Jakarta, VictoriousNews.com- Sebagai tokoh utama dalam punakawan di pewayangan Jawa, Semar dikisahkan menjadi pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan wiracarita Mahabharata dan Ramayana. Tokoh ini merupakan ciptaan pujangga Jawa.
Sebagai pengasuh tentu memahami keadaan pada masanya mengabdi. Negeri (dunia) yang semula dikenal subur dan makmur serta tersohor sebagai “tongkat kayu dan batu jadi tanaman” kemudian berubah menjadi cibiran rakyat sendiri akibat perilaku laku memperkaya diri dengan cara ilegal. Jelas-jelas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) masih terbela dengan kalimat praduga tak bersalah Sifat mementingkan diri sendiri dan mengabaikan amat sebagai pemimpin seperti menjadi kebiasaan yang tetap dipertahankan demi kejayaan kelompok sendiri.
Semar tergugah untuk memperingatkan agar yang diasuh kembali pada jalan yang selayaknya sebagai pemimpin, yaitu mengayomi dan memberikan kesejahteraan kepada rakyat Tugas dan kewajiban seorang pemimpin adalah memberikan rasa adil bagi semua. Sehingga jati diri bangsa tetap tegak sepanjang masa.
Pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk (Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 20.00 WIB hingga Sabtu, 22 Agustus 2026 pukul 04.30 WIB) dengan lakon “Semar Kuning” dipentaskan di halaman parkir bagian barat Komplek Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA-RI) di Jalan Medan Merdeka Utara Nomor 9-13 (Jakarta Pusat, DKI Jakarta). Kegiatan tersebut menjadi yang kelima sejak digelar pada tahun 2022. Mahkamah Agung Republik Indonesia berinisiatif menggelar pementasan wayang untuk mempersatukan kembali masyarakat setelah dilanda wabah Covid-19 sepanjang tahun 2020-2021.

Tokoh-tokoh wayang dimainkan oleh kolaborasi tiga dalang masing-masing Ki Prof Dr H Yanto SH MH, Ki Sigit Arianto S Sn, dan Ki Sri Kuncoro (Brimob). Pementasan wayang kulit semalam suntuk digelar rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 MA-RI. Pengunjung (masyarakat) dihidangkan sajian malam, hingga minuman penahan kantuk seperti teh manis dan kopi hitam yang pahit. Bagi yang beruntung dapat membawa pulang doorprice seperti sepeda dan motor listrik.
Selain masyarakat Prof Dr H Sunarto SH MH (Petahana Ketua MA-RI ke-15 periode 16 Oktober 2024-kini) dan Prof Dr H Muhammad Syarifuddin SH MH (Ketua MA-RI ke-14 periode 30 April 2020-16 Oktober 2024), gelaran wayang kulit semalam suntuk juga dihadiri perwakilan dari pejabat kementerian, kepolisian daerah Metro Jakarta Raya dan lain. Selain pejabat mahkamah agung, pengadilan negeri dan tinggi serta yang terkait. Bahkan yang tidak berkesempatan datang ke avenu di komplek Mahkamah Agung dapat menyaksikan bersama (nonton bareng) lewat sambungan langsung yang disediakan.
Gelaran wayang kulit “Semar Kuning” bertema “Peradilan Luhur, Indonesia Makmur” merupakan rangkaian peringatan HUT ke-81 MA-RI. Melalui filosofi tokoh Semar, pimpinan Mahkamah Agung menyampaikan pesan tentang kearifan, pentingnya kritik yang membangun, integritas tanpa batas, serta peran peradilan sebagai benteng keadilan. Kisah Semar merefleksikan figur pamong yang bijak, di mana suara kebenaran dan ketulusan harus terus dijaga dalam melayani masyarakat. Lakon ini tidak sekadar hiburan, tetapi sarana menyampaikan kritik sosial, tawa, serta peneguhan moral bagi aparatur negara. Hal ini mengingatkan seluruh warga peradilan agar senantiasa menjunjung tinggi prinsip kejujuran, menolak segala bentuk suap atau gratifikasi, serta menjaga wibawa hukum. Pertunjukan konsep 1 (satu) layar dengan 3 (tiga) dalang dan dapat disaksikan serentak oleh seluruh satuan kerja peradilan di tingkat banding dan pertama melalui Kanal YouTube Mahkamah Agung RI @epa_phm















