MAKASSAR,Victoriousnews.com,-Persekutuan Mahasiswa Kristen Alor di Makassar (PMK Alor) menggelar diskusi akademik untuk menyikapi fenomena bunuh diri yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, (6/2/25).
Diskusi ini digelar sebagai bentuk kepedulian dan keresahan PMK Alor terhadap kasus bunuh diri yang marak terjadi di NTT.
Berdasarkan data terkini, tahun 2025 terdapat dua kasus bunuh diri yang menggemparkan NTT. Kedua korban itu adalah seorang mahasiswa dan seorang personel TNI Angkatan Darat, ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri (Penatimor, 2025).
Diskusi ini dihadiri oleh 3 pemateri, yakni: Rio Rocky Hermanus, Abraham Atalo, dan Semsigus Pelang. Mereka membahas fenomena bunuh diri dari berbagai perspektif, termasuk teologi, filsafat, dan sosiologi.
Menurut Semsigus Pelang,S.Fil, penasehat PMK Alor di Makassar, diskusi ini digelar untuk membangun kesadaran dan kepedulian terhadap fenomena bunuh diri. “Fenomena bunuh diri mesti direspon secara serius, masalah kesehatan mental disebabkan karena faktor lingkungan sosial,” ujar Semsigus.
Kemudian Semsigus Pelang memulainya dengan menggunakan teori fenomenologi dari Edmund Husell yaitu metafora gunung yang diibaratkan suatu antitesis serta perspektif sebagai dialegtika dalam melihat suatu fenomena. Perspektif dari Emile Durkheim tentang fenomena bunuh diri yang terbagi atas empat konsep yaitu: Suicide individualisme atau ketidak percayaan diri. Apokaliptik suicide atau mengorbankan diri untuk mendapatkan falidasi. Anomi suicide atau orang-orang yang mengalami perubahan status sosial (bangkrut, dipecat, dll). Fatalistik suicide atau susah dalam menyelesaikan masalah. Hal-hal ini, dapat dilihat dari berbagai perspektif untuk membangun suatu dialog atau percakapan dalam meminimalisir ataupun menetralisir tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri. Menurur saya kita harus menggunakan konsep dari Immanuel Lavines seorang filsuf humanis “sesamaku adalah pribadiku yang lain,” Tegas Semsigus
Sedangkan Rio Rocky Hermanus, mengatakan, fenomena bunuh diri dapat dicegah dengan membangun kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan mental. “Pemerintah seharusnya memberi penegasan dan kebijakan bagi pengguna sosial media yang memberi edukasi positif untuk meminimalisir kasus bunuh diri. Pemerintah juga harus mencegah, edukasi melalui lembaga keagamaan dan rekonsiliasi yang hospitality dari budaya merupakan kekuatan yang kuat,” ujar Rio.
Rio Rocky Hermanus, mengutip konsep “ingatan atau memori” dari seorang teolog Johann Baptist Mets sebagai upaya melihat memori penderitaan mereka yang rapuh.“Ingatan non-deklaratif atau suatu yang ada dan melekat pada diri setiap individu. Ingatan deklaratif atau suatu ingatan yang terjadi dan melekat karena kejadian-kejadian tertentu. Memori pasionis atau suatu ingatan yang berkaitan dengan penderitaan. Dalam memori pasionis,“melihat penderitaan orang-orang dengan berkontribusi melalui jalan dialog.” Pertemuan serta membangun komukasi merupakan suatu upaya dalam melihat penedritaan yang terjadi,” tukas Rio.
Sementara itu, Abraham Atalo, mengungkapkan melalui pendekatan Alkitab. “Melalui pendekatan Biblis, yang lebih tepatnya terdapat dalam kitab Perjanjian Baru yaitu 1 Korintus 19:20 “Tubuh adalah Bait Roh Kudus.” Dengan melakukan tindakan bunuh diri, sama saja dengan kita tidak menjaga kehormatan yang Allah berikan/embankan. Karena sejatinya kehidupan adalah anugerah dari Allah sehingga ketika kita melanggar (melakukan bunuh diri) berarti sama saja dengan kita melangar ketetapan-ketetapan dari Allah. Tidak hanya itu, pemateri juga melihat hal ini dengan perspektif Teologi Proses yaitu Allah sendiri tidak mengizinkan seseorang untuk melakukan bunuh diri, tetapi ketika hal itu terjadi Allah sendiri hadir dan turut merasakan kepedihan serta kesedihan yang dirasakan melalui sesama kita,”papar Atalo.
Diskusi ini diakhiri dengan clossing statemen dari para pemateri. “Duduk bersua dan saling berbagi dan menekankan etik tanggungjawab merupakan upaya konkret dalam meminimalisir hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar Semsigus Pelang.
PMK Alor di Makassar berharap diskusi ini dapat membangun kesadaran dan kepedulian terhadap fenomena bunuh diri, serta dapat menjadi langkah awal dalam mencegah kasus bunuh diri di NTT. Rio Rocky