SURABAYA,VictoriousNews.com- Publik selama ini mengenal Basuki Tjahaja Purnama—atau yang akrab disapa Ahok—sebagai figur yang pemberani dan tegas. Gaya bicaranya lugas, kritikannya menghantam tajam, dan keberaniannya saat berhadapan dengan labirin birokrasi tak jarang memicu gelombang pro dan kontra yang riuh. Namun, di balik dinding ketegasan yang kerap ia tampilkan di panggung politik nasional, mencuat muara tenang yang amat personal: sebuah ruang pergumulan iman yang sunyi, tempat ia terus belajar menundukkan diri kepada Tuhan.

Sisi spiritualitas yang mendalam ini terungkap saat Ahok diundang sebagai pembicara dalam forum marketplace ministry di GKI Darmo Satelit (DASA), Jalan Raya Kupang Indah, Surabaya pada Sabtu (26/9/2026).
Acara seminar bertajuk “LEADERSHIP & INFLUENCE” yang dimoderatori Pdt. Andri Purnawan, Ahok tak ragu membedah satu kata yang menjadi kompas utama dalam meniti kehidupan maupun kepemimpinan, yakni: kalibrasi.
Bagi Ahok, jiwa manusia tak ubahnya sebuah timbangan. Jika tak rajin diselaraskan, ia akan bergeser, melenceng, dan kehilangan ketepatan ukurannya.
Kalibrasi setiap hari pukul 04.00,, menyapa keheningan pagi

Kebiasaan spiritual Ahok bukanlah riasan formalitas keagamaan. Setiap hari, ketika fajar belum sepenuhnya menyingsing—sekitar pukul 04.00 pagi—ia sudah terjaga. Tiga jam pertama sebelum menjejakkan kaki ke luar rumah ia baktikan penuh untuk merawat batinnya: berdoa, mendalami firman Tuhan, mandi, dan berolahraga.
Di keheningan pagi itulah proses “kalibrasi” berlangsung. Ahok mengakui dengan jujur bahwa ia adalah manusia biasa yang bisa disulut amarah, dikuasai kekecewaan, dihampiri ketakutan, bahkan disusupi rasa benci. Namun, alih-alih membiarkan emosi itu liar mengendalikan keputusannya, ia memilih membawa seluruh kemelut emosi tersebut ke hadapan Sang Pencipta.
Akar dari kebiasaan ini telah tertanam sejak masa mudanya. Ketika badai ekonomi menghantam keluarganya dan ia harus kembali ke Belitung usai menuntaskan studi, Ahok berada dalam kesepian yang dalam. Tanpa riuh gawai, media sosial, atau kemudahan komunikasi seperti hari ini, ia hanya memiliki satu tempat bermuara untuk mencurahkan segala beban hidupnya: Tuhan. Dari sana, ayat-ayat firman yang dahulu dibacanya sekadar lalu, perlahan menjelma menjadi sapaan personal yang menguatkan di tengah kepungan persoalan.
Mengikuti Teladan Musa di Waduk Pluit
Garis spiritualitas itu tercermin nyata saat ia mengemban amanah sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kala itu, ia harus menata kawasan Waduk Pluit demi menyelamatkan warga dari ancaman banjir saban tahun. Niat tulus memindahkan warga ke rumah susun yang lebih layak tidak serta-merta disambut hangat. Penolakan keras terjadi, bahkan berujung pada ucapan diskriminatif yang menyerang identitas dirinya.
Amarah Ahok membumbung. Pikiran-pikiran gelap sempat singgah di benaknya—merasa niat baiknya dibalas dengan kegetiran. Namun, setibanya di rumah, ia kembali membuka lembaran Alkitab dan merenungi kisah Nabi Musa. Ia menemukan betapa Musa pun pernah mengalami frustrasi yang hebat sewaktu memimpin bangsanya.
Seketika, kalibrasi batin bekerja. Kemarahan yang membakar ia padamkan di hadapan Tuhan. Keesokan harinya, Ahok kembali menemui warga dengan wajah dan pendekatan yang sepenuhnya berbeda. Bus disiapkan, hidangan dan kebutuhan dasar disediakan, dan warga diajak melihat langsung unit rumah susun. “Saya seperti sales*perumahan,” kenangnya terkekeh. Dari peristiwa itu, ia memetik pelajaran berharga: seorang pemimpin yang enggan mengkalibrasi hatinya akan dengan mudah terseret dan dikendalikan oleh emosinya sendiri.
Penjara yang Menjadi Ruang Pergumulan
Fase tergelap dalam hidup Ahok—saat ia harus mendekam di balik jeruji besi, Mako Brimob Kelapa Dua Depok—justru diubahnya menjadi ruang perheningan dan pergumulan yang intens. Di dalam tahanan, ribuan surat dari masyarakat mengalir masuk. Dalam keterbatasan dinding penjara, ia menyalurkan perenungannya dengan menulis buku. Penjualan buku karya penahanannya tersebut kemudian dialirkan melalui yayasan sosial (BTP Foundation) untuk membantu sesama, termasuk mendorong akses teknologi dan laptop bagi anak-anak sekolah agar dapat menyamai standar pendidikan global.
Bagi Ahok, perjalanan dari meja kepemimpinan gereja, kursi Gubernur DKI Jakarta, Komisaris Utama PT Pertamina, hingga kini mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Perekonomian DPP PDI Perjuangan periode 2025–2030, mengukuhkan satu hal: pelayanan bukan soal jabatan, melainkan tentang integritas. Kepemimpinan adalah karunia yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, bukan sekadar urusan memegang kekuasaan.
Naik-Turun Grafik Iman,.Yesus Teladan Hidupnya

Ahok tak pernah menutupi ketidaksempurnaannya. Ketika ditanya figur yang dikaguminya, ia menyebut Muhammad Hatta karena kesederhanaannya, Zhou Enlai atas cintanya pada rakyat, Martin Luther King Jr. dalam merajut kasih dan keadilan. Namun, di atas segalanya, Yesus Kristus adalah puncak panutannya—sosok yang mengajarkan bahwa kekuasaan sejati harus berpadu laras dengan kasih, keadilan, dan keteladanan.
Ia sadar betul bahwa perjalanan iman manusia bukanlah garis lurus yang sempurna, melainkan grafik yang naik dan turun. Manusia bisa jatuh, marah, atau keliru meski rajin berdoa. Namun, rahasianya adalah keberanian untuk bangkit dan terus mengoreksi arah.
“Ketika uang habis, yang tersisa adalah integritas. Ketika popularitas turun, yang tersisa adalah jejak. Dan ketika seluruh kekuasaan berakhir, manusia akhirnya kembali berhadapan dengan Tuhan,” tandas Ahok saat hadir dalam acara tersebut didampingi sang istri, Puput Nastiti Devi.
Di era ketika kecerdasan buatan dapat menjawab hampir segalanya, Ahok mengingatkan bahwa ada satu hal yang tak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi: keteladanan hidup. Dari kisah perjalanannya, kita diajak meneladani arti ketaatan, kesetiaan, kejujuran, keberanian menyuarakan kebenaran, serta pentingnya untuk selalu datang dan mengkalibrasi diri kepada Tuhan. SM

















