JAKARTA,VictoriousNews.com— Ketika persoalan datang silih berganti dan jalan keluar seolah tertutup, iman kepada Tuhan menjadi kekuatan untuk tetap bertahan dan melangkah. Namun, percaya kepada Tuhan bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan penyerahan diri secara total, bahkan ketika jawaban atas doa belum terlihat.

Pesan itulah yang disampaikan Dr. Jhon Panggabean, SH, MH, saat lberkhotbah di Gereja Pentakosta Kristus (Gepenkris), Jalan Bungur Buntu No. 597, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Minggu (18/10/2026). Advokat senior yang juga seorang evangelis tersebut mengangkat tema “Percaya Penuh kepada Tuhan”, berdasarkan Amsal 3:5-6.
Firman Tuhan dalam Amsal 3:5-6 mengingatkan orang percaya untuk mengandalkan Tuhan dengan segenap hati dan tidak bersandar pada pengertian sendiri. Dengan mengakui Tuhan dalam setiap langkah kehidupan, manusia diajak untuk memercayai tuntunan-Nya.
Menurut Jhon, kepercayaan kepada Tuhan harus tetap teguh, sekalipun seseorang menghadapi persoalan yang berat. Kesulitan bukan alasan untuk menyerah, melainkan kesempatan untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan memperteguh iman.
Enam Berkat bagi Orang yang Percaya Penuh kepada Tuhan
Dalam khotbahnya, Jhon menguraikan enam pokok firman Tuhan yang menjadi penguatan bagi orang percaya dalam menjalani kehidupan.
Pertama, jalan kehidupan diluruskan Tuhan (Amsal 3:5-6).
Orang percaya diajak mengandalkan Tuhan dengan segenap hati dan melibatkan-Nya dalam setiap langkah kehidupan. Ketika menghadapi kebuntuan, mereka perlu mencari tuntunan Tuhan, bukan hanya mengandalkan kemampuan dan pengertian sendiri.
Kedua, tidak dipermalukan karena berharap kepada-Nya (Roma 10:11).
Jhon mengingatkan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan memiliki dasar untuk tetap teguh dalam pengharapan. Karena itu, jemaat tidak perlu kehilangan iman ketika menghadapi tantangan, tekanan, ataupun keraguan dari orang lain.
Ketiga, Tuhan akan bertindak (Mazmur 37:5).
Menyerahkan persoalan kepada Tuhan bukan berarti berpangku tangan. Orang percaya tetap harus berdoa, berusaha, dan menjalankan tanggung jawabnya, sembari memercayakan proses dan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Keempat, tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Markus 9:23).
Ayat ini menjadi pengingat agar orang percaya tidak terburu-buru kehilangan harapan ketika menghadapi keadaan yang sulit. Keterbatasan manusia tidak membatasi kuasa Tuhan. Karena itu, iman harus disertai ketekunan dan kesediaan untuk terus melangkah.
Kelima, Diberi apa yang kita minta. Doa yang dipanjatkan dengan iman menjadi sumber pengharapan (Markus 11:24).
Jhon mengajak jemaat untuk tekun berdoa dan percaya kepada Tuhan. Jawaban doa tidak selalu datang sesuai dengan waktu atau keinginan manusia. Namun, orang percaya dipanggil untuk tetap setia, bersabar, dan menyerahkan kehendaknya kepada Tuhan.
Keenam, iman dinyatakan melalui tanda-tanda penyertaan Tuhan bagi orang percaya (Markus 16:17).
Mengacu pada ayat tersebut, Jhon menjelaskan bahwa kehidupan orang percaya ditandai oleh karya Tuhan yang menyertai mereka. Iman tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui kesetiaan, pelayanan, keberanian bersaksi, dan tindakan yang memuliakan nama Tuhan.
Tetap Setia di Tengah Pergumulan

Lebih lanjut, Jhon menegaskan bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak seharusnya bergantung pada keadaan. Bersyukur ketika menerima berkat merupakan hal yang wajar, tetapi iman yang teguh juga terlihat ketika seseorang tetap berharap di tengah kesulitan.
Menurutnya, masa sukar dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kehidupan, dan membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Karena itu, jemaat diingatkan agar tidak mudah menghakimi orang yang sedang mengalami penderitaan, melainkan hadir untuk memberikan dukungan, doa, dan penguatan.
Jhon juga membagikan pengalaman pribadinya tentang pergumulan dan pertolongan Tuhan sebagai kesaksian mengenai pentingnya memelihara iman. Pengalaman tersebut mengingatkan jemaat bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus, tetapi pengharapan kepada Tuhan dapat tetap terpelihara dalam berbagai keadaan.
Ia mengajak jemaat untuk tekun berdoa, membaca firman Tuhan, mengucap syukur, dan setia melayani sesuai dengan talenta serta tanggung jawab masing-masing.
Menurutnya, pelayanan tidak terbatas pada aktivitas di mimbar gereja. Setiap orang dapat melayani Tuhan melalui pekerjaan, keluarga, profesi, dan tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesama. Apa pun tanggung jawab yang dipercayakan, semuanya perlu dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan menjadi kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari.
Menutup khotbahnya, Jhon mengajak jemaat untuk tidak sekadar mendengar firman Tuhan, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Percaya penuh kepada Tuhan berarti tetap berpegang pada firman-Nya, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan tidak kehilangan pengharapan ketika menghadapi pergumulan.
Sebelum firman Tuhan disampaikan, juga diselingi dengan dua kesaksian jemaat yang mengungkapkan rasa syukur atas pertolongan dan kebaikan Tuhan dalam kehidupan mereka.
Rangkaian ibadah kemudian ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala GEPENKRIS Jakarta, Pdt. Dr. Solider Siringoringo. Dalam suasana penuh syukur, jemaat mengakhiri ibadah dengan pengharapan agar firman Tuhan yang telah disampaikan tidak berhenti sebagai pendengaran semata, tetapi bertumbuh menjadi iman yang teguh dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. SM














Comment