Jonro I. Munthe, S.Sos Mengapresiasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui Majalah NARWASTU

Jonro I. Munthe, S.Sos Mengapresiasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui Majalah NARWASTU

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Lelaki Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 ini bukan sosok yang asing lagi di kalangan aktivis Kristiani dan jurnalis Kristen. Jonro I. Munthe, S.Sos, dikenal Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU, dan salah satu pendiri Perhimpunan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI).
Selama ini ia dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas, dan berprestasi. Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Dia pun tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikiran seputar ilmu jurnalistik, tetapi juga soal keadaan sosial gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Seperti dikutip harian nasional “Suara Pembaruan” Edisi Sabtu-Minggu 8-9 Februari 2014 yang memuat profil Jonro I. Munthe di rubrik “Faith & Life”, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil sebagai narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial, dan politik. Ketua Presidium FORKOMA PMKRI dan Wakil Ketua Badan Hukum DPP Partai NASDEM, Hermawi Taslim, S.H. pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan, karena kiprahnya di media. Dan, ujarnya, Jonro pun bisa membuat Majalah NARWASTU ibarat “rumah bersama” untuk berkumpul bagi tokoh-tokoh Kristiani, baik dari Katolik maupun Kristen Protestan. Dan, katanya lagi, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat, dan bangsa.
Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu. Setiap NARWASTU menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja.

Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai sejumlah wartawan di sebuah acara Majalah NARWASTU

Tak heran, kalau dia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalah ini kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu dulu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada Penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro menuturkan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsan. ”Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat, dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 lalu,’’ terangnya.
Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe, Pdt. DR. Nus Reimas, Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Hermawi Taslim, S.H., Prof. Irzan Tanjung (alm.), dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang berbicara di FDDI.
“Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Lantaran dikenal ”jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa memang sudah aktif dalam dunia jurnalistik.
Di samping itu, saat mahasiswa, suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olah raga bela diri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 lalu berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Silat Antar-Master se-Jabodetabek. Dia pun pernah meraih Juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan Majalah “Kabar Baik.”
Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi.
Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa Orde Baru kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan ”melawan arus.’’ Karena saat itu kekuasaan Orde Baru sangat represif. “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kerukunan, kebenaran, dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini.
Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. Dia berprinsip, meskipun kita sibuk berkarier, tetapi persoalan kemasyarakatan, gereja, dan bangsa perlu dibahas dan dicari solusinya. “Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek ini.
Jonro menerangkan, sejak tamat SMP pada 1998 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tetapi ia memilih berkerja part time, karena ia masih kuliah. Pada 1996 ia magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. ”Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujar alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo (LPPDS) Jakarta ini.
Pada 1997 lalu saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), dan dulu dosen dan pakar politik di Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Namun, karena ada dinamika sampai dua kali, karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif.
Nama NARWASTU sendiri diambil dari minyak yang harum, mahal harganya dan pernah digunakan seorang perempuan bernama Maria meminyaki kaki Yesus, lalu menyekahnya dengan rambutnya (Yohanes 12:3). Nama itu kemudian menjadi simbol pengorbanan dan kesungguhan dalam pertobatan, sehingga menjadi harum seperti minyak Narwastu yang terkenal itu.
Majalah NARWASTU sendiri tidak hanya bicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab. “Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada di masyarakat dan bangsa itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pluralisme, kebangsaan, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” cetus Jonro.
“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan koran Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas dan beberapa tokoh pers dari Suara Pembaruan yang sebelumnya terbit dengan nama Sinar Harapan. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam pada tahun 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat, dan bangsa.
Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI, Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam RI pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerja sama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani dari semua denominasi.
Dia punya obsesi untuk menyebarkan keharuman para tokoh Kristiani lewat NARWASTU. Sebab, ada banyak tokoh Kristiani yang telah mengabdikan dan bekerja dengan sangat baik bagi masyarakat, gereja, dan bangsa, tetapi luput dari perhatian media masa umum. Lewat penghargaan-penghargaan terhadap para tokoh yang melalui seleksi ketat dan objektif itu, diharapkan dapat memotivasi tokoh bersangkutan untuk terus berkarya dan sekaligus menginspirasikan masyarakat lainnya untuk berperan serta dalam membangun gereja dan bangsa. Dan sejak awal April 2016 lalu, tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU pun sudah punya wadah bernama Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU). FORKOM NARWASTU ini dipimpin Prof. Dr. Marten Napang, S.H. (Pakar hukum dan advokat senior) dan Sterra Pietersz, S.H., M.H. (Mantan anggota DPR-RI PDIP dan mantan Sekjen DPP PIKI).

FORKOM NARWASTU ini sekali tiga bulan bertemu untuk beribadah bersama dan berdiskusi tentang persoalan-persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Hasil diskusi ini disebarluaskan ke media massa, media sosial dan dikirimkan ke tokoh-tokoh nasionalis agar dibaca. “Jadi tokoh-tokoh Kristiani yang bergabung di FORKOM NARWASTU itu ikut memikirkan persoalan bangsa ini, dengan memberi pemikiran atau solusi, selain ikut berdoa untuk negeri ini. Dan sejak berdiri FORKOM NARWASTU sudah pernah mendiskusikan bahaya narkoba, terorisme, korupsi, fenomena pilkada dan persoalan yang hangat di negeri ini,” pungkas Jonro Munthe yang merupakan perekat di FORKOM NARWASTU. Beberapa waktu lalu, Jonro sudah ditawari sejumlah partai politik (parpol) nasionalis untuk tampil sebagai caleg, namun ia tidak bersedia karena ingin fokus di dunia penerbitan media. MK

Setelah 52 Tahun Pernikahan, Pdt. Pengky Andu: ‘Kembang Desa’ Itu Telah Pergi, Hidupku Terasa Kosong & Janji Tidak Menikah Lagi!

Foto Pdt. Pengky Andu & Almarhumah Istri semasa hidup

Surabaya,Victoriousnews.com,-Kunci sebuah pernikahan yang langgeng atau sukses dalam merajut bahtera rumah tangga itu tidak bisa ditentukan dengan banyaknya materi atau cantik/gantengnya paras pasangan. Setiap pasangan harus memiliki cinta yang kuat dan tulus kepada pasangannya. Sebab jika dasar yang dibangun tidak kuat, maka persoalan silih berganti akan terus menerpa. Perlahan tapi pasti, hubungan rumah tangga akan retak dan tidak bisa bertahan lama.

Foto keluarga Pdt. Pengky Andu dalam pernikahan anaknya

Ketika setiap pasangan mengucapkan janji suci ketika melangsungkan pernikahan kudus di hadapan Tuhan dan jemaatnya, pasti terlontar kalimat sakral yaitu “Hanya maut yang dapat memisahkan”. Janji nikah kudus inilah yang diucapkan oleh pasangan Pdt. Pengky Andu & Ibu Endang Satini yang diberkati dalam pernikahan kudus 52 tahun yang lalu (1968) pun tergenapi. Kabar duka mengejutkan ketika Ibu Endang (75 tahun), sang istri yang setia mendampingi Pdt. Pengky Andu dalam suka maupun duka telah dipanggil Tuhan terlebih dahulu pada tanggal 20 Januari 2020 pukul 16.30 Wib di Surabaya.

Gembala Sidang GBI REM, Pdt. Paulus Supit mendoakan Pdt, Pengky Andu ketika berkunjung ke rumahnya di Surabaya (Jumat,31/1)

Meski tampak tegar dan kuat, namun guratan wajah Pdt. Pengky tampak sangat kehilangan terhadap sosok istri yang telah dikaruniai 3 anak dan 4 cucu. Bahkan sehari sebelum Ibu Endang dipanggil Tuhan, Pdt. Pengky dalam pertemuan pengerja di GBI REM Daan Mogot (Sabtu, 18/1) maupun pelayanan kotbah Minggu (19 Januari) di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Ruang Puri 5-6, Grogol Jakarta Barat sempat menyampaikan kesaksian singkat. “Mohon dukungan doa, karena saya merasakan beban yang sangat berat pada hari ini. Bukan soal uang atau ekonomi. Tetapi karena istri saya sedang dirawat di ruang ICU RS di Surabaya akibat sakit,” ujar Pdt. Pengky tampak menutupi kesedihannya dan melanjutkan kotbahnya di hadapan jemaat.

Ki-ka: Bapak Johan Cramer, Pdt.Pengky Andu, Bapak Yusuf, Ibu Yani, Pdt. Paulus Supit dan Bapak Margianto di depan rumah Pdt, Andu (Jumat 31/1)

     Beberapa menit setelah menyampaikan firman Tuhan dan turun dari mimbar, handphone Pdt. Pengky berdering. Dari ujung telpon itu, suara anaknya mengabarkan bahwa Mama kondisinya semakin memburuk. Sebagai bentuk tanggungjawab seorang ayah dan suami, Pdt. Pengky pun bergegas untuk kembali ke Surabaya. Namun sayangnya, keberangkatan tiket pesawat (Minggu, 19/1) malam itu, Pdt. Pengky terlambat tiba di Bandara Soetta. Sehingga, terpaksa harus pesan tiket Senin (20/1) penerbangan pagi Soekarno Hatta menuju Juanda Surabaya. Setibanya di Surabaya, Pdt. Pengky langsung menuju Rumah Sakit, sempat bertemu dengan istri, anak, menantu dan cucu yang telah berkumpul di sana. “Saya sempat mendoakan istri yang dalam keadaan koma saat itu. Saya katakan kepada istri dengan sedikit berteriak, bahwa saya akan menjaga anak-anak dan berjanji tidak menikah lagi. Kemudian saya katakan, jika mau pergi, pergilah dengan damai. Sekali lagi, saya janji akan tetap bertanggungjawab kepada anak cucu,” papar Pdt. Pengky.

Cinta Seorang Suami kepada Istri. Pdt. Pengky Andu tiba di RS. Senin siang (20/1). Mendoakan sang istri yang dalam keaadan koma, detik-detik sebelum dipanggil Tuhan

Dengan wajah sedih, seluruh keluarga yang telah berkumpul di Ruang ICU rela melepas kepergian Ibu Endang yang dipanggil Tuhan pada hari Senin (20/1) tepat pukul 16.30 Wib dan dimakamkan hari Kamis (23/1). Kehilangan pasangan hidup, entah suami ataupun istri pasti menjadi kenyataan hidup yang sangat berat bagi semua orang. Jika mau berkata jujur, pasti semua orang tidak mau ada perpisahan dengan pasangan yang disebabkan oleh kematian. “Setelah istri dipanggil Tuhan, ternyata tidak bisa dibohongi, bahwa hidup saya terasa kosong. Ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Biasanya kalau saya pulang ke Surabaya setelah pelayanan dari Jakarta, istri saya ada di rumah. Kini istri sudah tiada. Rumah terasa sepi. Karena anak-anak saya sudah punya tempat tinggal sendiri,” tutur Pdt. Pengky Andu yang sangat setia melayani di GBI REM hingga saat ini (28 tahun).

Suasana kebersamaaan dengan  Pdt. Pengky Andu selama di Surabaya

Menurut Pdt.Pengky, sejatinya setiap orang yang ditinggalkan pasangannya, pastilah hal-hal baik yang terkenang. “Selama saya menikah 52 tahun, belum pernah ribut besar. Tapi kalau kecil-kecil ya sering, namanya juga rumah tangga. Kan keinginan saya belum tentu sama dengan istri. Apapun kekurangan/kelemahan pasangan saya selama hidup, tetapi ketika sudah meninggal, yang terlihat hanyalah kebaikannya. Dan ternyata memang kalau dipikir, manusia itu tidak ada yang jahat, semuanya baik. Saya dan istri itu banyak sekali persamaannya. Contoh kecilnya, selama berumahtangga, istri tidak pernah periksa isi dompet saya, begitupun sebaliknya. Almh istri juga tidak pernah bertanya uang kita ada berapa atau hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi. Karena dia sangat yakin bahwa Tuhan pasti memenuhi kebutuhan rumahtangga,” ungkap Pdt. Pengky tertawa sembari mengenang sang istri yang dulunya terkenal “kembang desa” karena kecantikannya semasa muda.

TIM Pastoral GBI REM Mengunjungi Pdt. Pengky Andu di Surabaya

Tim Pastoral GBI REM

Kabar duka berpulangnya Ibu Endang ke rumah Bapa di Sorga sangat mengejutkan keluarga besar GBI REM di Jakarta.Mulai dari Gembala Sidang, Pdt. Paulus Supit, pengerja hingga jemaat juga turut merasakan kesedihan yang mendalam. Namun sayangnya, kabar tersebut diterima oleh GBI REM sehari setelah Ibu Endang dimakamkan, yakni Jumat (24/1) malam. Seketika itu, grup Whatsapp keluarga besar GBI REM dipenuhi dengan ucapan duka untuk memberikan penghiburan kepada Pdt. Pengky.

Baca Juga :Sosok Sang Mama Di Mata Anak-Anak Pdt.Pengky Andu: Teladan Mama Yang Patut Dicontoh Adalah Ketegasan Mendidik Anak-anaknya Agar Tidak Terlambat Ibadah & Pelayanan!

Beberapa hari kemudian (30 s/d 31 Januari) sebagai bentuk simpati kepada Pdt. Pengky Andu yang tengah berduka, para hamba Tuhan yang terdiri dari: Ps. Paulus T Supit (Gembala Sidang GBI REM), Ibu Yani (Ibu Gembala), Bapak Johan Cramer, Bapak Yusuf dan Bapak Margianto berkunjung ke kediaman Pdt. Pengky Andu di perumahan Ciputra di kawasan di Trosobo, Sidoarjo-Surabaya. Tim pelayanan GBI REM berangkat naik KA Argo Bromo dari stasiun Gambir Pukul.08.15 wib dan tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya Pukul. 18.30 Wib.Setibanya di sana tim GBI REM dijemput oleh Pdt. Pengky Andu. Suasana kekeluargaan pun sangat terasa, ketika Pdt. Pengky Andu menyambut hangat serta dengan rendah hati berkenan menjadi driver untuk mengantar tim GBI REM menuju hotel tempat menginap. “Mewakili keluarga besar GBI REM, kami menyampaikan turut berduka sedalam-dalamnya kepada Pak Pengky dan keluarga besar. Kami terus berdoa, kiranya Pak Pengky terus diberikan kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera. Biarlah Pak Pengky terus bersemangat dan menjadi tetap kuat di dalam Tuhan serta tetap setia melayani Tuhan,” ujar Gembala Sidang GBI REM Pdt. Paulut T Supit menyampaikan kata-kata penghiburan mewakili Tim Pastoral yang berkunjung saat itu.

Pdt. Pengky pun membalas dengan rasa haru karena tim pastoral GBI REM mau mengunjunginya ke Surabaya meskipun informasi dukanya terlambat. “Saya sangat berterimakasih kepada teman-teman yang berkenan mengunjungi saya ke Surabaya. Saya senang sekali dikunjungi dan sangat terhibur, karena teman-teman sangat peduli,” tukas Pdt. Pengky.

Pada hari kedua tepatnya pukul 9.00 Wib, Tim GBI REM yang menginap di hotel Ibis Jemur Sari, Surabaya dijemput oleh Pak Khusnul (driver langganan Pdt. Pengky) untuk diantar ke kediaman Pdt. Pengky Andu di perumahan Ciputra di kawasan Trosobo, Sidoarjo. Setibanya di rumah Pdt. Pengky tampak sumringah menyambut tim dan mempersilakan untuk masuk ke dalam rumah yang saat itu sedang dilakukan renovasi ruangan tengah akibat plafon yang ambrol. “Selamat datang di rumah saya. Inilah rumah yang saya tinggali bersama istri. Banyak sekali kenangan di rumah ini. Mohon maaf jadi kurang nyaman, karena sedang ada renovasi plafon ruang tengah. Beberapa hari setelah nyonya dipanggil Tuhan, plafonnya ambrol, jadi sekarang saya juga nungguin tukang,” papar Pdt. Pengky sembari mengajak tim berkeliling ruangan dan menunjukkan foto keluarga bersama almh istri tercinta.

Di rumah tersebut, tim GBI REM yang dipimpin oleh Pdt. Paulus Supit mendoakan Pdt. Pengky agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, penghiburan serta kesehatan yang luar biasa. Beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta, tim diajak berkeliling kota Surabaya dan menikmati kuliner khas Surabaya.SM

Pesan Komjen Pol.Dharma Pongrekun Dalam Kotbahnya di GBI REM Ciputra Lantai Dasar: Mumpung Masih Ada Kesempatan, Kabarkan Injil & Menangkan Banyak Jiwa!

Ratusan Jemaat GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Tampak Antusias mendengarkan firman Tuhan, Minggu (19/1)

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Wakil Kepala Badan Siber & Sandi Negara RI, Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun.,SH.,M.H.,MM menjadi pembicara dalam ibadah minggu raya di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Ruang Puri 5-6, Grogol- Jakarta Barat. Dalam ibadah tersebut Komjen Dharma mengupas ayat Kitab 1 Timotius 6:10 a, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang”. Menurutnya, di era digital seperti saat ini, setiap orang di seluruh dunia akan digiring menjadi hamba uang (cinta uang).“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan menyombongkan diri. Mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama. Biang dosa, perkara kehidupan saat ini adalah uang. Bahkan gara-gara uang, orang bisa melakukan korupsi, tega membunuh, tidak peduli terhadap keluarga/ teman dan melakukan kejahatan lainnya. Coba kita perhatikan kekacauan yang terjadi selama ini ujung-ujungnya adalah uang. Uang berkaitan dengan angka-angka, besaran angka membuat orang menjadi diperhamba oleh uang. Sebab dengan uang banyak, manusia bisa menyombongkan dirinya. Inilah tanda-tanda akhir zaman,” tutur Komjen Dharma.

Komjen Dharma mengungkapkan, bahwa, di akhir zaman ini, tidak ada gunanya memiliki uang banyak, apartemen mewah, punya mobil mewah dan sebagainya. Jika hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan. “Kita harus siap untuk tidak memiliki apa-apa, asal hidup kita benar-benar memuliakan nama Tuhan. Meskipun ada yang berpendapat bahwa apa yang kita miliki semua adalah titipan yang berasal dari Tuhan; itu pemahaman yang keliru. Yang benar adalah apa yang diperoleh dari Tuhan itu adalah anugerah dan kasihNya Tuhan kepada kita. Sehingga kita dapat mengembalikan untuk kemuliaan nama Tuhan. Artinya, kita diberikan mandat dari Tuhan untuk mengelolanya dengan baik dan benar. Tidak boleh menyimpang dari iman. Pertanyaannya sekarang, saudara mau masuk warga negara kerajaan Surga atau warga kerajaan neraka? Disini hanya ada dua pilihan. Jika kelakuan saudara tidak mencerminkan Kristus, ya bisa dipastikan akan menjadi penghuni neraka. Saatnya saudara menyiapkan diri, supaya hidupnya tahu akan dibawa kemana dan tidak menyesal. Sebab, ketika saudara mati, semua akan ditinggalkan. Kekayaan dan kemewahan hanyalah ilusi saja,” paparnya.

Ki-ka: Ps. Paulus T Supit (Gembala Sidang GBI REM), Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun., SH (Wakil Kepala BSSN RI), Ps. Pengky Andu dan Bapak Johan Cramer berpose bersama usai ibadah.

 Lanjut Komjen Dharma, kini saatnya mengoreksi diri kita masing-masing. “Apakah saudara sudah menjalankan perintah Amanat Agung seperti yang tertulis dalam kitab Markus 28:19? Minimal bawa satu jiwa saja. Misalnya, kalau saudara memiliki keluarga yang belum mengenal Tuhan, sampaikan Injil kepada mereka. Jangan takut. Jika mereka tidak mau mendengar kabar Injil, ya tidak masalah, nanti kuasa Roh Kudus yang akan bekerja. Yang terpenting saudara telah menggenapi Amanat Agung tersebut. Sebab setelah saudara menerima keselamatan, maka tugas dan tanggungjawab kita adalah menyampaikan dan membagikan keselamatan itu kepada orang yang belum menerima Tuhan Yesus. Mumpung masih ada kesempatan, mari kita kabarkan Injil. Sebenarnya miris juga jika melihat kondisi manusia zaman di era kecanggihan teknologi saat ini. Kebanyakan mereka sangat tergantung dengan kecanggihan Smartphone/Gadget. Padahal disadari atau tidak, smartphone/gadget membuat orang menjadi ingin serba instan, addict (kecanduan), hingga menciptakan pertengkaran antar teman dan keluarga yang ujungnya dapat melemahkan sel-sel dalam tubuh. Banyak orang merasa lebih nyaman dan aman bila membawa gadget atau smartphone. Padahal kondisi tersebut justru dapat membuat manusia tidak lagi fokus, bahkan meninggalkan ajaran Tuhan,” tukasnya.

Masih kata Komjen, kitab Wahyu 13:16-18 mulai digenapi, bahwa saat ini ada agenda tersembunyi yang dimainkan oleh gerakan kelompok antikris untuk menguasai dunia melalui kemajuan teknologi dan penguasaan ekonomi global. Siber dunia maya saat ini dipakai iblis untuk memanipulasi dan menyamakan persepsi manusia di seluruh dunia yang digerakkan oleh kelompok antikris. Salah satu bentuk upaya penyeragaman dunia adalah penggunaan uang elektronik (digital money) melalui QR Code, yang nantinya semua transaksi jual-beli dan transaksi keuangan di dunia dilakukan secara digital. Strategi ke depan kelompok antikris adalah mendisain sebuah Chip yang akan ditanam di dahi atau tangan. Sekali lagi, saudara yang dikasihi Tuhan, mumpung masih ada kesempatan mari kita mengabarkan Injil dan memenangkan banyak jiwa di akhir zaman,” ungkap Komjen Pongrekun saat didampingi oleh Ps.Pengky Andu.

Di akhir pemaparannya, Komjen Pongrekun didampingi oleh Ps. Pengky Andu mempraktikkan simulasi mengenai gelombang positif atau negatif yang dipancarkan melalui smartphone/gadget. Pada saat itu, Ps, Pengky Andu memanggil Gembala Sidang GBI REM, Ps. Paulus Supit untuk memperagakan kinerja smartphone yang dapat melemahkan tubuh karena merusak seI-sel yang ada dalam tubuh. Menurutnya, smartphone mengandung energi atau gelombang elektromagnetik yang dapat mempengaruhi sel-sel tubuh manusia. “Kalau kita berbicara/menuliskan kebohongan di Whatspp atau SMS, bisa diuji kebenarannya. Dengan cara kita menunjuk tulisan tersebut dan salah satu tangan kita terangkat setengah/mendatar. Kemudian kita dorong ke bawah, jika tangan kita lemah berarti bohong. Tetapi jika tetap kuat berarti benar. Sebaliknya, jika kita memperkatakan firman Tuhan sembari memegang smartphone, kata-kata yang positif, maka tangan kita akan menjadi kuat walaupun sudah ditekan ke bawah,” ungkap Komjen mensimulasikan kinerja Smartphone atau Ponsel pintar di hadapan jemaat.

“Coba Pak gembala bilang kata-kata positif/memberkati,” kata Komjen Dharma meminta Ps Paulus Supit untuk menyampaikan hal positif. “Haleluya!,” tukas Ps Paulus. Dan pada saat itu tangan kanan Ps Paulus menjadi kuat. “Sebaliknya, ketika memperkatakan hal yang negatif, maka tangan kita  akan menjadi lemah. Oleh karenanya, kita harus conecting spirit dengan Surga, dengan cara memikirkan hal-hal yang positif dan memberkati seperti: haleluya, Tuhan memberkati, dan lain sebagainya. Dan di Alkitab pun sudah dituliskan dalam kitab  Fil 4:8; Kolose 3:2; pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi,” pungkas Komjen Dharma. SM

PERAYAAN IMLEK DAN TAHUN BARU DI ALKITAB

Jikau engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaah Allah (I Korintus 10:31).

1

       Apa yang berkesan atau yang paling Anda inginkan pada saat menyambut Tahun Baru Tionghoa (Imlek)? Makanan yang enak? Angpao? Atau bahkan kesempatan emas bisa berkumpul dengan sanak keluarga besar? Tahun Baru Tionghoa kali ini jatuh pada tanggal 25  Januari 2020 atau berdasarkan pengukuran kalender bulan adalah 2571. Kebanyakan orang-orang Tionghoa akan berkumpul atau pulang ke kampung orang tuanya (seperti lebaran kalau di Indonesia).

       Tahun baru imlek ditandai dengan warna merah sebagai lambang gembira, sukacita dan harapan yang baik di tahun yang baru yang dijelang. Perayaan di musim semi ini dilengkapkan dengan makan bersama dan tidak ketinggalan angpao atau amplop merah berisi uang dari orang tua kepada anak-anak. Sebagian orang percaya dengan menyapu rumah dan menyalahkan kembang api atau petasan pada saat menyambut tahun baru adalah untuk mengusir sial dan menyambut untung.

       Bagaimana dengan Tahun Baru di Alkitab? Imamat 23:23-25 & Bilangan 29:1-6 yang disebut sebagai tahun baru memiliki latar belakang yang berakar dari budaya Ibrani, yakni perayaan tahun baru dari kalender Israel yang dirayakan pada 1 & 2 Tishri 5776 (14 September 2015). Tahun baru Israel disebut Rosh Hashanah dan dirayakan dengan makanan yang manis-manis sama dengan Imlek, hanya saja maknanya adalah lambang janji Tuhan yang manis di tahun yang baru. Mereka biasa meniupkan shofar (sangkakala) sebagai lambang pertobatan dan komitmen total ikut Tuhan. Kebiasaan sebagian orang merayakan Tahun Baru Rosh Hashanah adalah dengan makan madu, apel dan roti seperti halnya perayaan Imlek dengan kue keranjangnya.

       Kedua budaya Israel dan tionghoa memiliki kesamaan dalam hal menyambut tahun baru, yakni mengharapkan hal yang sejahtera di masa pengkalenderan baru. Terlepas dari kepercayaan sial dan untung atau berkat dan kutuk; setiap orang yang menyambut tahun baru haruslah menyadari bahwa itupun adalah kasih karunia Tuhan. Prinsip Alkitab tidak mengajarkan “kebetulan” dan “takhayul”, namun mengajak setiap orang percaya Tuhan untuk ingat dan melibatkan Tuhan di tahun yang baru. Selamat  tahun baru Imlek 2020! *Berbagai sumber

ORANG YANG MELIBATKAN TUHAN DALAM HIDUPNYA, TIDAK AKAN KEKURANGAN PENYERTAAN TUHAN

3

Pandangan Iman Kristen Terhadap Imlek

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Banyak orang memanfaatkan momen untuk berkumpul bersama dan sebagai orang Kristen turut menyambut Imlek sukacita dan ada lagi yang memilih tidak merayakannya. Bagi kelompok lain merayakan perayaan Imlek dianggap kafir dan bertentangan dengan firman Tuhan.

Harus diakui bahwa asal usul perayaan Imlek dari kisah mitologis yang kurang tepat secara perspektif Kristiani. Tradisi pengusiran roh jahat melalui lampu lampion; petasan berwarna-warni jelas bertentangan dengan Alkitab. Motivasi pemberian angpao juga tidak selaras dengan prinsip memberi menurut iman Kristen. Apakah orang Kristen menolak hari raya Imlek? Sama sekali tidak. Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen dipanggil untuk mentransformasikan budaya (Kejadian 1:26-27; Yohanes 17:15-19);  tidak ada budaya yang bebas dari distorsi dosa dan tiap budaya memiliki elemen tertentu yang rusak oleh dosa.

Tugas orang Kristen bukan menghapus atau meniadakan elemen-elemen budaya melainkan mengubah elemen-elemen yang berdosa dengan kebenaran firman Allah. Kita terpanggil untuk menunjukkan keunggulan nilai-nilai Kristiani dengan memasukkan dalam praktek budaya tertentu dan memberi landasan filosofi Kristiani pada masing-masing elemen budaya. Di samping itu orang-orang Kristen terpanggil untuk menjadi saksi Kristus di dunia.

Makan bersama keluarga dan membagi-bagikan angpao, dua praktek ini pada dirinya sendiri tidak keliru. Kita harus menyediakan waktu untuk kumpul bersama keluarga dan berbagi kasih. Tanpa perayaan Imlek pun kita harus mengupayakannya, apalagi momen yang baik saat Imlek. Orang Kristen bisa memanfaatkan dan memodifikasi dua praktek ini supaya lebih Kristiani. Prinsip tentang berbagi kepada orang lain (pembagian angpao) perlu diwarnai dengan prinsip kasih kristiani. Kita mengasihi karena Allah lebih dulu mengasih kita (1 Yoh 4: 19).

Momen berkumpul bersama bisa diisi dengan persekutuan rohani yang menguatkan hal-hal yang bersifat netral; seperti pohon angpao; lampion serta atraksi lain, tidak mempunyai mitos-mitos di baliknya. Yang menjadi batu sandungan bagi sesama orang kristen sebaiknya dihindari, misalnya; gambar naga walaupun pada dirinya sendiri itu hanyalah sebuah seni lukis. Kita juga memikirkan situasi sebaliknya apabila kita memilih untuk tidak merayakan Imlek. Jika berada di lingkungan keluarga besar yang masih merayakan Imlek dan kita tidak mau berkumpul bersama mereka, hal itu akan menjadi syok atau keadaan juga tidak baik bagi mereka. Sikap apatis dan ofensif mereka terhadap kekristenan akan lebih mengkristal jika ada pilihan yang lebih bijaksana. Bila kita merayakannya, tetapi dengan konsep yang Kristiani dan memanfaatkannya sebagai kesaksian memberitakan iman kita. ***

Ibadah Syukur “Menghadapi Tantangan 2020 & Menjaga Benteng II” : Dunia Maya Saat ini Dipakai Iblis Untuk Menyamakan Persepsi Manusia di Seluruh Dunia

Komjen Pol.Drs. Dharma Pongrekun, SH., MH., MM ketika memaparkan materi di Premier Hall KTC HYpermall Kelapa Gading, Selasa (14/1/20)

JAKARTA,Victoriousnews.com,- “Menghadapi Tantangan 2020, Menjaga Benteng II” (Nahum 2:1). Demikian tema yang diusung dalam Ibadah Syukur Awal Tahun yang diselenggarakan oleh Generasi Muda SATU TUBUH bersama dengan JDS (Jaringan Doa Sekota), Selasa, 14 Januari 2020. Acara yang digelar di Premier Hall Lantai 2 Blok E, Gedung Hypermall KTC, Jalan Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading-Jakarta Utara ini dihadiri oleh para hamba Tuhan seperti; Pdt. Tony Mulia, Pdt. Budi Setiawan, Pdt. Ronny Daud Simeon, Pdt. Daniel Henubau, Pdt. Wahjono Aripin, Pdt. Aristarkus Tarigan, Pdt. Harsanto Adi, dan masih banyak lagi.

Foto bersama para hamba Tuhan

Dalam ibadah yang dikemas dengan format seminar tersebut menampilkan pembicara Komisaris Jendral Polisi Drs. Dharma Pongrekun.,S.H. M.H., M.M (Wakil Kepala Badan Siber & Sandi Negara RI). Dalam pemaparannya, Komjen Pongrekun mengungkapkan bahwa ada agenda tersembunyi yang dimainkan oleh gerakan kelompok antikris untuk menguasai dunia melalui kemajuan teknologi dan penguasaan ekonomi global. “Siber dunia maya saat ini dipakai iblis untuk memanipulasi dan menyamakan persepsi manusia di seluruh dunia yang digerakkan oleh kelompok antikris. Manusia zaman sekarang sangat tergantung dengan kecanggihan Smartphone. Gadget membuat orang menjadi ingin serba instan, addict (kecanduan), hingga menciptakan pertengkaran antar teman dan keluarga yang ujungnya dapat melemahkan sel-sel dalam tubuh,” papar Komjen Dharma Pongrekun.

Komjen Pol Dharma didoakan para hamba Tuhan

Saat ini, lanjut Komjen Dharma, banyak orang merasa lebih nyaman dan aman bila membawa gadget atau smartphone. Padahal kondisi tersebut justru dapat membuat manusia tidak lagi fokus, bahkan meninggalkan ajaran Tuhan. “Salah satu bentuk upaya penyeragaman dunia adalah penggunaan uang elektronik (digital money) melalui QR Code, yang nantinya semua transaksi jual-beli dan transaksi keuangan di dunia dilakukan secara digital. Dan barang siapa yang tidak ikut akan ditinggalkan bahkan bisa jadi akan dibunuh. ”Strategi kelompok anti kris adalah mendisain sebuah Chip yang akan ditanam di dahi atau tangan. Namun semua ini sudah tertulis dalam Kitab Wahyu 13:16-18,” tukas Pria kelahiran Sulawesi Tengah, 12 Januari 1966.

Komjen Dharma juga mengungkapkan bahwa sebelum hal itu terjadi, setiap orang di seluruh dunia akan digiring menjadi hamba uang (cinta uang). “Inilah tanda-tanda akhir zaman seperti yang tertulis dalam kitab 1 Timotius 6:10 dan 2 Timotius 3:2,  Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan menyombongkan diri. Mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orangtua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama. Biang dosa, perkara kehidupan saat ini adalah uang. Gara-gara uang orang tega korupsi, membunuh dan kejahatan lainnya tidak perduli terhadap saudara atau teman. Coba kita perhatikan kekacauan yang terjadi selama ini ujung-ujungnya adalah uang. Uang berkaitan dengan angka-angka, besaran angka membuat uang cinta uang karena dapat disombongkan,” tandasnya.

Memperdalam pemaparannya, Komjen Dharma, menjelaskan mengenai terjadinya revolusi industri 4.0 dan isu globalisasi yang juga menjadi bagian dari agenda antikris. “Nanti manusia digantikan dengan mesin, transportasi dan belanja online. Ini semua terekam oleh mereka. Dan mereka jadi tahu identitas, kebiasaan dan kemauan kita. Cara kerja mereka awalnya adalah dengan menciptakan ketakutan dan kecemasan. Lalu mereka datang sebagai solusi atau penolong. Nah saat itulah kita akan digiring ke dalam tujuan mereka yakni penyeragaman persepsi dunia,” urainya.

Untuk memperkuat pemaparannya, Komjen Dharma juga mempraktekkan kinerja smartphone yang dapat melemahkan tubuh karena merusak seI-sel yang ada dalam tubuh. Menurutnya, smartphone mengandung energi atau gelombang elektromagnetik yang dapat mempengaruhi sel-sel tubuh manusia. “Kalau kita berbicara/menuliskan kebohongan di Whatsapp atau SMS, bisa diuji kebenarannya. Dengan cara kita menunjuk tulisan tersebut dan salah satu tangan kita terangkat setengah. Kemudian tangan kita dorong ke bawah, jika tangan kita lemah berarti bohong. Tetapi jika tetap kuat berarti benar. Sebaliknya, jika kita memperkatakan firman Tuhan sembari memegang smartphone, kata-kata yang positif, maka tangan kita akan menjadi kuat walaupun sudah didorong ke bawah,” ungkap Komjen mensimulasikan kinerja Smartphone atau Ponsel pintar di hadapan jemaat.

Di akhir ibadah, Komjen Pol Dharma didoakan secara khusus oleh para hamba Tuhan yang hadir pada saat itu. SM

Saat Kotbah Di GBI REM Hotel Ciputra, Pdt. Kiky Tjahjadi., M.Th Sempat Mendoakan Pdt. Paulus Supit (Gembala Sidang), Pengerja & Jemaat!

 

Pdt. Kiky Tjahjadi, M.Th (Ketua BPD GBI DKI Jakarta) ketika menyampaikan firman Tuhan di GBI REM Hotel Ciputra Lt. Dasar Ruang Puri 5-6, Minggu, (12/1) malam

JAKARTA,Victoriousnews,com,-Ketua Badan Pekerja Harian Gereja Bethel Indonesia (BPD GBI) DKI Jakarta, Pdt. Kiky Tjahjadi, M.Th tampak sangat antusias dan bersemangat ketika menyampaikan firman Tuhan di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Ruang Puri 5-6, Grogol, Jakarta Barat (Minggu, 12/1) malam. Pdt. Kiky mengajak ratusan jemaat yang hadir untuk membaca firman Tuhan yang terambil dalam kitab Yesaya 45: 5-7, dengan tema “Nasib Mujur Atau Malang Seseorang Ditentukan Oleh Hubungannya Dengan Tuhan”. “Kata nasib dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna ‘sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang’. Demikian pula Alkitab yang tertulis dalam Yesaya 45: 7 b, Yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang. Jelas bahwa Nasib seseorang itu berada di tangan Tuhan,” ujar Pdt. Kiky Tjahjadi memulai kotbahnya.

Pdt. Kiky melontarkan pertanyaan, apakah saudara ingin bernasib mujur atau malang? Semua itu tergantung dari pilihan hidup kita. “Setidaknya ada 3 faktor yang dapat mempengaruhi nasib hidup kita menjadi baik (mujur) atau buruk (malang). Pertama, Akibat Ulah (Tingkah Laku Hidup) Kita ( Yeremia 4:18). Ulah atau tingkah laku ini sangat berpengaruh terhadap nasib seseorang menjadi baik atau tidak.Tetapi yang jelas, menurut survei, apabila seseorang itu ingin bernasib baik dan diberkati Tuhan, maka kita harus sungguh-sungguh mengikuti perintah firman Tuhan. Sebab hukum tabur tuai, seperti yang tertulis dalam kitab Galatia 6:7, itu sampai sekarang masih berlaku. Jika kita menabur kebaikan, pasti menuai kebaikan. Jika kita menabur kejahatan, suatu saat kita akan menuai apa yang kita lakukan di masa lampau.

  Kedua, akibat serangan kuasa kegelapan. Iblis dan antek-anteknya itu paling suka melakukan intimidasi pikiran dan hati kita. Oleh karenanya, kita harus menjaga hati dan pikiran kita agar serangan kuasa gelap dari si Iblis itu dapat ditolak. Kitab Amsal 4:23, berkata, “ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Firman Tuhan ini sangat tegas bahwa setiap orang yang rindu kehidupannya cerah atau dengan kata lain masa depannya cerah, maka harus menjaga hati.

Saudara yang dikasihi Tuhan, lalu bagaimana solusi atau jalan keluar agar nasib mujur dan diberkati menjadi bagian dalam hidup kita? Jawaban yang ketiga adalah membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Dampak dari membangun hubungan yang intim (dekat) atau mencari Tuhan itu sangat luar biasa dan segala usaha kita pasti berhasil (2 Tawarikh 31:21). Dan lakukan yang terbaik serta perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23).

Sekali lagi, jika saudara ingin memiliki nasib yang baik dan diberkati Tuhan, maka jangan menyimpang ke kanan dan ke kiri, tetapi fokuslah kepada Tuhan saja (Yos 1:7), serta buanglah segala sifat irihati atau suka menghakimi, sirik, dengki terhadap orang-orang yang berdosa (Amsal 23:17-18),” papar Pdt.Kiky.

Usai mengakhiri kotbahnya, Pdt. Kiky juga mendoakan Gembala Sidang GBI REM Pdt.Paulus T Supit beserta seluruh pengerja serta segenap jemaat yang sangat antusias menghadiri ibadah setiap Minggu Raya. “Saya berdoa untuk GBI REM dan Gembala Sidang Pdt. Paulus Supit, agar terus diberikan hikmat, kesehatan, dan diberkati Tuhan dalam memimpin jemaat Tuhan di Hotel Ciputra ini. HambaMu berdoa, GBI REM makin maju, diberkati dan dipakai secara dahsyat dalam ladang pelayanan. Juga berdoa untuk seluruh jajaran pengerja GBI REM di tempat ini, kiranya Tuhan Yesus juga memberkati setiap pelayanan dan jerih lelah mereka diperhitungkan oleh Tuhan. Tak lupa jemaat Tuhan yang sangat antusias untuk mengikuti ibadah di tempat ini, kiranya berkat kesehatan, pekerjaan dan apapun yang mereka lakukan senantiasa diberi keberhasilan,” pungkas Pdt. Kiky. SM  

Jonro I Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum Narwastu): Kriteria 21 Tokoh Kristiani Harus Berjiwa Nasionalis, Pancasilais, Serta Mampu Menginspirasi Banyak Orang

Tokoh Kristiani yang menerima penghargaan dari Majalah Narwastu, Jumat (10/1) di Graha Bethel Jakarta Pusat

JAKARTA,Victoriousnews.com,– Keluarga besar Majalah Narwastu yang dipimpin oleh Jonro I Munthe.,S.Sos menggelar Ibadah Syukur Natal & Tahun Baru 2020 sekaligus memberikan penghargaan (Award) kepada 21 tokoh Kristiani pilihan Majalah Narwastu. Acara yang mengusung tema “Mari Membantu Memperbaharui Dunia Dengan Kabar Baik” (Lukas 2:10-11) ini digelar di Graha Bethel, Jalan Achmad Yani No 65, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020).

Stevano Margianto, Ketum Perkumpulan Wartawan Media Kristiani/PERWAMKI (paling kiri) ketika menerima Award dari Majalah Narwastu

Pdt. Dr. Nus Reimas dalam kotbahnya, menekankan nats Alkitab yang terambil dalam 1 Korintus 15: 57- 58. Menurut Pdt. Nus yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, yang terjadi belakangan ini merupakan tantangan bagi Gereja dan bagi umatNya, apakah kita tenggelam di dalam arus ketidakpastian dunia atau sebaliknya. “Media Kristen harus tampil beda dengan sekuler. Saya berharap media Kristen itu harus lebih menekankan tentang kesaksian bahwa Tuhan yang mengkontrol seluruh alam semesta,” ujar Nus dalam kotbahnya.

Jonro I Munthe, S.Sos (Paling kiri) bersama Pdt. Dr. Nus Reimas (ketiga dari kiri) para tokoh Kristiani

Lebih lanjut, Pdt Nus Reimas juga mengatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali ke bumi ini sudah sangat dekat. Menurutnya, Firman Tuhan mengatakan bahwa kedatangan Yesus Kristus kedua kali itu seperti pencuri di tengah malam. “Tanda-tanda akhir zaman pun sudah dituliskan, beragam bencana, peperangan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi dalam hidup ini, mari kita siap sedia menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kalinya,” ungkap Pdt. Nus.

Dalam acara tersebut, Bung Tema Adiputra & Clara didaulat sebagai MC untuk memimpin memimpin jalannya acara sekaligus memanggil 21 tokoh Kristiani pilihan Narwastu maju ke depan untuk menerima penghargaan. 21 tokoh Kristiani versi majalah Narwastu yang memperoleh Award adalah sebagai berikut: Herman Yosef Loli Wutun (Tokoh Koperasi Nasional), Grace Natalia Louisa (Ketum PSI), Sugeng Teguh Santoso, SH (Advokat Senior), Pdt. Dr. Tuhoni Telaumbanua, M.Si (Ephorus Sinode BNKP), Susana Suryani Sarumaha (Mantan calon DP RI & pengurus Vox Point indonesia), Dr.Ir. Asye Berti Siregar, M.A (Pelayanan lewat media film), Ida Tobing Boru Simbolon, S.Sos (Anggota jemaat HKBP yang melayani di Lembaga Permasyarakatan), Ani Natalia Pinem (Humas perpajakan Kementerian Keuangan RI), Pdt. Oniwati Nurhaidah Turnip, S.Th (Pelayan Tuhan Hingga Pedalaman), Ronald Simanjuntak, SH,.MH (Pengacara Senior), Fredrik J Pinakunary (Advokat), Mangasi Sihombing (Mantan Duta Besar), David Maruhum Lumban Tobing, S.H (Pengacara), Ir. Lintong Manurung, M.M (Ketua Umum Jaringan Pemerhati Industru dan Perdagangan), Kamillus Elu, S.H ( Pengacara), August H Pasaribu, S.H. M.H (Advokat), Dr. Lasmaida S Gultom, S.E., MBA (Analisis Eksekutif Senior di Departemen Pengendalian Kualitas Pengawasan Perbankan OJK), Pdt. Dr. Ir. Douglas Manurung, MBA., M.Si (Direktur), Eloy Zalukhu (Motivator), Stevano R Margianto (Ketum Perwamki), dan Yosua M. Tampubolon,SH. M.H (Pengacara).

Usai acara Ketum Perwamki, Stevano Margianto pose bersama Jonro I Munthe (Pemimpin Umum Majalah Narwastu)

Pemimpin Umum Majalah Narwastu, Jonro Munthe, S.Sos dalam kata sambutannya mengatakan, bahwa acara ini adalah bentuk apresiasi Majalah Narwastu terhadap seseorang yang dianggap telah memberikan kontribusi bagi banyak orang. “Memang kita punya kriteria tersendiri untuk ini, misalnya berjiwa Pancasilais, Nasionalis, mencintai NKRI, menghargai Kebhinekaan, serta peduli terhadap pelayanan di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. Selain itu, yang pasti para tokoh ini juga pernah muncul atau ditampilkan dalam majalah Narwastu.” ujarnya.

Menurut Jonro, para tokoh pilihan Majalah Narwastu tersebut adalah para tokoh yang bisa menginspirasi, memotivasi banyak orang melalui kiprahnya di berbagai bidang. Mulai dari pelayanan gereja, hukum, politik, ekonomi, pendidikan, media, organisasi dan profesionalisme. “Puji Tuhan, sesuai pengalaman Majalah Narwastu ketika memberikan penghargaan kepada para tokoh Kristiani, terbukti beberapa kali telah mengangkat seseorang ke level yang lebih baik seperti: Nikson Nababan (Saat ini menjadi Bupati Tapanuli Utara) dan Basuki Tjahaya Purnama (Mantan Gubernur DKI) yang kini telah menjadi Komisaris Utama di Pertamina,” pungkas Jonro.

Jonro I Munthe ketika menyampaikan kata sambutan dalam acara Apresiasi 21 Tokoh Kristiani

Sejumlah tokoh Kristiani yang tampak hadir dalam acara tersebut adalah Dr. Marthen Napang, John Panggabean, SH, HP Panggabean, Jimmy Lumintang, sejumlah wartawan Perwamki, Rizma Simbolon dan kru Film Horas Amang. SM

IRONIS, JEMAAT KRISTEN MAU BERIBADAH DILARANG OLEH SEKELOMPOK WARGA!

Situasi penghadangan jemaat ketika mau beribadah di kompleks Perum Griya Cileungsi Dua Blok D2 No. 16, Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Minggu (5/1/2020)

Bogor,Victoriousnews.com, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari beragam suku, agama, dan ras–tersebar lebih dari 17 ribu pulau di seluruh penjuru tanah air. Karakteristik yang menonjol inilah menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang istimewa, bangsa yang berbeda dengan bangsa lainnya di dunia.

Kemajemukan masyarakat yang dilandaskan dengan Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika, juga membuat Indonesia dikenal sebagai bangsa yang rukun, damai, dan toleran terhadap suku maupun agama lain dalam menjalankan kebebasan ibadah dan kepercayaannya masing-masing. Kemerdekaan beribadah ini merupakan kebebasan asasi setiap manusia yang dilindungi oleh undang-undang, yakni UUD 45 pasal 2. Namun sayangnya masih banyak oknum yang melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara menghalang-halangi, melarang atau bahkan mengintimidasi umat beragama yang akan beribadah.

Kasus pelarangan dalam menjalankan ibadah yang paling baru menerpa sebuah gereja GPdI yang berada di Perum Griya Cileungsi Dua Blok D2 No. 16, Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Minggu (5/1/2020) yang lalu. Gereja ini dipimpin oleh seorang rohaniwan bernama Pdt. Sumarto Topurundeng. Sumarto dipercayakan oleh umat Kristen GPdI di Perumahan Griya Cileungsi Dua dan sekitarnya, sebagai perpanjangan tangan gereja dan pemerintah, untuk menjalankan tugas  sebagai seorang rohaniawan serta melaksanakan pembinaan mental dan spiritual untuk kegiatan-kegiatan ibadah raya minggu dan hari lainnya.

Kegiatan ibadah yang dipimpin oleh Sumarto ini bertujuan untuk membantu dan menyukseskan program pemerintah di bidang pembinaan mental dan spiritual yang di jamin oleh UUD 45 Pasal 29 ayat 2 Undang –Undang Dasar 1945: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya dan Pancasila menjalankan sesuai agama masing-masing yang merupakan salah satu nilai khususnya sila pertama. Tugas Pembinaan tersebut diperkuat dengan; Surat Keterangan Tanda Lapor (SKTL), Nomor;B-1582/Kw.10/VIII/BA.01.1/03/2017, dikeluarkan di Bandung, tertanggal 10 Maret 2017 ditanda tangani oleh; Kepala Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Kristen Kantor Wilayah Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat, Surya Minda Sirait , SH, NIP. 196405101999042001 dan Surat Keputusan Majelis Daerah Jawa Barat, GPdI bernomor 082/MD-JABAR/II-11 Tentang Pengangkatan  Sdr Pdt. Sumarto Topurundeng sebagai rohaniawan untuk membina umat Kristen GPdI. SK tersebut dikeluarkan di Cianjur pada tanggal 14 Pebruari 2011 dan ditanda tangani oleh Pimpinan GPdI; Pdt. JE Awondatu (Ketua) dan Pdt. Thomas Rungkat (Sekretaris).

KiKa : Nimrot (Kanit Intel), Pdt. Chemuel W , Kompol Endang Kusnandar (Kapolsek Cileungsi), Pdt Sumarto Topurundeng, Pdt Hanny Rompis usai pertemuan membahas kasus pelarangan ibadah,

 Atas dasar permintaan umat dan SK GPdI serta SKTL Kementrian Agama tersebut, maka inilah yang menjadi pegangan Pdt. Sumarto Topurundeng untuk menjalankan tugas membina umat yang berjumlah 60 hingga 70 jiwa sampai sekarang, dan sudah dijalani selama 10 Tahun lebih, di rumah tempat tinggalnya, kompleks perumahan Griya Cileungsi Dua, Desa Mampir Cileungsi. Kegiatan-kegiatan pembinaan mental dan spiritual  kepada umat Kristen tersebut tidak pernah mendapat gangguan  dari masyarakat  setempat. “Namun pada hari minggu 5 Januari 2020, pukul  09 pagi WIB tiba-tiba muncul sekelompok masyarakat yang tinggal di kompleks Griya Cileungsi Dua, yang dipimpin koordinator keamanannya berinisial K, mereka berdiri di depan gerbang pintu masuk kompleks kemudian menghadang dan melarang dengan paksa para umat masuk kompleks perumahan menuju rumah pendeta untuk mengikuti ibadah minggu pagi. Penghadangan dan pelarangan umat Kristen yang datang dari luar kompleks tidak membuat umat mundur atau putus asa menuju tempat ibadah namum para umat tetap menerobos dan memaksa masuk dan pada akhirnya diperbolehkan dan para umat diberi kesempatan masuk untuk ibadah dengan persyaratan untuk terakhir kali dan sesudah selesai ibadah permintaan para warga kompleks perumahan kepada  Pendeta dan umatnya bahwa rumah yang dijadikan tempat ibadah harus ditutup dan dikembalikan kepada fungsingya sebagai rumah tinggal,” ujar Pdt. Sumarto seperti dilansir oleh pantekostapos.com.

Lanjut Sumarto, diduga penghadangan dan pelarangan menuju rumah ibadah didalangi oleh warga berinisial K yang masih aktif sebagai aparatur negara. Terjadinya penghadangan tersebut, Sumarto berinisiatif melaporkan ke kantor kepolisian setempat yaitu Polsek Cileungsi, dan langsung di tangani oleh Komisaris Polisi (Kompol) Endang Kusnandar (Kapolsek Cileungsi Bogor Jawa Barat). Pada keesokan harinya senin 6/01, Pdt Sumarto bertemu dengan Kapolsek di ruang kerjanya disambut dan diterima dengan baik kemudian berdialog prihal kronologis kejadiannya dan mencari solusi yang terbaik guna menentramkan situasi dan menjadi kondusif.

Menyikapi kejadian tersebut Komisaris Polisi (Kompol) Endang Kusnandar didampingi Kanit Intel Nimrot, dalam dialognya dengan Sumarto mengatakan bahwa mengenai kejadian pada hari minggu 5 Januari 2020 sudah diketahui dan sedang ditangani untuk itu Kapolsek mengajak kepada Sumarto dan jemaat yang dipimpinnya untuk sementara waktu menanggapi apa yang menjadi keinginan warga, karena menurut Kapolsek melihat sisi mudaratnya. Petugas kepolisian sudah ada yang menangani melalui pendekatan-pendekatan persuasif di masyarakat. Terkait keberadaan Pdt Sumarto dan Jemaat yang dipimpinnya serta ibadah ke depan Kapolsek Cileungsi akan memberikan jaminan pengamanan.Usai pertemuan dengan Kapolsek Cileungsi, baru keesokan harinya Pdt Jantje Manorek, salah satu pimpinan GPdI Jabar mengunjungi Pdt Sumarto dan Keluarganya dalam rangka memberikan penguatan dan semangat untuk tetap melayani Tuhan dan jemaat. SM