Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka, Pdt. Dr. Purim Marbun: Bangsa Ini Belum Merdeka Secara Holistik

Kalau masih ada gereja yang ditolak atau dipersekusi, berarti masih ada ruang kebebasan yang belum benar-benar hadir

Jakarta, VictoriousNews.com – Tepat pada 17 Agustus 2026, Indonesia memasuki usia ke-81 tahun. Pemerintah mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, sebuah tema yang menekankan pentingnya persatuan nasional, keadilan sosial, serta pemenuhan hak-hak dasar seluruh rakyat Indonesia.
Namun, di balik semarak perayaan kemerdekaan, muncul pertanyaan yang terus menggema: apakah Indonesia benar-benar telah merdeka?
Di tengah maraknya korupsi, lemahnya penegakan hukum, pelanggaran hak asasi manusia, meningkatnya intoleransi, penolakan pembangunan rumah ibadah, hingga kesenjangan sosial yang masih mencolok, makna kemerdekaan terasa perlu direfleksikan kembali.
Menurut Dosen STT Petamburan, Pdt. Dr. Purim Marbun, M.Th., kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan secara fisik. Menurutnya, kemerdekaan harus dipahami secara utuh, baik dari perspektif iman Kristen maupun kehidupan berbangsa.

Kemerdekaan Sejati Menurut Alkitab
Purim mengawali refleksinya dari Surat Galatia 5:1-15. Ia menegaskan bahwa Alkitab tidak memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan melakukan apa saja.
“Menurut Alkitab, kemerdekaan adalah kebebasan untuk melakukan kehendak Allah. Seluruh hidup, waktu, talenta, pekerjaan, bahkan profesi yang kita jalani dipakai untuk memuliakan Tuhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kemerdekaan Kristen berarti terbebas dari belenggu dosa, hawa nafsu, kenajisan, hingga pola pikir yang sempit dan keliru.
“Jadi merdeka bukan berarti bebas berbuat sesuka hati, tetapi bebas untuk hidup sesuai kehendak Tuhan dan berkarya bagi kemuliaan-Nya,” ujar Pria kelahiran Humbang Hasundutan Sumut, 29 September 1971.

Indonesia Masih Menyimpan Banyak “Ruang yang Belum Merdeka”
Ketika pembahasan bergeser pada kondisi bangsa, Purim menyampaikan refleksi yang cukup kritis.
Menurutnya, setelah 81 tahun merdeka, Indonesia masih memiliki banyak “ruang yang belum merdeka”.
“Kalau saya melihat secara jujur, Indonesia belum merdeka secara holistik,” tegas Gembala Jemaat GBI Taman Anggrek, Jakarta Barat ini.
Ia mencontohkan masih adanya kasus intoleransi, persekusi terhadap gereja, penolakan pembangunan rumah ibadah, hingga berbagai bentuk pembatasan kebebasan beragama.
Padahal, menurutnya, kebebasan menjalankan agama telah dijamin konstitusi. “Kalau masih ada gereja yang ditolak atau dipersekusi, berarti masih ada ruang kebebasan yang belum benar-benar hadir.”

Pendidikan Belum Sepenuhnya Adil
Purim juga menyoroti dunia pendidikan.
Ia mengapresiasi berbagai program pemerintah, termasuk Sekolah Rakyat. Namun ia mengingatkan agar implementasinya benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Menurutnya, praktik ketidakadilan masih terjadi, mulai dari akses pendidikan hingga proses seleksi di sejumlah perguruan tinggi.
Ia menilai masih terdapat kepentingan-kepentingan tertentu yang berpotensi menggeser prinsip meritokrasi. “Jangan sampai kesempatan pendidikan hanya dinikmati kelompok tertentu karena koneksi atau kekuasaan.”

Kesenjangan Sosial Masih Menjadi Potret Bangsa
Bagi Purim, kesenjangan ekonomi menjadi bukti lain bahwa kemerdekaan belum dirasakan secara merata.
Ia menggambarkan pemandangan yang sering ditemui di berbagai kota besar.
“Di satu sisi berdiri gedung-gedung mewah dan hotel bertingkat, tetapi hanya beberapa meter di sampingnya masih ada kawasan kumuh. Kontras seperti ini menunjukkan bahwa masih ada ketimpangan yang besar.”
Menurutnya, pembangunan ekonomi seharusnya tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan pemerataan.

Guru Agama Kristen dan Dosen Teologi Masih Menghadapi Banyak Kendala
Perhatian Purim juga tertuju pada dunia pendidikan Kristen.
Ia mengaku prihatin karena masih banyak sekolah yang memiliki siswa Kristen tetapi tidak memiliki guru agama Kristen.
Akibatnya, banyak siswa baru mencari gereja ketika membutuhkan nilai pelajaran agama.
“Ini tentu tidak ideal. Gereja bukan lembaga pendidikan formal yang melakukan evaluasi akademik.”
Sebagai dosen teologi, Purim juga menyoroti minimnya dukungan terhadap pengembangan karier dosen teologi di Indonesia.
Menurutnya, kesempatan memperoleh hibah penelitian, pendanaan akademik, hingga peningkatan jabatan fungsional masih sangat terbatas dibanding kebutuhan yang ada. “Kalau dosen dituntut menghasilkan penelitian, jurnal, dan pengabdian masyarakat, tentu perlu dukungan anggaran yang memadai.”
Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadap ratusan perguruan tinggi teologi yang tersebar di Indonesia.

Nasionalisme Mengalami Tantangan Serius
Purim menilai semangat nasionalisme bangsa perlahan mengalami penurunan, terutama di kalangan generasi muda.
Menurutnya, generasi yang hidup pada masa perjuangan tentu memiliki pengalaman berbeda dibanding Generasi Z, Alpha, maupun Beta.
Ia mengingatkan bahwa jika praktik nasionalisme tidak lagi terlihat dalam kehidupan sehari-hari, maka rasa cinta tanah air akan terus menurun.
“Kalau anak-anak tidak membaca sejarah, tidak mengenal perjuangan bangsa, maka nasionalisme mereka akan semakin memudar.”
Ia bahkan menyinggung fenomena sebagian anak muda yang mulai bercita-cita menjadi warga negara asing sebagai salah satu indikator menurunnya rasa kebangsaan.

Nasionalisme Harus Dimulai dari Rumah
Sebagai penutup, Purim mengajak seluruh elemen bangsa membangun kembali nasionalisme secara bersama-sama.
Menurutnya, pendidikan kebangsaan tidak cukup hanya mengandalkan sekolah atau pemerintah. Ia menawarkan tiga pilar utama.

Pertama,keluarga.Menurutnya, keluarga harus menjadi tempat pertama menanamkan cinta tanah air melalui kebiasaan sederhana seperti memasang bendera Merah Putih, mengenalkan sejarah bangsa, hingga menyanyikan lagu-lagu nasional.

Kedua, gereja dan lembaga pendidikan. Ia mengapresiasi gereja-gereja yang menggelar ibadah kemerdekaan, mendoakan bangsa, dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan sebagai bentuk nyata nasionalisme.

Ketiga, pemerintah. Ia berharap pemerintah menyusun strategi baru untuk membumikan kembali nilai-nilai nasionalisme hingga ke tingkat masyarakat.
Menurutnya, peringatan Hari Kemerdekaan jangan hanya diisi perlombaan tradisional semata. “Selain lomba makan kerupuk atau lomba kelereng, kenapa tidak dibuat lomba menghafal Pancasila, membacakan Sumpah Pemuda, atau menyanyikan lagu-lagu nasional? Dampaknya akan jauh lebih besar dalam membangun rasa cinta tanah air.”
Bagi Purim, peringatan 81 tahun Indonesia Merdeka seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah cita-cita kemerdekaan benar-benar telah dirasakan seluruh rakyat. “Saya berharap pemerintah semakin peduli menghadirkan keadilan, pemerataan, dan kebebasan bagi semua. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya soal lepas dari penjajahan, tetapi ketika seluruh rakyat dapat hidup dengan adil, bermartabat, dan merasakan hak-haknya tanpa diskriminasi,” pungkasnya. SM