampu mendorong investasi dan pertumbuhan industri kendaraan listrik.

Ketiga, aspek konsumen.
Perubahan teknologi kendaraan memicu perubahan perilaku pengguna. Jika dulu mobil dipenuhi berbagai tombol fisik dan menggunakan kunci konvensional, kini banyak fitur terintegrasi dalam satu layar digital. Tidak semua konsumen siap dengan perubahan tersebut. Ada yang tertarik membeli, tetapi belum tentu siap beradaptasi dengan teknologi baru.

Keempat, kesiapan infrastruktur.
Penelitian juga menyoroti fasilitas pendukung seperti home charging serta ketersediaan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di pusat perbelanjaan maupun perkantoran. Aspek kemudahan penggunaan hingga sistem pembayaran juga menjadi perhatian dalam menilai kesiapan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, tim peneliti menggunakan sejumlah metode riset, antara lain literature review untuk menelaah regulasi dan kebijakan, in-depth interview dengan pelaku industri, konsumen, media, dan komunitas, serta Focus Group Discussion (FGD) guna melihat dinamika persepsi antar pemangku kepentingan.
Selain itu, peneliti juga melakukan observasi lapangan dengan mengamati langsung perilaku pengguna di SPKLU, serta social listening untuk memantau percakapan publik mengenai kendaraan listrik di media sosial.

Asti menegaskan, riset tidak boleh dipandang sekadar sebagai kumpulan angka atau laporan tebal. Tantangan utamanya adalah bagaimana mengolah data agar menghasilkan insight yang relevan. “Tantangannya bukan hanya mengumpulkan data, tetapi membuat data itu ‘berbunyi’ dan memberikan pemahaman yang bermakna. Metode kuantitatif maupun kualitatif sama kuatnya dan sama-sama powerful,” jelasnya.
Pada akhirnya, riset bertujuan membantu pengambil keputusan melihat realitas secara lebih jernih. Informasi yang dianalisis dengan baik dapat berubah menjadi data yang bernilai. Sebab dalam setiap kebijakan atau strategi yang tepat, selalu ada satu hal yang menjadi penopangnya: pemahaman berbasis bukti. *ID COMM/SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60