Niko Siap Jadi “Ahok”nya Jakarta, Berani Tampil Beda Menyatakan Kebenaran!

Niko Siap Jadi “Ahok”nya Jakarta, Berani Tampil Beda Menyatakan Kebenaran!

Pak Niko bersosialisasi dengan warga RW 014 dan menyerap aspirasi mereka

JAKARTA,Victoriousnews.com,- Lin Niko Yehezkiel.,S.Kom. Demikian nama Pria kelahiran Jakarta, 27 Oktober 1973 ini. Belakangan ini nama Niko, begitu ia kerap disapa, menjadi “buah bibir” di kalangan masyarakat Jakarta lantaran gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan berani dalam menyatakan kebenaran. Hal itulah mengingatkan kita kepada sosok Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).
Saat dijumpai wartawan di cafe Kopi Dony di kawasan Kelapa Gading, calon Anggota Legislatif (Caleg), Daerah Pemilihan (Dapil) 2 DKI Jakarta yang meliputi Kelapa Gading, Koja, Cilincing dan Pulau Seribu, nama Lin Niko Yehezkiel dari Partai Nasdem nomor urut 9 ini merasa terpanggil untuk menjadi wakil rakyat. “Saya terpanggil untuk menjadi calon anggota dewan, bukan mau cari uang atau cari kerjaan. Tetapi saya ingin membenahi hal-hal yang mulai melenceng saat dibangun Pak Ahok. Secara ekonomi, saat ini saya merasa sudah lebih dari cukup. Saya memulai dengan membuka usaha dibidang komputer, tepatnya di bidang IT. Puji Tuhan usaha berjalan dan sangat diberkati Tuhan,” tukas Niko bersemangat.
Niko, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Paguyuban Warga Jakarta Peduli ini, terbeban ingin menolong orang lain yang ekonomi lemah”. Berbagai cara dibuatnya untuk dapat membantu “orang yang ekonomi lemah”, diantaranya menggelar Baksos dan juga memberikan lapangan kerja (modal) membuka warung dengan yang namanya berjualan serba 1000.

Pak Niko melakukan Bazar Sembako Murah di Kawasan Semper Barat

Apa yang dilakukannya itu ternyata tidak dapat membantu atau mengurangi dengan cepat banyaknya “orang yang ekonomi lemah”. Saat itu terlintas dipikirannya untuk membantu “orang yang ekonomi lemah” mesti dengan jalan terjun ke dunia politik, tepatnya menjadi anggota dewan sehingga dapat mengawal semua program ekonomi kerakyatan yang sudah dibuat oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat masih memimpin. “Program ekonomi kerakyatan yang dikerjakan Ahok saat masih memimpin, saat ini mulai tidak jelas. Ini membuat saya semangat untuk terjun ke dunia politik, saya akan memperjuangkan ekonomi kerakyatan,” katanya dan mempertegas untuk terjun ke politik, ia berdoa terlebih dahulu. “Panjang ceritanya sampai akhirnya saya menjadi Caleg. Singkatnya, saya memulainya dengan doa dan meminta persetujuan istri. Bagi saya, kalau dari Tuhan tentu Tuhan juga berbicara lewat istriku. Jadi istri harus sepakat, kalau tidak sepakat, berarti bukan dari Tuhan tapi dari keinginan saya sebagai manusia,”tandas Niko sembari mengutip firman Tuhan dalam kitab Yehezkiel 2: 4-8 yang akan akan dijadikan pedoman ketika terpilih jadi anggota DPRD.
Sebelum menjadi Caleg, Lin Niko Yehezkiel, mengaku pernah menjadi Ketua RT di tempat tinggalnya, baik di Gading Pelangi Indah dan ketika pindah ke Mitra Gading Vila. Juga pernah menjadi Wakil Ketua RW 016 di Pengangsaan Dua semasa di Gading Pelangi Indah.
Lin Niko Yehezkiel, juga pernah dipercayakan menjadi Anggota POKDAR Kelapa Gading dari tahun 2002, Bendahara DPW Nasdem Jakarta, Dewan Pembina Relawan Jokowi-Bersatu, Direktur Logistik Tim Kampanye Nasional Jokowi Wilayah DKI Jakarta.
Dengan pengalamannya, Lin Niko Yehezkiel, berkata akan konsisten dengan visinya, mengawal semua program ekonomi kerakyatan sehingga dapat berjalan dengan baik. “Ekonomi kerakyatan sebenarnya sudah dijalankan Ahok, diantaranya, Pendidikan Gratis (KJP), Kesehatan Gratis (KJS), dan tempat tinggal gratis (Rumah Susun), juga Transportasi Gratis (Trans Jakarta). Ketika ada kenaikan harga barang, ini tidak akan banyak berpengaruh karena semua yang utama dalam hidup masyarakat sudah gratis. Sebaliknya kalau ada kenaikan upah, itu sangat terasa manfaatnya,” katanya dan menyayangkan ketika Ahok sudah tidak menjabat, banyak program ekonomi kerakyatan tidak berjalan dengan baik.
Akibatnya, kembali terjadi kesenjangan ekonomi. Dalam penilaiannya, hal itu dapat memicu gangguan terhadap NKRI. “Kalau kesenjangan makin tajam, maka intoleransi akan meningkat dan dapat mengancam NKRI. Untuk menjaga NKRI, saya akan berjuang bersama dengan teman-teman di partai Nasdem untuk, paling tidak mengurangi atau memperkecil kesenjangan,” tegasnya seraya mengurai yang dimaksud yaitu mengawal program-program ekonomi kerakyatan yang Ahok sudah mulai untuk mensejahterakan rakyat.
Diakhir perbincangan, Lin Niko Yehezkiel berkata, bila dirinya dipercayakan oleh rakyat yang ada di Dapil 2 Jakarta untuk duduk di DPRD maka ia tidak sebatas hanya menyampaikan keluhan masyarakat Jakarta ke Fraksi Nasdem tetapi ia sendiri yang akan segera memanggil kepala Dinas untuk menyelesaikan keluhan masyarakat “Saya membutuhkan dukungan dan doa dari masyarakat yang ada di Dapil 2 sebanyak 30.000 suara untuk dapat menjalankan program ekonomi kerakyatan,” ujar Niko sembari menambahkan tentang visi-misinya membangun Jakarta, yakni: Menuju Jakarta Baru dalam mewujudkan dan menjalankam Ekonomi Kerakyatan demi tercapainya Jakarta yang Adil penuh toleransi dan Gotong Royong.( Melayani dan berjuang dengan gigih melalui DPRD untuk Jakarta Baru bersama rakyat dan Partai Nasdem untuk terlaksananya program ‘Ekonomi Kerakyatan’)

Misi :Memperjuangkan aspirasi rakyat untuk terlaksananya keselarasan demi terwujudnya Jakarta Baru yang adil penuh toleransi dan keGotong Royongan dalam rangka memperkukuh keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia secara berkesinambungan. GT

Pak Niko blusukan di RW 8 Kelapa Gading Timur dan berkenalan langsung dengan Ibu-ibu pesenam di sama

Pdt.Drs.Harsanto Adi., M.Th (Ketum DPP API): Pembunuhan Pdt. Melinda merupakan perbuatan yang sangat melukai kami semua sebagai sesama Pelayan Tuhan.

Pdt. Drs. Harsanto Adi (Ketum API)

Jakarta,Victoriousnews.com,- Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pendeta Indonesia (DPP API) menyampaikan dukacita sedalam-dalamnya atas perbuatan tindak kekerasan dan pembunuhan terhadap Pendeta Melinda Zidomi, S.Th pada saat Almarhumah sedang sedang melaksanakan tugas pelayanan di Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, pada tanggal 26 Maret 2019.
“Perbuatan oknum/tersangka yang saat ini telah diamankan oleh aparat Kepolisian merupakan perbuatan biadab dan keji. Pembunuhan dan kekerasan seksual terhadap pendeta perempuan yang sedang melaksanakan tugas pelayanan gerejawi merupakan perbuatan tidak berperikemanusiaan,” tukas Ketua Umum DPP API, Pdt. Drs. Harsanto Adi.S.MM. M.Th dalam keterangan Persnya.
Lanjut Harsanto, Hal ini tentu mengakibatkan duka mendalam baik bagi keluarga, jemaat dan masyarakat pada umumnya. Perbuatan tidak berperikemanusiaan ini merupakan tindakan teror, karena dampaknya akan menimbulkan ketakutan/keresahan dimasyarakat terutama orang tua yang memiki anak perempuan. “Berkaitan dengan hal tersebut maka Asosiasi Pendeta Indonesia : Pertama, Menyampaikan ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga dan jemaat korban. Kami juga menyampaikan empati terhadap kawan sejawat, yaitu Hamba-hamba Tuhan dan Jemaat perkabungan. Kiranya Allah Yang Maha Kasih senantiasa memberikan kekuatan dan penghiburan kepada keluarga dan jemaat yang ditinggal. Kedua, Peristiwa ini merupakan perbuatan yang sangat melukai kami semua sebagai sesama Pelayan Tuhan. Kami sangat Berduka dan Prihatin. Untuk itu kami meminta pihak kepolisian untuk segera melakukan pengusutan secara tuntas terhadap tersangka dan mengusut tuntas motiv pembunuhan keji ini. Kami akan mengawal proses hukum sampai aparat penegak hukum dan menjatuhkan hukuman yang paling pantas kepada pelaku. Ketiga, Kepada seluruh Jajaran Asosiasi Pendeta Indonesia untuk tetap waspada dan tidak terpancing isu-isu yang tidak benar, tidak takut dan justru dengan kejadian ini mendorong Para Pendeta untuk lebih giat dan semangat melayani diladang Tuhan,” papar Harsanto.GT

Hologram Jokowi Hebohkan Kaum Milenial Ibu Kota

 

JAKARTA, Victoriousnews.com- Sekitar 1.200 milenial Ibu Kota terperangah saat menghadiri perhelatan ‘Smart Citizen Day 2019’ di Grand Opus Ballroom, Jakarta Selatan. Dalam event akbar ini, mereka menjadi saksi penampilan ‘Jokowi’ dalam bentuk hologram, Kamis, 28 Maret 2019. “Bapak-bapak, ibu-ibu dan teman-teman semua, mari kita sambut Presiden Jokowi yang hadir di tengah-tengah kita, menyampaikan pesan-pesannya dalam penampilan spesial,” kata pemandu acara presenter Valerina Daniel.
Maka, ‘Jokowi’ pun muncul memberikan paparan tentang berbagai capaian pembangunan selama periode pertama pemerintahannya. Sambutan anak muda langsung ‘pecah’ menyaksikan kehadiran Jokowi. Mereka sontak mengeluarkan telepon genggamnya untuk mengabadikan peristiwa langka penampilan Jokowi dalam kemajuan teknologi terkini karya anak bangsa.
Dalam siaran Pers yang dikirim oleh Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Ferdinandus Setu, mengatakan, bahwa, Kementerian Komunikasi dan Informatika menghadirkan “Jokowi”dalam bentuk hologram untuk menjelaskan berbagai capaian program pembangunan selama lima tahun ini. Selama ini, diseminasi dilakukan melalui jalur media konvensional dan digital serta pertunjukan-pertunjukan rakyat. “Sesuai dengan Inpres No 9 tahun 2015, Kominfo memang bertanggung jawab untuk merancang sampai dengan mendiseminasikan program-program pembangunan. Salurannya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah hologram ini,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di tempat acara.
Ketika dimintai komentar terkait Hologram Jokowi, Megawati Chandra, mahasiswi Universitas Pelita Harapan mengaku takjub dengan penampilan hologram Jokowi.
“Keren ya, sangat efektif. Sekarang kan zamannya sudah beda, teknologi berkembang pesat, jadi senang sekali melihat pemerintah meng-update diri dalam melakukan pola komunikasi kepada masyarakat dengan cara-cara seperti ini,” katanya.
Apresiasi senada disampaikan Abdullah Faqih, mahasiswa semester 6 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
“Menurut saya, penampilan dalam bentuk hologram seperti ini sudah mewakili Presiden Jokowi. Kan saat ini agenda beliau sangat padat. Dengan adanya teknologi hologram, dapat memudahkan masyarakat untuk bisa merasakan kehadiran Pak Jokowi,” katanya.
Faqih pun menyatakan, pidato Jokowi dalam hologram ini sangat menyentuh emosi. “Terasa banget pendekatannya untuk masyarakat kelas bawah. Dengan penampilan Pak Presiden seperti ini bisa mengangkat semangat masyarakat, sehingga Indonesia dapat terus bergerak menjadi negara maju,” ungkapnya.
Pada pidato berdurasi 20 menit ini, Presiden Jokowi menyampaikan banyak hal yang telah dilakukan pemerintahannya.
“Saya itu selalu tidak tega, kalau melihat atau mendengar rakyat memerlukan bantuan, tapi tidak segera dibantu. Dulu untuk mendapatkan bantuan, orang harus antri berjam-jam, bahkan ada yang sampai pingsan digotong gotong. Padahal, bantuan itu adalah hak bagi saudara kita yang kurang mampu,” jelas Presiden Jokowi.
Karena itu, Jokowi menegaskan, lima tahun lalu, saat menerima amanah menjalankan pemerintahan Indonesia, ia tidak mau melihat atau mendengar itu lagi. “Kita buat kartu kartu-kartu: Kartu Keluarga Sejahtera, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat. Lewat kartu-kartu itu, hak-hak mereka langsung kita transfer, tidak pakai antre-antre lagi, tidak kepanasan, tidak kehujanan, tidak kecapekan,” ungkapnya.
Smart Citizen Day merupakan sebuah acara sehari yang dibuka Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara serta berbagai tokoh muda penggerak perubahan.
Dalam acara ini juga berlangsung deklarasi smart citizen oleh perwakilan 34 Provinsi di Indonesia.Co-Founder dan Chief Technology Officer Qlue Andre Hutagalung sebagai salah satu penggagas acara ini menekankan pentingnya platform berbasis Artificial Intelligence, Internet of Things (IoT) serta integrasi data yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja dan efisiensi dalam menangani permasalahan kota.
“Kami menghadirkan Smart Citizen Day untuk memperkenalkan berbagai Solusi Qlue kepada publik serta sebagai puncak perayaan smart citizen di Indonesia,” kata Andre. GT

Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) 2019: Gereja Memperkokoh NKRI Yang Demokratis, Adil & Sejahtera

Foto bersama peserta KGM (dok.pgi)

Sulut, Victoriousnews.com,-Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), bekerja sama dengan Sinode Am Gereja-Gereja di Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Suluteng), menyelenggarakan Konferensi Gereja dan Masyarakat (KGM) pada 28-30 Maret 2019. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Sutanraja, Jl. Manado-Bitung, Watutumou II, Kalawat, Sulawesi Utara. Kegiatan lima tahunan ini didukung oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Sulawesi Utara dan dihadiri pimpinan Gereja-Gereja di Indonesia, pimpinan ormas kristen, pimpinan organisasi sosial kemasyarakatan Kristen, pimpinan perguruan tinggi kristen dan tokoh-tokoh Kristiani.

Dalam Siaran Pers PGI yang dikirim oleh Humas PGI, Irma Simanjuntak mengatakan, bahwa, KGM kali ini berlangsung di bawah tema “Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir” (bdk. Wahyu 22:12-13), dan Sub Tema “Bersama Seluruh Warga Bangsa, Gereja Memperkokoh NKRI yang Demokratis, Adil dan Sejahtera bagi Semua Ciptaan Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945”. Tema dan subtema yang juga menjadi fokus Sidang Raya PGI XVII di Sumba, pada 8-13 November 2019, merefleksikan Pengakuan iman gereja-gereja di Indonesia bahwa Allah, di dalam Yesus Kristus, terus bekerja dan bergumul dalam kegelisahan, ketakutan dan penderitaan umat manusia. Dia adalah Allah yang mengendalikan sejarah dan terus bekerja untuk menguatkan umatNya.

Tema dan subtema ini juga menggambarkan keprihatinan PGI akan situasi masyarakat, bangsa  dan negara yang menghadapi tantangan seperti bencana, konflik antarkelompok yang berbasis sentimen identitas, ketimpangan (di wilayah ekonomi, geografis, gender, urban dan rural), ketenagakerjaan (gender wage gap),  proses politik dan ekonomi di era Otonomi Daerah (Otda) yang masih menyimpan praktik-praktik yang bias gender, korupsi, supremasi hukum yang masih jauh dari harapan, kerusakan lingkungan hidup, masalah hukum dan hak asasi manusia sampai perkembangan teknologi dan generasi milenial.  Bagi PGI, tantangan-tantangan tersebut bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung jawab gereja-gereja untuk menjalankan fungsi kritis dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam konteks inilah, Gereja-Gereja di Indonesia menyelenggarakan KGM sebagai upaya bersama menyikapi proses demokratisasi, kemiskinan, perdangan manusia, politik identitas dan ketidakadilan di hadapan hukum serta kerusakan lingkungan.

KGM memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Gereja-Gereja di Indonesia. Lewat KGM, yang mulai diselenggarakan pada 1972, gereja-gereja meletakkan landasan untuk menjalankan diakonia pembangunan sebagai perwujudan damai sejahtera di Indonesia. Karena itu, KGM ini menjadi tempat bagi gereja-gereja untuk: Pertama, Melakukan dialog dan refleksi mengenai sejumlah isu yang menjadi pergumulan umat. Kedua, Memahami kondisi sosial-politik masa kini, di level internasional, nasional dan lokal, dengan analisis dari perspektif demokrasi. Ketiga, Memetakan masalah-masalah yang ada dan menerjemahkan gerakan moral umat Kristiani dalam bentuk respons terhadap tantangan yang ada. Keempat,  Merumuskan pilihan-pilihan pelayanan gereja dalam rangka keadilan dan kesejahteraan bagi semua ciptaan. Dan kelima, Ruang bagi gereja-gereja untuk melakukan pembaruan Dokumen Keesaan Gereja yang berfungsi sebagai arah missional gereja-gereja di Indonesia.

Pembukaan konferensi dilakukan pada tanggal 28 Maret 2019 yang dihadiri utusan sinode anggota PGI seluruh Indonesia, PGIW/SAG, mitra mitra PGI baik dalam maupun luar negeri, seluruh panitia, jemaat dan pengisi acara.  Pembukaan dilakukan di Convention Hall Hotel Sutan Raja Watutumou II Kalawat Sulawesi Utara.Tuan dan Nyonya rumah kegiatan ini adalah SAG Sulutteng dan mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Ibadah pembukaan dipimpin oleh Pdt. DR. Hein Arina Ketua BPMS Sinode GMIM.GT

PGI Mengecam Keras Pelaku Pembunuhan Pdt. Melinda

Jakarta, Victoriousnews.com,-Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH-PGI) mengungkapkan dukacita mendalam atas pembunuhan terhadap Pendeta Melinda Zidomi, S,Th yang sedang melakukan pelayanan di Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, 26 Maret 2019. Perbuatan tersebut merupakan tindakan keji dan tak beradab yang tak hanya menghilangkan nyawa korban tetapi diduga melakukan tindakan kekerasan seksual yang menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban dan seluruh masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut maka Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia dalam siaran Persnya yang dikirim oleh Humas PGI, Irma Riana Simanjuntak, adalah:

Pertama,  menyatakan rasa duka mendalam bagi keluarga korban dan gereja yang mengutus Pdt. Melinda melakukan pelayanan di Ogan Komering Ilir. Kiranya Allah yang rahmani memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggal.  Kedua, PGI menyatakan keprihatinan atas peristiwa ini dan meminta pihak kepolisian untuk segera melakukan pengusutan secara tuntas dengan segera menangkap pelaku dan menghukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Juga meminta agar dalam melakukan pengusutan, polisi dapat mempertimbangkan apakah hal ini merupakan motif kriminal murni atau ada motif lain yang mendasari. Tindak penganiayaan, kekerasan seksual dan pembunuhan terhadap seorang pendeta tak bisa begitu saja dilihat sebagai kejadian biasa, karena hal ini bisa dimaknai sebagai sebentuk teror terhadap umat yang dilayaninya. Olehnya MPH-PGI mendesak Kapolri untuk memerintahkan jajarannya mengusut tuntas kasus ini. Ketiga, PGI meminta negara untuk memberikan perlindungan yang memadai bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya melalui perundang-undangan dalam rangka penghapusan kekerasan seksual terhadap perempuan. Olehnya, MPH-PGI meminta Pemerintah dan Parlemen segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual menjadi Undang-undang. GT

Jadwal Sidang Sinode GBI XVI Tetap Digelar DI SICC Sentul, 27-30 Agustus 2019

Jakarta,Victoriousnews.com,-Perhelatan akbar Sidang Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) XVI tetap akan digelar di Sentul International Convention Center (SICC), pada tanggal 27 s/d 30 Agustus 2019 mendatang. Hal ini disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana, Pdt. Paul R.Widjaya di Graha Bethel, Jakarta [Kamis, 21/3] di hadapan para wartawan media Kristiani. Ia berbicara pada sesi konferensi pers. Turut serta hadir masing-masing Ketua Umum BPH GBI, Ketua BPD GBI DKI Jakarta, Ketua BPD GBI Bekasi, Jawa-Barat, Ketua MP BPH GBI dan anggota MP BPH GBI, Pdt. T.L. Henoch.

Soal jumlah para peserta yang bakalan hadir, Ketua Pan Pel menegaskan jumlah peserta mencapai kuorum. “Persidangan sudah pasti dilaksanakan,” ujarnya. Tema Sinode ini ialah “Great Harvest”, Menuai dengan Kuasa Roh Kudus.  Selanjutnya, Ketua Umum BPH GBI mengatakan acara persidangan bukan hanya laporan pertanggung-jawaban BPH periode 2014-2018 saja, tetapi bakal diisi dengan lokakarya, pemilihan Ketua Umum periode 2019-2023. “Diharapkan Sinode nanti sukses sehingga GBI semakin mantap dan berkesinambungan dalam melayani jemaat dan masyarakat,”ujarnya.

Pdt. Dr. Japarlin Marbun menambahkan bahwa GBI selama ini turut serta melayani di bidang pendidikan, layanan bantuan bagi masyarakat. Salah satunya yakni penerjunan Tagana Rajawali GBI dan Pelmas ke lokasi-lokasi banjir bandang di Sentani, gempa bumi Poso, re-konstruksi gereja-gereja yang alami kerusakan pasca bencana.

Menjelang Sinode, imbuhnya bakalan digelar acara sidang MPL GBI pada tanggal 21-23 Agustus 2019 dengan salah satu agendanya yaitu finalisasi acara Sinode, pengesahan Tata Gereja. Selanjutnya pada tanggal 24-27 Agustus 2019 bakal di gelar Diklat bagi para calon Pendeta. Nantinya, sekitar 800-an calon Pendeta ini bakalan dilantik pada salah satu sesi Sinode XVI.

Pdt.Soehandoko : Mari Bangun Kebersamaan dan Andalkan Tuhan Sebelumnya, Pdt. Dr. Soehandoko Wirhaspati (Ketua MP BPH GBI) pada sesi renungan Firman Tuhan sebelum pembukaan Rapat Panitia Pelaksana Sinode GBI XVI di Graha Bethel, Jakarta (Kamis, 21/3), mengutip nats Alkitab yang terambil dalam Mazmur 127: 1 “Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga”. Soehandoko menegaskan saat ini adalah momentum buat GBI menuju ke arah yang lebih baik. “GBI ini satu keluarga. Mari bangun kebersamaan. Namun, kedepankan, andalkan (bergantung) kepada Tuhan. GBI lebih nyata lagi dalam kebersamaan kita. Kalau tidak, kita tidak bisa finishing well,” ujarnya pungkasnya.

Pdt. Dr.Soehandoko Wirhaspati kemudian membacakan nats Yeremia 17 : 8 “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”. “Jangan takut hadapi tantangan,” pungkasnya.

Ketum BPH GBI mengatakan dalam arahan singkatnya bahwa pertemuan ini adalah lengkap karena dihadiri BPH dan MP juga. Kemudian, ia menambahkan nats renungan diatas harus jadi pegangan Pan Pel.” Andalkan Tuhan, sebab sia-sia jika tidak lakukan itu. Ini tahun politik, hiruk pikuk “masuk” ke dalam gereja juga,” tegasnya.

Ia berpesan agar GBI laksanakan penyelesaian Amanat Agung Yesus Kristus. GBI kini adalah gereja yang terbesar di Indonesia. Namun, dengan nada prihatin ia menambahkan bahwa masih banyak gereja yang belum melaksanakan hal ini.

Selanjutnya, Ketua Pan Pel, Pdt. Paul R. Widjaya melaporkan perkembangan kinerja kepanitiaan masing-masing bulan Maret 2019 : penetapan agenda Sinode dan pembicara. Sosialisasi melalui berbagai jalur, termasuk BPD.

April 2019 : Pengumpulan janji iman. Mei 2019 : Target pendaftaran 70 %. Juni 2019 : Finalisasi akomodasi dan seterusnya sampai pelaksanaan Sinode GBI XVI [27-30 Agustus 2019] di SICC Sentul, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa-Tengah.

Pdt. Paul R. Widjaya melaporkan rincian jumlah calon peserta Sinode XVI per tanggal 20 Maret 2019 [Lunas & Belum Lunas] sebagai berikut :

  1. Gembala [Pdp dan Pdm] : 905 orang. 2. Pdt : 1335 orang. 3. Pdm : 212 orang. 4. Pdp : 159 orang. 5. Non Pejabat : 89 orang. Total : 2.700 orang.

Agenda berikutnya adalah pelaporan Bendahara dan Bidang-bidang terkait sampai berita ini diturunkan sedang berlangsung. Dukung dan doakan agar Pan Pel bisa bekerja dan melayani dengan baik serta kelancaran acara Sinode GBI XVI. GT/pram

“Radikalisme Menjelang Pemilu”

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaruan dengan cara drastis hingga ke titik paling akar. Dalam mencapai tujuannya melibatkan banyak cara hingga yang paling ekstrim, kekerasan baik simbolik maupun fisik. Secara sosiologis ada gejala dari pohon radikalisme, yaitu merespons terhadap kondisi sosial politik maupun ekonomi dalam bentuk pemalakan dan perlawanan. Pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan kearah tatanan lain dengan cara berpikir yang berafiliasi kepada nilai-nilai tertentu melalui agama maupun ideologi lainnya.

Menanamkan kebenaran ideologi untuk mendorong masa atas nama rakyat yang diekspresikan secara emosional agresif. Ketika era demokrasi memberikan kebebasan siapa pun untuk mengekspresikan pemikirannya, maka gejala-gejala yang dimainkan penggerak pohon radikalisme terus mendapat panggung selebrasi.

Ada jebakan radikalisme, ketika pemerintah ingin menahan dan menyadang pohon radikalisme yang lain tumbuh di berbagai lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat. Apapun yang diserukan pemerintah akan terbentuk ketentuan lain yang hubungannya dengan aspek HAM. Ketika orang dan kelompok sudah nuang eksperimentasi untuk menggerakkan ideologinya, pada titik itu paham radikalisme mulai dimainkan oleh para aktor.

Dalam paham radikalisme yang diinstrumentasikan dalam berbagai bentuk dan maksud oleh kelompok-kelompok “revivalis” (kembali pada keimanan aslinya), dilandasi oleh beberapa persepsi dan alasan, seperti ketidakadilan yang dialami oleh rakyat. Korupsi yang menggurita, krisis ekonomi politik dan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Dengan melibatkan berbagai aktor, baik dikalangan politisi, agamawan, pengusaha dan tubuh masyarakat lainnya, paham radikalisme, makin meluas sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Berbagai adiguna agama diserukan dalam altar pergerakannya untuk memicu emosi publik, terutama sekelompok orang yang berafiliasi dengan pergerakan ini.

Meskipun dalam pengamatan sementara, gerak radikalisme yang diekspresikan oleh kelompok revivalis ini tidak berhubungan dengan prilaku terorisme, bahkan mungkin juga tidak ada niatan dalam benak mereka untuk memperluas pohon radikalisme menjadi aksi terorisme. Tetapi sesungguhnya pohon radikalisme yang selalu digerakkan dalam berbagai momentum, juga terselip agenda politik kekuasaan tertentu.

Tidak menutup kemungkinan ada kelompok ekstrim yang keberadaannya masih kecil, tetapi suaranya sangat berisik, (noisy minority) untuk menjadikan gerakan radikalisme sebagai jebakan untuk membuat kegaduhan yang bisa memulai konflik horizontal. Mengantisipasi pohon radikalisme secara intensif melalui momentum Pilpres, dan tidak mustahil pula pohon radikalisme akan dijadikan sebagai mekanisme sosial untuk menggerakan langkah prevensi “in optima farma” (serigala bagi manusia lain) yang dituangkan dalam regulasi dan peraturan yang tegas agar bangunan demokrasi kita tidak dicemari oleh pihak-pihak tertentu.

Oleh sebab itu, yang perlu direfleksikan secara jernih oleh kita, untuk mempertahankan NKRI yang sudah dibaluti oleh Pancasila dan UUD 1945

EDDY CHANDRA, Mantan Aktor Film, Kini Jadi Pelukis Yang Takut Akan Tuhan

Eddy Chandra dan hasil karya lukisannya

Jakarta,Victoriousnews.com,- Nama Eddy Chandra sebenarnya bukan orang baru dalam kancah perfilman  nasional. Namun karena perannya kerap berganti-ganti profesi, sehingga sulit sekali orang mengenalnya. Mungkin inilah salah satu kelebihan dari 4 sang aktor yang sudah membintangi 27 judul film nasional.  Pria yang pernah membintangi  sinetron “Keluarga Rahmat” ini masih saja bersemangat dalam melukis. Ternyata sang aktor ini mempunyai profesi ganda. la tidak saja pandai berakting di depan kamera tapi pandai juga melukis. “Profesi saya yang sebenarnya memang pelukis. Tapi tak menutup kemungkinan untuk terjun ke dunia film,” Ujar Eddy.

Menurutnya, sebelum terlibat dalam film nasional, Eddy mengawalinya dengan melukis. Banyak orang-orang film yang dikenalnya cuma karena lukisannya. Karena seringnya berhadapan dengan orang-orang film akhirnya ia diajak untuk main film. Pertama agak risih  juga. Biasa pegang kuas dan kanvas lalu akting di depan kamera. Apalagi film pertamanya ia harus berperan sebagai komandan polisi dengan pangkat mayor. Namun berkat saran dari teman-temannya terutama sang sutradara akhinya  ia dinyatakan berhasil melakoninya. “Pertama kali saya main film judulnya Tantangan Alam Semesta,” tukasnya.

Setelah itu ia keterusan main film hingga membintangi 27 film. ‘ Menjadi pemain film ada kebahagiaan sendiri buat Eddy. Ia menilai dan segi seni, bukan materi. “Kalau saya main film cuma karena materi, wah  enggak mungkin seperti ini hidup saya. Apa yang diharapkan dan dunia film. ltulah sebabnya saya tidak pernah minta peran. Tapi diberi peran oleh sutradara. Peran-peran yang sangat terkesan buat pelukis ini adalah film’ “Kuburan Angker”, “Gadis Diatas Roda”, “Bisikan Setan”, “Sentuhan Rumput Bergoyang”, dan masih banyak lagi.

Pria kelahiran  Jakarta 17 Januari 1942 ini memulai karir sebagai pelukis sejak kecil.  “Saya pernah diajari melukis oleh pelukis terkenal Siaw Tek Kwi alias Otoswatika. Beliau adalah pelukis cerita dan  komik jin Kwi, orangnya sangat baik dan terkenal sekali saat itu.  ‘ Kemudian saya mulai ikut pameran lukisan tahun 1982 yang diresmikan oleh Gubernur DKI Tjokropranolo”. “Semuanya karena Tuhan itu baik. Kalau bukan karena Tuhan,  saya tidak ada apa-apanya. Pak Supit pernah nasehati saya, ‘ Ed, kalau kita beserta dengan Tuhan, tanah itu bisa berubah jadi emas. Lukisan kita walaupun tidak terlalu bagus, bisa laku. Biar lukisan bagus kayak apapun,jika tidak disertai Tuhan, maka tidak bisa laku. Hal itulah yang saya terapkan sampai sekarang,” tutur Eddy yang hidupnya saat ini senantiasa mengandalkan Tuhan Yesus.

Meski usianya sudah tidak muda lagi, tetapi Eddy masih semangat dalam melukis dan berkarya. “Sebelum saya melakukan aktivitas, selalu saya awali dengan doa. Karena saya yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus pasti menolong dan memberkati setiap umatNya,” papar Eddy yang menganut aliran Naturalis dalam lukisannya.  GT

 

MARGIANTO TERPILIH MENJADI KETUM PERWAMKI PERIODE 2019 S/D 2022

Bogor,Victoriousnews.com,-Setelah menggelar acara Pembukaan Musyawarah Nasional Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (Munas Perwamki) VI di  Function Hall Lantai 3 Mall Artha Gading (Jumat, 22/3), kemudian melanjutkan acara persidangan di Villa Pondok REM, Gunung Salak Bogor. Agenda utama dalam persidangan Munas tersebut, selain merancang program 3 tahunan, menyempurnakan AD/ART adalah memilih pengurus (Ketua Umum & Sekum) yang baru.

Dua periode terakhir dipimpin oleh Yusak Tanasyah telah membawa PERWAMKI ke dalam pembenahan dan pembentukan organisasi yang lebih mementingkan persekutuan. Dalam pemilihan ketua PERWAMKI pada hari Sabtu tanggal 23 Maret 2019 muncul beberapa nama seperti Boy Siahaan, Paul Mako Guru. Salah satu pendiri PERWAMKI Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU) menyebut Margianto (mantan Sekretaris Umum PERWAMKI 2005-2008 dan kini Ketua Panitia Munas VI 2019) cocok menjadi ketua umum. “Anto, nama panggilannya adalah salah satu pendiri di PERWAMKI. Dia seorang yang mau bekerja keras, ” kata Novisurtinoyo Pemimpin Redaksi tabloid Mitra Indonesia, dan perihal Margianto yang merupakan Redaktur Pelaksana di tabloid Victorious itu.

Ibadah pembukaan sebelum dimulai MUNAS dipimpin oleh pembawa firman yaitu Suratinoyo. Dalam pewartaannya pemilik tablob Mitra Indonesia menekankan akan PERWAMKI akan menjadi kepala dan semakin maju dan akan diberkati Tuhan. Ajakan ini disambut sukacita oleh para peserta MUNAS yang berasal dari berbagai media dan daerah.

Pemilihan yang berdasarkan paket ketua dan sekretaris merupakan satu kesatuan. Beberapa nama muncul untuk menjadi sekretaris seperti Boy Siahan, Agus Panjaitan, Paul Maku Goru. Akhirnya setelah dua kali putaran suara pemilih jatuh kepada Agus Panjaitan. Agus, panggilan akrabnya dari Majalah Spektrum yang adalah Sekretaris Panitia Munas VI. Banyak rekan-rekan sejawat positif melihat pasangan ini dan berharap pasangan ketua dan seketaris yang baru dapat membawa kemajuan bagi perkumpulan. “Kita berdoa agar PERWAMKI semakin mantap, dan terus diberkati-Nya, dan selalu solid,” seru Jonro Munthe yang merupakan alumni IISIP Jakarta .

Dalam ibadah penutupan munas PERWAMKI yang dibawakan oleh Yesaya Suharsono memberikan dorongan dan landasan Alkitab untuk pengurus baru bekerja. Ketua komisi Pelmas di PGLII mengatakan bahwa “kita harus memberikan kabar baik bukan mencari kabar baik” Lebih lanjut Pdt. Yesaya mengatkan bahwa “kepercayaan yang Tuhan sudah berikan pakailah dengan benar jangan dengan otoriter dan layanilah perkumpulan dengan sepenuh hati.” GT

“Aku Akan Meninggalkannya”

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Mat 6:33

Jarang ada orang yang tidak memahami apa yang dianggap penting dalam hidupnya. Jika seseoang menganggap uang itu penting, maka ia sungguh-sungguh bekerja atau mencari nafkah. Begitu juga dengan pendidikan; jodoh; kesehatan dan lain-lain. Bagaimana dengan kerajaan Sorga? Apakah kita sudah menganggapnya penting? Bila kita anggap hal itu penting,  pasti kita bersungguh-sungguh mencarinya, dan memang Tuhan menghendaki kita bersungguh-sungguh mencariNya, (Mat 6:33).

Ternyata ada kesadaran kekal atau kehidupan dibalik kubur kita. Orang mau menerima atau tidak, kita akan tertumbuk kepada kenyataan bahwa pada akhirnya yang paling kita butuhkan adalah Tuhan. Seperti sebuah ilustrasi, suatu hari ada orang Arab yang tersesat di padang gurun. Ia menemukan kantong tempat menyimpan buah-buahan. Ia berpikir akan selamat karena telah menemukan buah atau air dalam kantong tersebut, tetapi ternyata isinya mutiara.

Dari ilustrasi tersebut, mutiara menjadi tidak berarti baginya, karena yang ia butuhkan adalah air. Dalam suratnya, Paulus kepada Timotius berpesan untuk menasehati orang kaya, agar tidak berharap kepada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan (1 Tim 6:17). Menyadari hal ini, kita seharusnya melepaskan diri dari segala milik seperti yang Tuhan ajarkan, (Lukas 14:33). Maksudnya adalah tidak terikat dengan dunia ini, sehingga kita tidak siap memasuki kehidupan abadi.

Ikatan dunia ini menyesatkan dan membinasakan seperti yang dialami orang kaya dalam Injil, (Markus 10:21-27). Inilah yang dimaksud dalam surat Ibrani (Ibr 12:1), yaitu “menanggalkan beban dan dosa”. Memang hal ini tidak mudah bahkan mustahil, tetapi sesuai dengan FirmanNya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, (Lukas 1:37) dan tidak ada yang mustahil bagi orang percaya, (Markus 9:23). Jika kita mau belajar, Tuhan pasti akan mengajarkannya kepada kita. Kita harus belajar dari seorang pengusaha industri kertas.

Ketika ia mendirikan pabriknya yang besar dan siap diresmikan, ia menyuruh karyawannya untuk menulis sebuah tulisan di pintu gerbang perusahaan tersebut “Aku akan meninggalkannya”, (Relinguenuda).Setelah berhasil, otaknya cemerlang, teman-teman mengakuinya, orang banyak memujinya, dan ia sangat terhormat, tetapi ia insaf dan sadar bahwa ia akan meninggalkannya. Semua yang hidup seperti rumput dan kemuliaannya seperti bunga rumput, (1 Pet 1:24-25). Hidup itu seperti uap, sebentar kelihatan dan sesudah itu lenyap, (Yakobus 4:14). Jadi jika hari ini kita mencari Tuhan, jangan karena kita sakit; masalah ekonomi; jodoh; atau lain sebagainya, tetapi persiapan untuk hari esok. Tuhan Yesus Memberkati