JAKARTA— VictoriousNews.com — Dua hari menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, suasana kebangsaan dikejutkan oleh bencana gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 itu tidak hanya mengguncang bumi, tetapi juga mengguncang hati. Ribuan warga terpaksa mengungsi, sementara sedikitnya 53 jiwa dikabarkan meninggal dunia. Rumah dan bangunan rusak, kehidupan masyarakat terganggu, dan duka menyelimuti sejumlah wilayah terdampak.
Di saat sebagian besar masyarakat bersiap menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan sukacita, saudara-saudara sebangsa di NTT justru menghadapi kehilangan, ketakutan dan ketidakpastian.
Di tengah suasana itulah, makna kemerdekaan kembali dipertanyakan: apa arti kemerdekaan ketika sebagian anak bangsa sedang berjuang untuk bertahan hidup?
Wakil Ketua Badan Pekerja Daerah Gereja Bethel Indonesia (BPD GBI) DKI Jakarta, Pdt. Sapto Edhi Rahardjo, mengajak masyarakat memaknai HUT ke-81 Kemerdekaan RI bukan sekadar sebagai perayaan, melainkan sebagai momentum untuk kembali menumbuhkan persatuan, kepedulian dan rasa syukur. “Peringatan kemerdekaan ini tentu kita rasakan dengan kegembiraan. Tetapi di sisi lain, ada keprihatinan melihat kondisi global dan juga kondisi Indonesia,” ujar Pdt. Sapto yang juga Gembala GBI Pejaten, Jakarta Selatan.
Menurutnya, bangsa Indonesia tidak sedang melewati perjalanan yang mudah. Persoalan ekonomi, dinamika politik, hingga berbagai persoalan hukum menjadi tantangan yang turut memengaruhi kehidupan masyarakat dan kepercayaan publik.
Namun, di tengah berbagai persoalan tersebut, ia mengajak seluruh anak bangsa untuk tidak kehilangan semangat persatuan. “Peringatan ini harus mengembalikan semangat kemerdekaan, semangat kebersatuan, dan kesadaran bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia adalah anugerah Tuhan,” tuturnya.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan
Bagi Pdt. Sapto, kemerdekaan tidak berhenti pada sejarah perjuangan bangsa untuk terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan justru membawa tanggung jawab: bagaimana bangsa Indonesia mengusahakan dan memelihara anugerah yang telah diterimanya.
Ia mengacu pada prinsip dalam Kejadian 2:15, ketika manusia ditempatkan Tuhan untuk mengusahakan dan memelihara.
“Demikian juga kita ditempatkan sebagai warga negara Indonesia. Kita menerima anugerah yang luar biasa ini. Tugas kita adalah mengusahakan dan memelihara kemerdekaan ini,” katanya.
Indonesia, lanjutnya, adalah bangsa yang sangat besar dan majemuk. Ribuan pulau, beragam suku, bahasa, budaya dan agama menjadi kekayaan sekaligus tantangan bagi persatuan.
Namun, di tengah keberagaman itu, Indonesia tetap berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Ini yang harus kita syukuri sebagai anugerah. Tuhan mencintai negara kita dan memberkati tanah air kita,” ujarnya.
Karena itu, menurut Pdt. Sapto, tugas generasi saat ini bukan lagi memperdebatkan kemerdekaan dari penjajahan yang telah dilalui, tetapi menjaga agar kemerdekaan tetap hidup melalui persatuan, keadilan, kepedulian dan tanggung jawab bersama.
Duka NTT Menguji Empati Bangsa
Makna kemerdekaan tersebut semakin nyata ketika bencana datang.
Ribuan warga NTT yang kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian mengingatkan bahwa di balik perayaan kemerdekaan, masih ada saudara sebangsa yang sedang membutuhkan uluran tangan.
Pdt. Sapto menegaskan, bencana menunjukkan keterbatasan manusia. Karena itu, respons pertama terhadap penderitaan sesama seharusnya bukan menyalahkan, melainkan menghadirkan empati dan kasih. “Manusia itu sangat berharga di mata Tuhan. Karena itu, ketika kita mendengar bencana, sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu yang muncul adalah kesedihan dan keprihatinan,” katanya.
Menurutnya, kepedulian tidak boleh dibatasi oleh agama, suku, budaya maupun latar belakang. Ketika satu bagian bangsa terluka, seluruh bangsa seharusnya ikut merasakan.
Inilah wajah kemerdekaan yang sesungguhnya: bukan hanya mampu merayakan ketika keadaan baik, tetapi juga mampu berdiri bersama ketika saudara sebangsa sedang mengalami penderitaan.
Bentuk Solidaritas, GBI Telah Galang Donasi dan Berdoa
Sebagai bentuk solidaritas, GBI turut mengambil langkah nyata dengan menggalang donasi bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Bagi Pdt. Sapto, kepedulian tidak cukup hanya dengan rasa iba. Doa harus berjalan bersama tindakan.
“Tidak bisa kita hanya diam, mengeluh atau menyalahkan. Yang namanya bencana adalah bentuk keterbatasan kita sebagai manusia. Maka selayaknya kita bersama-sama menanggung penderitaan itu,” tegasnya.
Ia mengajak masyarakat memberikan bantuan sesuai kemampuan masing-masing. Tidak harus besar. Sebab bagi mereka yang sedang berada di tengah penderitaan, bantuan sekecil apa pun dapat menjadi tanda bahwa mereka tidak sendirian. “Apapun yang sekecil apa pun, bisa kita usahakan,” ujarnya.
Karena itu, Pdt. Sapto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga hubungan kemanusiaan dan memperkuat solidaritas sebagai sesama anak bangsa.
Pemerintah Harus Hadir dan Bergerak Cepat
Selain mengajak masyarakat bergerak, Pdt. Sapto juga menyampaikan pesan kepada pemerintah.
Menurutnya, masyarakat telah memberikan kepercayaan dan mandat kepada pemerintah, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Kepercayaan itu harus diwujudkan melalui kehadiran nyata ketika rakyat menghadapi kesulitan.
Dalam menghadapi bencana NTT, pemerintah diharapkan menjadi pihak yang lebih dahulu hadir, lebih cepat bergerak dan lebih tanggap membaca kebutuhan masyarakat.
“Pemerintah harus mengambil inisiatif lebih dahulu. Hadir sebagai pemerintah, hadir sebagai orang yang dipercaya, hadir sebagai institusi yang diberikan tanggung jawab untuk bekerja, mengusahakan dan memelihara,” katanya.
Ia berharap pemerintah tidak berhenti pada respons administratif, tetapi benar-benar hadir di tengah masyarakat yang sedang mengalami penderitaan. “Harapan saya, pemerintah cukup tanggap dan cukup cepat untuk menanggulangi atau meringankan beban anak bangsa yang sedang menderita menerima bencana ini,” tegasnya.
Kemerdekaan Diuji Saat Saudara Sedang Menderita
HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya bukan hanya tentang upacara, parade, perlombaan atau kibaran merah putih.
Kemerdekaan menemukan maknanya ketika bangsa ini mampu berdiri bersama saat sebagian anak bangsa sedang terjatuh.
Di NTT, ribuan warga mungkin tidak sedang mempersiapkan perayaan kemerdekaan. Mereka justru sedang berada di pengungsian, berhadapan dengan kehilangan dan menunggu pertolongan.
Di tengah kondisi itu, pertanyaan tentang makna kemerdekaan menjadi semakin dalam.
Apakah kemerdekaan hanya untuk dirayakan, atau juga untuk dipelihara bersama?
Pesan Pdt. Sapto menjadi penting: kemerdekaan adalah anugerah yang harus diusahakan dan dipelihara. Memelihara persatuan. Memelihara kepedulian.Memelihara kepercayaan. Memelihara kemanusiaan.
Dan yang paling penting, memelihara Indonesia sebagai rumah bersama bagi seluruh anak bangsa.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa ini dahulu berhasil keluar dari penjajahan.
Kemerdekaan juga tentang bagaimana hari ini kita tidak membiarkan saudara sebangsa menghadapi penderitaan seorang diri.
Di tengah duka NTT, merah putih seharusnya tidak hanya berkibar di tiang-tiang upacara. Merah putih harus hidup di dalam hati—menjadi solidaritas, kasih, persatuan dan keberanian untuk hadir bagi mereka yang sedang terluka. SM


















