Ibadah Tutup Tahun Gepenkris) Jakarta, Jhon Panggabean Ajak Jemaat  Agar Menang Atas Pencobaan &  Ujian Hidup

banner 468x60

Jakarta,Victoriousnews.com–Gereja Pentakosta Kristus (GEPENKRIS) Jakarta yang berlokasi di Jalan Bangau Buntu No. 597, Senen, Jakarta Pusat, menggelar Ibadah Tutup Tahun 2025 pada Minggu (28/12/2025). Ibadah Minggu keempat sekaligus penutup tahun ini dilayani oleh advokat senior Jhon S.E. Panggabean, SH., MH.

Sebelum taburan firman Tuhan dibuka dengan kesaksian pujian dari Tulus Hutapea dan duet dengan putrinya Theresia Hutapea dengan lagu berjudul “You Raise Me Up” .

 

Tulus Hutapea & putrinya Theresia, duet menyanyikan lagu berjudul “You Raise Me Up” dalam ibadah tutup tahun Gepenkris Jakarta,.Minggu (28/12/25).

Jhon Panggabean dalam kotbahnya mengangkat tema “Menang atas Pencobaan dan Ujian Hidup”, dengan landasan firman Tuhan dari Yakobus 1:2–6 dan Yakobus 1:12. Ia menekankan bahwa pencobaan dan ujian memiliki makna yang berbeda dalam iman Kristen.

Menurutnya, pencobaan berasal dari Iblis, sementara ujian diizinkan Tuhan untuk menaikkan kualitas iman seseorang. “Yesus sendiri dicobai oleh Iblis saat berpuasa 40 hari. Apalagi kita manusia. Namun, ujian dari Tuhan selalu bertujuan membawa kita naik tingkat dalam iman,” ujar Jhon Panggabean yang juga penasehat DPN Peradii SAI.

Ia menguraikan sejumlah tokoh Alkitab sebagai contoh nyata, seperti Ayub dan Yusuf yang menghadapi pencobaan berat, serta Abraham yang diuji imannya ketika diminta mempersembahkan Ishak. “Ujian Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membentuk ketekunan dan kedewasaan rohani,” tegasnya.

Jhon juga menyinggung realitas kehidupan modern, di mana pencobaan datang setiap hari melalui ekonomi, godaan moral, hingga konflik keluarga. Ia mengingatkan jemaat agar hidup dalam kekudusan dan integritas, khususnya di tengah arus teknologi dan media digital yang sarat godaan. “Apa yang kita lihat dan lakukan, Tuhan tahu. Karena itu, kekudusan bukan pilihan, melainkan keharusan,” katanya.

Dalam kesaksiannya, Jhon membagikan pengalaman pribadi sebagai praktisi hukum yang menolak kompromi demi menjaga kebenaran. Ia menegaskan bahwa anak Tuhan dipanggil untuk menyuarakan kebenaran, sekalipun harus membayar harga. “Lebih baik kehilangan keuntungan sesaat daripada kehilangan integritas di hadapan Tuhan,” ungkapnya.

Mengakhiri khotbah, Jhon mengajak jemaat untuk melakukan refleksi akhir tahun, meninggalkan kehidupan lama, dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Ia menegaskan bahwa sukacita sejati tidak bergantung pada kondisi ekonomi atau keadaan, melainkan pada hubungan yang intim dengan Tuhan.

“Selagi masih ada waktu, datanglah kepada Tuhan. Tahun 2026 harus menjadi tahun pertumbuhan iman, bukan sekadar pergantian kalender,” pungkasnya.

Hidup Itu Seperti Uap, Pergunakanlah Untuk Tuhan

Sementara itu,  Gembala jemaat GEPENKRIS Jakarta, Pdt. Dr. Solider Siringoringo menyampaikan kesaksian yang menggetarkan hati jemaat tentang singkatnya hidup manusia dan pentingnya mengucap syukur kepada Tuhan selagi masih ada kesempatan.

Pdt. Solider mengisahkan pengalamannya menghadiri sebuah rumah duka di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. Almarhumah yang berpulang merupakan kerabat dekat yang wafat pada usia 50 tahun, meninggalkan dua orang anak perempuan. Kepergian tersebut terasa semakin menyayat hati karena sang suami telah meninggal dunia dua tahun sebelumnya. “Yang mengejutkan, dalam satu bulan terakhir almarhumah diketahui menderita kanker serviks yang cukup ganas. Dua hari sebelum meninggal, kami baru menerima kabar untuk didoakan,” tutur Pdt. Solider di hadapan jemaat.

Kesaksian pujian Gembala Gepenkris Pdt. Solider Siringoringo beserta keluarga

Ia menambahkan, kondisi keluarga almarhumah semakin memprihatinkan karena seorang anggota keluarga lainnya masih terbaring koma dalam waktu lama. Sehingga tidak dapat hadir dalam prosesi pemakaman. Dalam situasi duka tersebut, Pdt. Solider dipercaya untuk menyampaikan kata penghiburan kepada keluarga besar.

Dalam pesan penghiburannya, ia menekankan firman Tuhan dari Kitab Yakobus yang menyatakan bahwa hidup manusia seperti uap—sebentar ada, sebentar lalu lenyap. “Kematian bisa datang begitu cepat, tanpa kita duga. Karena itu, akhir tahun menjadi momentum yang tepat untuk bersyukur karena kita masih diberi napas kehidupan,” tegasnya.

Tak hanya itu, Pdt. Solider juga membagikan kesaksian pribadi tentang pertolongan Tuhan dalam keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa sang istri sempat menjalani perawatan intensif akibat penyakit yang cukup serius. Namun, melalui doa dan anugerah Tuhan, kondisi sang istri berangsur pulih.

“Tuhan menolong kami. Penyakit demi penyakit dapat dilewati. Semua itu bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk menaikkan pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan,” ungkapnya dengan penuh haru.

Mengakhiri kesaksiannya, Pdt. Solider menegaskan bahwa setiap pengalaman hidup—baik duka maupun pemulihan—adalah kesempatan untuk memuliakan Tuhan dan menjadi kesaksian iman bagi sesama. “Selagi kita masih diberi waktu, jangan tunda untuk bersyukur, beribadah, dan bersaksi tentang kebaikan Tuhan,” pungkasnya.

Kesaksian tersebut memperkuat pesan Ibadah Tutup Tahun GEPENKRIS Jakarta, bahwa hidup adalah anugerah yang singkat dan berharga, sehingga harus dijalani dengan iman, syukur, dan penyerahan penuh kepada Tuhan. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60