SEKITAR 100.000 MASYARAKAT PADATI ZIKIR DAN DOA KEBANGSAAN MONAS 2026

Zikir dan Doa Kebangsaan adalah kegiatan doa bersama lintas agama untuk mengawali rangkaian Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2026

Berita, Nasional106 Views

Jakarta,VictoriousNews.com-Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan keinginan presiden untuk bersama dalam “Zikir dan Doa Kebangsaan 2026” di kawasan Monumen Nasional (Monas) pada Sabtu malam, 1 Agustus 2026. “Sebelumnya, saya menyampaikan salam hangat dan hormat dari Presiden Republik Indonesia. Sesungguhnya, presiden sangat berkeinginan untuk hadir bersama-sama kita pada malam ini,” kata Nasaruddin Umar dalam pidatonya.

Ditegaskan, Prabowo harus melaksanakan tugas kenegaraan sehingga tidak bisa menghadiri acara. Dia menyampaikan salam Prabowo untuk semua peserta yang menghadiri acara. “Beliau ada juga tugas kenegaraan yang sangat penting dan menyampaikan salam kepada kita semuanya,” ujarnya.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (1/8) sejak pukul 14.00 WIB. Masyarakat yang telah berdatangan berteduh di bawah pepohonan untuk berlindung dari teriknya sinar Mentari sore. Petugas gabungan (Paspampres, TNI, Polri, dan Satuan Pengamanan) mulai mempersiapkan segala yang diperlukan untuk keamanan acara pada pukul 15.00 WIB. Sekitar satu jam (pukul 16.00 WIB), masyarakat mulai memasuki area hingga memenuhi pelataran hingga pintu-pintu masuk kawasan Monas menjelang pukul 20.00 WIB.

Zikir dan doa kebangsaan diikuti berbagai latar belakang agama. Sebagian besar tampak mengenakan pakaian muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian warga lainnya mengenakan pakaian bernuansa putih dengan dilengkapi udeng Bali atau ikat kepala khas umat Hindu serta selendang berwarna kuning.

Jemaah yang hadir pun tampak khidmat mengikuti kegiatan zikir dan doa bersama yang dipimpin langsung Menteri Nasaruddin Umar serta sejumlah pemuka agama yang hadir. Para warga pun kompak duduk bersama.

Zikir dan Doa Kebangsaan adalah kegiatan doa bersama lintas agama. Event ini mengawali rangkaian Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2026. Sekitar 100.000 umat dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya turut hadir pada event yang berlangsung pukul 17.00 hingga 21.30 WIB tersebut.

Doa Lintas Agama secara bergantian dipimpin tokoh Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Selawat Kebangsaan dilantunkan bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dan ribuan jemaah. Hal tersebut sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kemerdekaan serta memohon keselamatan, kedamaian, dan persatuan bangsa.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt Jacklevyn Frits Manuputty STh SFil MA menegaskan, perjalanan bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari doa seluruh umat beragama. Nilai-nilai luhur yang telah ditaruh para pendiri bangsa sejak awal mereka membangun bangsa. Tidak melihat apapun, latar belakang suku, agama tapi berdiri bersama-sama. Itu legacy yang sangat luar biasa yang harus dipelihara dan kita jaga bagi keutuhan Indonesia ke depan,” ungkap Pdt Jacklevyn.

Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Jakarta, Romo Agustinus Heri Wibowo Pr memandang doa sebagai fondasi penting dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, setiap ikhtiar yang dilakukan bangsa Indonesia perlu dilandasi doa agar mendapat penyertaan Tuhan. “Doa adalah fondasi dasar hidup kita sebagai bangsa yang religius. Semua daya upaya manusiawi kita, kerja sama di antara kita, dilandasi atas doa supaya Tuhan merestui, memberkati, dan menyempurnakan semua pekerjaan baik yang telah kita rencanakan, dan kita lakukan, dan akan kita laksanakan,” ujar Romo Agustinus.

Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara, Pinandita Gede Pastika menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan doa kebangsaan lintas agama yang dinilainya menjadi sarana memperkuat keharmonisan di tengah kemajemukan Indonesia. “Kami mewakili masyarakat Hindu sangat apresiasi, sangat menyambut dengan baik. Ini adalah bagaimana mempersatukan umat seluruh, masyarakat, lapisan masyarakat di Indonesia untuk menyatukan dengan kebhinekaan ini menjadi satu, menjadi keharmonisan yang luar biasa,” tuturnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Sangha Agung Indonesia, Bhikkhu Bhadranatha, Thera. Ia menilai doa lintas agama menjadi cerminan wajah Indonesia yang mampu menjaga persatuan dan kesatuan dan hidup dalam keberagaman. “Untuk bisa menjaga persatuan dan kesatuan yang perlu kita jaga adalah nilai-nilai cinta kasih di dalam diri kita dan terlebih juga nilai-nilai dari Pancasila kita yang juga cukup kuat bahwa kita memang sudah beragam tetapi dengan adanya cinta kasih yang terus dikembangkan akan membawa persatuan dan kesatuan dengan jauh lebih indah karena memang inilah Indonesia,” ucapnya.

Dari kalangan Konghucu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Xs. Budi S Tanuwibowo, menilai doa lintas agama menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu mengelola keberagaman secara damai. Ia menyebut perbedaan bukan alat perseteruan, melainkan ibarat seperti orkestra yang terdiri atas berbagai macam alat musik namun berpadu harmonis karena ada satu lagu kebersamaan yaitu Indonesia. “Bekerja samanya banyak agama dalam satu kebersamaan tentu menegaskan sila pertama. Tentu kemudian sila kemanusiaan bahwa di atas segala perbedaan, kemanusiaan kita satu. Kemudian jelas persatuan dan kemudian bisa saling berembuk, bisa bermufakat, dan mudah-mudahan ini dengan kebersamaan bisa membikin Indonesia adil, makmur, sejahtera,” ujarnya. @epa_phm