JAKARTA,-VictoriousNews.com— Kebaktian Tengah Minggu (KTM) GBI Maple Park di lantai dasar Apartemen Maple Park, Jalan HBR Motik No. 218, Sunter, Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026), berlangsung dalam suasana penuh syukur.
Kebaktian yang biasanya menjadi ruang persekutuan jemaat itu terasa istimewa karena bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-59 Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar.

Namun, momentum tersebut tidak berhenti pada perayaan usia. Dari mimbar, mengalir pesan tentang panggilan, kesetiaan, keberanian, dan satu hal yang menjadi benang merah seluruh ibadah: menjaga hati dan tetap mengarahkan hidup kepada Tuhan.
Pelayanan firman disampaikan Ps. Johan Lumoindong. Dengan gaya spontan, diselingi humor segar, Johan menyampaikan pesan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: persoalan boleh datang, ketakutan boleh muncul, tetapi fokus kepada Tuhan tidak boleh bergeser.
Jangan Biarkan Ketakutan Mengambil Alih
Johan mengawali khotbah dengan menyampaikan apresiasi kepada Ferry Iskandar dan keluarga yang selama ini memberi ruang bagi pelayanan dan pertumbuhan persekutuan di GBI Maple Park.

Ia mengenang perjalanan persekutuan tersebut yang pada awalnya hanya dihadiri segelintir orang. Dari dua orang, kemudian bertambah menjadi lima, tujuh, hingga akhirnya berkembang dan memenuhi ruangan. “Dari hanya dua orang, berkembang menjadi lima, tujuh, dan akhirnya diberkati luar biasa,” ujarnya.
Bagi Johan, pertumbuhan tersebut bukan semata-mata hasil kerja manusia. Ada tangan Tuhan yang bekerja melalui kesetiaan, pengorbanan, dan orang-orang yang bersedia dipakai-Nya.
Karena itu, ia mengingatkan jemaat agar tidak kehilangan fokus ketika berhadapan dengan persoalan. “Takut itu wajar. Tetapi jangan hidup dalam ketakutan,” tegasnya.
Menurut Johan, fokus kepada Tuhan juga harus diwujudkan melalui kesetiaan beribadah. Komitmen kepada Tuhan, katanya, tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus terlihat dalam tindakan.
“Kalau ibadah saja kita tidak bisa hadir, jangan bicara tentang berkat,” katanya.
Tiga Sikap yang harus dimiliki orang percaya
Johan kemudian merangkum pesan praktisnya dalam tiga sikap: menjaga hati, bersukacita, dan bersyukur.
Pertama, menjaga hati. Mengacu pada Amsal 4:23, ia mengingatkan bahwa kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Kebencian, kepahitan, konflik, hingga rusaknya relasi dapat bermula dari hati yang tidak dijaga. “Kalau kita tidak menjaga hati, kita bisa benci ke mana-mana,” katanya.
Bagi Johan, menjaga hati bukan sekadar nasihat rohani, melainkan prinsip yang ia pegang dalam perjalanan hidup dan pelayanan. “Resepnya cuma satu: jaga hati,” ujarnya.
Kedua, bersukacita. Menurutnya, sikap seseorang sering kali memperlihatkan apa yang memenuhi hatinya. Karena itu, senyum sederhana dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih mampu menikmati kebaikan Tuhan. “Ciri khas kemenangan saya, jujur saja, senyum dan sukacita,” katanya.
Ketiga, bersyukur.Johan mengajak jemaat berhenti terlalu lama menghitung kekurangan dan mulai menyadari berkat yang kerap dianggap biasa: masih bernapas, memiliki tempat berteduh, diberi kesehatan, serta masih memiliki kesempatan untuk beribadah dan melayani.
Dipilih Tuhan untuk Zamannya
Dari pesan tentang hati, Johan kemudian membawa jemaat kepada Kisah Para Rasul 13:22 mengenai Daud, sosok yang disebut berkenan di hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya pada zamannya.

Bagi Johan, kisah Daud menunjukkan satu prinsip penting: Tuhan memilih seseorang untuk mengerjakan kehendak-Nya pada zaman dan tempat yang telah ditentukan.Prinsip itu kemudian dikaitkannya dengan Ferry Iskandar.
Ferry, menurut Johan, bukan hanya seorang pengusaha atau gembala. Ia adalah pribadi yang dipercaya Tuhan untuk mengerjakan sesuatu melalui kehidupannya.
Pertumbuhan GBI Maple Park pun tidak terjadi dalam semalam. Ada waktu, tenaga, pengorbanan, kerja keras, dan kemurahan Tuhan yang menyertai perjalanan tersebut. “Kalau Tuhan pilih, Tuhan tidak pernah salah,” tegas Johan.
Karena itu, ia mengingatkan jemaat agar tidak mudah menghakimi, memfitnah, apalagi berusaha menjatuhkan orang yang sedang dipakai Tuhan. “Kalau Tuhan sudah pilih, jangan coba-coba menghalangi,” katanya.
Empat Hati yang Harus Dimiliki
Dari kehidupan Daud, Johan kemudian menguraikan empat karakter yang menurutnya perlu dimiliki seseorang yang dipercaya Tuhan.
Pertama, hati seorang hamba.
Jabatan, keberhasilan, maupun kekayaan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kerendahan hati.
“Kalau buat Tuhan, siapa kita?” katanya.
Johan melihat sikap tersebut dalam kehidupan Ferry bersama istrinya, Tingting, terutama melalui keterlibatan, dukungan, waktu, dan perhatian mereka terhadap pelayanan.
Kedua, hati seorang kesatria/pahlawan
Mengacu pada 1 Samuel 23, Johan menyoroti keberanian Daud yang tetap bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan.
Keberanian, katanya, bukan berarti hidup tanpa masalah. Justru keberanian diuji ketika seseorang berada dalam tekanan—baik dalam pekerjaan, usaha, keluarga, kesehatan, maupun ketika menghadapi masa depan yang belum jelas. “Jangan mundur. Kalau sudah menjadi pelayan Tuhan, maju terus,” tegasnya.
Namun, keberanian tidak berarti bertindak tanpa arah. Seperti Daud, setiap langkah harus tetap dibawa dalam pertanyaan kepada Tuhan.
Berani melangkah, tetapi jangan berhenti bertanya kepada Tuhan.
Ketiga, hati seorang gembala.
Dari 1 Samuel 16:11, Johan mengingatkan bahwa ketika Samuel datang mencari Daud, ia masih berada di padang menggembalakan kambing domba.
Di situlah, menurut Johan, terlihat karakter seorang gembala: menjaga apa yang dipercayakan.
“Kalau saya dan Anda dipercayakan oleh Tuhan, jaga itu dengan baik,” katanya.
Suami menjaga istri, istri menjaga suami, orang tua menjaga anak, pelayan menjaga jemaat, dan setiap orang menjaga kehidupan yang Tuhan percayakan kepadanya.
Keempat, hati seorang raja.
Johan mengingatkan jemaat agar tidak memiliki “mental miskin”.
Kemiskinan, katanya, boleh menjadi sebuah keadaan, tetapi tidak boleh berubah menjadi mentalitas. Orang percaya harus belajar memiliki hati seorang raja: murah hati, tidak selalu menunggu diberi, dan tidak hidup dengan memanfaatkan kebaikan orang lain. “Jangan punya hati miskin. Kita harus punya hati raja,” tegasnya.
Ketika Kesembuhan Belum Datang

Pesan tentang keberanian dan menjaga hati itu menemukan gambaran nyata melalui kesaksian Yuni yang disampaikan sebelum firman.
Yuni berbicara tentang pergumulan panjang menghadapi penyakit sekaligus mempertahankan panggilan pelayanan.
Sejak 2008, ia mengaku hidup dengan penyakit autoimun, termasuk rheumatoid arthritis dan Sjögren syndrome. Hingga kini, kesembuhan yang dinantikannya belum datang. “Dari tahun 2008 saya terkena autoimun. Sampai hari ini Tuhan belum menyembuhkan saya. Tetapi Tuhan selalu memberikan kekuatan dan mujizat setiap hari,” tuturnya.
Ia pernah berada dalam kondisi berat ketika dokter menyampaikan pilihan terapi dengan obat yang memiliki efek samping serius. Ketakutan membuatnya mundur. “Saya lari dari dokter,” katanya.
Harapan kemudian muncul ketika ia menemukan dokter yang dianggap dapat membantu mempertahankan kondisinya. Namun, dokter tersebut kemudian mengalami gagal ginjal. “Waktu itu hancur harapan saya,” ungkapnya.
Pergumulan itu membuat Yuni bertanya bagaimana mungkin tetap melayani ketika tubuhnya sendiri terasa tidak kuat.
Namun, sebuah kalimat kemudian menjadi pegangan: “Takut boleh, tetapi ketakutan jangan.” Ia menyadari bahwa takut adalah bagian dari manusia. Yang tidak boleh terjadi adalah ketika ketakutan mengambil alih iman.
Pertolongan Tuhan di Tengah Ketidakpastian
Dalam kondisi tersebut, sebuah pertemuan sederhana membuka jalan baru. Yuni bertemu Om Max Turangan dan memperoleh informasi mengenai seorang dokter yang sebelumnya dikenal melalui Ibu Sri Lumoindong. Ia kemudian meminta bantuan Sri untuk membawanya kepada dokter tersebut.
Yuni datang bukan hanya membawa persoalan medis, tetapi juga pergumulan kepada Tuhan. “Tuhan Yesus, tolong saya. Dokter ini benar atau tidak? Apakah ini yang Tuhan mau untuk menggantikan dokter saya?” demikian doanya.
Ketika bertemu dokter tersebut, Yuni merasakan ketenangan. Obat yang diberikan bahkan memiliki kandungan yang sama dengan obat yang selama ini menopang kondisinya. “Saya sampai kaget. Buat saya, ini penolong hidup saya,” katanya.
Bagi Yuni, peristiwa itu menjadi jawaban Tuhan setelah perjalanan panjang dalam ketakutan.
Namun, ia tidak mengklaim telah sembuh total. Justru di situlah kekuatan kesaksiannya: mujizat tidak selalu berarti penyakit langsung lenyap.
Mujizat juga dapat hadir melalui kekuatan untuk bertahan, jalan yang terbuka ketika semua terasa tertutup, pertemuan dengan orang yang tepat, dan damai sejahtera ketika pikiran dikepung kekhawatiran.
Persoalan Tidak Boleh Mengalahkan Panggilan

Dalam pergumulannya, Yuni juga mengungkapkan dukungan Ps. Johan Lumoindong yang terus mendorongnya agar tidak larut dalam persoalan kesehatan. “Yuni, kamu harus fokus sama pelayanan. Kamu harus fokus sama doa. Kamu bisa dipakai Tuhan luar biasa,” demikian pesan Johan.
Bagi Yuni, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit tidak boleh menjadi identitas utama seseorang.
Keterbatasan tubuh boleh ada, tetapi panggilan Tuhan tetap dapat dijalani dengan iman. “Jangan pernah menyerah dalam hidup kita,” pesannya.
Ia percaya pertolongan Tuhan tetap bekerja, meski jawaban doa tidak selalu datang dalam bentuk dan waktu yang diharapkan manusia. “Kalau lihat saya ditolong, saudara pasti ditolong. Asalkan kita punya iman, tetap percaya kepada Tuhan dan terus berusaha,” katanya.
Di tengah penyakit yang belum sepenuhnya pergi, Yuni memilih tetap berdiri. Di tengah ketidakpastian, ia memilih percaya. Dan di tengah kekhawatiran, ia kembali kepada panggilannya untuk melayani.
Dua Belas Tahun Pelayanan yang Bukan Kebetulan

Pesan Ps Johan dan kesaksian Yuni kemudian menemukan resonansinya dalam ucapan Ps Ferry Iskandar pada momentum ulang tahunnya.
Ferry mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi hamba Tuhan dan menggembalakan jemaat di GBI Maple Park. “Saya juga tidak pernah terpikir saya dipilih untuk menjadi hamba Tuhan di tempat ini,” ungkapnya.
Perjalanan pelayanan di GBI Maple Park, menurut Ferry, dimulai sekitar 2014. Salah satu orang yang hadir sejak awal perjalanan tersebut adalah Ps Johan Lumoindong. “Pak Johan Lumoindong sudah mulai melayani di tempat ini sejak 2014,” ujarnya.
Dua belas tahun kemudian, Ferry melihat perjalanan itu bukan sebagai kebetulan. “Saya percaya seperti yang dikatakan Pak Johan, bahwa Tuhan pilih saya,” katanya.
Kesadaran tersebut bukan membuat Ferry merasa lebih tinggi. Sebaliknya, ia semakin menyadari bahwa pelayanan merupakan kepercayaan yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.
Menjadi gembala, baginya, bukan sekadar menduduki posisi. Ada jemaat yang harus dijaga, pelayanan yang harus dikerjakan, dan gereja yang harus terus menjadi berkat.
GBI Maple Park Harus Terus Menjadi Berkat
Ferry menegaskan harapannya agar GBI Maple Park tidak hanya bertumbuh sebagai gereja, tetapi juga terus menjadi berkat bagi masyarakat di sekitarnya.
“Saya percaya bukan kebetulan gereja ini boleh menjadi berkat,” katanya.
Ukuran keberhasilan gereja, dengan demikian, bukan semata-mata jumlah jemaat atau besarnya fasilitas.
Gereja harus menjadi tempat orang yang lemah dikuatkan, mereka yang kehilangan harapan menemukan pengharapan, dan setiap orang yang menerima berkat kemudian dipakai Tuhan untuk memberkati orang lain.
Ferry juga menyampaikan terima kasih kepada para hamba Tuhan, pelayan, jemaat, dan semua pihak yang selama ini mendukung pelayanan GBI Maple Park.
Pada akhirnya, perayaan usia ke-59 Ferry Iskandar tidak sekadar menjadi penanda bertambahnya usia. Di baliknya ada perjalanan pelayanan selama bertahun-tahun, ada orang-orang yang terus menjaga panggilan, dan ada pesan yang relevan bagi siapa pun yang sedang menjalani pergumulan hidup: Jaga hati. Berani melangkah. Tetap bersukacita. Dan jangan berhenti bersyukur.
Ferry pun menutup kesaksiannya dengan rasa syukur atas kepercayaan Tuhan yang telah membawanya hingga titik tersebut. “Terima kasih untuk teman-teman, terima kasih untuk Tuhan yang sudah memilihnya untuk melakukan pelayanan di tempat ini,” pungkas Ferry, yang genap berusia 59 tahun pada 10 Agustus 2026. SM









