Pasangan Kristen Yang Akan Menikah, Level Karakter Kristusnya harus sepadan

Baca Gali Alkitab Harus Jadi Gaya Hidup Umat Kristen

JAKARTA,Victoriousnews.com, Firman Tuhan adalah pelita bagi kehidupan kita, khususnya umat yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Namun, seringkali kita punya banyak alasan tidak sempat membaca Alkitab walau hanya beberapa jam saja. Rasa-rasanya kita kurang waktu untuk aktivitas seperti ini. Waktu kita banyak tersita untuk urusan pekerjaan, sekolah, kepentingan keluarga dan sebagainya. Melihat kondisi itulah, seorang hamba Tuhan bernama Pdt. Dr. Bernalto., Ph.D membuat terobosan jitu dalam pelayanannya, yakni mengajak para karyawan baca-gali Alkitab sambil makan siang.

Bernalto menceritakan bahwa ia memulainya dengan mengajak beberapa karyawan makan siang bersama. Ia mentraktir mereka makan. Sebelum makan tentu Bernalto menjelaskan bahwa ia ingin membacakan Alkitab dan mengajak mereka berdiskusi. Saat berdiskusi inilah terjadi proses baca-gali Alkitab, tentu prosesnya dibuat senyaman mungkin sambil menikmati makan siang. Tidak terasa waktu satu jam sepertinya kurang bagi mereka untuk menikmati santapan rohani dari Tuhan melalui baca-gali Alkitab. Sementara, santapan makan siangnya dari bapak pendeta yang murah hati ini.
Terobosan baca-gali Alkitab yang dilakukan Bernalto karena ia melihat bahwa pertama adalah kebanyakan orang membaca Alkitab sebatas pengetahuan dan kedua kebanyakan orang habis waktunya untuk urusan kesibukannya. Para karyawan tersebut bekerja 8 jam dan ketika pulang ke rumah sudah lelah dan enggan untuk baca Alkitab. Nah, kesempatan jam makan siang inilah momen yang pas mengajak orang, khususnya karyawan untuk terlibat dalam aktivitas baca-gali Alkitab.
Menurut Bernalto, Alkitab itu seperti komputer, apa yang masuk itulah yang keluar. Kalau yang masuk benar maka yang keluar juga benar. Sebaliknya, kalau yang masuk salah (error) maka yang keluar juga salah (error).
Tidak hanya kepada karyawan aktivitas baca-gali Alkitab ini dilakukan Bernalto, tetapi ia lakukan juga kepada anak-anak sekolah dari tingkat SMP dan SMA. Karena biasanya waktu istirahat makan siang anak-anak sekolah ini terbatas, maka Bernalto sudah menyiapkan makan siangnya yang dapat langsung dimakan. Ini sebuah strategis yang cerdas dari Bernalto.
Bernalto juga memberi masukan kepada Perkantas untuk mengadopsi strateginya. Kita ketahui bahwa Perkantas juga memberikan bimbingan rohani kepada anak-anak sekolah dan mahasiswa, tetapi mereka sebatas berkhotbah satu arah saja seperti yang diutarakannya.
Baca-gali Alkitab ini pun Bernalto lakukan untuk aktivitas penginjilan kepada ibu-ibu yang belum mengenal dan menerima Kristus. Lagi-lagi jam makan siang menjadi momen yang pas ia lakukan. Mengapa ibu-ibu? Menurutnya, kalau ibu-ibu tersebut sudah mengenal dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka ibu-ibu tersebut setidaknya akan mengajak suami dan anak-anaknya. Sekali menyelam, minum air.
Nah, demikianlah pengalaman yang menarik dari Pdt Dr Bernalto, Ph.D. Semoga pengalaman ini dapat dipetik hikmahnya bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk menjadi duta Kristus di tengah-tengah masyarakat.GT

Perjalanan LAI 65 Tahun Wujudkan Alkitab untuk Semua

JAKARTA, VictoriousNews.com — Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) merayakan Hari Ulang Tahunnya ke-65 pada Sabtu (9/2/2019) di Britama Arena Mahaka Square, Kelapa Gading, Jakarta. Perjalanan LAI selama 65 tahun ini sudah berupaya dan berusaha mewujudkan Alkitab untuk Semua. Ini menjadi tagline (slogan/motto) LAI dalam melanjutkan perjalanan bagi umat Kristiani di Indonesia. Read More

PERAYAAN NATAL & TAHUN BARU 2019 KELUARGA BESAR PARLEMEN RI USUNG SUBTEMA BERBAGI KASIH DAMAI DAN KEPEDULIAN DALAM TOLERANSI KEMAJEMUKAN INDONESIA

Jakarta,Victoriousnews.com.,Bertema”Yesus Kristus, Hikmat bagi Kita” (I Korintus 1:30a) dan sub-tema ‘Melalui Perayaan Natal ini, Kita Tingkatkan Berbagi Kasih Damai dan Kepedulian dalam Toleransi dan Kemajemukan Indonesia untuk Kesejahteraan Sesama’, Perayaan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 Keluarga Besar DPR RI – DPD RI – MPR RI dihelat di Gedung Nusantara IV (Pustaloka) DPR-RI pada Rabu sore hingga malam, 6 Februari 2019. Acara terbagi dalam Perjamuan Kasih (pukul 17.00 WIB-18.00 WIB), Ibadah Natal (pukul 18.00 WIB-20.00 WIB), dan Perayaan Natal (pukul 20.00 WIB-21.00 WIB). Persiapan ruangan yang begitu pendek waktu (sedari pukul 10.30 hingga 13,00 WIB, ruangan ini dipergunakan organisasi masyarakat ‘Gerakan Kebangkitan Indonesia’ untuk Penyampain Aspirasi bersama sejumlah tokoh kepada Ketua MPR-RI) tak menghalangi panitia untuk menyelenggarakan acara akbar umat Kristiani setiap tahun di lingkungan parlemen khususnya dan umat Kristiani pada umumnya.

Mendekati pukul 17.00 WIB, masyarakat sudah memenuhi ruangan dan antri untuk mengambil makan khas Manado (Sulawesi Utara) di sisi kiri Ruang Pustaloka. Seusai makan, seluruh umat mengambil duduk di kursi-kursi yang telah disiapkan panitia. Untuk menyemarakkan kegiatan, panitia menghadirkan komedian Mongol Stress yang berdarah Manado untuk mengisi acarai. Selain disajikan lagu-lagu religi Kristiani oleh para aktivis gereja di sekitar Jakarta. Rangkaian kegiatan juga dikalukan pemberian sumbangan diakonia sosial kepada pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kesekjenan MPR/DPR/DPD-RI, panti asuhan, panti jompo, sejumlah gereja yang membutuhkan dana pembangunan, serta korban bencana alam di Indonesia.

Pada bagian Perayaan Natal sekitar pukul 20.00 WIB, sejumlah petinggi tiga lembaga di dewan legislatif bergiliran memasuki ruangan. Dimulai oleh H Bambang Soesatyo SE MBA (Ketua Dewan Perwakilan Rakyat/DPR yang juga politisi Partai Golkar), Oesman Sapta Odang (Ketua Dewan Perwakilan Daerah/DPD yang juga Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat/Hanura), hingga Dr (HC) H Zulkifli Hasan SE MM (Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat/MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional/PAN). Sementara, sejumlah menteri kabinet beragama Kristen termasuk Prof Dr Yohana Susana Yembise Dip Apling MA (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak/PPPA) dan Jenderal TNI (HOR) (Purn) Luhut Binsar Panjaitan (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman) serta Letnan Jenderal TNI (Purn) EE Mangindaan (Wakil Ketua MPR periode 2014-2019) secara seksama telah mengikuti sedari awal. Acara ini juga dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat Republik Indonesia, Persatuan Gereja Indonesia (PGI) serta Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI).

Undangan juga dialamatkan kepada Pendeta Abraham Lewelipa (Gembala Jemaat GBI Alfa Omega, Oirata, Kisar, Maluku Barat Daya). Meskipun saat Perayaan Natal digelar, hamba Tuhan dari pulau yang dekat dengan Timor Leste ini masih berjuang dalam kapal yang terombang-ambing di tengah ganasnya Laut Arafura atau Arafuru. Pada perayaan natal sebelumnya (tahun 2017), Pendeta Abraham Lewelipa bahkan sempat menerima bantuan dana untuk pembangunan gedung gereja di Kisar yang digembalakannya. Ibadah syukur dipimpin Pendeta Dr Hein Arina (Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM) dan memberikan khotbah yang menyejukan serta menginspirasi umat.

Dalam sambutannya, Bambang Soesatyo mengatakan Perayaan Natal bersama di lingkungan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR-RI merupakan momentum memperkuat semangat Kebhinekaan. Menurut Ketua DPR-RI, kemajemukan yang ada dalam masyarakat justru sebagai sumber kekuatan utama bangsa Indonesia. “Selamat Natal 2018 dan Selamat Tahun Baru 2019. Saya menganggap acara ini merupakan momen yang sangat penting. Momen penting bagi ke-Indonesia-an kita, penting bagi toleransi kita, dan penting bagi masa depan bangsa kita,” ujar politisi Partai Golkar ini. “Agama apa pun mengajarkan untuk senantiasa menyebarkan cinta kasih kepada sesama umat. Karena itu, siapa pun tidak boleh menjadikan agama sebagai alat permusuhan apalagi sebagai alat politik,” tandas Legislator Daerah Pemilihan VII Jawa Tengah untuk wilayah Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini.

Kepala Biro Pemberitaan Parlemen DPR-RI, Yohannes O.I. Tahapari menjelaskan, pesan Ketua DPR-RI sudah sangat jelas dan tegas bahwa semua ajaran agama itu didasari cinta kasih dan damai. “Oleh karena itu, dalam momen Perayaan Natal ini, menjadi suatu momentum yang baik bagi seluruh umat, tentunya seluruh agama yang mengajarkan kebaikan. Ajaran tersebut dapat kita laksanakan dan tujuannya adalah untuk membangun bangsa dan negara kita, supaya melalui momen Perayaan Natal ini, maka bangsa Indonesia semua dapat semakin dipersatukan,” pungkas Y.O.I. Tahapari.

Sejumlah nama anggota dewan tertera dalam susunan kepanitian termasuk Mercy Chriesty Barends ST (Sekretaris Pelaksana Panitia Natal), Ir Stefanus Liow (Seksi Acara atau Liturgi), Ir Stefanus Liow, dan Wenny Warouw. Sementara, posisi Ketua Panitia Pelaksana ada di pundak Dr. Bara Krishna Hasibuan Walewangko (dikenal Bara Hasibuan). Wakil Ketua PAN ini menyampaikan apresiani kepada seluruh umat Kristiani, pimpinan lembaga legislatif dan eksekutif yang menyempatkan hadir di tengah kesibuan masing-masing. “Ini adalah sebuah kehormatan bagi saya karena ditunjuk sebagai ketua panitia pelaksana Perayaan Natal 2018 dan Tahun 2019 di lingkungan parlemen,” tegas Anggota Komisi VII Daerah Pemilihan Sulawesi Utara.

Dalam account Facebook, Bara menuliskan status, “Puji syukur, Acara Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 MPR/DPR/DPD berlangsung meriah dan hikmat walaupun persiapannya sangat singkat dan tidak banyak anggota DPR yang bisa aktif di kepanitiaan karena kesibukan di dapil masing masing. Yang luar biasa dan mengharukan Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPR Bambang Soesatyo dan Ketua DPD Oesman Sapta, di tengah kesibukan mereka, berkenan hadir dan memberi sambutan. Juga Ibu Menteri PPA Yohana Yambise. Kotbah Pdt Hein Arina juga luar biasa dan menginspirasi. Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung dan hadir dalam perayaan tersebut,” tulis Bara, yang mendapat banyak coment pujian dari warga Sulut. “Luar biasa,Semua karna campur tangan Tuhan..Amin. Banyak selamat buat Pak Bara Hasibuan Walewangko,yg sdh Sukses dalam perayaan Natal bersama kel besar MPR,DRP,DPD,semua utk hormat kemulian nama Tuhan..amin,” tulis akun Reflin Ester Mukuan dalam laman comentnya.

Ditunjuknya Bara Hasibuan sebagai Ketua Pelaksana Pelaksana Natal di lingkungan parlemen tak lepas keanggotaannya sebagai Anggota DPR-RI sejak terpilih sebagai anggota Pergantian Antas Waktu (PAW) bersama delapan anggota lain pada Selasa, 10 Januari 2017. Ketika itu, dia dilantik bersama Ibnu Munzir menggantikan Enny Anggraeny Anwar (Partai Golkar/PG). TB H Ace Hasan Syadzily menggantikan Andika Hazrumy (PG), Bambang Heri Purnama menggantikan Indro Hananto (PG), Wasista Bambang Utoyo menggantikan Dodi Reza Alex Noerdin (PG), Hartanto Edhie Wibowo menggantikan Wahidin Halim (Partai Demokrat/PD), Anita Jacoba Dah menggantikan Jefirstson R Riwu Kore (PD), Ihwan Datu Adam menggantikan Adji Farida Padmo Ardans (PD), dan Muhammad Afzal Mahfuz menggantikan Salim S Mengga (PD).

Bara Krishna Hasibuan kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1870 dan tercatat sebagai politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) mewakili Dapil Sulawesi Utara. Bara adalah salah satu pendiri PAN dan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN Bidang Hubungan Internasional (sejak 2010). Bara adalah putra dari advokat senior, mantan Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan mantan Pemimpin Umum Harian Suara Pembaruan, Dr. Albert Hasibuan. Bara dilantik menjadi Anggota DPR-RI periode 2014-2019 pada 10 Januari 2017 sebagai Pergantian Antar Waktu (PAW) menggantikan Yasti Soepredjo Mokoagow yang mengundurkan diri karena mencalonkan diri sebagai Bupati Bolaang Mongondow pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak tahun 2017. Pada masa kerja 2014-2019, Bara bertugas di Komisi VII yang membidangi energi dan sumber daya mineral dan lingkungan hidup.

Setelah lulus di tingkat dasar dan menengah hingga tahun 1989 di Jakarta, dia melanjutkan pendidikan untuk S1 bidang Political Science. Boston University. Boston (Amerika Serikat) tahun 1994, S2 bidang Political Science. Boston University. Boston (Amerika Serikat) tahun 1996, dan S2 bidang Public Administration. Harvard Kennedy School of Government, Boston (Amerika Serikat) tahun 2012.

Sebagai putra dari pengacara dan pemimpin surat kabar Suara Pembaruan, Dr. Albert Hasibuan, Bara Hasibuan sering berhubungan dengan isu-isu politik dan hukum. Bara mengambil jurusan ilmu politik ketika kuliah untuk lebih mendalami minatnya di politik. Minat Bara pada politik semakin dalam pada masa-masa sebelum era-Reformasi dan turunnya Presiden Soeharto di 1997.  Bara aktif terlibat di awal pendirian Partai Amanat Nasional di 1998. Bara resmi menjadi kader PAN dan menjadi Ketua Bidang Hubungan Internasional (1998-2000) dan Wakil Sekretaris DPP PAN (2000-2001).

Namun karena isu konflik internal di PAN di 2001, Bara memutuskan untuk bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada Pileg 2004, Bara mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif mewakili PKB untuk Dapil Sumatera Utara 3. Sayangnya Bara tidak berhasil terpilih menjadi Anggota DPR. Bara Hasibuan adalah salah satu politikus muda Indonesia yang mendapat penghargaan Congressional Fellowship di Kongres Amerika Serikat dan mendapat kesempatan pertukaran pengalaman bekerja di sana. Pulang dari Amerika, Bara mendirikan perusahaan konsultan strategis HD Asia Advisory dan menjadi konsultan manajemen dan politik. Di 2010, ketika Hatta Rajasa resmi menjadi Ketua Umum PAN, Bara kembali bergabung menjadi kader PAN dan menduduki jabatan sebagai Ketua Bidang Hubungan Internasional DPP PAN. (2010 – sekarang).

Pada Pileg 2014, Bara mencoba lagi mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif tapi kali ini di Dapil baru, Sulawesi Utara. Bara gagal terpilih menjadi Anggota DPR-RI. Pada Oktober 2016, Yasti Soepredjo Mokoagow mengundurkan diri dari DPR-RI karena maju mencalonkan diri sebagai Bupati Bolaang Mongondow pada Pilkada Serentak 2017.  Bara resmi dilantik menggantikan Yasti sebagai Pergantian Antar Waktu (PAW) pada 10 Januari 2017. Pada Pemilu Serentak Anggota DPR/DPRD I, DPRD II, Presiden dan Wakil Presiden tanggal 17 April 2019, dia kembali mencalonkan untuk posisi Anggota DPR-RI. (Epaphroditus Ph M)

Pendeta Dr.Bernalto.,Ph.D: UANG MEMBUAT ORANG JADI PENGECUT & PELIT DONASI!

Nama lengkapnya Pdt. Dr. Bernalto Pardede.,Ph.D. Sebelum menjadi hamba Tuhan full timer, Pria yang sempat divonis dokter menderita kanker hati stadium 4 ini adalah seorang Presiden Direktur dan Presiden Komisaris di sejumlah perusahaan. Mulai dari perusahaan asing, perusahaan keluarga, perusahaan konglomerat yang juga membawahi anak perusahaan dari berbagai industri; mulai pendidikan,rumah sakit,pariwisata,farmasi, dan sebagainya.

Bernalto sudah mengecap yang namanya hidup menjadi orang super kaya, mewah dan berkecukupan. Ia mengaku, hampir seluruh bagian Indonesia dan seluruh dunia sudah dikunjungi. Namun ketika karakter dan hidupnya diubahkan oleh Tuhan Yesus, serta mengalami pertobatan secara total, Bernalto pun berubah 180 derajat kecintaannya kepada Tuhan dan membaca gali Alkitab. Baginya, kekayaan dan kemewahan tidak ada artinya, tanpa hidup bersama Kristus. Bukan itu saja, di sisa hidupnya,  Ia pun mengaplikasikan “kasih” dalam kehidupannya sehari-hari dengan memberikan teladan (donasi) kepada sesama. “Setelah saya Pendeta lintas kategorial dan sektoral hingga lintas agama dan turun detail hingga level aplikasi dan implementasi. Bagi saya, uang telah membuat manusia jadi pengecut. Uang tidak kenal saudara dan sahabat. Kakak beradik rajin perpuluhan ke gereja tetapi pelit, tidak mau tolong kasih uang kepada saudara kandungnya. Begitu banyak suami yang tidak mau aktif bergabung dalam keluarga istri.Bahkan banyak suami  ‘memperkosa’ ayat Alkitab minta istrinya tunduk dalam segala hal termasuk jadi kurir narkoba. Banyak suami yang posesif sadap WA istri dan melanggar privacy istrinya serta membunuh karakter dan rasa percaya diri sendiri. Akibatnya, anak muda zaman sekarang tidak ada teladan karena ayah dan ibunya malas baca Alkitab dan pelit donasi uang,”tutur Bernalto mengkritisi maraknya perilaku keluarga zaman sekarang.

Bagi Bernalto, hidup ini adalah perjalanan dalam dimensi waktu linear sehingga setiap detik adalah kesempatan berkarya yang tidak bisa diulangi. Gara-gara uang, juga telah membunuh manusia berhenti berkarya dan menjadi safety player. “Orang lebih takut kehilangan suami dan karir serta keluarga ketimbang Kristus.Saya amat sayang anak saya.Tetapi jika disuruh memilih tinggalkan anak atau tinggalkan Kristus,saya sudah buktikan meninggalkan anak demi Kristus.Saya amat sayang sama wanita my first love (istri).Tetapi jika harus memilih tinggalkan wanita my first love atau Kristus maka saya lebih memilih tinggalkan wanita my first love walau hidup saya hancur dan memilih Kristus. Saat saya jadi President Direktur dan diminta Owner bawa artis sexy sebagai upeti ke oknum Menteri,saya pilih resign dan tinggalkan ID Card saya dan tinggalkan kunci mobil mewah kantor dan jalan kaki pulang,” ungkapnya.

Sebagai hamba Tuhan, Bernalto juga kerap membantu pendeta yang susah. “Saya satu satunya orang Kristen dan Pendeta yang “Influencing & Empowering People”. Banyak teman teman Pendeta miskin saya Empowering lalu saya kirim menggantikan saya khotbah di luar negeri dan khotbah ke konglomerat.Jadi kualitas saya tanggungjawab,tetapi teman teman saya Pendeta miskin jadi punya ‘Jam terbang’ dan bisa dapat uang untuk bayar sekolah anaknya. Saya lebih senang turun langsung membimbing Baca Gali Alkitab komunitas.Khotbah di mimbar atau KKR itu hanya menguntungkan si pengkhotbah.Yang benar harus ketemu langsung. Sayang kompetensi besar yang Tuhan berikan ke saya jika saya tidak aktif langsung di ruang ruang publik.Juga malu punya gelar 2 Doktor kalau tidak turun langsung kontribusi kasih solusi langsung di ruang ruang publik.Jadi Garam dan Terang dunia itu bicara kontribusi aktif dan bukan pamer kepemilikan.Saya tulus mencintai wanita my first love bukan minta balasan agar beliau mencintai saya.Bukan. Tetapi saya kontribusi memberi kekuatan dan semangat buat beliau bahwa ada laki laki baik yang tulus mencintai beliau tanpa syarat dan prasyarat apapun,” paparnya. GT

Harapan Pdt. Abraham Conrad Supit Dalam HUT ke 72 Tahun Adalah Genapi Visi Menjadi Saksi Kristus


Bogor,Victoriousnews.com,-Perasaan gembira, senang dan sukacita terpancar di raut wajah Gembala Sidang GBI Rahmat Emmanuel Ministries (REM), Pdt. Abraham Conrad Supit yang genap berusia 72 tahun. Dengan mengenakan kaos putih setelan jeans plus sepatu kets, Opa  kelahiran 9 Februari 1947 ini masih tampak muda dan energik ketika menyambut tamu undangan yang hadir, Sabtu (9/2) pukul 12.00 Wib.


Acara pesta hari istimewa ini dirayakan di Pondok REM (Gunung Doa), yang terletak di Jalan Ciapus Loa, Gang Nanas, Taman Sari Gunung Salak- Bogor—selain dihadiri oleh keluarga besar Pdt. AC Supit (Kakak, anak-anak, menantu dan cucu) juga dihadiri oleh pengerja, YMGS, Koordinator, staf kantor, serta para hamba Tuhan yang melayani ibadah raya  Minggu di GBI REM.  “Puji Tuhan saat ini usia saya sudah 72 tahun. Semuanya karena anugerah Tuhan yang luar biasa, kalau saya masih diberikan usia setahun lagi. Saya rindu untuk melayani Tuhan lebih sungguh-sungguh dan membawa banyak jiwa untuk mengenal Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Seperti visi Gereja GBI REM tahun 2019 adalah tertulis dalam Kisah Rasul 1:8, ‘…kamu akan menjadi saksi-Ku  di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi’. Oleh karena itu, melalui ucapan syukur ini saya juga berharap kepada para hamba Tuhan, pengerja maupun jemaat Tuhan  dapat menggenapi visi ini yakni memenangkan jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus. Begitu pula para hamba Tuhan yang dipercayakan melayani di bidang marketplace, swasta, PNS termasuk pejabat tinggi TNI/Polri, legislatif, eksekutif maupun yudikatif; inilah saatnya kita memberikan pelayanan yang terbaik dan menjadi suara kenabian bagi bangsa Indonesia,” tutur Pdt. Abraham C Supit kepada Victorious usai acara tiup lilin didampingi Ibu Levina beserta anak dan cucu.

Dalam momen hari istimewa ini, Pdt. Pengky Andu dipercayakan untuk mendoakan Pdt. Abraham C Supit, kemudian dilanjutkan santap siang bersama dengan beraneka menu masakan yang nikmat. Happy Bday Pak Gembala! GT

MENTERI PPPA PROF. DR. YOHANA SUSANA YEMBISE., Dip.Apling., MA (KULIAH UMUM STT REM KE 16): PEREMPUAN INDONESIA HARUS BANGKIT!

Jakarta, Victoriousnews.com,- Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emanuel (STT REM) bekerjasama dengan Conrad Supit Center kembali menggelar Kuliah Umum Kepemimpinan—menghadirkan Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise., Dip.Apling., MA sebagai pembicara. Kuliah umum ke 16 yang diselenggarakan di Kampus STT REM, Jl. Pelepah Kuning III Blok WE 2, No. 4 G-K, Kelapa Gading-Jakarta Utara (Kamis, 07/02) 2019 pukul 19.00 Wib ini mengangkat tema “Perempuan Generasi Muda” dimoderatori oleh Direktur Conrad Supit Center, Johan Tumanduk., SH.,M.M., M.Pd.K.

                 Ketua STT REM, Dr. Ariasa H Supit.,M.Si dalam kata sambutannya, mengucap syukur bahwa acara kuliah umum ini dapat terselenggara dengan baik. “Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Menteri Prof. Dr. Yohana Yembise yang berkenan hadir. Juga terimakasih kepada para pimpinan STT REM, dosen tetap, dosen tamu maupun Bapak/Ibu yang telah hadir saya ucapkan selamat datang dalam acara kuliah umum yang ke 16 kali.  Temanya kali ini adalah Perempuan generasi muda. Kenapa kami mengangkat tema ini, karena kami percaya perempuan dan anak adalah bagian dari masa depan. Pemerintahan Presiden Joko Widodo ini banyak memperhatikan perempuan dan anak, antara lain; sudah ada 3500 industri perumahan yang pelakunya adalah para wanita. Dalam hal perlindungan anak sudah ada 466 forum anak. Jadi anak-anak kita sekarang diperhatikan lebih lagi. Nah, yang tidak kalah pentingnya, kita saat ini ada 67 hari lagi menjelang Pemilu Serentak (Pilpres dan Pileg), dan seperti Prof. Yohana katakan bahwa ada 126 juta pemilih itu adalah perempuan. Makanya kuliah umum ini sangat penting sekali, total pemilih masyarakat Indonesia yang berhak memilih adalah 185 juta orang, dimana 126 jutanya adalah perempuan. Kita tidak salah jika kita belajar dari sumber yang paling tepat tentang perempuan generasi muda. Perempuan juga diminta untuk berani “menabrak” tembok budaya. Sudah puluhan tahun, diajarkan untuk di rumah, mendidik anak, dan masak. Itu tidak salah, dan itu penting. Tetapi ada hal lain yang perempuan bisa lakukan. Oleh karenanya kita mau belajar dengan perspektif peran perempuan yang lebih luas,”tutur Dr. Ariasa Supit.

Menteri PPPA, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise ketika menyampaikan Kuliah Umum ke 16 di STT REM (7/2)

Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Prof. Dr. Yohana Susana Yembise,  dalam pemaparan kuliah umum, menekankan, bahwa  Generasi penerus perempuan di Indonesia harus dijaga dan dilindungi agar sehat walafiat. “Belakangan ini banyak sekali perempuan yang menjadi korban kekerasan, terutama KDRT yang dilakukan oleh suaminya dan berujung pada kasus perceraian. Hal inilah yang menjadi perhatian pemerintah, khususnya kementrian PPPA saat ini. Apalagi Indonesia sekarang dipilih menjadi salah satu dari 10 negara di dunia yang diharapkan dapat membawa perempuan setara dengan laki-laki target 50-50  persen pada 2030. Perempuan Indonesia itu harus bangkit, jangan terlalu diam,  jangan takut kepada laki-laki. Maksudnya, berarti perempuan dan laki-laki sudah harus berjalan setara bukan laki-laki saja yang harus maju menjadi pemimpin. Kita sudah berjuang cukup lama masih belum juga dapat 30% . Syukurnya, dalam kabinet Presiden Jokowi ada 9 Menteri perempuan, tetapi  sekarang ibu Kofifah tepilih menjadi Gubernur Jawa Timur,  akhirnya tinggal 8 menteri perempuan. Nah inilah  mengangkat derajat kaum perempuan di Indonesia. Dari 126 juta perempuan kita harus bawa ke planet kesetaraan 50-50 persen pada tahun 2030. Namun memang tidak gampang, karena  budaya patriarki masih tinggi, laki-laki masih merasa punya power lebih dari perempuan. Contohnya saja, posisi strategis di DPRD, DPR,  maupun Eksekutif di mana-mana semua didominasi oleh laki-laki,” papar Prof. Yohana.

Menurut Prof. Yohana, secara nasional ada 17% perempuan yang terpilih menjadi anggota DPR,  sedangkan 16% yang terpilih menjadi pimpinan di tingkat kabupaten/ kota (sekitar 86 orang yang menjadi Bupati/ walikota dan wakil walikota atau wakil bupati). Pimpinan kepala daerah perempuan ini sangat sedikit dibanding dengan laki-laki. Sekarang tercatat indeks pembangunan gender yang bagus adalah DKI Jakarta, kemudian disusul daerah Yogyakarta.  “Saya pernah ke Vietnam itu ketua MPRnya itu adalah perempuan. Ketika saya bertemu dengan beliau, laki-laki hormat sekali kepada beliau. Akhirnya, saya berpikir, kapan Indonesia memiliki ketua DPR  perempuan?,” ungkap Prof. Yohana.

Ketua STT REM, Dr. Ariasa H Supit., M.Si menyampaikan kata sambutan

Bagi Prof. Yohana, peran perempuan itu sangat penting sekali. Makanya perempuan generasi muda sekarang ini harus bangkit, jangan  kebanyakan diam. Disinilah saatnya laki-laki memberikan kesempatan kepada perempuan agar berani tampil.  “Saya adalah menteri pertama perempuan yang pernah masuk ke negara Afganistan memimpin 5 perempuan. Waktu itu, keadaan Afganistan dalam keadaan genting. Saya sudah di berapa kali diundang oleh menteri Afghanistan untuk pergi, tapi dihalangi oleh Menlu. Akhirnya saya izin langsung ke Pak Presiden. Saya berangkat karena tidak bisa diganti pembicara utama pada International Conference Afgan women. Disana saya berbicara mengenai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika hingga toleransi antar umat beragama. Pada saat itu, di sana sebelumnya ada bom meledak.  Nah, disitulah akhirnya saya pikir Tuhan Yesus itu melindungi kita. Ya melindungi anak-anaknya yang punya hati dan kasih untuk membantu teman-teman kita sesama perempuan dan anak-anak yang ada di negara-negara konflik. Saya masuk ke sana dalam keadaan baik sampai selesai.  Indonesia sudah dipakai sebagai role model dari 10 negara besar yang mungkin salah satunya karena mayoritas penduduknya muslim toleransi tinggi dan perempuan Indonesia dianggap sudah cukup maju. Makanya saya ini jadi rebutan sekarang negara-negara Islam, setelah Afghanistan, Turki  dan Iran,” tandas Yohana

Lanjut Prof. Yohana, sudah saatnya perempuan punya hak untuk bicara.  Sekarang konvensi PBB tentang politik perempuan sudah ada sudah diratifikasi, convention on the elimination of discrimination against women. “Sudah saatnya kita harus menyatakan kepada kaum laki-laki dan pelaku kekerasan adalah laki-laki. “Perempuan masih korban paling banyak apalagi Indonesia Timur dan  paling tinggi perempuan yang dipukul oleh suaminya. Nah tingkat kekerasan di Indonesia Timur ini harus diturunkan,” ungkapnya, sembari bersyukur karena ketika mengecek data di PGI, jumlah pendeta perempuan lebih banyak dari pendeta laki-laki.

Usai memberikan kuliah umum, Prof. Yohana diberi kejutan untuk menyanyikan lagu favoritnya berjudul “Let It Be” diiringi keyboard oleh salah satu dosen STT REM Pdt. Yusak Itong Suryana yang berulangtahun. Sebagai ucapan terimakasih, Ketua STT REM, Dr. Ariasa H Supit.,M.Si memberikan kenang-kenangan berupa foto kepada Menteri PPPA Prof. Dr. Yohana Susana. Sebaliknya, Kementrian PPPA juga memberikan plakat kenang-kenangan kepada STT REM. GT

Presiden Jokowi Hadiri Perayaan Imlek Nasional di JIEXPO Kemayoran Jakarta

Jakarta, Victoriousnews.com,-Perhelatan akbar perayaan tahun baru Imlek nasional 2019 yang digelar di Hall B3 & C3 JIEXPO Pekan Raya Jakarta Kemayoran pada Kamis (7/2) disambut sukacita oleh ribuan masyarakat keturunan etnis Tionghoa dan tokoh lintas agama yang hadir. Pasalnya, dalam perayaan Imlek tersebut, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menjadi tamu istimewa untuk membuka acara sekaligus menyampaikan kata sambutan penting, khususnya kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Kehadiran Presiden Jokowi memang menjadi magnet dan sangat dinantikan oleh para hadirin. Meskipun acara baru di mulai pada pukul 10.00, pengunjung telah memadati venue berukuran 22.000 meter persegi tersebut sejak pukul 8.00 pagi.  Ruangan yang telah menjelma menjadi “lautan merah” tersebut menjadi riuh ketika Presiden Jokowi tiba di lokasi. “Jokowi! Jokowi!” demikian teriakan orang-orang yang hadir di lokasi Perayaan Imlek.

Langkah Jokowi menuju ruangan sempat tersendat selama 30 menit. Hal tersebut terjadi lantaran orang-orang yang hadir berebutan ingin selfie dengannya. Setelah Jokowi tiba di ruangan, acara pun di mulai dengan menyanyikan lagu nasional. Indonesia Raya. Jokowi mulai menyapa semua yang hadir ketika ia naik ke atas panggung.

Setelah menyapa, ia sempat diam beberapa menit. Diamnya tersebut membuat seisi ruangan menjadi hening. “Xin Nian Kuai Le,” ujarnya dengan nada terbata-bata. Mendengar ucapannya tersebut, para hadirin histeris.

Selama menjadi presiden, Jokowi mengungkapkan kali ini adalah pengalaman pertamanya menghadiri acara Imlek. “Alasan saya baru pertama kali datang karena selama ini undangan Imlek yang saya terima biasanya terpecah-pecah. Undangan Imlek dari Organisasi A, undangan imlek dari Asosiasi B, pusing saya,” tuturnya.

“Ketika masyarakat etnis sudah bersatu untuk membuat acara Imlek Nasional, saya pasti datang,” tegas Jokowi. Presiden menuturkan bahwa persatuan harus mulai terjalin di masyarakat. Tak hanya antarmasyarakat etnis Tionghoa tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga berpesan, saat Pemilu 17 April nanti agar seluruh masyarakat datang ke TPS masing-masing untuk menyalurkan hak pilihnya. “Jangan sampai ada satupun yang tak hadir di TPS. Jangan mau ditakut-takuti. Dan jangan takut ketika ditakut-takuti,” ujar Presiden.

Tampak hadir dalam perayaan Imlek tersebut adalah Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saiffudin, Wakil Presiden Era Soeharto Try Sutrisno, Tokoh Muhamadiyah Buya Syafii Maarif dan masih banyak lagi. GT/Dy-1.foto: eric f

Dualisme Kepemimpinan GKSI Akan Selesai, Jika Tim Rekonsiliasi PGI Konsisten

Ki-ka: Pdt. Potifar, Pdt. Yus Selly dan Pdt. Paulus Basy 

Jakarta,Victoriousnews.com,-Perhelatan akbar Majelis Persidangan Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL-PGI) yang digelar di Safari Garden Hotel, Cisarua, Bogor pada 27-31 Januari 2019 yang lalu menuai protes keras yang dilontarkan oleh salah satu peserta sidang utusan dari Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), yakni Pdt. Yus Selly (Sekjen GKSI versi pimpinan Pdt. Marjio., S.Th). “Jelas saya marah saat itu ke Sekum PGI, Gomar Gultom yang mengusir kami karena saya tidak merasa melakukan pemukulan,” kata Pdt. Yus Selly wartawan di restauran di bilangan jalan Pramuka, Jakarta, Sabtu (2/2/2019). Lanjut  Yus Selly, pada malam harinya usai kericuhan tersebut, Selasa (29/1/2019), kedua belah pihak GKSI yang berseteru dipertemukan oleh pimpinan PGI guna mengklarifikasi kasus pemukulan tersebut. “Di situ dia (utusan GKSI versi Mangentang) mengakui bahwa saya tidak ada pukul dia, dan ada saksinya. Akhirnya kami berdamai saling berpelukan,” kata Gembala Sidang gereja GKSI Gading Sengon, Jakarta Utara ini.

Pdt. Yus Selly (Sekjen GKSI Versi Pdt, Marjio

Yus Selly mengakui, bahwa saat ini memang telah terjadi dua versi kepemimpinan di sinode GKSI, yakni; GKSI versi pimpinan Pdt, Marjio, S.Th dan GKSI pimpinan Pdt, Dr, Matteus Mangentang.  Bahkan Selly, merasa sangat kecewa kepada tim rekonsiliasi PGI, sebab sudah 4 kali sidang MPL dan 1 kali Sidang Raya PGI digelar, kasus terbelahnya pimpinan sinode GKSI ini tak kunjung selesai atau disatukan. “Persoalan dualisme kepemimpinan di sinode GKSI sesungguhnya bisa diselesaikan jika tim rekonsiliasi PGI konsisten. Ketidakkonsistenan tim rekonsiliasi PGI tersebut dengan didasari oleh adanya keputusan tim rekonsiliasi PGI berdasarkan mandat sidang MPL PGI di Parapat, Sumatera Utara yang tidak diterapkan atau ditepati janjinya. Jadi pada MPL di Parapat ditetapkan bahwa barang siapa yang mau rekonsiliasi dan mengikuti terus sidang MPL dan Sidang Raya PGI, dia (sinode versi) itulah yang diakui PGI. Kemudian pada sidang MPL di Palopo 2017 kami hadir, sementara pihak Matteus tidak. Namun di sidang MPL tersebut PGI tidak jadi memutuskan GKSI yang mana yang sah dan diakui PGI padahal saat itu kami terancam mau dibunuh oleh orang-orang suruhan Matteus,” ungkapnya.

Kekecewaan Yus kembali terjadi kala sidang MPL 2018 di Bogor. Pasalnya, sinode GKSI versi yang mana yang diakui PGI belum juga diputuskan, bahkan PGI membuat keputusan dengan menyerahkan persoalan tersebut diselesaikan sendiri oleh kedua belah pihak yang saat ini diketahui sedang berproses di pengadilan tingkat Mahkamah Agung. Dikarenakan persoalan GKSI belum tuntas, akhirnya tim rekonsiliasi PGI terhadap sinode-sinode anggota PGI terdiri dari; Pdt, Albertus Patty (Ketua Tim dari PGI Pusat), Pdt. Bambang Widjaja (PGI Pusat) Pdt, Manuel Raintung (Ketua PGIW), dan Pdt. Shephard Supit (PGIW), mengembalikan masalah tersebut kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan persoalan GKSI.

                Perselisihan dua kepemimpinan di sinode GKSI saat ini memang sudah masuk dalam proses hukum. Walaupun  sempat ditunda 2 tahun oleh pihak GKSI Marjio sebagai pelapor karena ada upaya rekonsiliasi dimana PGI sebagai mediatornya. Namun persoalan tersebut sebenarnya bisa selesai jika saja tim rekonsiliasi PGI mau bersikap tegas dan konsisten. “Kedua belah pihak sama-sama bersedia dilakukan verifikasi untuk menentukan GKSI versi siapa yang sah dan diakui PGI dan siap membiayai. Kalau PGI tak punya orang untuk melakukan verifikasi ya kerja sama saja dengan pihak lain yang netral, saya rasa teman-teman mau berkorban demi kesatuan gereja ini,” ujar Selly.

Kini persoalan GKSI dikembalikan kepada pihak yang berselisih. Apakah persoalan GKSI bisa selesai? persoalan GKSI ini sebenarnya bisa selesai, asalkan pimpinan GKSI Pdt. Matteus Mangentang bisa bertemu dengan  Willem Frans Ansanay, S.Th, SH, M.Si Dewan Pertimbangan / Dewan Pendiri, Badan Pengurus Sinode GKSI. “Jika kedua pimpinan ini bisa bertemu, dan terjadi kesepakatan seperti yang kami inginkan, persoalan GKSI pasti selesai. Saya yakin kami semua cinta damai dan kami rindu dapat bersatu kembali melayani di GKSI,” pungkas Selly ketika didampingi oleh Pdt. Potifar Pinis dan Pdt. Paulus Basy. GT