Jefri Tambayong (Ketum FOKAN): Pengedar Narkoba Harus Dihukum Seberat-beratnya

Jefri Tambayong (Ketum FOKAN): Pengedar Narkoba Harus Dihukum Seberat-beratnya

Jefri Tambayong (Ketum FOKAN)

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-“Saya sungguh percaya bahwa para pengelola negara ini masih memiliki sifat dan sikap yang baik,” demikian ditandaskan Ketua Umum Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN), Jefri Tambayong di Markas Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM) di Jalan Malaka Merah III Blok D Nomor 22 (Komplek Ruko Malaka Country, Kelurahan Pondok Kopi, Jakarta Timur) pada Sabtu malam, 28 Juli 2018. Suami Elsye Nayoan begitu geram melihat perilaku bandar-bandar Narkoba yang terus bergerilya di Indonesia. Mendekam di penjara, bagi mereka seperti tidak turut menghambat untuk meraih pundi-pundi kekayaan lewat obat-obatan terlarang tersebut. Hukuman penjara seumur hidup bahkan hukuman mati pun tak membuat nyali mereka menciut.

Jabatan Ketua Umum Fokan yang diemban sejak dilantik pada 28 Juni 2018 semakin menguatkan aktivitasnya sebagai aktivis anti obat-obatan terlarang. Menurutnya, Fokan terbentuk agar seluruh penggiat anti-Narkoba ingin membangun suatu kebersamaan. Satu visi untuk saling mendukung dan saling memberikan informasi mengenai penyuluhan obat-obatan terlarang dan lain sebagainya. “Saya hampir tidak jadi karena isu agama. Akhirnya, saya meraih 85% suara setelah melalui sistem pemilihan voting. Dari 35 suara, 29 memberikan suara. Ini sudah memenuhi kuorum 3/4 kehadiran pemilik suara. 4 pemilik suara menyatakan abstain dan 4 suara memilih kompetitor saya. 21 suara memilih saya menentukan suara mayoritas. Kita mau bangun semangat persatuan,” jelas ayah dari Stephen, Stanley, dan Michelle ini.

                Kegeraman Jefri terhadap bahaya Narkoba tentu memiliki alasan kuat. Menurutnya, peredaran bisnis obat-obatan terlarang ini mencapai Rp 300 triliun. Dengan nilai tersebut, mereka mampu menciptakan presiden menurut pilihan mereka. Jika untuk mengegolkan seorang presiden butuh Rp 50 triliun, bagi mereka bukan angka yang besar nilai tersebut. Jika seorang bandar diminta menyumbang Rp 5 trilun sampai Rp 10 triliun berarti cukup 10 atau 5 bandar saja mereka mampu menciptakan presiden dan wakil presiden yang mendukung peredaran Narkoba. “Saya tidak mau berprasangka buruk. Saya berharap, tidak ada tokoh negeri ini yang mendukung peredaran obat-obatan terlarang di Indonesia. Politik itu bisa baik atau jahat. Jika hati dan niatnya jahat pasti menghalalkan segala cara untuk meraih jabatan tertinggi negara. Semua dapat dilakukan dengan uang yang besar itu,” tegas Jefri.

“Sebagai rohaniawan, saya tidak menghendaki hukuman mati. Tetapi, sebagai aktivis anti-Narkoba, pengedar harus dihukum seberat-beratnya. Hukuman mati pun menjadi keharusan untuk dijatuhkan dan dilakukan aparat penegak hukum negeri ini. Jika tidak, mereka semakin merajalela. Buktinya, di penjara mereka pun melakukan aktivitas bisnis tersebut. Bayangkan, 1 kamar dapat dihargai Rp 250 juta. Seorang bandar sangat mudah mendapatkan uang sebesar itu. Bandar lebih kaya daripada para koruptor. Uang mereka lebih dari Rp 100 trilun hingga Rp 300 triliun. Bahkan, uang mereka tak terbatas (unlimated money) yang beredar. Tahanan koruptor hanya mampu bayar oknum lembaga pemasyarakatan (lapas) kecil, tapi seorang bandar bisa besar,” urainya.

Ditambahkan Jefri, sekitar 7 atau 6 tahun lalu, Kepala Lapas Nusakambangan tertangkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Bayangkan, di rekening anaknya ada Rp 1,4 triliun. Itu yang ketahuan. Bagaimana yang tidak? Bandar-bandar Narkoba harus dihukum berat. Pemakai tidak boleh dipenjarakan, tetapi direhabilitasi. “Di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba (Jakarta Pusat) hanya memiliki daya tampung 1.200 orang, tetapi kenyataannya dihuni lebih dari 4.000 tahanan. 80% tahanan adalah tahanan Narkoba. Di sana juga paling banyak dihuni bandar besar Narkoba. Akhirnya, mereka membidik pemakai-pemakai Narkoba berdosis kecil-kecil itu untuk menjadi pengedar bahkan bandar juga. Di penjara, yang besar menjadi raja. Akhirnya, yang semula pemakai menjadi pengedar,” jelasnya.

Mengutip pernyataan Deputi Bidang Pemberantan BNN, Irjen Pol. Drs. Arman Depari yang menyatakan, 39 Lapas menjadi sarang bandar Narkoba. “Bukan solusi, seorang ditangkap dan dipenjarakan. Fokan berkomitmen menyelamatkan anak bangsa dari bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Bekerja sama dengan pemerintah dan berbagai pihak demi terwujudnya Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba),” pungkas Jefri. (Epaphroditus Ph M dan Stevano Margianto)

SAMBUT HARI ANAK NASIONAL PGI BERSAMA 4 PERWAKILAN LEMBAGA PELAYANAN ANAK: TEGAKKAN UU PERLINDUNGAN ANAK

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,- Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional (HAN) 2018, Persekutuan Gereja gereja di Indonesia (PGI) bersama Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JKLPK) dan Jaringan Pelayanan Anak (JPA) menghimbau agar seluruh masyarakat menggunakan paradigma perlindungan anak dalam membuat kebijakan, program dan kegiatan. Harapannya kebijakan, program, dan kegiatan yang akan dilaksanakan berfokus pada kepentingan terbaik anak, memberi ruang kepada anak untuk berpartisipasi, tidak ada diskriminasi sehingga setiap anak bisa bertumbuh dan berkembang secara optimal. Read More

“TUHAN YESUS BAGIANKU SELAMANYA” (Yohanes 17:21)

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Bukan Tuhan yang membutuhkan kita. Melainkan kitalah yang membutuhkan Tuhan, masalah yang muncul adalah; kita membutuhkan Tuhan untuk apa dan bagaimana?. Apabila kita menganggap membutuhkan Tuhan untuk menyembuhkan penyakit, menolong kita keluar dari problem ekonomi, atau untuk memberikan kita teman hidup atau keturunan dan lain sebagainya, ini konsep yang salah. Ini Tuhan tersingkir karena Ia tidak lagi menjadi kebutuhan utama, tetapi sekedar sarana untuk memperoleh sesuatu.

Akibat konsep yang salah ini banyak orang memperlakukan Tuhan seperti umat beragama lain pada umumnya dalam memperlakukan dewa-dewi mereka. Dewa-dewi mereka bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai sesuatu. Kita harus memahami bahwa kehidupan kita di dunia tidaklah memiliki arti tanpa mengenal Tuhan dan tanpa hidup dalam persekutuan yang benar dengan Dia (Yohanes 17:3). Dalam doa Tuhan Yesus menghendaki sebuah persekutuan yang eksekutif dengan diriNya (Yohanes 17 :21). Tuhan membuka hatinya agar umat pilihanNya dapat bersekutu denganNya secara harmonis. Ia telah memutuskan untuk mengasihi kita. “Kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita”, (1 Yohanes 4:19).

Secara dogmatika Allah sudah mengasihi kita, dan secara etika kita harus mengasihi Allah. Ia berkenan menjadikan kita kekasihNya. Ini adalah anugerah yang tiada tara, yaitu tidak dapat digambarkan dengan kata-kata dan tidak dapat ditukar dengan apapun juga. Kalau seseorang mendapat kesempatan untuk menerima anugrah ini tetapi menolaknya, betapa celakanya. Tetapi ternyata manusia pada umumnya sudah terdidik untuk lebih mencintai dunia. Banyak orang merasa tidak berarti tanpa sesuatu atau seseorang sehingga yang dikejar atau diburu adalah hal-hal tersebut dunia telah membentuk pola berpikir banyak manusia bahwa kalau memiliki ini dan itu, barulah manusia menjadi bernilai. Akibatnya orang akan merasa sejahtera walau tanpa memiliki persekutuan yang benar dengan Tuhan. Ia tidak meninggalkan Tuhan sama sekali, masih ke gereja datang memuji dan menyembah Tuhan, tetapi sebenarnya tidak membutuhkan Tuhan dalam arti yang benar.

Tentu orang-orang seperti ini tidak dapat menjadi kekasih Tuhan, sebab mereka tidak dapat menjadikan Tuhan perhatianya. Menjadikan Tuhan perhatian artinya; hanya di dalam Tuhanlah seseorang menemukan rasa amanya, kesejahteraan dan tujuan hidupnya. Seharusnya kita dapat memiliki filosofi hidup seperti yang dikatakan pemazmur; (Mazmur 73:26); “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya”.

Dia tetap bagianku selama-lamanya (He is my Portion forever ). Apakah selamanya Tuhan mempunyai kepentingan dengan kita?. Apakah Tuhan membutuhkan kita?. Kalau ditinjau dari satu sisi, sebenarnya Ia tidak memiliki kepentingan apa-apa dengan kita, sebab Ia tidak membutuhkan apapun dari kita. Tuhan Yang Maha Kuasa tidak bergantung kepada kita. Tanpa kita pun, Ia tetap eksis dan tidak terpengaruh sama sekali. Dalam satu pernyataanNya, Tuhan berfirman, “Dengan siapa hendaknya kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?”(Yesaya 40:18).

Tuhan kita memiliki ”integritas” sempurna. Ia tidak mengharap nasehat dari siapapun. Ia adalah pribadi yang tidak dapat diatur oleh faktor-faktor di luar diriNya, sebab Ia mengatur diriNya sendiri. Ritual, seremoni atau liturgi sehebat apapun tidak bisa mengatur dan membujuk Tuhan untuk melakukan sesuatu perbuatan di luar kehendaknya. Dalam Yesaya 40:16, “Libanon tidak mencukupi bagi kayu api dan margasatwanya tidak mencukupi bagi korban bakaran.” Sedahsyat apapun korban bakaran, tidak dapat mempengaruhi Tuhan. ***

Kuliah Umum STT REM Ke 7 Hadirkan Sekjen Kemenristekdikti, Prof. Ainun Naim., Ph.D

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel (STT REM) kembali menyelenggarakan kuliah umum yang diadakan di kampus STT REM, Jl. Pelepah Kuning III Blok WE 2 No. 4 G-K, Kelapa Gading-Jakarta Utara. Kuliah umum STT REM yang ketujuh ini mengangkat tema “Memimpin Dengan Riset & Teknologi”—menghadirkan  Sekretaris Jendral Kementrian Riset & Teknologi Pendidikan Tinggi  Republik Indonesia, Prof. Ainun Naim., Ph.D  sebagai pembicara dan Direktur Eksekutif Conrad Supit Center,  Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K sebagai moderator. Tampak juga dihadiri oleh Prof. Dr. Abraham Conrad Supit (Ketua Yayasan Abraham Conrad Supit Center/ Gembala Senior GBI REM), Civitas Akademika STT beserta undangan lainnya. Read More

Ibadah GMB Bulan Juli 2018: BPD Jawa Timur Terima Bantuan Mobil Gran Max Ke 25

ki-ka: Ps. Lidya C Elia (YMGS GBI REM Bogor) menyerahkan simbolis kunci mobil Gran Max kepada Pdm. Drs. Yusak Wargamawarsita (Sekretaris BPD GBI Jawa Timur)

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-Ibadah ucapan syukur bertajuk “Giving My Best” (GMB) GBI REM kembali digelar pada hari Minggu, (08/7/2018) di GBI REM Cabang Bogor (Gedung Tan Ek Tjoan Bakery), Jalan Siliwangi No.176, Kota Bogor- Jawa Barat.  Dalam ibadah ini giliran BPD GBI Jawa Timur yang menerima bantuan kendaraan operasional Mobil Gran Max ke 25 dari total 72 mobil—secara simbolis diserahkan oleh YMGS GBI REM Bogor, Ps. Lidya C Elia Setiawan kepada Sekretaris BPD GBI Jawa Timur, Pdm. Drs. Yusak Wargamawarsita. Read More

Pelantikan Ketua FOKAN, Jefri Tambayong: Kita Wujudkan Indonesia Bersinar (Bersih Narkoba)

JAKARTA, VICTORIOUSNEWS.COM,-Jaga anak-anak dan keluarga Anda dari Narkoba! Demikian inti sari peringatan Satu Dekade (10 tahun) berdirinya Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM) Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMDM menyelenggarakan syukuran tersebut sekaligus Halal bi Halal Idul Fitri 1439 H. Rasa syukur juga disampaikan atas dilantiknya Jefri Tambayong sebagai Ketua Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN) oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Pelantikan dilakukan pada 28 Juni 2018. Selain GMDM, di dalam FOKAN terdapat 33 organisasi anti narkoba termasuk GRANAT, GERAM, GANN, dan sebagainya. Praktis, kini Jefri menyandang jabatan tersebut dan Ketua Umum GMDM. Read More

Luka Batin, Mudah emosi, fobia, kesepian, adiksi game, sakit psikosomatis dan sebagainya bisa disembuhkan dengan Hipnoterapi—The Heart Technique karya Dr. Adi W Gunawan

JAKARTA,VICTORIOUSNEWS.COM,-Dr. Adi W. Gunawan, ST., M.Pd., CCH adalah seorang hipnoterapis klinis yang menemukan sebuah teknik baru untuk kesehatan bernama The Heart Technique atau disingkat THT. Teknik baru hipnoterapi ini resmi diperkenalkan dan dirilis  ke tengah masyarakat secara resmi pada hari  Sabtu (30/6), di Hotel Hariston, Teluk Gong, Penjaringan- Pluit Jakarta Utara. THT temuan Adi yang juga pakar mind technology sekaligus peneliti itu ini telah dipatenkan di Dirjen HAKI, Kemenkumham. Read More