Kisah Hidup Pdt. Sapto Edhi Rahardjo : Gagal Jadi Tentara, Dipanggil Jadi Pendeta

banner 468x60

Jakarta,Victoriousnews.comHidup manusia sejatinya ada di dalam rancangan Tuhan. Itulah yang dialami oleh Pdt. Sapto Edhi Rahardjo. Sejak kecil, pria kelahiran Ponorogo tahun 1964 ini bercita-cita mengikuti jejak sang ayah yang pernah menjabat sebagai Komandan Kodim dan anggota DPRD di Ponorogo. Tentara adalah impian masa kecilnya. Namun, rencana Tuhan berkata lain. Gagal masuk Akabri dan gagal diterima di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, jalan hidupnya justru berbelok menuju pelayanan sebagai seorang hamba Tuhan.

“Saya lahir dari orangtua Kristen, tapi ayah dan ibu berasal dari keluarga Muslim. Hidup di Ponorogo yang mayoritas bukan Kristen membuat saya terbiasa bergaul dengan banyak perbedaan. Justru di situ saya menemukan makna iman, hingga akhirnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat,” kenang Sapto yang bertobat sungguh-sungguh di bangku SMA setelah mendengar Injil dari gurunya, lewat kitab Roma 10:9.

Selepas SMA, ia merantau ke Surabaya untuk mengejar impian menjadi tentara, namun gagal. Upaya masuk ITS pun tak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, ia didorong orangtua untuk merantau ke Jakarta, tinggal bersama sang kakak yang seorang pemborong. Dari situ, ia belajar dunia usaha hingga mahir membangun. “Puji Tuhan, bekal ketrampilan sebagai pemborong itu, berguna untuk membangun gereja di Pejaten Village Jakarta Selatan ini,”” tandasnya.

Tahun 1985, Sapto melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Ia sempat berkarier sebagai konsultan IT, bahkan bekerja dengan perusahaan asing dalam bidang administrasi, perpajakan, hingga sistem penggajian. Namun di tengah kesibukannya, suara Tuhan mengetuk hatinya: “Hidupmu buat apa?” Pertanyaan itu mengarahkan langkahnya menjadi full timer di GBI Gatot Subroto penggembalaan Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo pada 1993, “Dari pelayanan kecil seperti membuat kartu anggota jemaat dengan mesin ketik, panggilan sebagai hamba Tuhan itu semakin jelas. Sampai sekarang mesin ketik itu masih tersimpan di rumah,” tuturnya sembari tertawa.

Hingga akhirnya, tahun 2002, ia ditahbiskan sebagai pendeta pada usia 38 tahun. Pelayanan kecil di Kalibata berkembang pesat menjadi empat cabang dengan ratusan jemaat. Sejak 15 tahun terakhir, semua cabang itu dipusatkan di GBI Pejaten Village, tempat ia kini menggembalakan ratusan umat.

Di luar penggembalaan, Sapto juga dipercaya dalam organisasi. Mulai dari Ketua Sektor, Perwil Jakarta Selatan, hingga kini menjabat sebagai Wakil Ketua BPD GBI DKI Jakarta.  Sementara di PGIW DKI Jakarta, ia pun mendapat tanggung jawab sebagai Sekretaris Bidang Komunikasi Informasi dan Intergenerasi (KII). Meski banyak jabatan diemban, ia menegaskan prinsipnya: “Jangan kejar posisi, tapi kejar fungsimu. Karena jabatan itu dari Tuhan.”

Ayat favorit yang selalu menuntun langkah dan telah mengubah hidupnya adalah Kolose 3:23: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Kini, bersama sang istri, Woro Indah Sayekti, dan dua anaknya, (Priscila serta Michael Raharjo), Pdt. Sapto terus menapaki panggilan pelayanan yang telah ditetapkan Tuhan baginya.

Rencana Tuhan indah pada waktuNya, dari kegagalan meraih impian menjadi tentara, ia justru dipilih menjadi prajurit Kristus yang setia. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60