Jakarta, VictoriousNews.com – Di tengah dunia yang diliputi ketidakpastian, pesan Paskah kembali menggema sebagai panggilan mendalam untuk mengalami perubahan sejati.
Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John Palinggi, MM, MBA, menegaskan bahwa Paskah adalah momentum spiritual untuk meninggalkan “manusia lama” dan bangkit sebagai pribadi yang baru.
Menurutnya, Paskah merupakan puncak iman Kristiani yang merayakan kebangkitan Yesus Kristus—simbol kemenangan atas dosa dan maut, sekaligus sumber harapan baru bagi umat manusia. Lebih dari itu, Paskah adalah ajakan untuk berani bercermin dan mengakui sisi gelap dalam diri.
“Manusia lama adalah mereka yang berpikiran kotor, pesimis, gemar merendahkan orang lain, dan hidup dalam kebiasaan buruk. Paskah mengajak kita meninggalkan semua itu dan berkomitmen menjadi manusia baru,” tutur John Palinggi.
Ia juga menjelaskan bahwa BISMA merupakan wadah kerukunan lintas agama yang mencakup Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Dari Kegelapan Menuju Terang
Dalam refleksinya, John menggambarkan Paskah sebagai proses transisi dari kegelapan menuju terang. Kegelapan melambangkan kehidupan yang dipenuhi kebencian, kejahatan, dan ketidakpedulian, sedangkan terang mencerminkan kasih, sukacita, dan harapan.
Manusia baru, lanjutnya, adalah mereka yang menjaga hati, menjauhi pelanggaran hukum, serta menolak korupsi dan ketidakadilan. Kehadirannya membawa damai, bukan ketakutan.
“Kalau manusia baru hadir, orang lain akan merasa bahagia. Sebaliknya, manusia lama bahkan dari raut wajahnya saja sudah menimbulkan ketegangan,” ujarnya.
Nilai Universal Lintas Iman
John menyoroti bahwa semangat “lahir baru” bukan hanya milik Kekristenan. Ia menemukan kesamaan nilai dalam berbagai agama—mulai dari puasa Ramadan dalam Islam, perenungan dalam tradisi Buddha, hingga ritual penyucian dalam Hindu.
“Ini adalah nilai universal. Semua agama mengajarkan transformasi batin,” tegasnya.
Kasih Tanpa Batas dan Solidaritas Nyata
Lebih jauh, John mengingatkan bahwa inti Paskah adalah kasih tanpa batas—bukan hanya kepada sesama seiman, tetapi kepada seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang.
Ia menekankan bahwa iman tanpa kepedulian adalah sia-sia.
“Jika kita melihat orang susah, mampu menolong, tetapi tidak melakukannya, berarti kita belum memaknai Paskah,” katanya.
Rangkaian Pekan Suci: Jalan Pengorbanan
John menjelaskan bahwa perjalanan menuju Paskah dimulai dari Pekan Suci, yang memperingati peristiwa-peristiwa terakhir kehidupan Yesus Kristus.
Dimulai dari Minggu Palma—saat Yesus disambut meriah di Yerusalem—hingga Jumat Agung, yang menjadi puncak penderitaan dan pengorbanan di kayu salib.
Ia menyoroti ironi kehidupan manusia yang mudah berubah. “Yang hari ini memuji, bisa saja besok menghina,” katanya.
Pada Kamis Putih, lanjutnya, Yesus memberi teladan kerendahan hati dengan membasuh kaki murid-murid-Nya. “Ketika banyak orang mengejar kekuasaan, Yesus justru menunjukkan kepemimpinan melalui pelayanan,” ujarnya.
Puncaknya adalah Minggu Paskah—kebangkitan Yesus yang menjadi simbol kemenangan atas maut dan awal dari harapan baru.
Harapan bagi Bangsa
Di tengah krisis global dan tekanan ekonomi, John melihat Paskah sebagai momentum kebangkitan, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga sosial dan nasional.
Ia mengajak masyarakat untuk menjadi “manusia baru” yang jujur, peduli, dan penuh kasih.
“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak manusia baru. Jika itu terwujud, kita bukan hanya keluar dari krisis, tetapi menjadi bangsa yang lebih kuat dan bermartabat,” tegasnya.
Di akhir pesannya, John menegaskan bahwa Paskah bukanlah akhir perayaan, melainkan awal kehidupan baru yang memancarkan kasih dan membawa terang bagi sesama. “Sia-sialah iman, jika tidak melahirkan kepedulian.” SM

















