Film Penerbangan Terakhir Bawa Skandal Cinta

banner 468x60

Victoriousnews.com- Jerome Kurnia berada di antara dua persimpangan jalan. Memilih Nadya Arina, atau Aghniny Haque! Ketiganya terlibat dalam sebuah skandal terpanas tahun 2026 lewat film Penerbangan Terakhir persembahan VMS Studio.

Melalui official trailer yang dirilis, film Penerbangan Terakhir menampilkan
kegilaan dan skandal panas dari dunia penerbangan yang melibatkan pilot dan
pramugari.

Pada official trailer Penerbangan Terakhir, menampilkan perjalanan Jerome Kurnia sebagai Kapten Deva, yang tengah mendekati pramugarinya, Tiara (Nadya Arina).

Awalnya, mulut manis dan kharisma Kapten Deva seperti sebuah kesempurnaan yang nyata. Tapi, semakin dalam Tiara dekat dengan Kapten Deva, ada banyak tipu daya dan manipulasi yang sulit dibedakan mana yang tulus dan tak sungguh-sungguh.
Belum lagi, kemunculan Nadia, pramugari senior yang ternyata memiliki hubungan yang lebih dulu dengan Kapten Deva. Kemunculannya pun membuat cerita cinta manis Kapten Deva dan Tiara buyar. Trailer juga mengungkap segila apa cerita yang sebenarnya dari kisah yang sering kita dengar dari balik dunia penerbangan.

Diproduseri oleh Tony Ramesh dan Shalu T.M., film ini disutradarai oleh Benni Setiawan. Selain Jerome, Nadya, dan Aghniny, film ini turut dibintangi oleh Nasya Marcella dan Vintha Devina Bertha.

“Penerbangan Terakhir menjadi film pertama VMS Studio yang akan tayang di bioskop pada tahun 2026. Kami selalu menghadirkan cerita-cerita yang beragam, dan yang terbaru adalah Penerbangan Terakhir. Kisah ini terinspirasi dari kejadian yang ada di sekitar masyarakat, lalu sempat jadi perbincangan yang ramai lagi belakangan ternyata. Untuk itu kami mempertimbangkan merilis film ini di awal tahun, untuk memberikan sesuatu ke penonton tentang cerita yang sering kita dengar tapi tidak pernah dilihat oleh masyarakat,” kata produser Tony Ramesh.
Untuk memerankan pilot, Jerome mengungkapkan ia lebih dulu mengikuti
workshop dengan pilot aktif. Selain dikenalkan dengan beberapa fitur yang ada di kokpit pesawat, Jerome juga mempelajari sikap dan cara pilot dalam berperilaku baik di dalam pesawat maupun di bandara.

Bagi Jerome, salah satu yang menarik adalah di film ini tidak ada karakter yang benar-benar antagonis. Menurutnya, setiap karakter memiliki sudut pandang masing-masing yang akan membuat penonton pun merasa lebih dekat dengan dinamika permasalahan romansanya.

“Antara Kapten Deva, Tiara, dan Nadia, itu berada dalam sebuah situasi yang rumit. Ketiganya tidak benar-benar diposisikan sebagai siapa yang paling baik atau yang paling jahat. Mereka bertiga punya sudut pandang masing-masing yang akan membuat penonton berefleksi, masing-masing punya sisi negatif dan positifnya. Sangat human dramanya,” ujar Jerome Kurnia.

Bagi Jerome dan Nadya, yang juga menjadi pasangan di kehidupan nyata, dan dipasangkan di film ini keduanya memiliki tantangannya tersendiri. Sebab, di film ini Kapten Deva dan Tiara adalah pasangan yang baru memulai perjalanan cinta mereka.

“Aku memerankan Tiara, yang sebenarnya adalah pramugari baru. Jadi dunia penerbangan itu baru baginya. Begitu pula dengan kisah percintaan, Tiara cukup baru. Ketika bertemu dengan Kapten Deva, Tiara akan menemukan masalah-masalah yang nantinya akan menjadi besar dan mengubah kehidupannya,”kata Nadya Arina.

Aghniny Haque, yang belakangan dikenal dengan peran serta karakter di film-film bergenre aksi, merasa sangat senang ia bisa kembali bermain di film drama.

Terlebih, menurutnya, Penerbangan Terakhir menawarkan perjalanan emosi yang sangat intens dan menuntut karakternya untuk bisa menampilkan sisi yang bisa menjadi kontroversi bagi penonton. “Karakter Nadia itu bisa sangat membuat penonton antara membenci atau menaruh empati dengannya. Karena ada sisi obsesif dan kegilaan di dirinya. Proses pendalaman karakternya sangat intens. Nadia dan aku sangat bertolak belakang, dan aku bersyukur berada di film ini yang memberikan aku ruang untuk bereksplorasi di ruang drama dengan emosi yang sangat dalam,” kata Aghniny Haque.

Visual Media Studio (VMS) adalah rumah produksi film yang berbasis di Jakarta dan didirikan pada tahun 2022. VMS hadir dengan visi untuk menginspirasi, menghibur, dan terhubung dengan penonton, baik di tingkat lokal maupun global.

Di VMS, kami berkomitmen untuk terus mendorong batasan kreativitas dan menciptakan kisah-kisah yang menggugah dan relevan lintas budaya.
Proyek perdana kami, Pemandi Jenazah, menjadi tonggak awal yang mengukuhkan posisi VMS di industri film regional.

Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan ditulis oleh penulis skenario box office Lele Laila, film ini mencatat kesuksesan luar biasa dengan meraih 3,5 juta penonton di seluruh dunia. Film ini juga menjadi film Indonesia dengan pendapatan tertinggi kedua di Malaysia sepanjang masa, serta menempati posisi kedua box office nasional di kuartal pertama 2024.
Dengan semangat untuk terus menghadirkan cerita-cerita bermakna dan menginspirasi, VMS siap melangkah lebih jauh dan menjangkau lebih banyak hati penonton di masa depan. @epa_phm

banner 300x250

Related posts

banner 468x60