JAKARTA,VictoriousNews.com— Apakah orang yang hidup berkecukupan pasti sedang diberkati Tuhan? Sebaliknya, apakah mereka yang sakit, bangkrut, kehilangan pekerjaan, mengalami musibah atau hidup dalam kekurangan berarti sedang berada di bawah kutuk?
Pertanyaan itu menjadi salah satu pergumulan penting yang dibawa Ps. Moses Christianto dalam khotbah Kebaktian Tengah Minggu (KTM) GBI Maple Park yang digembalakan Ps. Ferry Iskandar, di lantai dasar Apartemen Maple Park, Jalan HBR Motik No. 218, Sunter Agung, Jakarta Utara, Kamis (10/9/2026).
Mengusung tema “Berkat & Kutuk”, Ps. Moses mengajak jemaat melihat konsep berkat dan kutuk secara lebih utuh, bukan sekadar dari apa yang terlihat secara kasatmata.

Ia mengingatkan, kemakmuran tidak otomatis menjadi bukti seseorang sedang diberkati, sementara penderitaan tidak serta-merta berarti seseorang sedang dikutuk Tuhan.
“Pembatas antara berkat dan kutuk adalah ketaatan,” tegas Ps. Moses.
Berkat dan Kutuk: Pilihan dan Konsekuensi
Ps. Moses mengawali pembahasannya dari Ulangan 11:26-28, ketika Tuhan menghadapkan umat-Nya pada pilihan antara berkat dan kutuk.
Berkat diberikan kepada mereka yang mendengarkan dan menaati perintah Tuhan, sedangkan kutuk menjadi konsekuensi bagi mereka yang tidak taat dan menyimpang dari jalan-Nya.
Namun, menurut Ps. Moses, ayat tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi pemahaman bahwa orang taat pasti kaya, sementara orang tidak taat pasti mengalami kesusahan.
Berkat, jelasnya, merupakan anugerah atau karunia ilahi yang diberikan Tuhan kepada individu, komunitas maupun bangsa. Berkat memang dapat terlihat dalam bentuk kemakmuran, perlindungan dan kesejahteraan. Tetapi akar utama berkat bukan sekadar materi, melainkan relasi antara Tuhan dan umat-Nya.
Konsep berkat bahkan telah muncul sejak kisah penciptaan. Dalam Kejadian 1:22, Tuhan memberkati ciptaan-Nya.
“Berkat itu berkaitan dengan anugerah atau karunia Tuhan. Tetapi harus kita ingat, berkat selalu berkaitan dengan ketaatan,” jelasnya.
Sebaliknya, kutuk dalam Perjanjian Lama berkaitan dengan penghakiman ilahi dan konsekuensi dosa serta ketidaktaatan. Kejadian 3:14-19 menggambarkan bagaimana kutuk muncul setelah manusia jatuh ke dalam dosa.
Dengan demikian, berkat dan kutuk memperlihatkan dua konsekuensi dari pilihan manusia: ketaatan dan pemberontakan, kesetiaan dan ketidaktaatan.
Mengapa Tuhan Memberikan Pilihan?
Pertanyaan berikutnya pun muncul: jika Tuhan mengasihi manusia, mengapa harus ada pilihan antara berkat dan kutuk?
Ps. Moses menjelaskan sedikitnya ada tiga alasan.
Pertama, keadilan Allah. Tuhan tidak menjatuhkan hukuman tanpa dasar. Dalam keadilan-Nya, setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Kedua, kehendak bebas manusia. Manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, tetapi kebebasan tersebut tidak berarti bebas dari konsekuensi.
“Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya,” katanya.
Ketiga, melatih ketaatan. Pilihan yang diberikan Tuhan merupakan bagian dari proses mendidik manusia untuk belajar menaati-Nya.
Larangan Tuhan kepada Adam dan Hawa di Taman Eden, misalnya, bukan sekadar pembatasan. Di dalamnya terdapat panggilan untuk percaya dan taat kepada Allah.
Demikian pula pilihan antara berkat dan kutuk. Tuhan bukan sedang menunjukkan kebencian kepada manusia, melainkan mengajar manusia untuk memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Jangan Mudah Menganggap Penderitaan sebagai Kutuk
Dari sini, Ps. Moses membawa jemaat kepada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagaimana jika seseorang sakit? Bagaimana jika mengalami kecelakaan, kebangkrutan, kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha atau berbagai kemalangan?
Apakah semua itu otomatis berarti orang tersebut sedang terkena kutuk? Jawabannya: tidak.
Ps. Moses menegaskan, orang percaya pada zaman anugerah harus memahami berkat dan kutuk dalam perspektif kasih karunia.
“Semua harus dipahami dalam kerangka kacamata Allah: kita memandangnya sebagai zaman anugerah,” ujarnya.
Menurutnya, ada tiga prinsip penting.
Pertama, berkat dan kutuk bukan transaksi, melainkan relasi.
Orang percaya tidak seharusnya membangun hubungan dengan Tuhan berdasarkan pola pikir, “Saya taat supaya Tuhan memberikan sesuatu kepada saya.”
Keselamatan melalui Kristus merupakan anugerah. Karena itu, ketaatan bukan alat untuk membeli berkat, melainkan buah dari hubungan dan kasih kepada Tuhan.
“Tuhan Yesus sudah menyelesaikan semuanya di atas kayu salib. Kita memandang berkat dan kutuk dengan kacamata anugerah bahwa Tuhan sedang mengajar kita membangun relasi, bukan transaksi,” tegasnya.
Kedua, berkat dan kutuk berada dalam kedaulatan serta kebaikan Allah.
Tuhan dapat mengizinkan seseorang melewati sakit, kemalangan maupun kebangkrutan. Namun pengalaman tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut sedang dikutuk.
Bisa saja ada maksud ilahi yang belum mampu dipahami manusia.
Ketiga, jangan menilai kehidupan seseorang hanya dari apa yang terlihat.
“Tidak semua yang kelihatan punya segalanya itu diberkati. Tidak semua yang berkekurangan dan tidak memiliki apa pun itu dikutuk,” katanya.
Ps. Moses kemudian mengangkat Mazmur 73 sebagai gambaran nyata tentang persoalan tersebut.
Asaf pernah bergumul ketika melihat orang fasik justru tampak makmur, sehat dan hidup nyaman. Apa yang terlihat di depan mata ternyata tidak selalu sejalan dengan penilaian manusia mengenai siapa yang diberkati dan siapa yang dikutuk.
Pesannya jelas: kemakmuran bukan satu-satunya ukuran berkat, sementara penderitaan bukan otomatis tanda kutuk.
Lidah Jangan Dipakai untuk Mengutuk
Persoalan berkat dan kutuk, menurut Ps. Moses, juga berkaitan dengan perkataan.
Ia mengingatkan jemaat mengenai kekuatan lidah. Manusia dapat mengucapkan berkat, tetapi juga dapat menggunakan perkataan untuk melukai dan menghancurkan.

Karena itu, ia mengutip Lukas 6:28, Roma 12:14, Yakobus 3:9 dan Efesus 4:29 sebagai dasar agar orang percaya menggunakan perkataan untuk memberkati, bukan mengutuk.
“Mulut yang Tuhan berikan itu harus kita pakai untuk mengucapkan kata-kata berkat,” katanya.
Jemaat juga diingatkan agar tidak mudah mengucapkan perkataan negatif terhadap diri sendiri.
Ketika mengalami kegagalan, misalnya, seseorang tidak seharusnya langsung berkata, “Saya sedang kena kutuk.”
Cara pandang seperti itu justru dapat menumbuhkan ketakutan dan membawa seseorang kepada pemahaman yang keliru mengenai kedaulatan Allah.
“Kutuk Keturunan” atau Pola yang Berulang?
Pembahasan mengenai apa yang sering disebut sebagai kutuk keturunan juga menjadi bagian menarik dalam khotbah tersebut.
Ps. Moses menegaskan bahwa di dalam Kristus, orang percaya telah dibebaskan dari kutuk hukum Taurat. Ia mengacu pada Galatia 3:13 dan Roma 8:1 mengenai karya Kristus dan tidak adanya penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Lalu bagaimana jika sebuah keluarga mengalami pola persoalan yang berulang?
Misalnya perceraian, kegagalan usaha, perilaku buruk, kecanduan atau pola kehidupan tertentu yang tampak terjadi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Ps. Moses, tidak semua pola tersebut harus langsung disebut sebagai kutuk keturunan.
Bisa jadi yang terjadi adalah pola perilaku yang ditiru dan diwariskan.
Orang tua yang mudah marah dapat menjadi contoh bagi anak. Anak kemudian menyerap pola tersebut dan ketika dewasa mengulang perilaku yang sama kepada generasi berikutnya.
Hal serupa dapat terjadi dalam cara mengelola keuangan, membangun hubungan keluarga, berkendara maupun menjalani gaya hidup.
“Sebetulnya tidak ada kutuk keturunan. Yang ada adalah sebuah pola akumulatif atau dampak logis dari perilaku orang tua yang ditiru oleh anaknya,” jelasnya.
Karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan teladan yang baik kepada anak dan cucu.
Dosa Orang Tua Tidak Otomatis Menjadi Hukuman Anak
Ps. Moses kemudian mengutip Yehezkiel 18:19-20. Prinsip yang ditekankan adalah bahwa orang yang berbuat dosa menanggung konsekuensi dari perbuatannya sendiri.
Anak tidak otomatis menanggung hukuman dosa ayahnya, demikian pula ayah tidak menanggung dosa anaknya.
Namun, dampak dosa orang tua dapat dirasakan oleh anak.
Ia memberikan gambaran sederhana. Jika seorang ayah menghabiskan seluruh hartanya untuk berjudi hingga keluarga kehilangan sumber penghidupan, anak mungkin terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya.
Anak tidak menanggung dosa ayahnya dalam pengertian hukuman rohani, tetapi dapat merasakan dampak nyata dari keputusan buruk tersebut.
Jika kemudian anak meniru perilaku yang sama, ia harus bertanggung jawab atas dosanya sendiri.
Di sinilah pentingnya membedakan dua hal: hukuman dosa dan dampak dosa.
Jangan Takut pada Kutuk Orang Lain
Dalam sesi tanya jawab, muncul pula pertanyaan mengenai apakah seseorang dapat terkena kutuk dari perkataan orang lain.
Bagaimana jika seseorang berkata, “Kamu kena kutuk,” atau bahkan mengucapkan sumpah buruk seperti “bangkrut” atau “mati”?
Ps. Moses meminta jemaat untuk tidak hidup dalam ketakutan.
Ia mengingatkan prinsip dalam Amsal 26:2 mengenai kutuk tanpa alasan yang tidak akan mengenai sasaran.
Karena itu, orang percaya tidak perlu membalas perkataan buruk dengan kutukan. “Jangan kemudian balas dengan mengutuk orang-orang tersebut. Perkataan kita tidak boleh dipakai untuk mengutuk, tetapi untuk memberkati,” katanya.
Kunci Utamanya Bukan Harta, tetapi Relasi dengan Tuhan
Pada akhirnya, seluruh pembahasan Ps. Moses bermuara pada satu pesan penting: berkat dan kutuk tidak boleh dijadikan alat untuk menghakimi kondisi hidup seseorang.
Orang kaya tidak otomatis lebih diberkati.
Orang miskin tidak otomatis dikutuk.
Orang sehat tidak otomatis lebih dikasihi Tuhan.
Dan orang sakit tidak otomatis sedang dihukum Tuhan.
Semua harus dilihat dalam terang kedaulatan, kebaikan dan anugerah Allah.
Karena itu, ketika menghadapi masa sulit, pertanyaan orang percaya tidak berhenti pada, “Mengapa saya mengalami ini?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang sedang Tuhan ajarkan melalui keadaan ini?” Sebaliknya, ketika menerima kelimpahan, pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang sudah saya dapatkan?” Tetapi: “Untuk apa Tuhan mempercayakan semua ini kepada saya?” Di situlah makna berkat menjadi lebih dalam.
Berkat bukan sekadar tentang memiliki lebih banyak. Berkat adalah tentang hidup yang semakin dekat dengan Tuhan, bertumbuh dalam ketaatan, dan menjadikan kehidupan sebagai saluran berkat bagi orang lain.
Dengan demikian, berkat tidak berhenti pada apa yang masuk ke dalam kehidupan seseorang, tetapi juga terlihat dari apa yang keluar melalui kehidupannya.
Setelah penyampaian firman Tuhan, ibadah dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Jemaat berkesempatan menggali lebih jauh makna berkat dan kutuk serta bagaimana menyikapi penderitaan, perkataan negatif, pola kehidupan keluarga dan konsekuensi dosa.

Kebaktian Tengah Minggu GBI Maple Park kemudian ditutup dengan doa berkat oleh Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar. SM










