Surabaya, VictoriousNews.com – Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Timur menggandeng Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Jawa Timur (PGIW Jatim) untuk memperkuat gerakan penyuluhan dan sosialisasi bahaya narkoba di lingkungan masyarakat dan gereja.
Kegiatan yang dikemas dalam Focus Group Discussion (FGD) itu digelar di Aula Kampus STT Anugrah Indonesia, Jalan Nginden Intan Selatan, Sukolilo, Surabaya, Senin (18/5). Acara tersebut menghadirkan tim pemateri dari BNNP Jatim dan diikuti pengurus PGIW, pengurus PGIS, tokoh gereja serta mahasiswa.
FGD tersebut menjadi bentuk keprihatinan bersama atas meningkatnya ancaman penyalahgunaan narkotika di Jawa Timur yang kini tidak lagi dipandang sekadar persoalan kriminal, tetapi telah berkembang menjadi ancaman sosial, ekonomi hingga ketahanan bangsa.
Maraknya Narkoba Ancam Peradaban dan Moral Bangsa

Ketua I PGIW Jatim, Pdt. Andri Purnawan, dalam pengantarnya menyampaikan refleksi mendalam mengenai sejarah narkotika dari sudut pandang sejarah dan spiritualitas manusia.
Menurutnya, zat-zat yang kini dikenal sebagai narkotika pada awalnya digunakan dalam ritual keagamaan kuno di era Mesopotamia dan India sebagai sarana spiritual dan pengobatan. “Kita mencoba mengulik sejarah narkoba dari ribuan tahun lalu. Tanaman-tanaman yang bisa membuat seseorang ‘nge-fly’ pertama kali justru dikenal dalam komunitas keagamaan kuno,” ujar Pdt. Andri selaku moderator.
Namun, ia menegaskan bahwa sesuatu yang awalnya digunakan untuk tujuan baik dapat berubah menjadi ancaman ketika disalahgunakan manusia.
Pdt. Andri kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep teologis Imago Dei, yakni manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, namun dapat berubah menjadi rusak karena dosa dan penyimpangan. “Manusia diciptakan seturut gambar Allah, tetapi bisa berubah menjadi imago korup. Demikian juga narkotika. Awalnya menjadi sarana ritual dan kesehatan, namun kini menjadi ancaman yang merusak peradaban,” tegas Pendeta Jemaat GKI Darmo Satelit (DASA) Surabaya
Ia menilai persoalan narkoba bukan hanya soal hukum, tetapi juga menyangkut krisis moral, lemahnya kontrol diri dan penyalahgunaan kebebasan manusia.
PGIW Jatim: Gereja Tidak Boleh Diam
Ketua Umum PGIW Jatim, Pdt. Natael Hermawan, menyambut baik langkah BNNP Jatim yang melibatkan gereja dalam gerakan pencegahan narkoba.
Menurutnya, ancaman narkotika kini telah masuk ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk lingkungan gereja dan keluarga Kristen. “Persoalan narkoba ini bukan lagi persoalan jauh di luar sana, tetapi sudah masuk ke tengah masyarakat bahkan lingkungan gereja,” kata Natael dalam kata sambutannya.
Natael mengungkapkan, kerja sama tersebut berawal dari kunjungan BNNP Jatim ke kantor PGIW beberapa waktu lalu. Saat itu, pihak BNN menyampaikan keprihatinan atas tingginya angka penyalahgunaan narkoba di Jawa Timur yang menempati peringkat kedua nasional.
Ia menegaskan, FGD tersebut bukan sekadar seminar formalitas, melainkan upaya mencari model konkret keterlibatan gereja dalam gerakan antinarkoba. “Kami ingin ada langkah nyata. Gereja harus ikut membantu pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba,” ujarnya.
Menurutnya, hasil diskusi diharapkan melahirkan rencana tindak lanjut berupa program edukasi di gereja-gereja, seperti seminar pemuda, parenting keluarga, khotbah, renungan jemaat hingga pendampingan komunitas. “Kalau hanya seminar, yang sadar hanya kita-kita saja. Tetapi kalau masuk sampai gereja daerah dan keluarga-keluarga, dampaknya akan jauh lebih besar,” tegasnya.
PGIW Jatim juga berencana membangun koordinasi dengan BNN di berbagai daerah agar gereja dapat menghadirkan edukasi narkoba secara berkelanjutan kepada jemaat.
BNNP : Jatim darurat Narkoba, 12.851 Napi Narkotika berdasarkan data tahun 2023

Dalam forum tersebut, perwakilan BNNP Jatim, Teguh Sugiharto, memaparkan materi bertajuk Strategi dan Kebijakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Ia menegaskan perang melawan narkoba tidak bisa hanya dilakukan aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja, tokoh agama dan keluarga. “Masalah narkoba ini sudah menjadi persoalan sosial serius. Ketika seseorang terjerumus, bukan hanya ekonomi yang hancur, nama baik keluarga juga bisa runtuh,” ujarnya.
Teguh menjelaskan, BNNP Jatim memiliki empat bidang utama, yakni pencegahan dan pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi, pemberantasan serta intelijen.
Ia juga menyoroti kondisi darurat narkoba di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Berdasarkan data tahun 2023, Jawa Timur menempati peringkat kedua jumlah narapidana narkotika terbanyak di Indonesia setelah Sumatera Utara, dengan total mencapai 12.851 orang.
“Kondisi lapas sudah over capacity. Bahkan di beberapa lapas, sekitar 70 persen penghuninya merupakan kasus narkotika. Ini menjadi tamparan bahwa persoalan narkoba sangat serius,” katanya.
Menurut Teguh, penyalahgunaan narkoba juga berkaitan erat dengan tindak kriminal lain seperti pencurian, kekerasan dan kerusakan sosial di lingkungan keluarga.
Modus Peredaran Makin Canggih
BNNP Jatim juga mengungkapkan bahwa modus peredaran narkoba kini semakin berkembang. Selain melalui jalur laut dan pelabuhan tikus, peredaran narkotika juga memanfaatkan jasa ekspedisi, toko online hingga cairan vape atau rokok elektronik. “Bandar narkoba terus menciptakan modus baru, termasuk memasukkan zat narkotika ke dalam liquid vape. Karena itu, benteng paling kuat tetap keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Teguh.
Ia menekankan pentingnya rehabilitasi bagi penyalahguna narkotika dan mengajak masyarakat mengubah stigma terhadap korban penyalahgunaan narkoba. “Penyalahguna bukan semata-mata kriminal, tetapi orang sakit yang harus dibantu untuk pulih melalui rehabilitasi,” katanya.
Menurutnya, keluarga dapat berkonsultasi ke klinik BNN maupun Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) seperti rumah sakit dan puskesmas untuk mendapatkan penanganan rehabilitasi.
Kerja sama antara BNNP Jatim dan PGIW Jatim diharapkan menjadi langkah strategis memperkuat benteng sosial masyarakat terhadap ancaman narkoba yang semakin mengkhawatirkan di Jawa Timur. SM

















