Opini

“Radikalisme Menjelang Pemilu”

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaruan dengan cara drastis hingga ke titik paling akar. Dalam mencapai tujuannya melibatkan banyak cara hingga yang paling ekstrim, kekerasan baik simbolik maupun fisik. Secara sosiologis ada gejala dari pohon radikalisme, yaitu merespons terhadap kondisi sosial politik maupun ekonomi dalam bentuk pemalakan dan perlawanan. Pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan kearah tatanan lain dengan cara berpikir yang berafiliasi kepada nilai-nilai tertentu melalui agama maupun ideologi lainnya.

Menanamkan kebenaran ideologi untuk mendorong masa atas nama rakyat yang diekspresikan secara emosional agresif. Ketika era demokrasi memberikan kebebasan siapa pun untuk mengekspresikan pemikirannya, maka gejala-gejala yang dimainkan penggerak pohon radikalisme terus mendapat panggung selebrasi.

Ada jebakan radikalisme, ketika pemerintah ingin menahan dan menyadang pohon radikalisme yang lain tumbuh di berbagai lembaga pendidikan, dan kelompok masyarakat. Apapun yang diserukan pemerintah akan terbentuk ketentuan lain yang hubungannya dengan aspek HAM. Ketika orang dan kelompok sudah nuang eksperimentasi untuk menggerakkan ideologinya, pada titik itu paham radikalisme mulai dimainkan oleh para aktor.

Dalam paham radikalisme yang diinstrumentasikan dalam berbagai bentuk dan maksud oleh kelompok-kelompok “revivalis” (kembali pada keimanan aslinya), dilandasi oleh beberapa persepsi dan alasan, seperti ketidakadilan yang dialami oleh rakyat. Korupsi yang menggurita, krisis ekonomi politik dan kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Dengan melibatkan berbagai aktor, baik dikalangan politisi, agamawan, pengusaha dan tubuh masyarakat lainnya, paham radikalisme, makin meluas sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Berbagai adiguna agama diserukan dalam altar pergerakannya untuk memicu emosi publik, terutama sekelompok orang yang berafiliasi dengan pergerakan ini.

Meskipun dalam pengamatan sementara, gerak radikalisme yang diekspresikan oleh kelompok revivalis ini tidak berhubungan dengan prilaku terorisme, bahkan mungkin juga tidak ada niatan dalam benak mereka untuk memperluas pohon radikalisme menjadi aksi terorisme. Tetapi sesungguhnya pohon radikalisme yang selalu digerakkan dalam berbagai momentum, juga terselip agenda politik kekuasaan tertentu.

Tidak menutup kemungkinan ada kelompok ekstrim yang keberadaannya masih kecil, tetapi suaranya sangat berisik, (noisy minority) untuk menjadikan gerakan radikalisme sebagai jebakan untuk membuat kegaduhan yang bisa memulai konflik horizontal. Mengantisipasi pohon radikalisme secara intensif melalui momentum Pilpres, dan tidak mustahil pula pohon radikalisme akan dijadikan sebagai mekanisme sosial untuk menggerakan langkah prevensi “in optima farma” (serigala bagi manusia lain) yang dituangkan dalam regulasi dan peraturan yang tegas agar bangunan demokrasi kita tidak dicemari oleh pihak-pihak tertentu.

Oleh sebab itu, yang perlu direfleksikan secara jernih oleh kita, untuk mempertahankan NKRI yang sudah dibaluti oleh Pancasila dan UUD 1945

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *