Menyongsong 25 Tahun GBI Pejaten Upperroom: Dari Persekutuan Keluarga hingga Menjadi Gereja yang Bertumbuh

Berita, Ragam, Religi109 Views

JAKARTA,Victoriousnews.com— Perjalanan sebuah gereja tidak selalu ditandai oleh pertumbuhan yang mudah. Ada masa ketika jemaat berkumpul di rumah sederhana, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, hingga menghadapi ujian besar yang mengguncang kehidupan bergereja. Namun, di tengah berbagai tantangan, kesetiaan menjadi kekuatan untuk terus melangkah.

Kisah itulah yang mewarnai perjalanan GBI Pejaten Upperroom, Mal Pejaten lantai 3, Jakarta Selatan. Berawal dari persekutuan kecil di Kalibata pada 1999, pelayanan ini terus bertumbuh melewati berbagai perubahan lokasi dan dinamika zaman. Di bawah kepemimpinan Ps. Sapto Edhi Rahardjo sebagai gembala, bersama sang istri, Ps. Woro Indah Sayekti, perjalanan tersebut menjadi kesaksian tentang ketekunan, kebersamaan, dan panggilan untuk menjadi berkat bagi sesama.

Berawal dari persekutuan kecil
Cikal bakal pelayanan GBI Pejaten Upperroom dimulai pada 1999. Saat itu, persekutuan hanya diikuti sekitar tujuh hingga delapan orang. Ibadah berlangsung di rumah salah seorang jemaat, Ibu Esther, di Jalan Kemuning, Kalibata, sebelum kemudian berpindah ke rumah keluarga Sirait di Kalibata Tengah.

Memasuki 2000, persekutuan keluarga atau Family Altar mulai dibangun dan dikenal melalui ibadah Community of Love (COOL). Melalui persekutuan tersebut, para perintis memperkuat kebersamaan, membangun kehidupan doa, dan menumbuhkan komitmen untuk melayani Tuhan. Ps. Andanu Seto bersama istrinya, Sintia, termasuk di antara orang-orang yang turut merintis pelayanan pada masa awal tersebut.

Perkembangan mulai terlihat ketika perayaan Natal pertama diselenggarakan di sebuah garasi dengan kehadiran sekitar 30 orang. Setahun kemudian, jumlah jemaat meningkat hingga sekitar 100 orang. Pertumbuhan ini menjadi dorongan untuk mengembangkan pelayanan ke tahap berikutnya.

Pada Februari 2002, ibadah Minggu mulai diselenggarakan di Kampus Biru, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Sekitar 40 jemaat menghadiri ibadah tersebut, menandai babak baru dalam perjalanan pelayanan yang sebelumnya bertumpu pada persekutuan keluarga.
Dari kelompok kecil di rumah jemaat, pelayanan ini mulai membangun kehidupan bergereja yang lebih terstruktur.

Berpindah Tempat, Tetap Menjaga Api Pelayanan
Seiring perkembangan pelayanan, GBI Pejaten kemudian berpindah ke sejumlah lokasi, antara lain Hotel Kaisar dan Gedung Fiducia. Perubahan tempat tersebut menuntut jemaat untuk terus beradaptasi, terutama dalam menghadapi keterbatasan ruang dan pengaturan jadwal penggunaan gedung.
Pada 2010, pelayanan memasuki babak baru dengan menempati lantai tiga Pejaten Village, yang kini dikenal sebagai Mal Pejaten.

Dalam masa peralihan, ibadah Minggu sempat berlangsung di dua lokasi. Ibadah pagi diselenggarakan di Gedung Fiducia, sedangkan ibadah pada jam berikutnya berlangsung di Pejaten Village. Setelah penggunaan Gedung Fiducia tidak dapat diperpanjang, seluruh kegiatan ibadah akhirnya dipusatkan di Pejaten Village.

Perjalanan tersebut kembali mengalami perubahan sekitar Januari 2017. Saat itu, pilihan lokasi yang tersedia adalah area basement lantai dua atau rooftop gedung Mal Pejaten. Pelayanan kemudian berlangsung di rooftop selama beberapa tahun.

Berbagai perpindahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang gereja dalam mempertahankan keberlangsungan pelayanan. Meski harus menyesuaikan diri dengan kondisi tempat, komitmen untuk beribadah dan melayani tetap dijaga.

Setelah melalui perjalanan panjang, GBI Pejaten Upperroom akhirnya kembali menempati lantai tiga Mal Pejaten pada 25 Desember 2025.

Kepulangan ini menjadi momentum penting bagi jemaat. Ruang ibadah seluas sekitar 400 meter persegi ditata dengan fasilitas yang lebih memadai, meliputi panggung, peralatan musik, kursi jemaat, layar LCD berukuran besar, ruang Sekolah Minggu, ruang pertemuan, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Bagi gereja yang telah melewati berbagai perubahan lokasi, kembalinya pelayanan ke lantai tiga menjadi penanda babak baru dalam perjalanan menuju usia seperempat abad.

Melewati Pandemi, Menata Kembali Kehidupan Jemaat
Di balik perjalanan yang panjang, GBI Pejaten Upperroom juga menghadapi ujian besar ketika pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan kegiatan dan perubahan pola ibadah memengaruhi kehidupan bergereja, termasuk menurunnya kehadiran jemaat.

Situasi tersebut menuntut gereja untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Pemulihan tidak berlangsung seketika, tetapi dijalani secara bertahap melalui penguatan kelompok-kelompok kecil, pelayanan kaum muda, dan upaya membangun kembali kebersamaan jemaat.

Bagi Ps. Sapto Edhi Rahardjo, perjalanan pelayanan mengajarkan bahwa melayani Tuhan bukan semata-mata tentang membangun gereja secara fisik atau menjalankan berbagai kegiatan. Lebih dari itu, pelayanan merupakan proses pembentukan diri agar kehidupan seseorang dapat membawa manfaat bagi orang lain.
“Saya melayani, ternyata justru Tuhan yang melayani saya. Tuhan membentuk saya supaya hidup saya bisa menjadi berkat bagi orang lain,” ungkapnya.

Pandangan tersebut tercermin dalam upaya gereja untuk hadir di tengah masyarakat. Pelayanan tidak hanya berlangsung di dalam ruang ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial.

GBI Pejaten Upperroom pernah menggalang dana dengan menjual pakaian bekas layak pakai, mengadakan pasar murah menjelang hari raya, serta menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak banjir di Jakarta.

Melalui kegiatan tersebut, gereja berupaya menghadirkan kasih dalam tindakan nyata. Kepedulian kepada sesama menjadi bagian dari panggilan pelayanan, sekaligus pengingat bahwa keberadaan gereja seharusnya membawa dampak bagi lingkungan sekitarnya.

Ps. Woro Indah Sayekti: Mendampingi dan Bertumbuh Bersama
Di balik perjalanan pelayanan GBI Pejaten Upperroom, terdapat peran Ps. Woro Indah Sayekti yang setia mendampingi suaminya. Perjalanannya menjadi bagian tersendiri dari kisah panjang pelayanan yang mereka bangun bersama.

Gembala GBI Pejaten sekaligus Wakil Ketua BPD GBI DKI Jakarta Ps Sapto Edhi Rahardjo berpose bersama keluarga (dok. pribadi).

Pada masa awal perintisan, Woro masih bekerja di sebuah perusahaan swasta sembari membesarkan kedua anak mereka, Priscila Esa Dianti dan Michael Rahardjo, yang akrab disapa Elmo.

Pada Juni 2015, ia mengambil pensiun dini setelah perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan. Sejak saat itu, ia memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi pelayanan Ps. Sapto, membantu administrasi gereja, serta terlibat dalam pelayanan kaum wanita melalui wadah Wanita Bethel Indonesia (WBI) Jakarta Selatan.

Woro mengakui bahwa peran sebagai istri seorang gembala bukanlah sesuatu yang sejak awal sepenuhnya ia pahami. Ia menjalani proses tersebut dengan belajar, menyesuaikan diri, dan mendampingi suaminya dalam berbagai situasi pelayanan.
“Saat itu, saya belum punya bayangan, istri gembala itu bagaimana. Jadi, saya ikut saja. Bapak mau ke mana, sebisa mungkin saya mendampingi,” tuturnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan keluarga tidak selalu dibangun melalui persiapan yang sempurna. Ada proses pembelajaran, penyesuaian, dan kesediaan untuk bertumbuh bersama dalam menjalani panggilan Tuhan.

Sementara itu, Ps. Sapto memulai pelayanan penuh waktu pada usia 29 tahun dan dipercaya menjadi gembala pada usia 38 tahun. Selain memimpin GBI Pejaten Upperroom, ia kini menjabat sebagai Wakil Ketua BPD GBI Jakarta.

Perjalanan keduanya menjadi bagian penting dari sejarah gereja ini: sebuah pelayanan yang bertumbuh bukan hanya melalui kepemimpinan di mimbar, tetapi juga melalui kesetiaan, dukungan keluarga, dan kerja bersama.

Menyongsong Seperempat Abad Pelayanan
Perjalanan GBI Pejaten Upperroom menunjukkan bahwa pertumbuhan gereja tidak semata-mata diukur dari jumlah jemaat atau kemegahan bangunan. Di balik setiap perkembangan, terdapat doa, ketekunan, pengorbanan, serta kesediaan untuk tetap melayani di tengah perubahan.

Dari persekutuan kecil di Kalibata, ibadah Minggu di Kampus Biru Duren Tiga, hingga berbagai perpindahan tempat sebelum kembali ke lantai tiga Mal Pejaten, setiap fase menghadirkan pelajaran tersendiri. Ada masa pertumbuhan, masa penyesuaian, dan masa pemulihan. Namun, semuanya menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk kehidupan gereja hingga hari ini.

Pada 4 Februari 2027, GBI Pejaten Upperroom akan memperingati 25 tahun pelayanan. Seperempat abad perjalanan tersebut bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum untuk mensyukuri penyertaan Tuhan sekaligus memperbarui komitmen dalam menjalankan panggilan pelayanan.

Dua puluh lima tahun perjalanan mengingatkan bahwa gereja tidak dibangun hanya oleh dinding, panggung, atau fasilitas yang semakin baik. Gereja bertumbuh ketika orang-orang di dalamnya tetap setia, saling menguatkan, dan bersedia menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.
Dari sebuah persekutuan kecil di rumah jemaat hingga menjadi komunitas gereja yang terus bertumbuh, GBI Pejaten Upperroom membawa satu pesan penting: api pelayanan harus tetap menyala, bukan hanya di dalam gedung gereja, melainkan juga melalui kehidupan yang menjadi berkat bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat. SM

Comment