Surabaya,VictoriousNews.com — Tak pernah terlintas dalam benak Ps. Roman Stefano untuk mendirikan gereja. Ia pergi ke Surabaya sebagai seorang pendatang, tanpa jejaring, tanpa jemaat, bahkan tanpa rencana besar. Namun justru di kota Pahlawan inilah, Tuhan menenun kisah yang tak disangka—sebuah perjalanan iman yang bertumbuh pelan, dari ruang doa sederhana di rumah kontrakan hingga berdirinya sebuah gereja yang kini mengakar dan memberi dampak nyata.
Gembala Gereja Bethel Injili Nusantara Jemaat Golden City Church (GBIN GCC) yang berlokasi di Marvel City Mal, Jalan Ngagel No.123- Surabaya itu, mengaku, mengawali pelayanannya bukan di altar gereja, melainkan di tengah percakapan-percakapan sederhana bersama mereka yang bahkan berbeda iman. Dari hati ke hati, dari doa ke doa, perubahan terjadi. Jiwa-jiwa disentuh. Beberapa diantara mereka yang dilayani, memutuskan percaya kepada Kristus.
Namun ketika 18 orang menyatakan siap dibaptis, persoalan baru muncul. Ia mendatangi sejumlah gereja di Surabaya, berharap meminjam tempat serta dukungan legalitas untuk pelaksanaan baptisan. Jawaban yang diterima beragam—sebagian menolak. Bukan karena kebencian, melainkan karena batasan doktrin dan kebijakan internal yang hanya melayani jemaat sendiri.
“Kalau saya baptis sendiri bisa saja. Tapi saya tak mau melangkah tanpa legalitas. Sakramen bukan perkara pribadi, ini menyangkut masa depan jiwa-jiwa,” tutur Ps. Roman, yang kini juga menjabat sebagai Ketua Badan Pekerja Daerah (BPD) GBIN Jawa Timur, seusai ibadah Minggu (1/3/2026).
Melihat kondisi tersebut, Ps Roman Stefano memilih satu hal yang paling ia mengerti: berdoa. Dari doa itulah lahir langkah kecil—memulai persekutuan doa di rumahnya pada 2023. Tanpa ambisi besar. Tanpa target megah. Hanya kerinduan agar jiwa-jiwa yang telah disentuh tidak terlantar.
Tak disangka, persekutuan kecil itu bertumbuh.
Tepat pada 3 Maret 2024, setelah setahun berjalan, persekutuan itu resmi bertransformasi menjadi gereja. Nama yang dipilih sarat makna: Golden City.
“Golden itu emas. Bicara kemurnian. Nilainya tidak pernah jatuh. Begitu pula Indonesia, juga mempunyai visi menuju Indonesia Emas, maka gereja ini harus menopang bangsa—bukan hanya hari ini, tetapi masa depan,” ujarnya.
Nama itu kini dikenal sebagai Golden City Church—gereja yang lahir bukan dari strategi ekspansi, melainkan dari pergumulan doa.
Mencari Sinode, Menemukan Kesederhanaan
Langkah berikutnya adalah menentukan naungan sinode. Di tengah banyaknya pilihan, prinsipnya sederhana: sinode harus menopang pelayanan, bukan sebaliknya.
Doanya pun spesifik—gereja ini harus ditahbiskan pada tanggal yang memiliki makna rohani bagi jemaat. Dari berbagai referensi, hanya satu sinode yang sanggup memenuhi waktu tersebut, yakni Gereja Bethel Injil Nusantara (GBIN).
Ia mengaku saat bertemu dengan Ketua Umum Sinode, Pdt. Dr. Melianus Kakiay, berlangsung tanpa protokoler bertele-tele. “Yang penting gereja jalan dan jiwa dilayani,” demikian prinsip yang disampaikan.
Gereja itu pun ditahbiskan. Dua tahun berselang, kepengurusan BPD Jawa Timur terbentuk. Di Surabaya berdiri satu gereja, di Blitar tiga, dan satu di Malang—sebuah jejaring yang lahir dari kesederhanaan dan kesetiaan.
Bertumbuh Tanpa Merekrut
Yang unik, sekitar 90 persen jemaat Golden City Church adalah orang-orang baru. Ps. Roman memiliki prinsip tegas: tidak memindahkan jemaat dari gereja lain.
“Saya tidak pernah ajak orang pindah. Tugas kita bersaksi. Soal jiwa datang, itu bagian Tuhan.”
Dalam dua tahun, jumlah jemaat dewasa dan anak mencapai lebih dari 80 orang. Ibadah umum digelar setiap Minggu, dilanjutkan ibadah youth. Hari Selasa diisi konseling, Rabu doa pagi, Jumat malam intimate worship. Pelayanan diakonia pun rutin dilakukan—membagikan sembako dan bantuan kepada warga sekitar. “Gereja harus jadi solusi. Bukan hanya bicara rohani, tapi hadir secara nyata,” ungkapnya.

Mujizat Terjadi di Angka “Nol Rupiah”
Salah satu kesaksian paling mencengangkan terjadi saat renovasi gedung gereja. Rekening kosong—nol rupiah. Namun pekerjaan tetap berjalan. Material datang. Tukang bekerja.
Renovasi rampung Minggu pagi pukul 06.00. Empat jam kemudian, pukul 10.00, ibadah pertama digelar.
“Saya dan pengerja hanya saling pandang. Ini dari mana semua? Tapi ketika Tuhan memerintahkan, Dia juga yang menyediakan. Jujur saja, mendapatkan tempat di Mal Marvel city ini juga atas pertolongan Tuhan. Sebenarnya, saya ingin sewa tempat yang murah, tapi Tuhan arahkan kesini. Puji Tuhan, mujizat terjadi, ” ujar pria kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 15 Februari.
Ia mengibaratkan, pelayanannya dalam merintis gereja itu seperti kisah Maria & Yusuf—ketika Tuhan memulai rencana, Dia juga menggerakkan “orang-orang majus” untuk melengkapi.
Jejak Doa Sejak Kanak-Kanak
Pelayanan bukan hal baru baginya. Sejak usia enam tahun, ia telah melayani sebagai pendoa cilik. Masa SMA membawanya ke Jakarta menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas, lalu terlibat dalam berbagai jaringan doa nasional, termasuk Transform World Connection Indonesia (TCI) bersama Pdt. Iman Santoso.
Semua pengalaman itu menjadi bekal sebelum akhirnya ia merasa “dirilis Tuhan” ke Surabaya—kota yang ia sebut sebagai pusat pertumbuhan persekutuan doa dan gereja.
Bersama istrinya, Cintia—yang juga berasal dari Palu—kini dikaruniai delapan anak. Dua tinggal di Jakarta dan enam di Surabaya. Seluruh keluarganya terlibat aktif dalam pelayanan.
Gereja Bukan Panggung Hiburan

Di akhir perbincangan, Ps Roman menegaskan bahwa gereja bukan panggung hiburan.
“Saya mau ketika pintu gereja dibuka, yang orang lihat adalah mezbah. Karena setiap mezbah ada korban. Tanpa korban, tak ada api. Golden City Church menekankan mentoring dan pemuridan intensif. Ibadah tengah minggu difokuskan membangun karakter, bukan sekadar menjalankan program,” pungkasnya. SM


















