BEKASI,VictoriousNews.com— Pelayanan gereja tidak hanya membutuhkan hati yang tulus, tetapi juga pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang terus diperbarui. Kesadaran inilah yang mendorong Institut Andar-Sutan (IAS) Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) menggelar pembinaan dan pembekalan bagi para Penatua, Pengurus Harian Resort (PHR), dan Pengurus Harian Jemaat (PHJ) GKPI se-Wilayah XI Jawa-Bali.
Kegiatan yang berlangsung di GKPI Jemaat Bekasi sebagai tuan rumah, Selasa, 25 Agustus 2026, itu mengangkat tema “Melayani Dengan Sepenuh Hati”, yang berlandaskan Kolose 3:23.
Sebanyak 300 peserta dari jemaat-jemaat GKPI di wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan Banten mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias. Sejak pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB, peserta mendapat pembekalan mengenai berbagai aspek penting dalam pelayanan gereja, mulai dari kehidupan penatua, tata gereja, pengelolaan keuangan, Renstra GKPI, hingga agenda liturgi.

Kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan dan pengantar dari Ketua Pengurus IAS, Pnt. Dr. Sahat HMT Sinaga.
Dalam pengantarnya, Sahat menekankan pentingnya penyegaran dan peningkatan kapasitas para pelayan GKPI. Menurutnya, terdapat sekitar 8.000 penatua GKPI di seluruh Indonesia yang membutuhkan pembekalan secara berkelanjutan agar semakin memahami tugas dan tanggung jawab pelayanan.
Pembekalan tersebut mencakup pemahaman tentang pelayanan ibadah, agenda liturgi, tata aturan organisasi, pengelolaan keuangan, hingga Renstra GKPI.
“Penatua bukan sekadar pelengkap dalam struktur organisasi gereja. Mereka merupakan bagian penting yang bersentuhan langsung dengan kehidupan jemaat,” menjadi semangat yang mewarnai kegiatan pembinaan tersebut.
Pada sesi pertama, peserta diajak mendalami tema “Penatua Dalam Alkitab” yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Humala Lumban Tobing, Bishop GKPI.
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa penatua merupakan ujung tombak atau garda terdepan pelayanan di tengah-tengah jemaat. Karena itu, seorang penatua dituntut bukan hanya memahami tugas organisasi, tetapi juga memiliki kedewasaan iman dan hati seorang pelayan.
Sesi kedua membahas “Pengaturan Pelayan Gereja dalam Tata Gereja (TG) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT) GKPI”. Materi ini difasilitasi Pnt. Dr. Sahat HMT Sinaga.
Pemahaman terhadap Tata Gereja dan PRT dinilai penting agar para penatua maupun pengurus mampu menjalankan pelayanan dan roda organisasi sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan GKPI.
Selanjutnya, peserta mendapatkan materi “Renstra GKPI dan Pengelolaan Keuangan” yang disampaikan Prof. Dr. Dearlina Sinaga, Pengurus IAS.
Materi ini memberikan perhatian pada pentingnya pengelolaan keuangan yang tertib, transparan, dan bertanggung jawab, sekaligus memastikan program pelayanan gereja berjalan searah dengan rencana strategis GKPI.
Sementara itu, sesi keempat mengangkat tema “Agenda Liturgi” dengan fasilitator Pdt. Dr. Anwar Tjen, Ketua Komisi Teologi GKPI.
Berbagai materi tersebut membuat pembinaan tidak berhenti pada teori, tetapi diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata para pelayan ketika menjalankan tugas di tengah jemaat.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Tidak hanya menyimak materi, peserta juga aktif menyampaikan pertanyaan, tanggapan, dan pandangan secara kritis serta konstruktif.
Diskusi yang berlangsung menjadi ruang bagi para penatua dan pengurus untuk bertukar pengalaman sekaligus memperkaya pemahaman mengenai dinamika pelayanan GKPI di berbagai jemaat.
Setelah mengikuti seluruh rangkaian pembinaan, peserta menerima sertifikat sebagai tanda telah mengikuti kegiatan pembekalan yang diselenggarakan IAS.
Bagi IAS, kegiatan di Wilayah XI Jawa-Bali bukanlah akhir dari rangkaian pembinaan. Ketua Pengurus IAS, Pnt. Dr. Sahat HMT Sinaga, menyampaikan bahwa program serupa akan dilanjutkan ke 11 wilayah pelayanan GKPI lainnya. Wilayah tersebut mencakup sejumlah daerah di Kalimantan, Kepulauan Riau, dan Pulau Sumatera. *SS/SM













