Dari GPIB Gibeon Jakarta Selatan, Gerakan Oikumene Bangkit: Kolaborasi Inklusif Menjawab Persoalan Bangsa

Semangat kolaborasi inklusif tidak sedang menyeragamkan gereja. Yang kita bangun adalah kesatuan fungsional, yaitu kemampuan untuk bekerja bersama menjawab persoalan-persoalan kebangsaan.

JAKARTA, VictoriousNews.com – Sekat-sekat perbedaan antar denominasi tidak lagi dipandang sebagai tembok pemisah, melainkan jembatan untuk membangun kekuatan bersama. Di tengah menguatnya intoleransi, kesenjangan sosial, hingga krisis kepedulian terhadap lingkungan, gereja-gereja didorong melampaui batas identitas masing-masing dan bersatu dalam aksi nyata yang membawa dampak bagi masyarakat.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Dialog Kolaborasi Inklusif sebagai Aksi Nyata Ber-Oikumene yang diselenggarakan GPIB Jemaat Gibeon Jakarta Selatan dalam rangka Bulan GERMASA (Gereja, Masyarakat, Agama-Agama, dan Lingkungan Hidup) 2026. Bertempat di GPIB Gibeon, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8/2026), forum ini mempertemukan para pemimpin gereja lintas denominasi se-Jakarta Selatan untuk membangun komitmen bersama menghadirkan pelayanan yang inklusif, relevan, dan berdampak nyata.
Sejumlah tokoh gereja hadir dalam dialog tersebut, di antaranya Sekretaris Umum MPH PGI Wilayah DKI Jakarta Pdt. Dr. Fery Frans Simanjuntak, M.A., Pembimas Kristen Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta Pdt. Harapan Nainggolan, M.Min., M.Th. sebagai keynote speaker, Sekretaris Bidang Keesaan dalam Kesaksian dan Pelayanan (KDM) MPH PGIW Jakarta Pdt. Constansa Wattimury, M.Div., Ketua Umum PGLII DKI Jakarta Pdt. Dr. Royke Bovie Rory, M.Th., Wakil Ketua BPD GBI DKI Jakarta Pdt. Sapto Edhi Rahardjo, serta Ketua BP Mupel GPIB Jakarta Selatan Pdt. Alexius Letlora, D.Th.

GERMASA, Gerakan Gereja yang Hadir di Tengah Masyarakat

Ketua Majelis Jemaat GPIB Gibeon, Jakarta Selatan Pdt. Manuel Raintung

Ketua Majelis GPIB Jemaat Gibeon Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Pdt. Manuel Raintung, menjelaskan bahwa Dialog Kolaborasi Inklusif merupakan bagian dari program resmi Sinode GPIB yang telah dicanangkan sejak 2023 melalui Bulan GERMASA. Setiap bulan Agustus, seluruh jemaat GPIB diajak menghidupi semangat tersebut melalui empat klaster pelayanan, yakni lintas gereja, lintas iman, masyarakat, dan lingkungan hidup.
“Ini bukan hanya program GPIB Gibeon, tetapi program Sinode GPIB. Sejak 2023, setiap bulan Agustus kami menghidupi Bulan GERMASA melalui empat klaster pelayanan. Jadi bukan hanya berbicara tentang gereja, tetapi bagaimana gereja hadir dan memberi dampak di tengah masyarakat,” ujarnya.
Menurut Pdt. Manuel, GERMASA lahir dari keyakinan bahwa kehadiran gereja tidak boleh berhenti di dalam tembok gereja. Nilai-nilai Kristus harus diwujudkan melalui kepedulian, kasih, persaudaraan, dan pelayanan yang menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, dialog lintas denominasi dipilih sebagai pembuka rangkaian Bulan GERMASA. Forum ini bukan sekadar ajang silaturahmi antargereja, tetapi ruang untuk membangun saling pengertian, menyamakan persepsi di tengah berbagai perbedaan, memperkuat komunikasi, serta merancang aksi bersama yang dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Pdt. Manuel mengakui bahwa mempertemukan para pemimpin gereja dari berbagai denominasi bukanlah perkara mudah. Masing-masing memiliki dinamika pelayanan dan agenda yang berbeda. Namun, menurutnya, tantangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti membangun kebersamaan.
“Mempertemukan para pemimpin gereja tentu bukan hal yang sederhana. Ada yang berhalangan hadir karena memiliki agenda pelayanan lain. Tetapi yang terpenting adalah semangat untuk terus membuka ruang dialog dan membangun kolaborasi. Sedikit demi sedikit, kebersamaan itu akan semakin kuat,” katanya.
Selama Bulan GERMASA, GPIB Gibeon juga menyiapkan berbagai kegiatan tematik. Setelah dialog lintas gereja, rangkaian kegiatan akan dilanjutkan dengan program bertema lingkungan hidup, pelayanan bagi masyarakat dan kebangsaan, hingga kegiatan lintas iman yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Selain aksi sosial, setiap Minggu sore sepanjang Agustus juga akan digelar ibadah tematik dengan menghadirkan narasumber sesuai bidang keahliannya. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, GPIB Gibeon berharap semangat GERMASA tidak berhenti pada diskusi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di luar agenda jemaat, Bulan GERMASA juga menjadi bagian dari gerakan sinodal GPIB yang dilaksanakan secara serentak di berbagai daerah. Harapannya, semangat kolaborasi yang tumbuh di GPIB Gibeon dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas dalam menghadirkan gereja yang terbuka, inklusif, dan relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
Gereja Dipanggil Hadir Menjawab Persoalan Bangsa
Pembimas Kristen Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta, Pdt. Harapan Nainggolan, M.Min., M.Th., mengatakan, kolaborasi lintas denominasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Di tengah kompleksitas persoalan bangsa, gereja tidak dapat berjalan sendiri-sendiri apabila ingin menghadirkan pelayanan yang benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat.
Saat menyampaikan keynote speech, ia mengingatkan bahwa panggilan gereja tidak berhenti pada aktivitas internal maupun rutinitas ibadah. Gereja dipanggil hadir di tengah masyarakat, membawa pengharapan, menguatkan mereka yang lemah, dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan.
Pengalaman pelayanan di rumah sakit menjadi salah satu contoh nyata yang ia bagikan. Hampir setiap pekan, pasien dari berbagai daerah di Indonesia membutuhkan pendampingan rohani tanpa mempersoalkan asal gereja ataupun denominasi. Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa pelayanan sejati selalu melampaui batas-batas identitas.
“Gereja tidak boleh hanya sibuk mengurus dirinya sendiri. Gereja harus hadir mendampingi masyarakat yang membutuhkan penguatan, pengharapan, dan pelayanan,” tegasnya.
Menurut Pdt. Harapan, semangat oikumene bukan berarti menghapus tradisi, tata ibadah, maupun doktrin setiap gereja. Setiap denominasi tetap memiliki kekhasan yang harus dihormati. Namun, di atas berbagai perbedaan itu terdapat panggilan yang sama, yakni melayani sesama dan menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia.
“Kita tidak sedang menyeragamkan gereja. Yang kita bangun adalah kesatuan fungsional, yaitu kemampuan untuk bekerja bersama menjawab persoalan-persoalan kebangsaan,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai kolaborasi gereja harus diwujudkan dalam langkah-langkah yang inklusif, adaptif, dan solutif. Mulai dari pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelayanan kesehatan, pendidikan, pendampingan kelompok rentan, penguatan toleransi, hingga kepedulian terhadap lingkungan hidup. Semua itu merupakan ruang pelayanan yang membutuhkan sinergi lintas gereja.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar gereja saat ini bukan semata-mata perbedaan denominasi, melainkan fanatisme kelompok, konflik internal, dan kecenderungan berjalan sendiri-sendiri. Padahal, di tengah keterbatasan sumber daya, kolaborasi justru menjadi kekuatan yang memungkinkan gereja menghadirkan pelayanan yang lebih luas dan berdampak.
“Gereja harus menjadi rumah bagi semua orang. Yang paling penting bukan simbol yang kita tampilkan, melainkan keramahtamahan, kepedulian, dan aksi nyata yang dirasakan masyarakat,” pungkasnya.

Oikumene Adalah Berjalan Bersama dalam Satu Rumah

Ki-ka: Pdt.Royke  Bovie.Royi, Pdt. Constansa Wattimuri, Pdt.Alexius Letlora dan Pdt Sapto Edhi Rahardjo ketika menjadi pembicara dalam Dialog “Dialog Oikumene Gerejawi” -Kolaborasi Inklusif, Sabtu, (1/8/26) di GPIB Jemaat Gibeon, Pesanggrahan Jakarta Selatan.

Pandangan senada disampaikan Ketua Umum PGLII DKI Jakarta, Pdt. Dr. Royke Bovie Rory, M.Th. Menurutnya, selama ini pembahasan mengenai oikumene terlalu sering berhenti pada tataran konsep. Padahal, tantangan terbesar justru terletak pada keberanian mengimplementasikan semangat tersebut dalam kehidupan nyata.
“Teori tentang oikumene sudah banyak kita dengar. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana mengimplementasikannya dalam aksi nyata,” tegasnya.
Pdt. Royke menjelaskan bahwa secara etimologis, kata oikumene berakar dari bahasa Yunani oikos yang berarti rumah dan monos berarti satu. Dari makna itulah lahir pemahaman bahwa seluruh gereja, apa pun latar belakang denominasinya, sesungguhnya merupakan satu keluarga besar yang dipanggil berjalan bersama dalam satu rumah Allah.
Karena itu, menurutnya, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman justru menjadi kekayaan yang memperkuat kesaksian gereja ketika diwujudkan dalam kerja sama yang saling menopang.
Ia mengapresiasi inisiatif GPIB Gibeon yang menghadirkan ruang dialog lintas denominasi. Baginya, forum seperti ini merupakan langkah awal yang penting untuk membangun kepercayaan, mempererat relasi antargereja, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya berbagai program pelayanan bersama.
Pdt. Royke juga menilai banyaknya sinode dan organisasi gereja di Indonesia merupakan potensi besar yang perlu disinergikan. Jika seluruh elemen gereja mampu bergerak dalam semangat yang sama, gereja akan memiliki daya dorong yang jauh lebih kuat dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kesatuan yang kita bangun bukanlah kesatuan dalam doktrin, melainkan kesatuan di dalam Kristus. Dari situlah kolaborasi yang nyata akan lahir dan menjadi berkat bagi banyak orang,” pungkasnya.

Hospitality; Ketika Gereja Menjadi Rumah bagi Sesama
Jika kolaborasi menjadi tujuan, maka menurut Ketua BP Mupel GPIB Jakarta Selatan, Pdt. Alexius Letlora, D.Th., ada satu fondasi yang tidak boleh diabaikan, yakni hospitality atau keramahtamahan.
Bagi Pdt. Alexius, keramahtamahan bukan sekadar sikap ramah terhadap tamu, melainkan cara pandang yang memandang setiap orang sebagai saudara. Nilai inilah yang, menurutnya, semakin penting di tengah menguatnya kecenderungan masyarakat untuk mencurigai dan menjaga jarak terhadap mereka yang berbeda.
Ia menyinggung fenomena xenophobia, yakni rasa takut atau curiga terhadap orang yang dianggap berbeda. Sikap seperti itu, kata dia, tidak hanya muncul dalam kehidupan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi relasi antargereja apabila tidak disadari sejak dini.
“Karena itu, gereja harus membangun budaya hospitality. Dialog menjadi penting karena mempertemukan orang untuk saling mendengar, saling memahami, dan belajar menerima perbedaan, bukan sekadar berbicara dari sudut pandangnya sendiri,” ujarnya.
Menurut Pdt. Alexius, keramahtamahan gereja tidak cukup diwujudkan melalui berbagai program seperti Gereja Ramah Anak atau Gereja Ramah Lingkungan. Lebih jauh dari itu, gereja harus menjadi rumah yang terbuka bagi sesama gereja, sehingga perbedaan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat pelayanan bersama.
Ia menegaskan bahwa semangat tersebut sejalan dengan ajaran Kristus yang memanggil umat percaya hidup sebagai satu keluarga Allah. Ketika setiap gereja memandang yang lain sebagai saudara, kolaborasi tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan tumbuh secara alami sebagai bagian dari panggilan iman.
“Bila kita memandang satu sama lain sebagai saudara, maka kolaborasi akan tumbuh dengan sendirinya. Dari sanalah gereja dapat menghadirkan kesaksian yang lebih kuat dan relevan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Aksi Nyata Menjadi Bahasa yang Dipahami Generasi Muda
Pandangan itu kemudian dipertegas Wakil Ketua BPD GBI DKI Jakarta, Pdt. Sapto Edhi Rahardjo. Menurutnya, semangat kolaborasi tidak boleh berhenti pada ruang seminar atau forum diskusi. Gereja harus berani menerjemahkannya menjadi tindakan nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia menilai perubahan cara pandang generasi muda menjadi tantangan baru bagi gereja. Generasi Z, katanya, semakin kritis terhadap lembaga keagamaan. Mereka tidak lagi hanya melihat kemegahan bangunan gereja atau banyaknya kegiatan seremonial, tetapi mencari bukti bahwa gereja benar-benar hadir menjawab persoalan kehidupan.
“Generasi muda ingin melihat spiritualitas yang diwujudkan dalam tindakan. Mereka membutuhkan gereja yang hadir dan memberi dampak, bukan sekadar berbicara,” ujarnya.
Menurut Pdt. Sapto, hampir semua gereja selama ini telah memiliki pelayanan sosial. Namun, sebagian besar masih berjalan sendiri-sendiri sehingga dampaknya belum maksimal. Padahal, jika seluruh gereja bersedia bergandengan tangan, pelayanan yang sama dapat menjangkau masyarakat lebih luas dan dilakukan dengan lebih efektif.
Sebagai contoh, ia menyinggung pelayanan bagi anak-anak jalanan, kelompok rentan, dan masyarakat miskin. Program-program seperti itu akan jauh lebih kuat apabila menjadi gerakan bersama lintas denominasi dibandingkan jika hanya dilakukan oleh satu gereja.
“Kalau kita bergerak sendiri, dampaknya seperti setetes air di tengah padang yang luas. Tetapi ketika gereja-gereja bersatu, pelayanan itu akan menjadi kekuatan besar yang benar-benar dirasakan masyarakat. Sebagai contoh, GBI juga telah memiliki pelayanan tanggap bencana (Tagana) yang bergerak membantu korban bencana alam tanpa memandang suku, agama dan ras,” tandasnya.
Baginya, kolaborasi bukan berarti menghapus identitas setiap gereja. Justru melalui keberagaman itulah gereja dapat saling melengkapi, berbagi sumber daya, dan menghadirkan pelayanan yang semakin relevan bagi kebutuhan masyarakat.

Dari Wacana Menuju Gerakan Bersama
Pengalaman nyata tentang kekuatan kolaborasi dibagikan Sekretaris Bidang Keesaan dalam Kesaksian dan Pelayanan (KDM) MPH PGIW Jakarta, Pdt. Constansa Wattimury, M.Div. Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar membangun gereja yang inklusif bukan terletak pada kurangnya ide, melainkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan membuka diri terhadap kerja sama.
“Kolaborasi harus dimulai dari kemauan untuk membuka diri. Kalau untuk duduk berdiskusi saja masih sulit, tentu akan lebih sulit lagi mewujudkan aksi bersama,” ujarnya.
Menurut Pdt. Constansa, PGIW Jakarta terus mendorong lahirnya berbagai program kolaboratif, seperti Gereja Ramah Anak, Gereja Hijau, serta penguatan peran generasi muda dalam gerakan oikumene. Program-program tersebut dirancang agar gereja tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi ruang yang aman, peduli, dan memberi harapan bagi masyarakat.
Ia kemudian membagikan pengalaman saat penanganan bencana. Melalui sinergi antara PGIW Jakarta, Gerakan Kemanusiaan dan jaringan gereja di daerah terdampak, bantuan dapat disalurkan lebih cepat, lebih tepat sasaran, bahkan mampu menghadirkan rumah-rumah sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
“Bagi kami, inilah wajah oikumene yang sesungguhnya. Bukan sekadar bertemu dan berdialog, tetapi saling menopang serta bekerja bersama menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh gereja meninggalkan cara pandang yang membedakan gereja besar dan gereja kecil. Yang jauh lebih penting adalah membangun kepercayaan, memperkuat jejaring pelayanan, dan memastikan setiap bentuk kolaborasi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Rangkaian pemikiran para pembicara tersebut memperlihatkan bahwa oikumene tidak lagi dipahami sebagai konsep yang berhenti di ruang diskusi. Oikumene menemukan maknanya ketika gereja bersedia membuka pintu, berbagi sumber daya, saling menopang, dan hadir bersama menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Kolaborasi Harus Terus Bertumbuh
Sementara itu, Sekretaris Umum MPH PGI Wilayah DKI Jakarta, Pdt. Dr. Fery Frans Simanjuntak, M.A., menyampaikan apresiasi atas inisiatif GPIB Jemaat Gibeon yang menghadirkan ruang dialog lintas denominasi. Menurutnya, forum seperti ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi harus menjadi titik awal lahirnya berbagai gerakan bersama yang berdampak nyata bagi gereja dan masyarakat.
Ia menegaskan, PGI Wilayah DKI Jakarta terus berupaya memperkuat semangat oikumene melalui berbagai program kolaboratif. Salah satunya ialah Seminar Oikumene bagi kaum muda yang akan melibatkan sekitar 20 peserta dari berbagai denominasi. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda diharapkan belajar membangun relasi, saling mengenal, dan bertumbuh dalam semangat persaudaraan lintas gereja sejak dini.
“Kami berharap gereja-gereja, termasuk GPIB Gibeon, mengutus para pemudanya untuk terlibat. Semangat oikumene perlu ditanamkan sejak dini agar lahir generasi yang terbuka, mampu bekerja sama, dan siap melayani bersama,” ujarnya.
Selain pembinaan generasi muda, PGIW DKI Jakarta juga terus mendorong berbagai bentuk sinergi antargereja, mulai dari pertukaran pelayanan firman, penguatan jejaring pelayanan sosial, hingga kerja sama dalam menjawab isu-isu kemanusiaan yang dihadapi masyarakat perkotaan.
Pdt. Fery juga mengingatkan pentingnya membangun kepedulian terhadap gereja-gereja yang masih membutuhkan dukungan. Menurutnya, berbagai bentuk bantuan, termasuk dukungan pemerintah melalui Kementerian Agama, perlu dimanfaatkan secara bijaksana dan disalurkan secara adil agar semakin banyak gereja dapat berkembang serta meningkatkan kualitas pelayanannya.
Baginya, kekuatan gereja tidak diukur dari besarnya gedung, banyaknya jemaat, ataupun kuatnya organisasi. Kekuatan itu justru tampak ketika gereja-gereja bersedia saling menopang, berbagi sumber daya, dan berjalan bersama menghadirkan kasih Kristus bagi sesama.

Oikumene yang Hidup dalam Aksi
Dialog sore itu akhirnya usai. Namun, gagasan yang lahir dari ruang perjumpaan tersebut membawa pesan yang jauh melampaui dinding gereja.
Di tengah meningkatnya intoleransi, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, dan berbagai tantangan kemanusiaan lainnya, para pemimpin gereja lintas denominasi sepakat bahwa tidak ada lagi ruang untuk berjalan sendiri-sendiri. Perbedaan tradisi, tata ibadah, maupun latar belakang sinode tidak lagi dipandang sebagai penghalang, melainkan sebagai kekayaan yang dapat dipersatukan dalam pelayanan. SM

Berita Terkini