SURABAYA,VictoriousNews.com — Ada gereja yang lahir dari gedung megah. Ada pula yang ditempa oleh perjalanan panjang—berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan menumpang dari rumah ke rumah, sebelum akhirnya memiliki rumahnya sendiri. GKI Darmo Satelit, yang akrab disebut GKI Dasa, adalah salah satunya.
Tahun ini, GKI Dasa merayakan HUT ke-37 sebagai gereja dewasa. Namun jika dihitung sejak benih persekutuan mulai tumbuh, perjalanan gereja ini telah mencapai sekitar 46 tahun.
Angka itu bukan sekadar hitungan waktu. Di dalamnya ada doa, pengorbanan, kesetiaan, pergantian generasi, para pendeta dan pelayan yang silih berganti, serta jemaat yang terus bertahan dan bekerja dalam diam.
Dalam perayaan tersebut, Gembala Jemaat GKI Darmo Satelit, Pdt. Andri Purnawan, membawa jemaat kembali kepada satu pesan yang sederhana namun dalam: “Merangkul, Bukan Memukul.”
Pesan itu berlandaskan Ibrani 13:1-3—tentang memelihara kasih persaudaraan, memberi tumpangan, mengingat mereka yang diperlakukan sewenang-wenang, dan menyadari bahwa kehidupan manusia tidak pernah berdiri sendiri.
Dari Rumah ke Rumah
Sejarah GKI Dasa tidak bermula pada 22 September 1989. Benih persekutuan telah tumbuh sejak 1 Januari 1980, ketika visi menghadirkan pos pelayanan GKI di kawasan kota Satelit mulai diwujudkan.
Belum memiliki gedung sendiri, persekutuan itu harus menumpang di rumah keluarga. Sekitar dua tahun mereka ditampung keluarga Bapak Herman Sutedja, kemudian sekitar tujuh tahun mendapat tempat melalui keluarga Bapak Jayadi.
Sekolah Minggu pun tumbuh dari rumah-rumah yang membuka pintu bagi anak-anak untuk belajar mengenal kasih Tuhan.
Di sinilah salah satu makna terdalam sejarah GKI Dasa: sebelum memiliki gedung, gereja ini terlebih dahulu memiliki orang-orang yang bersedia membuka rumah dan hidup mereka bagi pekerjaan Tuhan.
Perjalanan kemudian membawa mereka pada rencana pembangunan gereja di Jalan Raya HR Muhammad. Tanah telah diperoleh, tetapi izin pembangunan tak kunjung terbit. Proses tukar guling akhirnya menjadi bagian dari jalan panjang menuju lokasi gereja yang sekarang.
Batu pertama diletakkan almarhum Pdt. Liem Lie Tjauw, tepat di bawah mimbar.
Empat batu yang menjadi simbol iman itu seperti mengingatkan: gereja ini tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun oleh waktu, doa, kesetiaan, dan pengorbanan banyak orang.
22 September 1989: Menjadi Gereja Dewasa

Tanggal 22 September 1989 menjadi tonggak penting ketika GKI Darmo Satelit dilembagakan sebagai gereja dewasa.
Karena itu, 37 tahun menjadi angka penting dalam perayaan kali ini. Namun perjalanan sesungguhnya lebih panjang: sekitar 46 tahun sejak benih persekutuan pertama tumbuh.
Bagi Pdt. Andri, perjalanan panjang tersebut juga berarti panggilan baru. GKI Dasa bukan lagi gereja yang sedang belajar berjalan. Ia telah melewati masa kanak-kanak dan remaja, lalu dipanggil memasuki kedewasaan iman.
Dari rahim GKI Dasa pun lahir generasi-generasi baru, antara lain GKI Pos Manukan, GKI Wiyung Royal Residence, dan GKI Citraland.
Sebuah gereja yang bertumbuh bukan hanya mempertahankan dirinya, tetapi juga melahirkan kehidupan baru.
Merangkul, Bukan Memukul
Dari sejarah itu, Pdt. Andri mengajak jemaat melihat pertanyaan yang lebih mendasar: untuk apa gereja bertumbuh?
Bukan sekadar agar gedung semakin besar. Bukan pula semata-mata agar jumlah jemaat bertambah. Pertumbuhan sejati adalah kedewasaan iman.

Menggunakan kerangka perkembangan iman yang dikaitkan dengan pemikiran James Fowler, Pdt. Andri menggambarkan bagaimana iman manusia berkembang—dari pemahaman sederhana tentang berkat dan hukuman, menuju pemahaman yang lebih matang tentang Allah, kehidupan, pergumulan, dan sesama.
Iman dewasa tidak berhenti pada simbol, figur, atau sekadar rasa aman karena berkat. Iman dewasa membawa manusia masuk lebih dalam kepada relasi dengan Allah sekaligus menumbuhkan empati terhadap penderitaan orang lain. Di sanalah pesan “Merangkul, Bukan Memukul” menemukan maknanya.
Dari “All Are Welcome” Menjadi Gereja yang Menjemput
Gereja, kata Pdt. Andri, tidak cukup hanya mengatakan “All are welcome.”
Gereja yang dewasa bukan sekadar menunggu orang datang. Gereja pergi. Gereja hadir. Gereja menjemput.
Ia membuka ruang bagi mereka yang berbeda, terluka, jatuh, bahkan mereka yang mungkin tidak selalu sejalan dengan kita.
Kasih Kristus bukan membangun tembok semakin tinggi, melainkan membuka pintu semakin lebar.
Karena itu, gereja dipanggil mendekati yang lemah, menguatkan yang terluka, dan menghadirkan kasih kepada mereka yang selama ini merasa berada di luar.
Banyak Cupcake, Satu Gereja
Pesan itu terasa nyata dalam perayaan HUT ke-37 GKI Dasa. Di tengah panggung berdiri cupcake tower. Satu cupcake mungkin terlihat kecil. Namun ketika disusun bersama, lahirlah sebuah menara yang utuh dan indah. Begitulah gereja.

Ia tidak berdiri karena satu pendeta, satu majelis, atau satu kelompok pelayanan. Gereja berdiri karena banyak orang memberikan waktu, tenaga, talenta, pikiran, doa, dan hati.
Ada Komisi Dewasa, Dewasa Muda, Tunas Remaja, Komisi Anak, Komisi Wanita, Liturgi dan Musik, diakonia, beasiswa, pengabdian masyarakat, multimedia, biro hukum, Pos Manukan, paduan suara, tim musik, singer, dekorasi, dan berbagai pelayanan lainnya.
Ada yang berdiri di depan. Ada yang bekerja dalam senyap di belakang layar.
Namun semuanya menjadi bagian dari satu tubuh: gereja.
Dalam refleksi perayaan itu, Pdt. Deddy Gunawan menyampaikan satu kalimat sederhana yang kuat: DASA itu kepanjangan “Di sini Allah Selalu Ada.”
Cupcake tower yang penuh warna menjadi gambaran kehidupan gereja. Ada suka dan duka, keberhasilan dan pergumulan, termasuk tantangan pelayanan dan kondisi keuangan.
Tetapi persoalan bukan berarti Tuhan meninggalkan gereja.
Sebab kedewasaan iman bukan hidup tanpa masalah, melainkan tetap mampu melihat karya Allah di tengah masalah.
Bukan Sekadar Bertambah Usia
HUT ke-37 GKI Dasa akhirnya bukan sekadar seremoni. Ia menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang: dari persekutuan yang berpindah-pindah, rumah-rumah yang menjadi tempat ibadah, pelayanan yang tumbuh dari keterbatasan, hingga lahirnya generasi-generasi baru.
Semua menjadi satu cerita tentang kasih Tuhan yang bekerja melalui manusia.
Karena itu, 37 tahun bukan garis akhir.
Ia adalah pintu menuju perjalanan berikutnya: menjadi gereja yang semakin matang, terbuka, peduli, dan nyata menghadirkan kasih Kristus.
Pertumbuhan gereja tidak cukup diukur dari jumlah jemaat, besarnya gedung, atau banyaknya kegiatan. SM













