Distraksi Digital Menuju Kalibrasi Spiritual: Panggilan Guru Kristen Menghadapi Fenomena Brain Rot di Kalangan Pelajar SMP

News, Opini1 Views

VictoriousNews.com – Sebagai seorang Guru Kristen yang melayani di sebuah SMP swasta Kristen, saya menemukan satu kondisi yang menjadi keluhan sekaligus tantangan dalam proses belajar-mengajar. Pelajar dapat mengingat dengan baik lagu yang sedang tren d TikTok, tetapi seketika terdiam ketika ditanya apa yang mereka pelajari pada pertemuan sebelumnya. Mereka fasih menggunakan istilah yang sedang viral, tetapi kesulitan menyampaikan gagasan dan pemikiran ketika mengikuti pembelajaran.

Kegelisahan juga tampak ketika mereka harus menyimak penjelasan yang panjang, menjawab pertanyaan yang membutuhkan analisis, atau berkonsentrasi membaca materi pembelajaran. Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan yang lebih mendalam: bagaimana pelajar yang semakin hari “dimuridkan” oleh layar dalam genggaman dapat bertumbuh dalam iman? Fenomena ini bukan sekadar persoalan berkurangnya konsentrasi, melainkan tantangan bagi Guru Kristen untuk menghadirkan kalibrasi spiritual di tengah derasnya distraksi digital dan fenomena brain rot.

Wawancara Penulis dengan Prof Virgo Handoyo (Profesor Psikologi)

Istilah brain rot memiliki jejak penggunaan yang dapat ditelusuri dalam karya Henry David Thoreau, Walden, yang diterbitkan pada 1854. Popularitasnya kembali meningkat pada era digital hingga Oxford Languages memilih brain rot sebagai Word of the Year 2024. Menurut Profesor Psikologi di California Baptist University, Prof. Virgo Handoyo, Ph. D., brain rot merupakan suatu fenomena yang berkaitan dengan paparan berlebihan terhadap stimulasi digital yang memuat informasi yang diterima secara cepat tetapi belum sempat diolah dan pola konsumsi ini berkaitan dengan kesulitan mempertahankan perhatian dan kejenuhan terhadap proses berpikir yang dalam. Dalam proses belajar, perhatian dan memori kerja memiliki peran penting karena memungkinkan seseorang mempertahankan, mengolah,  dan menghubungkan informasi sebelum pengetahuan tersebut tersimpan dalam memori jangka panjang. Dalam fenomena brain rot ini informasi yang diterima dengan cepat tanpa cukup waktu untuk diolah, namun segera tergantikan dengan informasi baru secara berulang dan cepat. Dengan demikian, persoalan brain rot terletak pada pola konsumsi digital yang terus-menerus, cepat, dan minim keterlibatan kognitif.

Pada pelajar SMP yang berada dalam tahap penting perkembangan fungsi kognitif dan kebiasaan berpikir, pola konsumsi digital yang terus-menerus, cepat, dan minim keterlibatan kognitif berdampak pada kemampuan berfikir yang tidak mendalam, cepat bosan, cenderung memilih konten yang menarik, menyenangkan, dan memberikan kepuasan instan. Ironisnya, pola tersebut dapat membuat pelajar merasa telah memperoleh banyak informasi, tetapi tidak mengalami pembelajaran yang mendalam. Padahal, pada dasarnya, proses pembelajaran bertujuan membentuk kemampuan pelajar untuk memahami, menghadapi, dan memecahkan persoalan kehidupan (problem solving). Konsentrasi menjadi mudah teralihkan, sedangkan tugas yang menuntut ketekunan dipersepsikan sebagai sesuatu yang berat dan membosankan. Polanya kemudian menjadi sederhana: asal menarik, menyenangkan, dan cepat, tanpa cukup mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Pada titik inilah brain rot berpotensi melemahkan regulasi diri (selfregulation) pada pelajar, yaitu kemampuan menetapkan tujuan yang lebih penting, menata diri, mengendalikan perilaku dan emosi serta menunda kesenangan jangka pendek. Akibatnya, pelajar semakin sulit bertahan dalam aktivitas yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan usaha kognitif, terutama ketika aktivitas tersebut tidak memberikan penghargaan atau kesenangan secara instan.

Fondasi utama pelajar SMP dapat menyikapi dan membangun regulasi diri dengan benar adalah relasi dengan Tuhan dan Firman-Nya. Formasi spiritual penting dalam menghadapi fenomena brain rot. Pembahasan Paulus mengenai kebebasan Kristen kepada jemaat di Korintus, khususnya dalam 1 Korintus 6:12, memberikan landasan teologis bagi pembentukan penguasaan diri yang relevan dengan fenomena brain rot. “1 Korintus 6:12 (TB), Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna.

Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba suatu apa pun.” Kata “halal” dalam teks Yunani menggunakan kata exestin: It is lawful, it is permitted, yang menunjuk pada sesuatu yang diizinkan atau diperbolehkan. Kata “berguna” dalam teks Yunaninya sympherei: To bring together, to be profitable, yang menunjuk pada sesuatu yang menguntungkan atau memberikan manfaat. Paulus kemudian memberikan batas yang lebih tegas: “aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” Kata exousiasthēsomai: To exercise authority, to have power over, dalam bentuk pasif mengandung makna “dikuasai” atau “ditundukkan oleh sesuatu”. Bagian ini kuat membahas regulasi diri. Paulus tidak hanya berbicara mengenai kemampuan orang percaya untuk tidak membiarkan sesuatu mengambil kendali atas dirinya. Melalui penekanan ayat ini, kebebasan Kristen bukan tanpa batas, tetapi kebebasan yang diarahkan kepada sesuatu yang bermanfaat, membangun, dan tidak mengambil kendali atas dirinya. Ini lah kebebasan sejati, bebas menggunakan tanpa menjadi dikuasai. Prinsip ini relevan dengan fenomena brain rot di kalangan pelajar SMP, apakah penggunaannya bermanfaat dan apakah pelajar tetap menjadi pihak yang mengendalikan penggunaannya.

 Wawancara Penulis dengan Delicia, S.Psi (Guru BK SMP Tunas Bangsa Bali)

Guru Kristen memiliki peran penting dalam mengambil sikap dan respons nyata terhadap fenomena brain rot di kalangan pelajar SMP. Peran tersebut bukan sekadar membatasi penggunaan teknologi, melainkan mendidik pelajar untuk mengalami kalibrasi spiritual, sehingga mereka memanfaatkan teknologi secara tepat tanpa diperhamba olehnya. Dalam perspektif iman Kristen, guru dapat menjadi sarana yang dipakai Tuhan untuk mengarahkan kembali pikiran, perhatian, dan kebebasan pelajar kepada tujuan yang sesuai kehendak Allah. Karena itu, guru Kristen perlu menolong pelajar mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bertindak dalam kasih, mengambil keputusan secara bijaksana, dan tunduk kepada kebenaran Allah. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui ekosistem pembelajaran yang partisipatif, reflektif, dan aplikatif, sehingga pelajar tidak hanya memahami dampak penggunaan teknologi, tetapi juga belajar mengendalikan diri dalam menggunakannya. Guru Kristen tidak seharusnya bersikap skeptis atau apatis terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, guru mendampingi pelajar merebut kembali perhatian mereka bagi kebenaran dalam Kristus, sehingga teknologi tidak lagi menjadi pusat kehidupan, melainkan alat yang digunakan secara bertanggung jawab untuk memuliakan Allah.

Sikap nyata yang dapat saya lakukan sebagai Guru Kristen adalah membangun ekosistem belajar yang melatih mereka mengelola perhatian, menilai apa yang mereka konsumsi, dan mengarahkan hidup kepada Kristus. Saya mengusulkan Faith Huddle, yaitu kelompok kecil beranggotakan 3–5 siswa yang secara konsisten bertemu pada akhir pembelajaran untuk melakukan refleksi singkat. Dalam 10–15 menit, siswa diajak berhenti sejenak, mengenali hal yang paling banyak menyita perhatian dan memengaruhi perasaan mereka sepanjang pembelajaran atau minggu tersebut, mendiskusikan apakah hal itu membawa semakin bertumbuh dalam Iman atau justru melemahkan. Pertemuan ditutup dengan doa dan satu “project of obedience”, yaitu langkah sederhana untuk dilakukan dalam kehidupan nyata.

Dengan demikian, refleksi tidak berhenti pada kesadaran, tetapi bergerak menjadi ketaatan. Selanjutnya, melalui Discipleship Project yang dikomunikasikan bersama orang tua atau wali siswa, setiap siswa atau kelompok diberi kesempatan sebulan sekali untuk mengubah apa yang dipelajari menjadi karya nyata, seperti video edukasi, kampanye digital, musik, seni, atau konten kreatif yang membawa pesan yang membangun. Sehingga, siswa yang sebelumnya menjadi penikmat konten digital dilatih menjadi pencipta dan memberi dampak. Di sinilah kalibrasi spiritual terjadi, mereka belajar berhenti, memilih, membuat, dan menggunakan teknologi sesuai tujuan Allah. Ekosistem ini diharapkan membentuk perjalanan pemuridan yang menghubungkan iman dan ilmu dengan tindakan nyata, baik di dalam maupun di luar sekolah.Distraksi digital bukan ancaman bagi pertumbuhan; di tangan Allah Roh Kudus, dapat menjadi momentum kalibrasi spiritual. Guru Kristen dipanggil menolong siswa menggunakan teknologi dalam rencana dan tujuan Allah. Melalui Faith Huddle, kesadaran dibangun melalui refleksi dan diskusi; melalui Discipleship Project, kesadaran itu diterjemahkan menjadi praktik. Dengan demikian, pelajar belajar menghidupi prinsip 1 Korintus 6:12: memilih apa yang bermanfaat dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh apa pun. Pada akhirnya, tujuan pendidikan Kristen melahirkan siswa sebagai murid Kristus yang mampu mengendalikan diri, menggunakan teknologi secara bijaksana, dan menundukkan seluruh kehidupan digitalnya kepada Kristus bagi kemuliaanNya.* LKT/ 26/017