Yohanes Sirait: Membakar Semangat Pemuda, Menggembalakan Jiwa, dan Menjadi Katalisator Perubahan

banner 468x60

Jakarta,Victoriousnews.com – Di tengah hiruk-pikuk politik dan pergulatan bangsa, sosok Yohanes Harry D. Sirait, S.Th., M.Si., tampil dengan peran ganda: sebagai Ketua Umum DPP Generasi Muda Pembaharu Indonesia (GEMPAR Indonesia) dan sebagai gembala jemaat di GBI Green Lake Community Church (GLCC), Jakarta Barat. Dua dunia yang berbeda itu ia jalani dengan satu tujuan: memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan membawa generasi muda menjadi agen perubahan.

Di bawah kepemimpinannya, GEMPAR Indonesia kini telah hadir di 29 provinsi di Indonesia dan 3 negara luar negeri, yakni Singapura, Jepang, dan Australia. Visi yang ia usung sederhana tapi kuat: menjadikan Gempar sebagai katalisator gerakan anak muda.

“Anak muda zaman sekarang tidak suka label, tapi suka kegerakan. Mereka cair, bisa bergerak di isu apapun. Karena itu Gempar hadir bukan untuk sekadar membentuk keanggotaan, tapi menciptakan movement yang membawa dampak,” ujar Yohanes.

Contoh nyata bisa dilihat di Manado, Sulawesi Utara. Pada HUT RI ke-80, anak-anak muda Gempar bergerak membagikan sembako dan menolong orang sakit. Aksi kecil namun berakar pada kepedulian sosial. “Kader Gempar memang ada yang bupati, anggota dewan, tapi saya juga dorong yang lain jadi ketua RT/RW, maupun  kepala desa. Pelayanan bukan soal posisi besar, tapi soal dampak di tengah masyarakat. Saya selalu berpesan, semua harus berangkat dari hati untuk melayani,” tegasnya.

GEMPAR sendiri lahir pada Februari 2014 atas amanat Kongres Departemen Pemuda & Anak (DPA) GBI di Manado tahun 2013. Meski berakar dari GBI, Gempar dibangun sebagai ormas independen lintas denominasi, di dalamnya ada Katolik, HKBP, dan berbagai gereja lain. “Intinya, Gempar hadir untuk bangsa,” tutur Yohanes.

Dari Pelayan Hingga Gembala

Selain memimpin Gempar, Yohanes juga mengemban panggilan rohani sebagai gembala jemaat GBI Green Lake Community Church (GLCC) di Ruko Wallstreet, Duri Kosambi, Jakarta Barat. Perjalanan pelayanannya di Jakarta dimulai sejak 2011 mendampingi Pdt. Sukirno Tarjadi, Gembala Sidang GBI Putera.

Saat pandemi Covid-19 melanda, muncul dorongan kuat dalam doa untuk menjadikan kantor sekretariat gereja sebagai tempat ibadah. Awalnya gereja hanya memiliki 1 ruko, lalu jemaat berdoa jikalau memang Tuhan menghendaki GBI Putera membuka cabang, kalau boleh ditambah 1 ruko lagi. “Eh ternyata ruko sebelah penyewanya kabur, akhirnya pemilik menjual kepada gereja kita. Itu mujizat. Begitu kita buka gereja, Pak Sukirno menugaskan kami menggembalakan di GLCC. Oleh anugrah Tuhan pelayanan ini terus berkembang menjadi berkat bagi masyarakat di kawasan ini,” terang pria kelahiran 5 Februari 1986 ini.

Dua tahun berlalu, jemaat GLCC bertumbuh pesat dan kini ibadah minggu digelar tiga kali, dan tahun depan mereka bersiap pindah ke gedung baru yang sedang disiapkan. “Semua karena anugerah Tuhan. Kami rencanakan di gedung baru bukan hanya ibadah, tapi juga pusat pelayanan sosial untuk menjangkau lebih banyak jiwa. Panggilan GLCC 2, Generations and Nation,” ujar ayah dari tiga anak—dua putra dan satu putri—ini penuh syukur.

Pemuda, Gereja, dan Bangsa

Yohanes Sirait bersama Dewan Pembina GEMPAR Indonesia Bapak Hashim Djojohadikusumo

Dalam diri Yohanes, pemuda bukan sekadar angka bonus demografi, melainkan motor perubahan bangsa. Baginya, melahirkan kader-kader yang berintegritas jauh lebih penting ketimbang sekadar mengejar posisi politik. “Anak muda Gempar harus siap ditempatkan di mana pun, dari tingkat RT hingga DPR. Karena pelayanan sejati adalah dampak, bukan jabatan,” tandasnya.

Sosok Yohanes menjadi potret pemimpin muda yang menyatukan iman, integritas, dan keberanian. Baik melalui Gempar Indonesia maupun lewat panggilan menggembalakan jemaat, ia terus menyalakan api perubahan. Satu hal yang ia yakini: gerakan besar selalu lahir dari hati yang melayani.SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60