Pesan Ps.Henry Salakparang di KTM GBI Maple Park :  3 Kunci Menghadapi & Melewati Masa Sukar!

Berita, Religi123 Views

JAKARTA,Victoriousnews.com — Hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika jalan terasa buntu, doa seolah belum terjawab, dan kekuatan mulai melemah. Namun, di tengah pergumulan, iman mengajarkan orang percaya untuk tetap berharap, bertahan, dan melangkah bersama Tuhan.
Pesan inilah yang disampaikan Ps. Henry Salakparang dalam Kebaktian Tengah Minggu (KTM) GBI Maple Park, di bawah penggembalaan Ps. Ferry Iskandar, di Apartemen Maple Park, Jalan HBR Motik 218, Sunter Agung, Jakarta Utara, Kamis (15/10/2026).

Mengangkat tema “Menghadapi dan Melewati Masa Sukar”, berdasarkan Keluaran 17:1–6, Ps. Henry mengingatkan bahwa tidak seorang pun luput dari persoalan hidup. Bahkan para pahlawan iman yang dicatat dalam Ibrani 11 pun harus melewati berbagai pergumulan. Namun, kesulitan tidak membuat mereka berhenti percaya kepada Tuhan.


Karena itu, menurutnya, kekuatan menghadapi masa sukar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan manusia, tetapi juga oleh kedekatannya dengan Tuhan.
“Penting sekali menjadi orang Kristen yang kuat. Dari mana kita bisa kuat? Ketika kita dekat dengan Tuhan, melalui doa dan firman Tuhan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa iman bukan sekadar slogan atau pengetahuan tentang Alkitab, melainkan hubungan nyata dengan Tuhan yang membentuk sikap dan cara seseorang menghadapi setiap persoalan.
Dalam khotbahnya, Ps. Henry memaparkan tiga kunci penting untuk menghadapi dan melewati masa sukar.

1. INGAT TUHAN PERNAH MENOLONG KITA (Keluaran 14:13–14)
Ketika bangsa Israel terjepit di antara Laut Teberau dan pasukan Mesir, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan membuka jalan yang tidak mungkin ditempuh dengan kekuatan manusia.
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa pertolongan Tuhan yang dialami pada masa lalu dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi pergumulan hari ini.

Ps. Henry mengajak jemaat untuk tidak mudah melupakan kebaikan Tuhan, terutama ketika menghadapi persoalan yang terasa berat. Mengingat kembali pertolongan-Nya bukan berarti hidup dalam kenangan masa lalu, melainkan meneguhkan keyakinan bahwa Tuhan yang sama tetap berkuasa menolong umat-Nya.

Pengalaman menerima pertolongan Tuhan juga seharusnya membentuk kerendahan hati dan mendorong orang percaya untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama.
“Jangan biarkan persoalan hari ini membuat kita melupakan pertolongan Tuhan di masa lalu,” tukasnya.

2. PERCAYA TUHAN SEDANG MENOLONG KITA (Keluaran 15:22–25; Ulangan 29:5).
Jika pertolongan Tuhan pada masa lalu menjadi pengingat akan kesetiaan-Nya, perjalanan bangsa Israel di padang gurun menunjukkan bahwa pemeliharaan-Nya juga berlangsung dalam keseharian.
Ketika bangsa Israel tiba di Mara dan mendapati air yang pahit, Tuhan menunjukkan jalan keluar. Sepanjang perjalanan di padang gurun, Tuhan juga memelihara umat-Nya, termasuk selama 40 tahun perjalanan mereka.

Gembala GBI Maple Park Ps Ferry Iskandar bersama Ps Henry Salakparang sesuai ibadah KTM, Kamis (15/10/26).

Dari kisah tersebut, Ps. Henry menegaskan bahwa pertolongan Tuhan tidak selalu hadir melalui mukjizat yang spektakuler. Terkadang, pertolongan-Nya nyata melalui kekuatan untuk bertahan, kebutuhan yang tercukupi, serta kemampuan menyelesaikan tanggung jawab di tengah keterbatasan.
Karena itu, orang percaya tidak boleh terburu-buru menyerah ketika keadaan belum berubah. Sebaliknya, mereka perlu tetap tekun menjalankan tanggung jawab, mengambil keputusan dengan hikmat, dan memelihara iman di tengah ketidakpastian.
Percaya bahwa Tuhan sedang bekerja berarti tetap setia melangkah, sekalipun jawaban yang dinantikan belum terlihat.
“Tetaplah melangkah dengan iman karena Tuhan sanggup memelihara dan menolong kita,” ungkapnya.

3. YAKIN TUHAN TIDAK PERNAH MENINGGALKAN KITA (Yesaya 49:15–16; Matius 28:19–20).
Salah satu pergumulan terbesar manusia adalah perasaan sendirian ketika menghadapi masalah. Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa Dia tidak melupakan umat-Nya. Yesus pun berjanji menyertai murid-murid-Nya sampai akhir zaman.

Ps. Henry mengingatkan bahwa keyakinan akan penyertaan Tuhan seharusnya tidak hanya menguatkan iman secara pribadi, tetapi juga mendorong jemaat untuk bertumbuh dan mengambil bagian dalam pelayanan.
Menurutnya, pelayanan bukanlah pekerjaan satu orang. Setiap jemaat memiliki kesempatan untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan karunia yang Tuhan berikan. Karena itu, tidak seorang pun perlu merasa tidak berguna atau menganggap dirinya tidak memiliki bagian dalam pekerjaan Tuhan.

Merujuk Keluaran 17:5–6, Ps. Henry juga menyoroti tongkat Musa yang dipakai Tuhan untuk mengeluarkan air dari gunung batu. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Tuhan dapat memakai apa yang sudah ada di tangan seseorang untuk mengerjakan kehendak-Nya.

Dengan demikian, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk percaya, taat, dan menyerahkan apa yang dimiliki kepada Tuhan.
“Tuhan tidak meninggalkan kita. Karena itu, jangan takut melangkah dan jangan berhenti menjadi berkat bagi sesama,” pesannya.

MASA SUKAR BUKAN ALASAN UNTUK MENYERAH
Selain memaparkan tiga kunci tersebut, Ps. Henry menyoroti perjalanan hidup Musa yang melewati tiga fase penting: 40 tahun pertama di lingkungan istana Firaun, 40 tahun berikutnya di padang gurun, dan 40 tahun terakhir memimpin bangsa Israel.
Menurutnya, setiap fase kehidupan Musa menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan imannya. Pengalaman di istana, kehidupan di padang gurun, hingga tanggung jawab memimpin bangsa Israel membentuk Musa menjadi pribadi yang belajar bergantung kepada Tuhan.
Dari perjalanan tersebut, jemaat diajak memahami bahwa proses kehidupan, termasuk masa-masa sulit, dapat menjadi sarana pembentukan karakter. Kemampuan, jabatan, dan pengalaman tidak seharusnya membuat seseorang merasa lebih hebat daripada orang lain. Sebaliknya, semuanya perlu disertai kerendahan hati dan kesediaan untuk terus dibentuk Tuhan.
Manusia, pada akhirnya, hanyalah alat di tangan-Nya. Yang terpenting bukan seberapa besar kemampuan yang dimiliki, melainkan kesediaan untuk taat dan dipakai bagi kemuliaan Tuhan.
Melalui khotbah tersebut, Ps. Henry mengajak jemaat GBI Maple Park untuk tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan kehilangan pengharapan. Sebaliknya, setiap pergumulan perlu dihadapi dengan iman yang teguh, kehidupan doa yang konsisten, dan kesetiaan berpegang pada firman Tuhan.
Mengingat pertolongan-Nya pada masa lalu, mempercayai pekerjaan-Nya hari ini, dan meyakini penyertaan-Nya untuk hari esok merupakan fondasi iman dalam menghadapi masa sukar.

Sebab, tidak semua persoalan mendapatkan jawaban seketika. Ada pergumulan yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Namun, di tengah keadaan yang belum berubah sekalipun, orang percaya tetap memiliki alasan untuk berharap karena mereka tidak berjalan sendirian.

Gembala GBI Maple Park, Ps.Ferry Iskandar memimpin doa berkat.

Ibadah KTM GBI Maple Park pun ditutup dengan doa berkat yang dipimpin Gembala GBI Maple Park, Ps. Ferry Iskandar. SM

Comment