JAKARTA,VictoriousNews.com— Delapan puluh satu tahun Indonesia sudah merdeka dari penjajahan secara politik. Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada bebasnya sebuah bangsa dari kekuasaan asing. Ada kemerdekaan yang jauh lebih dalam: kemerdekaan manusia dari dosa, dendam, iri hati, keserakahan, egoisme, serta berbagai keterikatan masa lalu.
Di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN), Pdt. Dr. Melianus Kakiay, M.Th., mengajak umat Kristen memaknai kemerdekaan bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai panggilan untuk hidup dalam kebenaran, melayani sesama, dan menjadi hamba Allah.
Menurutnya, Indonesia memang telah merdeka secara politik. Tetapi secara rohani, masih banyak manusia Indonesia yang belum sungguh-sungguh merdeka karena kehidupannya masih dibelenggu dosa dan berbagai kepentingan diri.
“Secara politik kita sudah merdeka dari penjajah. Tetapi secara rohani belum. Banyak orang masih terikat dengan masa lalu, terikat dengan dosa, dendam, iri hati, dengki, bahkan egois,” ujar Melianus.
Kristus dan Kemerdekaan Sejati
Pdt. Melianus yang juga gembala jemaat GBIN Kapernaum Jakarta menegaskan, perspektif kekristenan mengenai kemerdekaan berpusat pada Kristus. Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan secara jasmani, melainkan pembebasan manusia dari kuasa dosa.
Ia merujuk pada Galatia 5:1 yang menegaskan bahwa Kristus telah memerdekakan manusia agar tidak kembali hidup dalam perhambaan.
“Kalau kita sudah dimerdekakan oleh Kristus, maka sungguh-sungguh kita merdeka,” katanya.
Menurut Melianus, kemerdekaan yang diberikan Kristus setidaknya memiliki tiga tujuan utama.
Pertama, manusia dibebaskan dari kuasa dosa agar hidup dalam kebenaran.
Kemerdekaan Kristen bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan meninggalkan kehidupan lama dan menjalani kehidupan yang benar di hadapan Tuhan.
Kedua, manusia dimerdekakan untuk melayani sesama.
Kemerdekaan tidak boleh berubah menjadi egoisme. Orang yang benar-benar merdeka justru memiliki kepedulian terhadap orang lain.
“Kalau belum dimerdekakan, orang masih egois, hanya memikirkan diri sendiri, kelompok dan golongannya,” tegasnya.
Ketiga, manusia dimerdekakan untuk menjadi hamba Allah.
Melianus mengacu pada 1 Petrus 2:16, bahwa kemerdekaan harus digunakan untuk hidup sebagai hamba Allah. Artinya, kehidupan yang telah dibebaskan Kristus dipersembahkan untuk melakukan kehendak Tuhan dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.
81 Tahun Merdeka, Mengapa Masih Banyak Persoalan?
Memaknai kemerdekaan secara rohani juga membuat Melianus melihat kembali perjalanan bangsa Indonesia dari tahun ke tahun.
Ia menilai, memasuki usia 81 tahun kemerdekaan, masih terdapat sejumlah persoalan serius yang belum menunjukkan perubahan signifikan. Bahkan dalam beberapa aspek, masyarakat justru diperhadapkan dengan persoalan yang semakin kompleks.
Salah satunya adalah korupsi dan penegakan hukum.
“Dalam hal pemberantasan korupsi dan penegakan hukum, justru kelihatan semakin banyak korupsi. Bahkan yang melakukan itu adalah orang-orang yang dipercaya untuk menegakkan hukum di negeri ini,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan keprihatinan mendalam. Sebab, hukum seharusnya menjadi instrumen untuk menghadirkan keadilan, bukan ruang untuk memperkaya diri atau kepentingan kelompok.
Persoalan lain yang disorotnya adalah intoleransi dan ketidakadilan.
Bagi Melianus, bangsa yang telah berusia 81 tahun seharusnya semakin matang dalam berdemokrasi, semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, dan semakin mampu membangun kehidupan yang damai.
“Semakin berusia, semakin dewasa. Kita harus punya pemikiran yang terus diperbarui sehingga bangsa ini semakin sejahtera, tenang dan damai,” katanya.
Yang Harus Diubah Adalah Manusianya
Di tengah berbagai persoalan kebangsaan tersebut, Melianus melihat akar persoalannya bukan semata-mata pada sistem, melainkan pada manusia yang menjalankan sistem tersebut.
Ia mengingat kembali gagasan revolusi mental yang pernah menjadi salah satu agenda penting pemerintah di era Presiden Jokowi. Menurutnya, gagasan perubahan mental memiliki relevansi kuat dengan prinsip pembaruan hidup dalam kekristenan.
Ia mengutip Roma 12:2 tentang pembaruan budi.
“Manusianya yang mesti berubah. Manusia yang sudah berubah dan memimpin, barulah dia menjadi pemimpin pelayan,” katanya.
Pemimpin, lanjutnya, tidak boleh menggunakan jabatan untuk melayani partai, golongan, keluarga, atau kepentingan pribadi. Jabatan publik seharusnya digunakan untuk melayani masyarakat.
“Bukan melayani partainya, golongannya atau pribadinya sendiri, tetapi melayani masyarakat,” tegasnya.
Kritik Boleh, Melawan Konstitusi Jangan
Di tengah maraknya sikap antipati terhadap pemerintah di media sosial, Melianus mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terseret oleh informasi yang belum tentu benar.
Ia memahami munculnya kejenuhan masyarakat terhadap berbagai slogan, pidato, dan janji politik yang tidak selalu diwujudkan. Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyebarkan informasi palsu atau mengarah pada tindakan yang merusak kehidupan berbangsa.
Menurutnya, media sosial saat ini dipenuhi informasi yang bercampur antara fakta, opini, dan hoaks.
“Kalau dibiarkan terus, itu bisa berbahaya. Masyarakat akan terpengaruh,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah lebih serius menangani penyebaran berita bohong di ruang digital.
Di sisi lain, Melianus menegaskan bahwa mengkritik pemerintah merupakan hal yang sah. Mengingatkan dan mengoreksi kebijakan pemerintah juga merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Namun, kritik harus ditempatkan dalam koridor konstitusi dan kepentingan bangsa. “Kita boleh mengkritisi atau mengingatkan pemerintah. Tetapi tidak boleh melawan sepanjang pemerintah masih berusaha melaksanakan konstitusi dan melakukan perubahan-perubahan. Kita mesti dukung dan doakan,” katanya.
Bukan Sekadar Doa, Tetapi Pertobatan Nasional
Bagi Melianus, doa untuk bangsa dan pemerintah merupakan bagian penting dari tanggung jawab umat percaya. Namun, doa tidak boleh berhenti pada permohonan agar keadaan menjadi baik.
Ia menilai, doa kebangsaan perlu disertai dengan semangat pertobatan.
“Doa itu bagus. Tetapi seperti yang diajarkan Tuhan Yesus, ada jenis yang tidak hanya dengan doa, tetapi doa dan puasa,” katanya.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, puasa tersebut ia maknai sebagai panggilan untuk bertobat dan berbalik dari jalan-jalan yang salah.
Karena itu, ia mengusulkan agar doa syafaat bagi bangsa tidak hanya berisi permohonan berkat bagi para pemimpin, tetapi juga menjadi doa pertobatan nasional.
“Kalau pemimpin tidak bertobat, buat apa kita hanya memberkati terus? Mereka sendiri juga harus sadar bahwa kalau sudah salah, harus memperbaiki diri,” tegasnya.
Ia berharap gereja dan komunitas keagamaan turut mengambil bagian dalam mendoakan serta menyuarakan nilai-nilai pertobatan kepada para pemimpin, tanpa memandang latar belakang agama maupun jabatan.
Pemimpin yang Salah Harus Diganti
Melianus juga mendorong ketegasan dalam pengelolaan pemerintahan. Menurutnya, ketika seorang pejabat terbukti tidak mampu menjalankan tanggung jawab atau menyalahgunakan kepercayaan, pergantian harus dilakukan.
“Kalau memang sudah begitu, tidak perlu lama-lama. Ganti,” katanya.
Namun, pergantian tersebut tidak boleh didasarkan pada kepentingan politik atau pesanan kelompok tertentu.
Pemimpin yang dipilih harus benar-benar melalui proses check and recheck, memiliki kompetensi, integritas, serta takut akan Tuhan. “Jangan sampai orang yang awalnya bagus, akhirnya juga terlibat korupsi,” ujarnya.
Pesan untuk para tokoh agama dan Presiden Prabowo
Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Melianus mengajak para tokoh agama, tokoh masyarakat, penegak hukum dan seluruh elemen bangsa untuk mendukung program-program pemerintah yang bertujuan membangun Indonesia.
Ia berharap cita-cita menuju Indonesia Emas tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui kerja keras, integritas dan keberanian memperbaiki berbagai persoalan bangsa.
“Bagi para tokoh masyarakat, mari kita mendukung program pemerintah untuk membangun bangsa ini dan menjadikan Indonesia maju menuju Indonesia Emas. Karena itu, kita berdoa dan menyebarkan hal-hal yang mendatangkan damai,” katanya.
Khusus kepada para penegak hukum, Melianus berpesan agar hukum dijalankan dengan integritas dan rasa takut akan Tuhan.
“Percuma kita punya ilmu hukum yang tinggi kalau pada akhirnya kita sendiri yang mengkhianati hukum,” tegasnya.
Sementara kepada Presiden Prabowo Subianto, ia menyampaikan dukungan dan doa agar kepemimpinan nasional berjalan dengan baik.
“Saya doakan supaya Bapak diberikan hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan untuk dapat memimpin dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mendorong Presiden tidak ragu mengevaluasi dan mengganti pejabat yang tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.
“Jangan segan-segan mengganti mereka yang tidak becus dengan yang becus, dengan yang takut akan Tuhan,” katanya.
Melianus juga berharap kekayaan alam Indonesia dikelola secara bertanggung jawab untuk kesejahteraan rakyat. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat, bukan justru menjadi sumber korupsi dan ketimpangan.
Pada akhirnya, bagi Melianus, kemerdekaan Indonesia tidak cukup dirayakan dengan upacara, bendera, dan slogan kebangsaan.
Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membebaskan manusia Indonesia dari dosa, keserakahan, egoisme, ketidakadilan, korupsi, intoleransi dan berbagai bentuk perbudakan baru.
Sebab, bangsa yang merdeka membutuhkan manusia-manusia yang juga merdeka secara batin—manusia yang tidak lagi diperbudak kepentingan diri, tetapi bersedia hidup dalam kebenaran, melayani sesama dan mengabdikan dirinya bagi Tuhan serta bangsa. “Kalau kita sudah dimerdekakan oleh Kristus, maka sungguh-sungguh kita merdeka,” pungkasnya. SM









