Mujizat! Tiga Kali Dinyatakan Meninggal, Hidup Kembali: Kesaksian Iman Pdm Andrew Andhika & Ibu Ester Yang Menggetarkan!

banner 468x60

VictoriousNews.com — Di lorong-lorong dingin rumah sakit, ketika ilmu medis telah mencapai batasnya dan harapan nyaris padam, sebuah kisah iman justru menemukan panggungnya. Peristiwa dramatis itu terjadi di Premier Hospital, Nginden Surabaya (dahulu dikenal sebagai HCOS), ketika seorang hamba Tuhan bernama Pdm. Andrew Andhika dinyatakan meninggal secara medis—namun kembali hidup.

​Semua bermula pada hari Sabtu, 8 Juni 2013. Sebuah penyakit demam berdarah yang tampak biasa berubah menjadi badai yang mengerikan. “Sudah blank,” kenang Pdm. Andrew Andhika. Di tengah kekacauan itu,kondisinya sangat kritis. Dokter mendiagnosis Hipoksia berat akibat komplikasi serius. Situasinya kian menguatirkan. Tim dokter pun meminta untuk menandatangani persetujuan tindakan medis, yakni diinfus trombosit. Disitulah dilema bagi dokter, tidak ditambah trombosit akibatnya turun terus dan berisiko kematian. Sedangkan jika ditambah trombosit, jantung dan paru-parunya dipenuhi cairan, juga bisa berakibat mati. “Makanya dokter perlu persetujuan istri saya untuk menandatangani tindakan medis,” tukas Andrew.

Keajaiban Pertama: “Rebut Papa dari Perang Melawan Maut!”
Senin 10 Juni 2013 pagi yang kelabu menjadi saksi keajaiban pertama. Di tengah prosedur medis, Pdm Andrew Andhika collapse. Garis di monitor itu mendatar—dia telah pergi. Di tengah tangis yang pecah, sang anak perempuan menguatkan ibunya dengan kalimat yang menggetarkan jiwa: “Mama tidak boleh nangis. Mama harus berdoa untuk merebut Papa. Saat ini Papa sedang berperang melawan maut, “ tutur Ester menirukan sang anak saat itu.
Ester yang sempat shock, tersadar. Ia segera merangkul dan mendoakan suaminya, merebut dan mengusir roh-roh maut serta meminta suaminya kembali. Tiba-tiba monitor yang sudah datar berdenyut kembali. Tak lama kemudian, detak jantung Andhika hidup kembali.
Walaupun dalam keadaan koma, dan saat itu sempat didoakan oleh penatua gereja.

Dokter Nyatakan Mati Selama 30 Menit
Dua hari kemudian, Rabu,12 Juni 2013, setelah kematian pertama, Tuhan ijinkan Ester datang terlambat ke Rumah Sakit. Karena paginya, ia melakukan saat teduh lama sekali. Dalam saat teduh itu, Ester mendapatkan penguatan dari Tuhan melalui firmanNya. Keadaan semakin parah, tim.dokter sudah menyatakan Andrew Andhika meninggal selama 30 menit. “Semua alat sudah dilepas. Tapi Tuhan membutakan mata istri saya dan tidak mengetahui keadaan saya sudah meninggal saat itu. Maka dengan iman, semangat dia tepuk dada saya dan mengatakan ‘kamu sembuh, hidup. Enggak meninggal,percaya Tuhan ada disini! Tiba-tiba keajaiban terjadi. saya merasa ada suara speaker besar, keras sekali terdengar di telinga saya. Kemudian saya sadar dan merespons kata-kata istri saya, mengangguk dan meminta minum. Semua tim dokter pun terkejut saat itu, membantu saya untuk bisa bernafas kembali. Kemudian saya diberi minum. Dan alat-alat medis dipasang kembali setelah sebelumnya sempat dilepas. Tetapi setelah itu, saya kembali Koma. Dan barulah istri saya tersadar kalau saat ini saya sudah meninggal,” tandas Andrew.

Pdm.Andrew Andhika & Ibu Ester, sang pendoa syafaat yang setia

Kematian Ketiga dan Misteri Angka 56 Persen
Hari Jumat , 14 Juni 2013 kejadian ketiga terjadi. Jantungnya kembali berhenti dan dilakukan kejut jantung sebanyak tiga kali. Dan dari hard ECO kekuatan pompa jantung hanyalah 20 persen minus. “Namun Ester sangat percaya dan beriman bahwa setiap kali kematian selalu ada mujizat. Dan Tuhan menolong menggantikan organ tubuh saya. Maka saat itu Ester meminta dokter agar dilakukan ECO kembali. Kemudian disetujui dan hasilnya luar biasa, pompa jantung yang semula 20 persen menjadi normal 56 persen,” ungkap Andrew.

Koma 13 hari & Dibangunkan Suara Ajaib
Selama 13 hari Andrew Andika koma. Dalam keaadan koma, pada hari ke-14, jika belum sadar dan bernafas normal, dokter bersiap melakukan pelubangan fentilator di lehernya.
Namun pada subuh hari ke-14, ia mendengar suara memanggil namanya. lembut di telinganya. “Tidak nyata wajah yang membangunkan, hanya ada sinar terang di tengah dan tampak jari telunjuk menunjuk mengajak saya menengok sebelah kiri. Apa yang saya lihat adalah beberapa wajah-wajah jemaat dan terdengar suara ‘lanjutkan’ buat sesuatu dari mereka, untuk mereka dan untuk pelayanan. Kemudian bangunlah saya. Dan sejak saat itu saya tidak koma lagi dan sadar hingga sekarang, “ tutur Andrew.

Dari Penderitaan dan Kesalahan Menuju Pemulihan Rohani
Ketika Doa Seorang Istri Menjadi Jembatan Kembali kepada Tuhan
Jauh sebelum peristiwa kritis yang hampir merenggut nyawanya pada 2013, perjalanan hidup Pdm. Andrew Andhika sudah lebih dulu ditempa oleh badai panjang—badai kegagalan, kekecewaan, dan kejatuhan moral yang menggores dalam.
Di masa mudanya, ia dikenal aktif melayani. Ia pernah dipercaya menjadi ketua pemuda sinode Am Jatim. Masa itu adalah masa penuh semangat dan idealisme. Namun hidup tak selalu berjalan lurus. Dunia bisnis yang ia geluti bersama rekan-rekannya perlahan menyeretnya pada praktik-praktik yang tidak sejalan dengan nilai iman yang dulu ia pegang teguh.
Di tengah pergumulan itu, sebuah “ramalan” pernah diucapkan kepadanya—bahwa usianya tak akan melewati 39 tahun. Kata-kata itu menghantui. Seakan hidupnya sudah diberi batas sebelum waktunya.
Belum selesai dengan kegelisahan itu, luka yang lebih dalam datang menghantam. Anak keduanya meninggal hanya lima jam setelah dilahirkan. Tangis yang belum sempat reda sudah berubah menjadi duka yang tak terucap. Kehilangan itu bukan sekadar peristiwa, tetapi retakan besar dalam hati seorang ayah. Marah, Jatuh, dan Tersesat
Kekecewaan membuat Pdm Andrew Andhika marah kepada Tuhan. Ia meninggalkan pelayanan. Ia menjauh dari panggilan yang dulu begitu ia cintai. Pekerjaan hancur. Usaha runtuh. Harga diri pun tergerus.
Selama 14 tahun, ia mengakui hidup dalam berbagai kesalahan, termasuk perselingkuhan. Tahun-tahun itu menjadi musim kering yang panjang. Hatinya menjauh, hidupnya kehilangan arah. Ia pulang ke rumah bukan sebagai pemimpin rohani, melainkan sebagai pria yang merasa gagal dalam hampir segala hal.
Namun di tengah reruntuhan itu, ada satu yang tidak pernah runtuh: doa seorang istri.

Doa yang Tidak Pernah Padam
Ester tidak memilih pergi. Ia memilih berlutut. Saat suaminya menjauh, ia mendekat kepada Tuhan. Saat suaminya jatuh, ia berdiri di celah dengan doa. Ia mengikuti persekutuan doa, berpegang pada janji-janji Tuhan, dan tetap setia bahkan ketika Pdm. Andrew Andhika pulang tanpa membawa apa-apa selain luka dan penyesalan.
Titik balik itu datang ketika seorang gembala dari NTT melayani Pdm.Andrew Andhika dalam sebuah proses pelepasan rohani yang berlangsung selama 3,5 jam. Itu bukan momen yang dramatis penuh sorak-sorai, melainkan pergumulan batin yang dalam—air mata, pengakuan, dan kehancuran ego.
Pemulihan tidak terjadi seketika. Ada naik dan turun. Ada hari-hari ketika iman terasa rapuh. Namun perlahan, hati yang keras mulai dilunakkan.
Yang akhirnya membuatnya benar-benar kembali bukan sekadar pengalaman rohani, melainkan kesetiaan yang ia lihat setiap hari—seorang istri yang tetap berdoa, bahkan ketika tidak ada jaminan perubahan.
Ia tersentuh oleh kasih yang tidak menyerah. Dan ia pun kembali kepada Tuhan.Hidup yang Dipulihkan untuk Melayani

Makin Cinta Tuhan & Setia Melayani
Pdm. Andrew Andhika adalah salah seorang gembala  sektor GBI Rock City Church  (RCC) Margorejo Surabaya dan dibina oleh para pemimpin rohani senior. Langkahnya mungkin tidak lagi secepat masa muda, tetapi kini lebih dalam dan lebih rendah hati.
Bersama sang istri, Ester, ia tidak hanya menikmati kesehatan yang dipulihkan, tetapi juga dipercaya melayani orang-orang sakit melalui doa dan pengharapan. Dari seorang yang pernah merasa tidak layak, kini ia menjadi saksi bahwa Tuhan tidak pernah membuang orang yang mau kembali.
Hari ini, mereka menikmati sukacita sebagai Opa dan Oma dari dua cucu—sebuah anugerah yang terasa jauh lebih manis setelah melewati pahitnya ujian. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60