Pandangan Iman Kristen Terhadap Imlek

Pdt. Dr. Berthy L Momor, M.Th

Banyak orang memanfaatkan momen untuk berkumpul bersama dan sebagai orang Kristen turut menyambut Imlek sukacita dan ada lagi yang memilih tidak merayakannya. Bagi kelompok lain merayakan perayaan Imlek dianggap kafir dan bertentangan dengan firman Tuhan.

Harus diakui bahwa asal usul perayaan Imlek dari kisah mitologis yang kurang tepat secara perspektif Kristiani. Tradisi pengusiran roh jahat melalui lampu lampion; petasan berwarna-warni jelas bertentangan dengan Alkitab. Motivasi pemberian angpao juga tidak selaras dengan prinsip memberi menurut iman Kristen. Apakah orang Kristen menolak hari raya Imlek? Sama sekali tidak. Kita perlu menyadari bahwa orang-orang Kristen dipanggil untuk mentransformasikan budaya (Kejadian 1:26-27; Yohanes 17:15-19);  tidak ada budaya yang bebas dari distorsi dosa dan tiap budaya memiliki elemen tertentu yang rusak oleh dosa.

Tugas orang Kristen bukan menghapus atau meniadakan elemen-elemen budaya melainkan mengubah elemen-elemen yang berdosa dengan kebenaran firman Allah. Kita terpanggil untuk menunjukkan keunggulan nilai-nilai Kristiani dengan memasukkan dalam praktek budaya tertentu dan memberi landasan filosofi Kristiani pada masing-masing elemen budaya. Di samping itu orang-orang Kristen terpanggil untuk menjadi saksi Kristus di dunia.

Makan bersama keluarga dan membagi-bagikan angpao, dua praktek ini pada dirinya sendiri tidak keliru. Kita harus menyediakan waktu untuk kumpul bersama keluarga dan berbagi kasih. Tanpa perayaan Imlek pun kita harus mengupayakannya, apalagi momen yang baik saat Imlek. Orang Kristen bisa memanfaatkan dan memodifikasi dua praktek ini supaya lebih Kristiani. Prinsip tentang berbagi kepada orang lain (pembagian angpao) perlu diwarnai dengan prinsip kasih kristiani. Kita mengasihi karena Allah lebih dulu mengasih kita (1 Yoh 4: 19).

Momen berkumpul bersama bisa diisi dengan persekutuan rohani yang menguatkan hal-hal yang bersifat netral; seperti pohon angpao; lampion serta atraksi lain, tidak mempunyai mitos-mitos di baliknya. Yang menjadi batu sandungan bagi sesama orang kristen sebaiknya dihindari, misalnya; gambar naga walaupun pada dirinya sendiri itu hanyalah sebuah seni lukis. Kita juga memikirkan situasi sebaliknya apabila kita memilih untuk tidak merayakan Imlek. Jika berada di lingkungan keluarga besar yang masih merayakan Imlek dan kita tidak mau berkumpul bersama mereka, hal itu akan menjadi syok atau keadaan juga tidak baik bagi mereka. Sikap apatis dan ofensif mereka terhadap kekristenan akan lebih mengkristal jika ada pilihan yang lebih bijaksana. Bila kita merayakannya, tetapi dengan konsep yang Kristiani dan memanfaatkannya sebagai kesaksian memberitakan iman kita. ***

READ  Niko Siap Jadi “Ahok”nya Jakarta, Berani Tampil Beda Menyatakan Kebenaran!