Willem Frans Ansanay, SH, M.Th: PERAN WARTAWAN KRISTEN DALAM GEREJA UNTUK KEUTUHAN NKRI

Willem Frans Ansanay, SH, M.Th ( Ketua Majelis Tinggi GKSI)

Jakarta,Victoriousnews.com,- Peran jurnalis Kristen itu harus menjadi ujung tombak pembawa berita yang baik dan benar di tengah masyarakat majemuk. Demikian dikatakan oleh Ketua Majelis Tinggi Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), Willem Frans Ansanay, SH., M.Th ketika menyampaikan materi sambutannya dalam pembukaan Rakernas 1 2019 Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (Perwamki) di Kampus ITHB, Bandung,Jabar (22 Juli). Menurut Frans, sesuai Fungsi dan Perannya, jurnalis Kristiani adalah, sebagai: Pertama, Authenticator, yakni konsumen memerlukan wartawan yang bisa memeriksa keautentikan suatu informasi. Kedua, Sense maker yakni menerangkan apakah informasi itu masuk akal atau tidak. Ketiga, Investigator yakni wartawan harus terus mengawasi kekuasaan dan membongkar kejahatan. Keempat, Witness bearer yakni kejadian-kejadian tertentu harus diteliti dan dipantau kembali dan dapat bekerja sama dengan reporter warga. Kelima, Empowerer yakni saling melakukan pemberdayaan antara wartawan dan warga untuk menghasilkan dialog yang terus-menerus pada keduanya. Keenam, Smart aggregator yakni wartawan cerdas harus berbagi sumber berita yang bisa diandalkan, laporan-laporan yang mencerahkan, bukan hanya karya wartawan itu sendiri. Ketujuh, Forum organizer yakni organisasi berita, baik lama dan baru, dapat berfungsi sebagai alun-alun di mana warga bisa memantau suara dari semua pihak, tak hanya kelompok mereka sendiri. Dan kedelapan, Role model, yakni tak hanya bagaimana karya dan bagaimana cara wartawan menghasilkan karya tersebut, namun juga tingkah laku wartawan masuk dalam ranah publik untuk dijadikan contoh.
“Dari 8 point tersebut, maka gambaran ini juga yang dikehendaki Tuhan bagi setiap rekan-rekan jurnalis, agar professional dalam bekerja, memiliki aturan dan etik professional dalam pekerjaan, sehingga menjadi saksi bagi sesama melalui setiap berita yang disampaikan,” tukas Frans.
Lanjut Frans, yang harus direnungkan secara pribadi, ‘apakah Saya terlatih menjadi jurnalis dan Saya juga terlatih menjadi pengikut Kristen sejati?’ Apakah ini dua hal yang bertolak belakang? Atau dapatkah seorang jurnalis menjadi Kristen yang baik. Sebaliknya, dapatkah seorang Kristen sejati menjadi jurnalis yang baik? Di Indonesia ada banyak jurnalis Kristen, itu faktanya. Tapi seberapa banyak kekristenan dan terutama Injil mempengaruhi mereka bekerja di dunia jurnalistik umum? Di sisi lain, ada juga kelompok jurnalis dari media-media Kristen. Sudahkah Injil betul-betul mempengaruhi mereka bekerja? Jika para wartawan Kristen memahami status dan tanggungjawabnya sebagai pengikut Kristus, maka dalam dirinya ia sadar bahwa ia harus memiliki Integritas diri yang tinggi sesuai nilai-nilai kristiani. Dengan demikian, maka Seorang jurnalisme sejatinya tidak berpihak. Tapi amanat bagi pers adalah untuk menyampaikan kebenaran dan keadilan, seperti termaktub dalam pasal 6 UU Pers. Begitulah juga panggilan sebagai orang Kristen untuk senantiasa berpihak kepada kebenaran dan berusaha menciptakan perdamaian, bukan menimbulkan sensasi dan kontroversi. Tuhan Yesus berkata berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9). Hal inilah yang sangat dibutuhkan bagi keutuhan NKRI,” paparnya.
Frans mencontohkan dalam kitab Filipi 1:27 menuliskan: “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil.”
Hidup yang berpadanan dengan Injil amat penting. Sebab, sebagai seorang jurnalis Kristen, maka ia harus memiliki kesaksian hidup sesuai dengan apa yang dia percayai, sesuai dengan imannya dan tidak hanya menjadi jurnalis Kristen KTP. Sebab sekelilingnya akan melihat dan menghakimi bagaimana dia hidup. Kesaksian hidup yang benar akan sangat berdampak, tak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Perlu diketahui juga bahwa setiap kita harus memiliki hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus, karena kita adalah Gereja Tuhan. Gereja bukan berbicara mengenai gedung secara fisik, tetapi gereja adalah kumpulan orang percaya yang telah mengalami hidup baru. Seperti artikulasi dasar dari gereja diterjemahkan dari kata Yunani ekklesia, yang berasal dari kata ek, berarti “keluar dari,” dan kaleo yang berarti ” memanggil.” Jadi gereja adalah “suatu kelompok yang dipanggil keluar.”
Dengan memahami diri sebagai gereja Tuhan, maka gereja harus menjadi saksi di tengah-tengah dunia yang penuh dengan berbagai konflik, baik itu konflik antar sesama, antar hamba Tuhan, konflik sesama organisasi gereja, maka kiprah jurnalis dalam hal ini sangat berperan dalam meliput berita-berita tersebut, dan mengaktualisasikan dalam bentuk tulisan, sehingga dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya masyarakat kristiani dan dapat diketahui dan dimengerti pokok persoalannya, tanpa harus mendatangi pribadi ataupun organisasi yang bermasalah. Hal inilah yang perlu diingat sebagai seorang jurnalis agar dalam meliput berita dan menulisnya, hingga menjadi suatu tulisan yang layak diterbitkan, maka menulis dengan benar tanpa merugikan yang lain. Sebagai contoh sebuah berita seputar gereja, dimana Gereja Kristen Setia Indonesai (GKSI) yang knfliknya sudah berkepanjangan yang terpendam bagai gunung es dan baru meletus tahun 2014, hingga saat inipun masih menjadi topik pembicaraan dikalangan masyarakat Kristen masa kini. Hal ini memberikan suatu fakta yang benar, dimana terjadi berbagai kesalahan yang dilakukan oleh pihak pertama melawan pihak kedua, maka sesuai kebenaran yang ada, maka terlihat betapa beraninya seorang jurnalis menampilkan fakta yang dapat dipercaya keautentikannya dan akhir dari segalanya, maka dunia melihat ini suatu bentuk kesalahan dalam gereja sebagai organisasi yang harus diperbaiki untuk kemajuan ke masa depan yang lebih baik.
Gereja berada di tengah masyarakat pluralisme, diharapakan menjadi contoh bagi agama lain, sehingga keutuhan NKRI semakin kokoh karena kehadiran gereja menjadi saksi yang hidup. Masyarakat pluralistik adalah karunia Tuhan yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Karena itu, sebagaimana anggota masyarakat lainnya, setiap umat Kristen harus dapat bekerjasama secara maksimal dengan umat beragama lainnya, hidup penuh toleransi tanpa harus menganut pandangan pluralisme agama yaitu satu faham yang mengajarkan bahwa keselamatan, terdapat dalam setiap agama. Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan diberikan Allah kepada setiap orang yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan hidup berdasarkan firman-Nya. Namun demikian memasuki abad ke-20, para teolog modern semakin marak mengajarkan bahwa keselamatan juga terdapat dalam setiap agama dan kepercayan yang ada di dalam masyarakat pluralistik. Lalu bagaimanakah sikap Kristen yang bertahan pada ajaran Alkitab.
Paparan singkat ini ditujukan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya orang kristen memandang pluralisme (kemajemukan) dari sudut pandang iman Kristen di tengah-tengah saudara-saudaranya yang menganut kepercayaan berbeda dengannya. Dengan pemahaman yang baik diharapkan, semakin terbangunnya semangat hidup saling memahami dan mengasihi satu dengan lainnya, dalam satu masyarakat pluralistik yang penuh damai sejahtera, jauh dari konflik antar suku, ras dan agama. Maka dengan demikian keutuhan NKRI terlihat jelas dengan memiliki prinsip Bineka Tunggal Ika, prinsip Nasionalisme Indonesia, prinsip Kebebasan yang Bertanggungjawab, prinsip Wawasan Nusantara dan prinsip Persatuan Pembangunan Cita-cita Reformasi. Sebagai jurnalis Kristen, perlu memahami bahwa Indonesia negara yang memiliki banyak agama, manusia sebagai mahkluk beragama, keragaman agama bukanlah sumber konflik, sebab Bhineka Tunggal Ika dan toleransi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam NKRI. Maka disinilah peran dan fungsi jurnalis Kristen menjadi ujung tombak kebenaran bagi keutuhan NKRI yang adalah harga mati.
Dengan demikian, maka jurnalis Kristen dalam setiap kesempatan meliput berbagai peristiwa dimanapun berada, diharapkan jadilah saksi yang dapat mempersatukan setiap manusia yang pernuh dengan beragam masalah hidup, agar menjadi gereja yang hidup, gereja yang menjadi saksi dan menjadi berkat bagi sesama. Jurnalis Kristen yang sejati haruslah menjadikan setiap berita, menjadi suatu informasi yang benar, sebab jika dibaca orang oleh setiap pribadi dari latarbelakang yang berbeda, maka mereka terberkati dan diri kita sebagai jurnalispun diberkati Tuhan. Inilah keesaan gereja yang utuh, sempurna dimata Tuhan. Semuanya ini merupakan bagian dari peran para jurnalis dalam rangka membangun keesaan atau kesatuan gereja menghadapi partisipasi gereja lokal yang berpihak pada gerakan-gerakan disintegrasi bangsa Indonesia. SM

READ  Itet Tridjajati Sumarijanto, MBA (Anggota DPR RI/FPDIP): Perlunya Proporsionalitas Anggaran di Kementerian Agama