JAKARTA,VictoriousNews.com— Hidup bukan semata tentang berapa lama manusia tinggal di dunia, seberapa banyak harta yang dikumpulkan, atau setinggi apa pencapaian yang diraih. Di balik perjalanan hidup, ada pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa manusia menjalani hidupnya?
Bagi Advokat senior Ev. Dr. Jhon SE Panggabean, SH, MH, jawabannya adalah menyenangkan Tuhan dan tetap setia kepada-Nya sampai akhir kehidupan.
Pesan itu disampaikan Jhon saat berkhotbah dengan tema “Setia Sampai Mati”, berlandaskan Wahyu 2:10, dalam ibadah Minggu di Gereja Pentakosta Kristus (GEPENKRIS) Jakarta, Jalan Bangau Buntu No. 597, Bungur, Jakarta Pusat, Minggu (20/9/2026).
Bagi Jhon, kesetiaan bukan sekadar ucapan atau slogan rohani. Kesetiaan merupakan karakter yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengutip Wahyu 2:10: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”
Ayat tersebut menjadi fondasi utama khotbahnya. Menurut Jhon, menjadi orang percaya bukan hanya soal bagaimana seseorang memulai perjalanan imannya, tetapi bagaimana ia bertahan dan tetap setia hingga mencapai garis akhir.

Jhon sengaja memilih tema “Setia Sampai Mati”, bukan sekadar “setia sampai akhirnya”. Menurut dia, kehidupan iman merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan. Manusia akan berhadapan dengan godaan, tekanan, kekecewaan, persoalan keluarga, masalah ekonomi, hingga berbagai tawaran dunia yang terlihat menjanjikan.
“Banyak orang mengatakan, setialah sampai akhirnya. Tetapi kita harus setia sampai mati,” tegas Jhon.
Ia mengingatkan bahwa manusia sering mudah mengucapkan janji, tetapi tidak selalu mudah mempertahankannya. Sebaliknya, Tuhan tetap setia terhadap janji-Nya.
Karena itu, ketika kehidupan berada dalam tekanan sekalipun, orang percaya harus tetap melekat kepada Tuhan.
Dunia Menawarkan Kenikmatan, Tuhan Memberikan Kedamaian
Jhon kemudian mengajak jemaat melihat kembali orientasi kehidupan.
Dunia, katanya, menawarkan banyak hal: ketenangan, kenikmatan, kelimpahan, kesuksesan dan berbagai pencapaian. Namun semua itu tidak otomatis menghadirkan kedamaian sejati.

Karena itu, manusia tidak boleh menjadikan keberhasilan duniawi sebagai tujuan akhir.
“Kalau kita mencari damai, ketenangan dan sukacita, semuanya ada di dalam Tuhan,” ujar Jhon.
Ia juga mengingatkan jemaat agar tidak membiarkan ketakutan menguasai kehidupan. Ketakutan yang berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk melangkah dan mempercayakan kehidupannya kepada Tuhan.
Sebaliknya, iman harus melahirkan keberanian, ketenangan dan keyakinan bahwa Tuhan tetap menyertai dalam setiap keadaan.
Siapapun Bisa Jatuh Dalam Dosa
Pesan tentang kesetiaan kemudian dibawa Jhon pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, godaan tidak selalu datang dalam bentuk persoalan besar. Kejatuhan justru bisa dimulai dari sesuatu yang dianggap kecil dan sepele.
Ia mengingatkan jemaat untuk berhati-hati terhadap berbagai godaan yang hadir melalui kehidupan sehari-hari, termasuk melalui telepon genggam dan berbagai tayangan yang dapat memengaruhi pikiran serta merusak kekudusan hati.
“Hal-hal yang kecil kelihatannya, tetapi itu bisa menjadi awal dosa,” katanya.
Karena itu, menjaga hati, pikiran dan kehidupan tetap kudus menjadi bagian penting dari perjuangan untuk mempertahankan kesetiaan kepada Tuhan.
Tidak Ada yang Kebal terhadap Godaan
Untuk memperkuat pesannya, Jhon menceritakan sebuah pengalaman sekitar 25 tahun lalu mengenai seorang pelayan Tuhan yang tiba-tiba meninggalkan tempat pelayanannya setelah menghadapi persoalan rumah tangga.
Peristiwa tersebut, menurut Jhon, menjadi pelajaran bahwa siapa pun dapat menghadapi godaan dan jatuh apabila tidak menjaga hubungan dengan Tuhan.
Bahkan seseorang yang telah lama melayani Tuhan sekalipun tetap harus berhati-hati.
Karena itu, lamanya seseorang berada dalam pelayanan bukan jaminan bahwa dirinya terbebas dari godaan. Kesetiaan harus terus dijaga melalui hubungan yang dekat dengan Tuhan.
Kesetiaan Diuji di Dalam Keluarga
Dari persoalan pribadi, Jhon kemudian membawa pesan kesetiaan ke dalam kehidupan keluarga.
Menurutnya, kasih kepada Tuhan harus tercermin dalam cara seseorang memperlakukan pasangan, anak, cucu dan sesama.
Suami dan istri, katanya, harus saling menguatkan ketika menghadapi persoalan, bukan justru saling menjatuhkan.
Ketika pasangan sedang lemah, yang dibutuhkan bukan celaan, melainkan dukungan, kesabaran dan doa.
“Kalau kita mengasihi Tuhan, otomatis kita juga harus mengasihi sesama,” tuturnya.
Bagi Jhon, keluarga menjadi salah satu ruang nyata untuk membuktikan apakah kasih, kesetiaan dan karakter Kristiani benar-benar hidup dalam diri seseorang.
Menjadi Berkat Tak Selalu Harus dengan Uang
Jhon juga mengingatkan bahwa menjadi berkat bagi orang lain tidak selalu harus dilakukan melalui materi.
Dalam keadaan terbatas sekalipun, seseorang masih dapat memberikan dukungan, perhatian, kepedulian maupun doa.
Karena itu, ia mengajak jemaat tidak hanya berdoa agar hidup diberkati, tetapi juga berusaha menjadi berkat bagi orang lain.
Menurutnya, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh uang dan kelimpahan materi. Kehidupan yang dekat dengan Tuhan, keluarga yang penuh kasih dan kesempatan untuk menolong sesama juga merupakan bagian dari berkat kehidupan.
Kasih dan Kesetiaan Jangan Sampai Meninggalkan Kita
Jhon juga mengajak jemaat merenungkan Amsal 3:3-4, tentang kasih dan kesetiaan yang tidak boleh meninggalkan kehidupan manusia.
Pesan tersebut ia kaitkan dengan pentingnya terus melekat kepada Tuhan.
Kesetiaan, menurut Jhon, bukan sesuatu yang hanya diucapkan ketika keadaan sedang baik. Kesetiaan justru diuji ketika manusia menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
Hal senada kembali ia tekankan melalui Ibrani 10:23, agar orang percaya tetap teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan tanpa ragu, karena Dia yang menjanjikannya adalah setia.
Hidup Itu Singkat
Jhon kemudian mengingatkan bahwa kehidupan manusia pada akhirnya memiliki batas. Pesan itu ia tujukan bukan hanya kepada jemaat, tetapi juga kepada para penegak hukum/yudikatif, legislatif, eksekutif dan masyarakat secara luas.
Hidup, katanya, hanya sementara. Karena itu, kesempatan yang diberikan Tuhan harus digunakan untuk melakukan kebaikan, menjalankan tanggung jawab dan menjadi kesaksian bagi orang lain.
Memasuki usia 62 tahun, Jhon mengaku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menjalankan profesi sekaligus pelayanan.
Ia berharap Tuhan masih memberikan umur panjang agar dirinya dapat terus menjadi saksi kebenaran dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Setia kepada Tuhan, Bukan Fanatik kepada Kelompok
Jhon juga memberikan penekanan mengenai arti kesetiaan.
Kesetiaan, katanya, bukan berarti fanatik kepada kelompok tertentu. Pusat kesetiaan orang percaya adalah Tuhan.
Kesetiaan itu kemudian diwujudkan dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, sahabat dan orang-orang yang dipercaya.
“Setia kepada Tuhan dan juga kepada pasangan kita, serta kepada teman-teman kita yang baik,” pesannya.
Dengan demikian, kesetiaan bukan berhenti pada perkataan, tetapi terlihat melalui sikap dan tindakan.
Tujuan Akhir Bukan Hanya Diberkati, Tetapi Berubah
Salah satu pesan penting lainnya adalah bahwa kedekatan dengan Tuhan seharusnya menghasilkan perubahan karakter.
Jhon mengajak jemaat untuk membiarkan Tuhan membentuk kehidupan mereka. Orang yang dahulu mudah marah harus belajar menjadi lebih sabar. Yang mudah tersinggung harus belajar mengampuni. Yang dikuasai emosi harus belajar mengendalikan diri.
Menurutnya, perubahan karakter merupakan bagian dari proses pembentukan Tuhan. “Jangan hanya meminta Tuhan memberkati kita. Mintalah Tuhan membentuk kita,” demikian inti pesannya. Sebab, tujuan kehidupan orang percaya bukan hanya menerima berkat, tetapi juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.
Menjelang akhir khotbah, Jhon mengajak jemaat merenungkan 2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”
Bagi Jhon, ayat tersebut menggambarkan tujuan akhir dari perjalanan iman: bukan sekadar memulai dengan baik, tetapi mampu bertahan hingga garis akhir.
Ada godaan, kegagalan, kekecewaan, persoalan keluarga dan berbagai tantangan kehidupan. Namun semuanya harus dihadapi dengan tetap melekat kepada Tuhan.
Ia mengibaratkan perjalanan tersebut seperti seseorang yang berenang. Tidak mungkin seseorang mencapai tujuan jika hanya berada di tengah-tengah.
Pesannya sederhana: jangan menjalani iman setengah-setengah.
Tetaplah dekat kepada Tuhan, teruslah berpegang pada janji-Nya, dan biarkan Tuhan membentuk karakter hingga kehidupan menjadi kesaksian bagi orang lain.
Ibadah Ditutup dalam Doa Berkat

Ibadah Minggu tersebut juga diwarnai berbagai kesaksian jemaat yang memberikan penguatan dan menjadi berkat bagi jemaat yang hadir.
Rangkaian ibadah kemudian ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala GEPENKRIS Jakarta, Pdt. Dr. Solider Siringoringo. SM


















