JAKARTA,VictoriousNews.com—Di tengah hidup yang bergerak semakin cepat, ada banyak orang yang diam-diam sedang lelah. Senyum masih mengembang, pekerjaan tetap dijalankan, pelayanan terus dilakukan, tetapi di dalam hati ada pergumulan yang tak selalu sanggup diceritakan kepada siapa pun.
Ada doa yang belum terjawab. Ada luka yang belum sembuh. Ada impian yang belum menjadi kenyataan. Bahkan, ada sebagian orang yang mungkin sedang bertahan, meski dalam hati sebenarnya ingin menyerah.
Di tengah situasi itulah Kebaktian Tengah Minggu (KTM) GBI Maple Park kembali hadir membawa satu pesan sederhana, tetapi sangat dalam: jangan kehilangan pengharapan, sebab Tuhan yang berjanji adalah Tuhan yang setia.
KTM yang digelar rutin setiap Kamis malam di GBI Maple Park, di bawah penggembalaan Ps. Ferry Iskandar, berlangsung di Apartemen Maple Park Lantai Dasar, Jalan HBR Motik No. 218, Sunter Agung, Jakarta Utara. Pada Kamis, 3 September 2026, pelayanan firman disampaikan Ps. Irwan Setiawan dengan mengangkat tema “Pengharapan Akan Janji Tuhan”, berlandaskan Ibrani 10:23:
“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia.”
Ayat tersebut menjadi fondasi utama pesan Ps. Irwan: pengharapan orang percaya tidak dibangun di atas keadaan, melainkan di atas kesetiaan Tuhan.
Ketika Kesetiaan Menjadi Barang Langka
Ps. Irwan mengawali pesannya dengan realitas kehidupan yang semakin sering disaksikan: kesetiaan manusia mudah berubah.
Perselingkuhan, perceraian, perubahan komitmen hingga menurunnya kesetiaan dalam kehidupan pelayanan menjadi gambaran bahwa manusia bisa berubah sewaktu-waktu.
Bahkan, menurutnya, fenomena itu tidak hanya terjadi di tengah masyarakat sekuler. Gereja pun tidak sepenuhnya kebal.
Bangku-bangku gereja mulai kosong. Jadwal pelayanan berubah. Komitmen yang dahulu begitu kuat perlahan memudar.
Namun, di tengah manusia yang bisa berubah, ada satu pribadi yang tidak berubah: Tuhan tetap setia.
“Walaupun hari-hari ini kita diperhadapkan dengan keadaan di mana degradasi kesetiaan itu terjadi, kita diingatkan bahwa Allah kita adalah pribadi yang setia,” tegas Ps. Irwan.
Pesan itu menjadi penting karena kehidupan orang percaya tidak selalu berjalan mulus.
Ada masa ketika seseorang sudah berdoa sehari, seminggu, sebulan, bahkan bertahun-tahun, tetapi jawaban yang dinantikan belum juga datang.
Ada masa ketika seseorang bertanya dalam hati, “Tuhan, sampai kapan?”
Namun justru di titik seperti itulah pengharapan diuji. Ketika keadaan tidak berubah, apakah kita masih percaya bahwa Tuhan tetap setia?
Tiga Alasan Mengapa Kita Tetap Berharap
Dari pesan yang disampaikan Ps. Irwan, setidaknya ada tiga alasan mengapa orang percaya tetap memiliki pengharapan pada janji Tuhan.
Pertama, karena Tuhan yang berjanji adalah Tuhan yang setia.
Dasar pengharapan kita bukanlah kemampuan manusia, bukan keadaan yang sedang baik, dan bukan pula kepastian bahwa semua masalah akan segera selesai. Dasarnya adalah pribadi Tuhan sendiri.
Manusia dapat berubah. Situasi dapat berubah. Bahkan perasaan kita pun dapat berubah. Tetapi kesetiaan Tuhan tidak bergantung pada perubahan tersebut.
Karena itu, ketika doa belum terjawab dan jalan hidup belum sesuai dengan yang diharapkan, orang percaya tetap mempunyai alasan untuk berkata: Tuhan belum selesai bekerja.
Kedua, pengharapan kepada janji Tuhan memberikan kekuatan untuk melewati setiap fase kehidupan.
Ps. Irwan mengingatkan jemaat melalui Filipi 4:13 bahwa orang percaya dimampukan menghadapi segala perkara di dalam Kristus yang memberikan kekuatan.
Pengharapan tidak selalu berarti Tuhan langsung mengangkat seseorang keluar dari masalah. Terkadang Tuhan justru memberikan kekuatan agar seseorang mampu melewati masalah tersebut.
Ada fase menunggu. Ada fase menangis. Ada fase berjuang. Ada fase kehilangan. Ada pula fase ketika seseorang harus berjalan dalam keadaan yang belum dimengerti. Tetapi dalam setiap fase itu, Tuhan tetap hadir.
Ketiga, pengharapan kepada janji Tuhan mengarahkan kita untuk tetap hidup benar.
Pengharapan yang benar tidak membuat seseorang hidup sembarangan. Sebaliknya, karena percaya bahwa Tuhan setia dan memiliki rencana atas hidupnya, orang percaya dipanggil untuk tetap berjalan dalam kehendak Tuhan.
Ketika dunia mengajarkan untuk menyerah, pengharapan mengajarkan untuk bertahan.
Ketika keadaan mendorong seseorang mengambil jalan pintas, pengharapan mengajarkan untuk tetap percaya.
Dan ketika manusia tergoda membalas kejahatan dengan kejahatan, pengharapan mengingatkan bahwa Tuhan tetap memegang kendali.
Dengan demikian, pengharapan bukan sekadar menunggu sesuatu terjadi. Pengharapan adalah cara seseorang menjalani hidup sambil tetap percaya kepada Tuhan.
Teknologi Bisa Mendengar, Tetapi Tuhan Mengenal Hati
Dalam khotbahnya, Ps. Irwan juga menyentuh fenomena kehidupan modern yang semakin dekat dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, manusia hari ini bahkan bisa menjadikan teknologi sebagai teman untuk bercerita dan mencurahkan isi hati.

ChatGPT, misalnya, dapat menjawab pertanyaan, mendengarkan curhat dan memberikan respons yang terasa memahami.
Namun, menurut Ps. Irwan, secanggih apa pun teknologi, tetap ada pribadi yang jauh lebih mengenal manusia daripada teknologi mana pun: Yesus Kristus.
Teknologi mungkin dapat merespons cerita manusia. Tetapi Tuhan bukan sekadar mendengar cerita. Tuhan mengenal manusia sampai ke kedalaman hati.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, pertanyaan yang patut direnungkan bukan hanya, “Kepada siapa saya bisa bercerita?” Melainkan, “Mengapa saya tidak datang kepada Yesus?”
Petrus: Pernah Jatuh, Tetapi Tidak Ditinggalkan
Untuk menjelaskan kesetiaan Tuhan, Ps. Irwan mengajak jemaat melihat kembali kisah Petrus.
Yesus sudah mengetahui bahwa Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Namun peristiwa itu tetap terjadi.
Petrus menyangkal Yesus. Tiga kali.
Ketika ayam berkokok, Petrus menyadari bahwa perkataan Yesus benar. Ia menangis dan menyesal.
Namun kisah Petrus tidak berhenti pada kegagalannya. Setelah kebangkitan, Yesus justru datang menemui Petrus. Tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali pula Yesus bertanya apakah Petrus mengasihi-Nya.
Bagi Ps. Irwan, itu bukan kebetulan. Yesus sedang memulihkan Petrus.
Pengakuan kasih Petrus menjadi jawaban atas tiga kali penyangkalannya. Pesannya jelas: kegagalan manusia tidak pernah lebih besar daripada kesetiaan Tuhan. “Kadang-kadang kita seperti Petrus. Kita tahu sudah salah jalan. Karena merasa tidak layak dan berdosa, kita justru tidak kembali kepada Tuhan,” ungkapnya.
Padahal, Tuhan tidak meninggalkan orang yang jatuh. Tuhan memulihkan.
Kesetiaan Tuhan yang Ditempa dalam Perjalanan Panjang
Di titik inilah khotbah Ps. Irwan berubah menjadi kesaksian pribadi yang menyentuh.
Ia tidak berbicara tentang kesetiaan Tuhan hanya sebagai teori. Ia mengaku pernah melewati masa-masa kehidupan yang sangat berat.
Ia bercerita, pada masa mudanya, ia pernah tinggal di kawasan sekitar Cempaka Mas, Jakarta, bahkan pernah mengalami masa hidup di bawah kolong jembatan tol pada era 1980-an.
Ia bersekolah di Don Bosco dengan beasiswa. Secara ekonomi keluarganya tidak berlebihan, tetapi ia merasa Tuhan memberikan kemampuan untuk terus bersekolah.
Setelah lulus SMA, hidupnya belum langsung menemukan jalan terang.
Ia bahkan pernah diutus ke Malang untuk melayani tanpa dibekali banyak hal.
Di asrama, ia melihat teman-temannya mendapatkan kiriman makanan dan sembako dari keluarga. Sementara paket yang datang tidak pernah mencantumkan namanya.
Ia mengalami sendiri bagaimana rasanya kekurangan. Berat badannya saat itu hanya sekitar 40 kilogram.
“Jangan pikir jadi pendeta itu enak,” tuturnya, mengenang perjalanan panjang tersebut.
Namun justru dari titik-titik sulit itulah ia belajar satu hal: Tuhan tetap setia.
Ia juga pernah melayani masyarakat marginal di Semarang.
Salah satu pengalaman yang tidak pernah dilupakannya adalah ketika seorang yang pernah ia layani meninggal dunia di sebuah got. Tidak ada keluarga yang mendampingi. Tidak ada identitas yang jelas.
Ps. Irwan kemudian mengangkat dan membawa jenazah tersebut ke rumah sakit hingga rumah duka.
Ia bahkan membantu merawat tubuh orang tersebut agar dapat dibaringkan dengan layak.
Kenangan itu, menurutnya, menjadi salah satu pengalaman yang memperlihatkan bahwa pelayanan bukan selalu tentang panggung, sorotan, atau tepuk tangan.
Kadang pelayanan berarti mengangkat seseorang yang sudah tidak berdaya.
Kadang pelayanan berarti tetap bertahan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Dan di balik semua itu, ia melihat tangan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan.
Kalung Celurit dan Pilihan untuk Bertahan
Pengalaman berat lainnya terjadi ketika Ps. Irwan melayani di Lampung.
Saat itu usianya baru sekitar 19 tahun.
Ia menerima ancaman keras. Bahkan sebuah kalung celurit diberikan kepadanya sebagai peringatan: berhenti memberitakan Injil atau menghadapi risiko kematian.
Dalam situasi seperti itu, manusia tentu bisa memilih mundur.
Namun Ps. Irwan memilih bertahan. Bukan karena dirinya hebat. Bukan karena tidak takut.
Tetapi karena ia percaya kepada pribadi yang berjanji. Tuhan yang berjanji adalah Tuhan yang setia.
Perjalanan pelayanan itu terus berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian.
Pada 2019, seorang hamba Tuhan memberikan surat kepadanya untuk menjadi seorang gembala.

Ia mengaku sempat menangis. Bukan karena bangga. Justru karena ia sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta. Namun kembali ia belajar tentang satu hal: ketika Tuhan memanggil, Tuhan juga yang memampukan.
Pandemi dan Mujizat yang Tidak Terduga
Ujian berikutnya datang ketika pandemi COVID-19 melanda.
Ps. Irwan baru menjalani pelayanan sebagai gembala ketika pandemi datang.
Secara manusia, gereja bisa saja berhenti. Ibadah terganggu. Persembahan menurun. Aktivitas gereja terhenti. Namun yang terjadi justru di luar perkiraan. Di tengah kondisi ketika ibadah tidak berlangsung seperti biasanya, gereja tetap memiliki kemampuan untuk membantu keluarga-keluarga jemaat dengan sembako dan obat-obatan.
Di situlah Ps. Irwan kembali melihat bahwa cara Tuhan bekerja sering kali melampaui logika manusia.
Ketika manusia melihat jalan buntu, Tuhan masih memiliki jalan.
Pengharapan Bukan Optimisme Kosong
Ps. Irwan menegaskan bahwa pengharapan Kristen bukan sekadar optimisme. Pengharapan bukan kalimat, “Semoga semuanya baik-baik saja.”
Pengharapan juga bukan sekadar positive thinking. Pengharapan adalah keyakinan teguh karena percaya kepada Allah yang setia. Karena itu, pengharapan tidak bergantung pada keadaan. Situasi boleh buruk. Ekonomi boleh sulit. Doa belum terjawab. Luka belum sembuh. Impian belum terwujud.
Tetapi semuanya itu tidak boleh menjadi dasar untuk menentukan apakah Tuhan setia atau tidak. “Pengharapan kita sebagai orang percaya bukan berdasarkan situasi. Pengharapan kita berdasarkan kesetiaan Tuhan sebagai pribadi yang berjanji,” tegasnya.
Tuhan Tidak Selalu Menghilangkan Masalah
Pesan lainnya yang ditekankan Ps. Irwan adalah bahwa pengharapan tidak selalu berarti Tuhan langsung menghapus masalah.
Pengharapan justru memberikan kekuatan untuk melewati masalah.
Ia mengutip Filipi 4:13 tentang kemampuan untuk menanggung segala perkara di dalam Dia yang memberikan kekuatan.
Dengan demikian, orang percaya tidak dijanjikan kehidupan tanpa masalah. Tetapi orang percaya dijanjikan penyertaan Tuhan.
Yesus berjanji menyertai umat-Nya senantiasa sampai akhir zaman.
Karena itu, ketika hidup sedang berada dalam fase sulit, orang percaya tetap dapat berkata:
“Tuhan Yesus baik dalam segala hal.”
Bukan karena semua keadaan baik.
Tetapi karena Tuhan tetap baik.
Jangan Letakkan Harapan pada Manusia
Ps. Irwan juga mengingatkan jemaat agar tidak salah menempatkan pengharapan. Manusia bisa berjanji, tetapi manusia juga bisa berubah. Janji manusia dapat gagal. Sebaliknya, janji Tuhan tidak pernah gagal. Ia mengibaratkan hal itu seperti seseorang ketika berbelanja secara daring. Orang biasanya melihat harga, rating, jumlah bintang dan reputasi penjual sebelum percaya. Artinya, bukan semata-mata seberapa besar janji yang diberikan.
Yang jauh lebih penting adalah siapa yang memberikan janji itu.
Demikian pula dengan Tuhan.
Bukan seberapa besar masalah yang sedang dihadapi. Bukan seberapa lama doa belum terjawab. Pertanyaannya adalah: Kepada siapa kita menaruh pengharapan?
Delapan Bulan 2026 Sudah Terlewati
Memasuki September 2026, Ps. Irwan mengajak jemaat melihat kembali perjalanan delapan bulan yang telah dilalui. Tidak semuanya mudah.
Mungkin ada air mata. Ada jalan buntu. Ada kegagalan. Ada keinginan untuk berhenti.
Namun faktanya, jemaat masih berdiri hingga hari ini. Masih bernapas. Masih beribadah. Masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Pertanyaannya kemudian: siapa yang membuat kita mampu bertahan?jawabannya bukan semata-mata kekuatan manusia. Melainkan karena Tuhan tetap setia.
Ps. Irwan kemudian mengingatkan jemaat melalui istilah Eben-Haezer, yang menggambarkan pertolongan Tuhan hingga saat ini.
Namun ia menekankan bahwa pertolongan Tuhan bukan hanya berhenti pada hari ini.
Tuhan yang menolong kemarin adalah Tuhan yang tetap menolong hari ini dan seterusnya.
Ketika Salah Jalan, Tuhan Bisa “Reroute”
Pada bagian akhir khotbah, Ps. Irwan menggunakan ilustrasi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: Google Maps.
Ketika seseorang salah mengambil jalan, aplikasi navigasi tidak serta-merta mengatakan perjalanan selesai. Ia menghitung kembali rute. Reroute. Demikian pula Tuhan.
Ketika manusia salah jalan, jatuh dalam dosa, gagal mengambil keputusan atau menjauh dari kehendak-Nya, Tuhan masih mampu mengarahkan kembali kepada jalan yang benar.
“Waktu kita salah jalan, Dia bisa reroute hidup kita masuk dalam rencana-Nya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak jemaat meninggalkan berbagai beban yang selama ini menghambat langkah: rasa bersalah, kepahitan, luka, kesombongan, kegagalan dan masa lalu yang terus menghantui. Semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berharap.
Sebab selama Tuhan masih memberikan kesempatan, cerita hidup belum selesai.
Dan selama Tuhan yang memegang janji, masih ada alasan untuk terus berjalan, terus percaya, terus hidup benar, dan terus berharap.
Tuhan yang setia kemarin adalah Tuhan yang sama hari ini dan akan tetap setia sampai selama-lamanya.

Ibadah kemudian ditutup dalam suasana penuh syukur dengan doa berkat yang dipimpin oleh Ps. Ferry Iskandar, gembala GBI Maple Park, sebagai peneguhan bagi jemaat untuk terus membawa pengharapan kepada janji Tuhan dalam menjalani setiap pergumulan dan fase kehidupan. SM














