JAKARTA, VictoriousNews.com — Ada momen yang terasa seperti kebetulan, tetapi bagi orang beriman justru diyakini sebagai bagian dari rencana Tuhan.
Momen itu dialami advokat senior Ev. Dr. Jhon SE Panggabean, SH, MH, pada Minggu, 13 September 2026, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-62, ia dipercaya menyampaikan firman Tuhan di Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI) Jemaat House of Filadelfia Belleza, Permata Hijau, Jakarta.
Di hadapan jemaat yang digembalakan Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, Jhon Panggabean membawakan khotbah bertema “Perubahan Karakter”, dengan berlandaskan kitab Roma 12:2.
Di mimbar gereja, Jhon membuka kembali lembaran perjalanan hidupnya—tentang masa lalu, pergumulan, sakit, pendidikan, keluarga, hingga keyakinannya bahwa manusia tidak pernah berhenti dibentuk Tuhan.

Sebelum firman disampaikan, suasana ibadah diawali dengan kesaksian pujian dari putri kedua Jhon, Clara Panggabean, yang membawakan lagu “Bapa Sentuh Hatiku”.
Dari Masa Lalu yang Jauh dari Tuhan
Mengawali khotbahnya, Jhon menyaksikan kebaikan Tuhan yang ia rasakan sepanjang perjalanan hidup.
Ia tidak menyembunyikan masa lalunya. Sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara, Jhon mengaku pernah menjalani kehidupan yang jauh dari nilai-nilai kekristenan.
Bahkan ketika duduk di bangku SMP, ia pernah dikeluarkan dari sekolah karena kerap bolos, merokok, dan mengonsumsi minuman keras.

Kehidupan tersebut terasa kontras dengan suasana keluarganya. Ayahnya merupakan pengerja gereja atau sintua. Setiap malam, keluarga mereka terbiasa beribadah bersama sebelum tidur atau belajar.
Namun, lingkungan keluarga yang religius ternyata belum cukup membuat Jhon dekat dengan Tuhan.
“Saya sangat jauh dari Tuhan. Tetapi saya menyimpulkan dalam hidup saya, karena doa orang tua saya, akhirnya saya berubah,” tutur Papa dari 3 anak (Samuel Panggabean, Clara Panggabean & Gracia Panggabean)
Perubahan itu mulai menemukan jalannya ketika ia memasuki dunia perkuliahan hukum.
Saat tinggal bersama seorang teman kostnya yang tekun belajar, Jhon setiap hari menyaksikan kebiasaan membaca dan berdiskusi yang sebelumnya tidak ia miliki. Perasaan tertinggal dan malu justru menjadi pemantik untuk berubah.
Ia mulai belajar lebih serius.
Dari pengalaman itu, Jhon melihat bahwa perubahan karakter kerap berawal dari perubahan cara berpikir.
Karena itu, ia mengingatkan generasi muda agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan.
“Selagi masih ada waktu dan selagi masih ada kesempatan, lakukan hal yang baik untuk Tuhan,” pesannya.
Perjalanan untuk terus bertumbuh itu pun tidak berhenti pada masa muda. Di usia 62 tahun, Jhon berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral dan meraih gelar Doktor Hukum dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) pada Juli 2026.
Baginya, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa kemauan untuk belajar, berubah, dan bertumbuh tidak mengenal batas usia.
Pembaruan Budi, Awal Perubahan Karakter
Roma 12:2 menjadi pijakan utama Jhon dalam menjelaskan arti perubahan karakter.
Menurutnya, perubahan sejati bukan sekadar mengubah penampilan atau perilaku yang terlihat dari luar. Perubahan harus dimulai dari pembaruan budi—dari pola pikir, sikap mental, dan cara pandang yang semakin diselaraskan dengan firman Tuhan.
Perubahan itu, kata Jhon, tidak boleh berhenti di dalam gereja.
Karakter yang dibentuk Tuhan harus tampak dalam kehidupan sehari-hari—di tengah keluarga, pekerjaan, maupun ketika berhadapan dengan sesama.
Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, ia mengingatkan pentingnya kasih dan penghormatan antara suami dan istri. “Kasihlah istrimu. Hormatilah suamimu. Itu seimbang,” tegas suami dari Hartaty br Pakpahan.

Jhon juga mengajak jemaat membangun penguasaan diri. Kehidupan yang dekat dengan Tuhan, katanya, semestinya menghasilkan buah Roh sebagaimana disebutkan dalam Galatia 5:22–23: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Dengan demikian, perubahan karakter bukan sekadar sesuatu yang dibicarakan, melainkan sesuatu yang harus terlihat melalui sikap dan tindakan.
Ketika Pergumulan Menjadi Jalan untuk Berserah
Kesaksian Jhon kemudian membawa khotbah menjadi lebih hidup. Ia mengisahkan masa ketika kondisi kesehatannya menurun drastis. Perawatan harus dijalani berulang kali. Berat badannya turun secara signifikan hingga pada suatu masa ia harus menggunakan kursi roda.
Menurut pengakuannya, kondisi tersebut berkaitan dengan autoimun serta dugaan reaksi terhadap obat yang dikonsumsinya.
Di tengah pergumulan itu, Jhon bersama istrinya memilih untuk berserah kepada Tuhan.
Doa dan firman menjadi sumber kekuatan. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia mulai berusaha kembali berjalan. Perlahan, kondisi tubuhnya membaik.
“Kalau kita berdua yakin dan percaya, disembuhkan,” ujarnya, mengenang keyakinan yang menyertai perjalanan tersebut.
Namun, Jhon menegaskan bahwa kesaksiannya bukan untuk menggantikan pengobatan medis. Ia tetap menghargai peran dokter dan pengobatan yang dijalaninya.
Justru melalui pengalaman sakit itu, ia semakin memahami arti iman, penyerahan diri, dan rasa syukur. “Jangan kita sia-siakan keadaan ini. Mulai hari ini, Tuhan, pakai hidupku ini,” ajaknya kepada jemaat.
Karakter Dibentuk Sepanjang Hidup
Bagi Jhon, perubahan karakter bukanlah proses sehari atau dua hari.
Ia adalah perjalanan seumur hidup.
Mengacu pada Yehezkiel 36:26 tentang hati yang baru dan roh yang baru, Jhon mengajak jemaat membuka diri untuk terus dibentuk Tuhan.
Bahkan keluarga, menurutnya, dapat menjadi tempat seseorang belajar mengendalikan diri.
Perbedaan pendapat, kelelahan, maupun persoalan sehari-hari tidak selalu harus dipandang sebagai masalah. Semua itu dapat menjadi ruang latihan untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, lembut, dan mampu menguasai diri.
“Biarlah ini sebagai tempat latihan saya, supaya hati saya jadi lembut dan jangan suka marah,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan jemaat agar tidak terus hidup dalam kekhawatiran dan pikiran negatif.
Setiap persoalan perlu dibawa kepada Tuhan, sementara iman terus dipelihara melalui doa, pembacaan firman, dan kehidupan rohani di tengah keluarga.
Kejutan Ulang Tahun di Penghujung Ibadah
Usai khotbah, suasana ibadah tiba-tiba berubah menjadi penuh sukacita.
Pdt. Dr. Mulyadi Sulaeman, bersama ibu gembala dan jemaat, ternyata telah menyiapkan kejutan ulang tahun ke-62 bagi Jhon Panggabean.

Sebuah kue ulang tahun dibawa ke hadapannya. Jemaat kemudian menyanyikan lagu “Happy Birthday”.
Wajah Jhon tampak sumringah dan sukacita ketika meniup lilin ultah. Ia kemudian didoakan secara khusus oleh Pdt. Mulyadi.
Momen itu terasa seperti sebuah lingkaran yang lengkap. Jhon baru saja berbicara tentang perubahan hidup, lalu pada hari ulang tahunnya ia berdiri di hadapan jemaat sebagai seseorang yang memilih melihat masa lalu bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari kesaksian tentang kasih dan pertolongan Tuhan.

Dalam sambutannya, Pdt. Mulyadi mengajak jemaat untuk terus bertumbuh dan semakin menyerupai Kristus.
“Kiranya Tuhan memberkati kita di bulan kita diingatkan supaya kita memiliki karakter Kristus. Kita percaya hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun berganti tahun, Tuhan sedang membentuk kita makin serupa dengan Kristus,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Jhon Panggabean dan mendoakan agar kehidupannya terus diberkati serta dipakai Tuhan..
Di tengah suasana sukacita, Pdt. Mulyadi juga menyampaikan kepedulian jemaat terhadap saudara-saudara seiman yang tengah menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Jemaat telah mengumpulkan bantuan sebesar Rp5.051.000 yang kemudian disalurkan melalui Ketua MD GSPDI untuk membantu gereja-gereja di Kalimantan Barat yang terdampak asap tebal akibat karhutla.
“Kiranya bantuan kita boleh bermanfaat buat gereja-gereja di Kalimantan Barat yang kena asap yang begitu hebat,” ujar Pdt. Mulyadi.
Angka itu mungkin terlihat kecil dibandingkan luasnya kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Namun, bagi jemaat, kepedulian tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal. Ada doa. Ada perhatian. Dan ada tindakan nyata.
Sebelum menutup ibadah dengan doa berkat, Pdt. Mulyadi kembali mengajak jemaat mendoakan masyarakat Kalimantan yang terdampak karhutla. SM













