VictoriousNews.com- “Selamat Ulang Tahun ke-34 GBI REM,” ucap Ps Paulus T Supit pada ibadah Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Bethel Indonesia (GBI) Rahmat Emmanuel Ministry (REM) 34rd Anniversary pada Minggu, 15 Maret 2026 di lantai 6 Hotel Ciputra (Grogol, Jakarta Barat). Ucapan serupa disampaikan Ps Pengky Andu beberapa saat sebelumnya dalam ibadah raya pukul 13.00 WIB.
Secara khusus, Ibadah Perayaan HUT ke-34 GBI-REM dilaksanakan pada dua kali Ibadah, yaitu pukul 11.00 WIB dan pukul 15.00 WIB. Selain itu juga diselenggarakan ibadah raya pada pukul 09.00 WIB dan pukul 13.00 WIB. Sedang ibadah pukul 17.00 WIB digabungkan ke ibadah pukul 15.00 WIB untuk bersama-sama merayakan ulang tahun ke-34 GBI-REM yang jatuh tepat pada tanggal 15 Maret.
Seluruh ibadah dipimpin Ps Paulus T Supit kecuali pada ibadah raya pukul 13.00 WIB yang dipimpin oleh Ps Pengky Andu dari Surabaya (Jawa Timur).
Pada refleksi dan perenungan firman Tuhan, Ps Paulus Supit menekankan ayat dari Mazmur 3:4 yang menyatakan, “Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.” Dengan tema “Dengan Nyaring Aku Berseru Kepada Tuhan” (Mazmur 3:1-8), Paulus Supit menyampaikan tentang bagaimana Daud meratap terhadap apa yang dialami. “Permasalahan gereja ini sejak awal berdiri hingga tiba waktu menapaki usia 34 tahun sungguh amat banyak dan beragam. Bersama ibu, ayah saya membangun gereja dari sebuah gedung Jalan Tanah Abang II (Jakarta Pusat) dengan hanya sedikit orang. Semua berjalan tanpa ada pengalaman mimbar. Berjalan secara otodidak. Meskipun mengalami ejekan bahwa khotbahnya seperti panjat pohon Mangga turun di pohon Jambu, ayah saya tidak mempedulikannya. Terus dan berjalan terus. Yang disampaikan ayat demi ayat. Sehingga sempat ada yang bisikan bahwa dalam satu kali Ibadah yang dipimpinnya tersampai sekitar 200 hingga 300 ayat Alkitab,” ucapnya.
“Tidak cukup di situ. Ayah saya kemudian membuka ibadah dari hotel ke hotel, seperti Hotel Indonesia (kini Hotel Indonesia Kempinski) dan sejumlah hotel lain termasuk di Hotel Ciputra. Sehingga dijuluki gereja sesat atau apalah namanya itu. GBI-REM ada karena Mazmur 3:4. Masalah sebesar Tsunami tidak mampu menenggelamkan kapal yang tengah berlayar meski disertai badai sekalipun. Karena di sini ada jiwa-jiwa bagi Kristus, jiwa-jiwa yang selalu memuliakan nama Tuhan,” tegas Paulus Supit.
Disampaikan terdapat sepuluh hal mengapa Tsunami tidak mampu menenggelamkan kapal. “Saya menyampaikan empat hal dan berikutnya di lain kesempatan. Pertama, karena Tuhan mendengar doa umat-Nya (Yeremia 33:3; Mazmur 121:2-4 dan 145:18-19). Kedua, surga mendapat peringatan (Daniel 10:12). Ketiga, damai menggantikan kecemasan (Yohanes 14:27), dan Keempat adalah Iman menjadi kuat (Roma 10:17, Markus 11:24),” tandasnya.
“Meskipun Tuhan tak menolongku. Meskipun duri dalam dagingku. Kutetap memilih ‘tuk percaya, dan mengucap syukur. Berkali-kali Kau menolong, Berkali-kali Kau kuatkan, Dalam rasa sakit Engkau ada. Yesus setia,” demikian penggalan nyanyian religi berjudul “Yesus Setia” yang dilantunkan di akhir ibadah.
Ketika Ps Pengky Andu menanyakan kepada sejumlah jemaat, mengapa masih tetap beribadah di GBI-REM Jemaat-jemaat tersebut menyatakan karena Ps Pengky Andu. Terbukti bahwa ketika Ps Pengky Andu”mencoba melarikan diri dari pelayanan di GBI-REM, jemaat mencari informasi ada apakah gerangan. “Ketika saya pergi diam-diam, bersama sejumlah orang, Ps Paulus T Supit mencari hingga di rumah saya di Surabaya. Mereka tidak menemukan karena saat ini saya sudah tidak di Surabaya. Hingga titik kulminasi itu tiba. Bahwa ketika saya mencoba menelepon teman yang bernama Paulus, yang bicara di seberang sana adalah Ps Paulus Supit. Dikatakan, pak Pengky….,” demikian disaksikan Pengky. Hingga kemudian semua bernaung dalam satu kepakan sayap Kristus di dalam nama Yesus dari Nazareth itu.
Kemeriahan tampak ketika sejumlah doorrprice dibagikan kepada sejumlah jemaat. Doorrprice dibagikan kepada siapa saja yang dapat menjawab pertanyaan seputar refleksi persyaratan HUT ke-34 GBI-REM tersebut. “Dari Kitab apa yang menjelaskan bahwa Surga mendapatkan peringatan ketika umat-Nya berdoa,” tanya Paulus Supit. Jawaban Kitab Daniel yang dilontarkan reporter Victorious News disambut benar dan diberikan giveaway berupa satu unit coffe maker (pembuat kopi).
Sekedar mengilas balik. Pembentukan GBI-REM diawali dari sebuah persekutuan doa di sebuah gedung milik seorang warga bernama Rahmat. “Di gedung tersebut, kedua orangtua saya, Pdt Abraham Conrad Supit beserta istri (Elsye Cramer Supit, meninggal tahun 2006), ibu saya mulai mengadakan mesbah doa. Iman mereka yang berkobar dan mendorong suatu keyakinan bahwa satu orang diselamatkan maka seisi rumah pun diselamatkan. Ketika itu, saya belum bertobat. Karena itu saya sangat menentang beliau menjadi hamba Tuhan. Saya menolak,” tegasnya.

Didirikan resmi pada 15 Maret 1992 di kawasan Tanah Abang (Jakarta Pusat), kegiatan gereja diawali sekitar pukul 06.00 WIB berpindah ke Jalan Tubagus Angke ex Komplek PT Univeler (Jakarta Utara) sekitar tahun 2000-an dan sempat mengalami perkembangan yang signifikan. Jemaat mulai menurun ketika gereja berpindah ke Komplek Apartemen Robinson di Jalan Jembatan Dua Raya Nomor 2 (Jakarta Utara) meskipun hanya berjarak sekitar 500 meter. Sementara yang beribadah di Hotel Ciputra (Jakarta Barat) mengalami perkembangan. Tetapi, jemaat yang mulai menunjukkan peningkatan harus pindah ke ITC Permata Hijau (Jakarta Selatan) akibat biaya sewa yang membumbung. Lokasi Permata Hijau dipilih mengingat tempat ibadah yang beralamat di Jalan Daan Mogot (Jakarta Barat) juga tidak dapat dipergunakan lagi. Penyelenggaraan ibadah perayaan ulang tahun ke-33 diselenggarakan di Hotel Aston Kartika (Grogol, Jakarta Barat) dan beberapa kali menyelenggarakan ibadah termasuk Perayaan Natal 2025. Ibadah kembali di lantai 6 Hotel Ciputra pada Januari 2026 hingga dapat menyelenggarakan ibadah Perayaan Ulang Tahun GBI-REM yang ke-34 pada Minggu, 15 Maret 2026.
Setelah 33 tahun berlalu dan menapaki usia ke-34, Pdt Paulus T Supit bersama kakak-kakak dan adik-adik tampil memimpin jemaat melalui gereja masing-masing. Ps Abraham Conrad Supit yang semula memegang kepemimpinan penggembalaan GBI-REM kemudian diserahkan kepada Pdt Paulus T Supit beserta istri, Maria Ekawati Supit (dikenal Yani Supit).

Diceritakan, meskipun ia sempat mundur dari GBI Penuai yang didirikan bersama istri di Gedung Kasih Bersaudara di Jalan Raden Saleh (Jakarta Pusat) kemudian kembali ke ladang Tuhan lewat penggembalaan GBI-REM. GBI Penuai kemudian melebur (merger) dengan GBI REM. @epa_phm

















