Menteri Kesehatan RI, Dr. Terawan: Kekuatan Doa Bisa Tangkal Virus Corona

Menteri Kesehatan RI, Dr. Terawan: Kekuatan Doa Bisa Tangkal Virus Corona

Jakarta,-Victoriousnews.com,-Menyikapi dampak dari virus Corona yang telah menewaskan ribuan jiwa dan telah mewabah ke berbagai negara, maka pemerintah terus bekerja keras dan selalu berdoa dalam mencegah masuknya virus corona ke Indonesia. Demikian dikatakan Menteri Kesehatan RI, Dr.Terawan Agus Putranto saat menanggapi pertanyaan wartawan, apakah belum ditemukannya virus corona yang menginfeksi masyarakat Indonesia.

Terawan lalu menjawab, pemerintah senantiasa bekerja keras dan berdoa serta mengandalkan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mencegah masnya virus tersebut. “Kita ini negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, apapun agamanya selama kita berpegang teguh pada Pancasila, doa itu menjadi hal yang harus utama. Maka namanya ora et labora (berdoa dan berusaha),” ujar Terawan di Gedung Kantor Staf Presiden, Jakarta, Senin (17/2/2020). “Saya kira itu tetap ada bekerja sambil berdoa. Dan itu sebuah hal yang sangat mulia. Negara lain boleh protes biarin aja. Ini hak negara kita bahwa kita mengandalkan Yang Maha kuasa,” lanjut dia.

Selain itu, kata Terawan, diperlukan langkah rasional untuk terus mengawasi penyebaran virus berbahaya tersebut. Ia mengatakan, pemerintah terus menjaga 135 pintu masuk arus penumpang yang berasal dari sejumlah negara yang terdapat kasus virus corona. “Itu yang ingin saya tajamkan. Satu, efisiensi harus dilakukan berdasarkan rasional ilmu kesehatan pada standar WHO. Yang kedua, ya berdoa. Kalau tidak berdoa, jangan coba-coba andalkan kekuatan sendiri,” lanjut mantan Kepala RSPAD Gatot Subroto. SM/kompas

 

Ibadah Tahun Baru dan Rapat BPH Punguan Ompu Parsanti Ulubalang Munthe, Boru, Bere dan Ibebere Se-Jabodetabek

Para pengurus BPH Punguan Parsanti Ulubalang Munthe Se-Jabodetabek.

Jakarta, Victoriousnews.com,-Pada Sabtu siang, 8 Februari 2020 kemarin, BPH (Badan Pengurus Harian) Keluarga Besar Punguan Ompu Parsanti Ulubalang Munthe, Boru, Bere dan Ibebere Se-Jabodetabek, yang asal Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, menggelar acara kebaktian tahun baru dan rapat di Aula Rumah Makan Rapolo, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Kali ini menghadirkan Pdt. R.T. Munthe, M.Th, pendeta senior di Sinode HKBP dan mantan Kepala Biro Informasi HKBP untuk menyampaikan khotbah. Khotbahnya mengenai kasih antarsesama, seperti Kristus yang mengasihi umatNya.

Pemred Narwastu,Jonro Munthe, S.Sos (Batik Merah) berpose bersama dengan pengurus

Setelah kebaktian dirangkai dengan makan siang bersama dan rapat yang dipimpin Ketua Umum Punguan Parsanti Ulubalang Munthe Se-Jabodetabek, Pandapotan Munthe/Boru Purba dan sekretaris umum Luther Munthe/Boru Pangaribuan.
Acara ini, kata ketua umum organisasi paguyuban Batak Toba ini, merupakan acara doa bersama, pemantapan organisasi dan penyusunan program kerja punguan (organisasi marga) agar semakin baik ke depan. “Kita berharap dan berdoa supaya Punguan Parsanti Ulubalang ini terus diberkati Tuhan, dan keluarga kita yang di perantauan dan Bona Pasogit (Sumatera Utara) senantiasa diberi Tuhan Yesus kesehatan, sukacita dan berkat di Tahun Baru 2020 ini,” ujar Pandapotan Munthe, yang juga pengurus Forum Komunikasi Parna Se-Indonesia. SM

Sosok Sang Mama Di Mata Anak-Anak Pdt.Pengky Andu: Teladan Mama Yang Patut Dicontoh Adalah Ketegasan Mendidik Anak-anaknya Agar Tidak Terlambat Ibadah & Pelayanan!

Pdt. Pengky Andu bersama ketiga anaknya, saat penghormatan terakhir di hadapan jenasah sang istri (Almh. Ibu Endang). Ki-ka: Vicky Daud Natanael (Putra ketiga), Lucky Ratna Yuanita (Putri Pertama) & Dessy Ratna Natalia (Putri kedua)

Surabaya,-Victoriousnews.com,– Alkitab dengan gamblang menuliskan, bahwa, “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya…” (Amsal 13:22a). Tentu saja warisan yang dimaksud disini bukanlah sekedar tentang harta benda saja, melainkan warisan iman orang tua kepada anak-anaknya sebagai generasi penerus.

Baca Juga : Setelah 52 Tahun Pernikahan, Pdt. Pengky Andu: ‘Kembang Desa’ Itu Telah Pergi, Hidupku Terasa Kosong & Janji Tidak Menikah Lagi!

Sebagai orangtua Kristiani, tentu mendoakan serta mendidik anak-anaknya ketika dewasa kelak menjadi pewaris kerajaan Sorga, sukses, bahagia dan diberkati dalam segala hal. Hal itulah yang dirasakan oleh Dessy Ratna Natalia (Putri kedua) dari pasangan Pdt. Pengky Andu & Almh. Ibu Endang Satini ketika dihubungi melalui jejaring media sosial Whatsapp (Sabtu,8/2) siang.

Cinta Seorang Suami kepada Istri. Pdt. Pengky Andu tiba di RS. Senin siang 20/1. Mendoakan sang istri yang dalam keaadan koma, detik-detik sebelum dipanggil Tuhan.

Sebagai seorang anak, Dessy memiliki hubungan batin dan banyak kenangan indah yang sulit untuk dilupakan dan membekas dalam hati bersama sang Mama yang telah dipanggil Tuhan pada 20 Januari 2020 lalu. Salah satu didikan yang baik dan patut diteladani, menurut Dessy, adalah ketegasan sang Mama yang selalu to the point dalam berbicara, selalu on time dalam segala hal dan tidak boleh terlambat dalam ibadah serta pelayanan. “Kalo buat saya pribadi sih Mama itu orang yang ‘keras’ dalam arti positif. Yang selalu to the point kalo ngomong, meskipun kadang nggak enak di telinga. Yang selalu on-time dalam segala hal, terutama dalam hal ibadah & pelayanan, nggak boleh terlambat,” tukas Dessy.

Senada dengan Dessy,  Putri pertama Pdt. Pengky Andu (Lucky Ratna Yuanita) juga merasakan banyak teladan baik yang patut diteruskan oleh anak-anaknya. “Dimata saya, mama wanita yang hebat. Sosok yang kuat dan sangat tegar dalam menghadapi segala keadaan. Bagi saya, bisa tumbuh menjadi wanita yang kuat dalam segala proses kehidupan saya pribadi. Ini karena mama. Saya banyak belajar dari mama,” tutur Lucky. SM

Ps. Paulus T Supit (Gembala Sidang GBI REM): Saatnya Kita Alami Perubahan & Menjadi Penjala Manusia!

Saudara yang dikasihi Tuhan. Belakangan ini penyakit yang disebabkan oleh virus Corona di kota Wuhan, China telah menyebar ke berbagai negara. Bahkan kabarnya, akibat virus itu telah menewaskan ratusan orang.

Saudara, mungkin ketika mendengar dan membaca berita virus Corona, pasti membuat kita takut dan kuatir. Percayalah bahwa setiap persoalan apapun itu, Tuhan pasti menolong dan meluputkan kita dari segala macam sakit penyakit, bencana dan lain sebagainya. Oleh karenanya melalui renungan pada saat ini Tuhan mau mengingatkan saja (just remind) kepada setiap anak-anakNya agar kita harus peduli dan menjadi penjala-penjala manusia.

Saudara, ada 2 hal penting yang Tuhan ingatkan dalam kehidupan kita, yaitu:

  1. Manusia harus mengalami perubahan.
  2. Tuhan Yesus Tidak pernah berubah (Yak 1:17 ; Maleakhi 3: 6).

Manusia harus mengalami perubahan itu bukan berarti yang semula jahat kemudian menjadi baik atau sebaliknya.Namun yang Tuhan mau adalah kita harus menjadi penjala manusia! Mengabarkan Injil kepada setiap orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Umur manusia itu ibarat es batu. Dipakai atau tidak dipakai es itu akan terus mencair. Begitu pula umur kita. Digunakan atau tidak, akan terus berkurang. Ingat! Air yang mengalir itu tidak akan pernah berbalik arah. Begitu pula dengan umur kita tidak akan berkurang.

Saudara, dalam kitab Efesus 2:12-14, digambarkan bahwa pada zaman dulu hanya umat Israel saja yang bisa melayani Tuhan. Tetapi sekarang, lewat anugerahNya, segenap umat Tuhan diberikan kesempatan untuk mengabarkan sukacita Injil kepada semua orang.

Ingat bahwa perbuatan saudara akan menghasilkan upah yang besar. Perubahan yang harus saudara lakukan adalah dapat mengubah pribadi seseorang. Seringkali kita berpikir kalau melakukan Amanat Agung pasti makin sibuk. Don’t worry! jangan pernah hitung-hitungan dengan Tuhan.

Saudara, percayalah bahwa Tuhan tidak pernah berubah. Dalam kitab Ibrani 13:8, dikatakan bahwa, ‘ Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya’. Sekalipun penyakit sampar dan menular menyerang kepada kita, jangan pernah takut. Jika kemarin Tuhan menolong saudara, maka hari ini dan esok, Tuhan yang sama juga pasti menolong kita. Yang penting saudara tetap fokus mencari kerajaanNya dan kebenaranNya (Matius 6:33) serta menjadi pelaku firman, maka Tuhan pasti menggenapi dalam kehidupan kita. Tahun 2020 adalah waktunya kita berubah untuk Tuhan. Dan waktunya kita melihat keajaiban yang Tuhan nyatakan untuk kita. Mulai saat ini, marilah kita menjadi penjala-penjala manusia dan ingatlah Visi GBI REM Tahun 2020, satu jemaat membawa tiga orang!. Tuhan Yesus Memberkati.

Jonro I. Munthe, S.Sos Mengapresiasi Tokoh-tokoh Kristiani Melalui Majalah NARWASTU

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

Lelaki Batak kelahiran Dolok Sanggul, Sumatera Utara, 6 April 1973 ini bukan sosok yang asing lagi di kalangan aktivis Kristiani dan jurnalis Kristen. Jonro I. Munthe, S.Sos, dikenal Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Majalah Kristiani NARWASTU, dan salah satu pendiri Perhimpunan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI).
Selama ini ia dikenal sosok jurnalis Kristiani yang aktif, dinamis, cerdas, dan berprestasi. Tak hanya jurnalis, ia kerap diundang sebagai moderator dan pembicara di berbagai diskusi dan seminar. Dia pun tak hanya diundang oleh gereja atau ormas Kristiani untuk memberikan pemikiran-pemikiran seputar ilmu jurnalistik, tetapi juga soal keadaan sosial gereja, kemasyarakatan dan politik. Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta yang pernah dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrasi Kasih Bangsa (PDKB) ini sejak mahasiswa pun kerap diminta tampil di acara debat mahasiswa dan diskusi.

Seperti dikutip harian nasional “Suara Pembaruan” Edisi Sabtu-Minggu 8-9 Februari 2014 yang memuat profil Jonro I. Munthe di rubrik “Faith & Life”, mantan Ketua Litbang DPP PROJUSTISIA (Persekutuan Oikoumene Jurnalis Kristiani Indonesia) ini tak jarang tampil sebagai narasumber di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,30 FM untuk topik-topik seputar gereja, sosial, dan politik. Ketua Presidium FORKOMA PMKRI dan Wakil Ketua Badan Hukum DPP Partai NASDEM, Hermawi Taslim, S.H. pernah mengatakan, tak bisa dipungkiri Jonro Munthe adalah salah satu tokoh muda Kristiani yang patut diperhitungkan, karena kiprahnya di media. Dan, ujarnya, Jonro pun bisa membuat Majalah NARWASTU ibarat “rumah bersama” untuk berkumpul bagi tokoh-tokoh Kristiani, baik dari Katolik maupun Kristen Protestan. Dan, katanya lagi, Jonro pula yang pertama kali menggagas pemberian award (penghargaan) setiap akhir tahun terhadap tokoh-tokoh Kristiani yang berkarya di tengah gereja, masyarakat, dan bangsa.
Pemberian award itu sudah ia lakukan di majalah yang dipimpinnya sejak 1999 lalu. Setiap NARWASTU menggelar acara ibadah Natal dan tahun baru, jangan heran kalau banyak tokoh dari berbagai latar belakang atau politisi Kristen hadir. Soalnya, majalah yang dipimpinnya memang cukup populer di kalangan warga gereja.

Jonro I. Munthe, S.Sos saat diwawancarai sejumlah wartawan di sebuah acara Majalah NARWASTU

Tak heran, kalau dia diidentikkan sebagai ikon media Kristiani, khususnya NARWASTU. Selain itu, majalah ini kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh Kristiani. Diskusi itu dulu digelar Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI), yang di dalamnya ada Penasihat Majalah NARWASTU berlatar belakang pemimpin gereja, politisi, pengacara, pengusaha, mantan anggota DPR dan jenderal purnawirawan.

Jonro menuturkan, melalui diskusi FDDI yang mereka adakan ia berharap para tokoh muda punya semangat untuk memikirkan persoalan masyarakat dan kebangsan. ”Melalui diskusi FDDI kami ingin mengajak sahabat-sahabat kaum muda peduli pada persoalan gereja, masyarakat, dan bangsa ini. FDDI terbentuk pada awal 2010 lalu,’’ terangnya.
Tokoh seperti Jakob Tobing, Sabam Sirait, Pdt. A.A. Yewangoe, Pdt. DR. Nus Reimas, Dr. J. Kristiadi, Dr. Tjipta Lesmana, Maruarar Sirait, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok), Martin Hutabarat, Gregorius Seto Harianto, Jakobus Mayong Padang, Hermawi Taslim, S.H., Prof. Irzan Tanjung (alm.), dan Jhonny Nelson Simanjuntak sudah pernah diundang berbicara di FDDI.
“Kita undang tokoh-tokoh senior yang kita anggap bisa memberi bekal dan bisa memberikan motivasi kepada kami kaum muda lewat sebuah diskusi interaktif,” papar Jonro yang masih berkeinginan menambah bekal ilmu, yakni ingin kuliah ilmu hukum dan memperdalam pengetahuan bahasa Inggris. Lantaran dikenal ”jurnalis plus” pada akhir 2009 lalu, Jonro mendapat predikat atau award dari Majelis Pers Indonesia (MPI) sebagai “Jurnalis Muda Motivator” yang diterimanya di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Ayah tiga anak ini sejak mahasiswa memang sudah aktif dalam dunia jurnalistik.
Di samping itu, saat mahasiswa, suami dari Faridawati Rajagukguk ini giat melatih olah raga bela diri di kampusnya. Sejumlah prestasi diraihnya, ia pernah mengikuti kejuaraan silat antarmahasiswa se-ASEAN, dan pada Oktober 1993 lalu berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Silat Antar-Master se-Jabodetabek. Dia pun pernah meraih Juara II dalam sanyembara penulisan artikel Kristiani pada 1997 yang diadakan Majalah “Kabar Baik.”
Semasa mahasiswa Jonro yang beribadah di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, pernah menjadi kolumnis di Majalah Bona Ni Pinasa, media orang Sumut terbesar yang terbit di Jakarta. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media nasional, termasuk tabloid Mutiara, yang kini tak terbit lagi.
Lantaran tulisannya yang dimuat di Mutiara pernah mengkritik penguasa Orde Baru kala itu yang memihak pada PDI Soerjadi pada Juli 1996 lalu, ia pun dipanggil petinggi kampusnya agar jangan ”melawan arus.’’ Karena saat itu kekuasaan Orde Baru sangat represif. “Sebagai jurnalis Kristen kita harus terus menyuarakan kabar baik. Kabar baik adalah suara kenabian, keadilan, kerukunan, kebenaran, dan kesejahteraan,” ujar pria yang sudah menulis tiga buku ini.
Bagi Jonro, hidup ini harus bermakna bagi sesama. Dia berprinsip, meskipun kita sibuk berkarier, tetapi persoalan kemasyarakatan, gereja, dan bangsa perlu dibahas dan dicari solusinya. “Sekecil apapun peran yang kita lakukan, itu perlu untuk kebaikan sesama. Hidup ini, kata Yesus, harus bermakna. Melalui media Kristiani pun kita punya peran yang tidak kecil untuk membangun masyarakat dan bangsa ini,” ujar Sekretaris Umum Keluarga Besar Perhimpunan Ompu Solonggahon Munthe, Boru dan Bere se-Jabodetabek ini.
Jonro menerangkan, sejak tamat SMP pada 1998 ia sudah hobi menulis. Lalu pada 1992 saat mulai kuliah tulisan-tulisannya mulai dimuat di beberapa media, dan honorariumnya bisa membantu uang kuliahnya. Pada 1994 ia ditawari Pak Tom Gultom (almarhum), pimpinan Majalah Bona Ni Pinasa untuk bergabung, tetapi ia memilih berkerja part time, karena ia masih kuliah. Pada 1996 ia magang di tabloid Mutiara yang dipimpin Pak Moxa Nadeak (almarhum), tokoh pers yang cukup vokal. ”Saya banyak belajar dari Pak Moxa selama magang,” ujar alumni Lembaga Pendidikan Pers Doktor Soetomo (LPPDS) Jakarta ini.
Pada 1997 lalu saat masih mahasiswa ia sudah bergabung di Majalah NARWASTU, karena diajak Dr. Victor Silaen (almarhum), dan dulu dosen dan pakar politik di Universitas Pelita Harapan, yang saat itu pemimpin redaksinya. Namun, karena ada dinamika sampai dua kali, karena persoalan manajemen, maka kepemimpinan di media ini berubah, tapi tetap NARWASTU punya ciri khas sendiri sebagai media Kristiani alternatif.
Nama NARWASTU sendiri diambil dari minyak yang harum, mahal harganya dan pernah digunakan seorang perempuan bernama Maria meminyaki kaki Yesus, lalu menyekahnya dengan rambutnya (Yohanes 12:3). Nama itu kemudian menjadi simbol pengorbanan dan kesungguhan dalam pertobatan, sehingga menjadi harum seperti minyak Narwastu yang terkenal itu.
Majalah NARWASTU sendiri tidak hanya bicara tentang doa, khotbah pendeta atau doktrin-doktrin Alkitab. “Tapi, kami pun membahas fenomena yang ada di masyarakat dan bangsa itu dari sudut atau nilai-nilai Kristiani, baik itu masalah politik, sosial, hukum, budaya, pluralisme, kebangsaan, pendidikan, teknologi maupun lingkungan hidup,” cetus Jonro.
“Saya masih harus banyak belajar untuk memimpin media cetak seperti Majalah NARWASTU. Terus terang, saya kagum dengan perjuangan Goenawan Muhammad yang mendirikan Tempo, Surya Paloh yang bisa membesarkan koran Media Indonesia dan Metro TV, Jacob Utama yang membesarkan Kompas dan beberapa tokoh pers dari Suara Pembaruan yang sebelumnya terbit dengan nama Sinar Harapan. Mereka bisa jadi sumber inspirasi untuk membangun media,” tukas Jonro yang pernah diundang Kantor Kementerian Polhukam pada tahun 2011 berbicara di dalam sebuah diskusi terbatas mengenai eksistensi media Kristen di dalam perannya untuk ikut serta membangun gereja, masyarakat, dan bangsa.
Bahkan, Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI, Brigjen TNI Harsanto Adi bersama Kepala Bidang Humas Kementerian Polhukam dan Kepala Bidang Media Cetak Kementerian Polhukam RI pada awal 2013 lalu mendatangi kantor NARWASTU guna mengajak majalah yang dipimpinnya bekerja sama untuk mengadakan sebuah acara diskusi bersama media-media berbasis agama. Dan hingga kini Jonro tak berhenti menggelar diskusi yang mempertemukan tokoh-tokoh Kristiani dari semua denominasi.
Dia punya obsesi untuk menyebarkan keharuman para tokoh Kristiani lewat NARWASTU. Sebab, ada banyak tokoh Kristiani yang telah mengabdikan dan bekerja dengan sangat baik bagi masyarakat, gereja, dan bangsa, tetapi luput dari perhatian media masa umum. Lewat penghargaan-penghargaan terhadap para tokoh yang melalui seleksi ketat dan objektif itu, diharapkan dapat memotivasi tokoh bersangkutan untuk terus berkarya dan sekaligus menginspirasikan masyarakat lainnya untuk berperan serta dalam membangun gereja dan bangsa. Dan sejak awal April 2016 lalu, tokoh-tokoh Kristiani pilihan NARWASTU pun sudah punya wadah bernama Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU). FORKOM NARWASTU ini dipimpin Prof. Dr. Marten Napang, S.H. (Pakar hukum dan advokat senior) dan Sterra Pietersz, S.H., M.H. (Mantan anggota DPR-RI PDIP dan mantan Sekjen DPP PIKI).

FORKOM NARWASTU ini sekali tiga bulan bertemu untuk beribadah bersama dan berdiskusi tentang persoalan-persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Hasil diskusi ini disebarluaskan ke media massa, media sosial dan dikirimkan ke tokoh-tokoh nasionalis agar dibaca. “Jadi tokoh-tokoh Kristiani yang bergabung di FORKOM NARWASTU itu ikut memikirkan persoalan bangsa ini, dengan memberi pemikiran atau solusi, selain ikut berdoa untuk negeri ini. Dan sejak berdiri FORKOM NARWASTU sudah pernah mendiskusikan bahaya narkoba, terorisme, korupsi, fenomena pilkada dan persoalan yang hangat di negeri ini,” pungkas Jonro Munthe yang merupakan perekat di FORKOM NARWASTU. Beberapa waktu lalu, Jonro sudah ditawari sejumlah partai politik (parpol) nasionalis untuk tampil sebagai caleg, namun ia tidak bersedia karena ingin fokus di dunia penerbitan media. MK

Setelah 52 Tahun Pernikahan, Pdt. Pengky Andu: ‘Kembang Desa’ Itu Telah Pergi, Hidupku Terasa Kosong & Janji Tidak Menikah Lagi!

Foto Pdt. Pengky Andu & Almarhumah Istri semasa hidup

Surabaya,Victoriousnews.com,-Kunci sebuah pernikahan yang langgeng atau sukses dalam merajut bahtera rumah tangga itu tidak bisa ditentukan dengan banyaknya materi atau cantik/gantengnya paras pasangan. Setiap pasangan harus memiliki cinta yang kuat dan tulus kepada pasangannya. Sebab jika dasar yang dibangun tidak kuat, maka persoalan silih berganti akan terus menerpa. Perlahan tapi pasti, hubungan rumah tangga akan retak dan tidak bisa bertahan lama.

Foto keluarga Pdt. Pengky Andu dalam pernikahan anaknya

Ketika setiap pasangan mengucapkan janji suci ketika melangsungkan pernikahan kudus di hadapan Tuhan dan jemaatnya, pasti terlontar kalimat sakral yaitu “Hanya maut yang dapat memisahkan”. Janji nikah kudus inilah yang diucapkan oleh pasangan Pdt. Pengky Andu & Ibu Endang Satini yang diberkati dalam pernikahan kudus 52 tahun yang lalu (1968) pun tergenapi. Kabar duka mengejutkan ketika Ibu Endang (75 tahun), sang istri yang setia mendampingi Pdt. Pengky Andu dalam suka maupun duka telah dipanggil Tuhan terlebih dahulu pada tanggal 20 Januari 2020 pukul 16.30 Wib di Surabaya.

Gembala Sidang GBI REM, Pdt. Paulus Supit mendoakan Pdt, Pengky Andu ketika berkunjung ke rumahnya di Surabaya (Jumat,31/1)

Meski tampak tegar dan kuat, namun guratan wajah Pdt. Pengky tampak sangat kehilangan terhadap sosok istri yang telah dikaruniai 3 anak dan 4 cucu. Bahkan sehari sebelum Ibu Endang dipanggil Tuhan, Pdt. Pengky dalam pertemuan pengerja di GBI REM Daan Mogot (Sabtu, 18/1) maupun pelayanan kotbah Minggu (19 Januari) di GBI REM Hotel Ciputra Lantai Dasar Ruang Puri 5-6, Grogol Jakarta Barat sempat menyampaikan kesaksian singkat. “Mohon dukungan doa, karena saya merasakan beban yang sangat berat pada hari ini. Bukan soal uang atau ekonomi. Tetapi karena istri saya sedang dirawat di ruang ICU RS di Surabaya akibat sakit,” ujar Pdt. Pengky tampak menutupi kesedihannya dan melanjutkan kotbahnya di hadapan jemaat.

Ki-ka: Bapak Johan Cramer, Pdt.Pengky Andu, Bapak Yusuf, Ibu Yani, Pdt. Paulus Supit dan Bapak Margianto di depan rumah Pdt, Andu (Jumat 31/1)

     Beberapa menit setelah menyampaikan firman Tuhan dan turun dari mimbar, handphone Pdt. Pengky berdering. Dari ujung telpon itu, suara anaknya mengabarkan bahwa Mama kondisinya semakin memburuk. Sebagai bentuk tanggungjawab seorang ayah dan suami, Pdt. Pengky pun bergegas untuk kembali ke Surabaya. Namun sayangnya, keberangkatan tiket pesawat (Minggu, 19/1) malam itu, Pdt. Pengky terlambat tiba di Bandara Soetta. Sehingga, terpaksa harus pesan tiket Senin (20/1) penerbangan pagi Soekarno Hatta menuju Juanda Surabaya. Setibanya di Surabaya, Pdt. Pengky langsung menuju Rumah Sakit, sempat bertemu dengan istri, anak, menantu dan cucu yang telah berkumpul di sana. “Saya sempat mendoakan istri yang dalam keadaan koma saat itu. Saya katakan kepada istri dengan sedikit berteriak, bahwa saya akan menjaga anak-anak dan berjanji tidak menikah lagi. Kemudian saya katakan, jika mau pergi, pergilah dengan damai. Sekali lagi, saya janji akan tetap bertanggungjawab kepada anak cucu,” papar Pdt. Pengky.

Cinta Seorang Suami kepada Istri. Pdt. Pengky Andu tiba di RS. Senin siang (20/1). Mendoakan sang istri yang dalam keaadan koma, detik-detik sebelum dipanggil Tuhan

Dengan wajah sedih, seluruh keluarga yang telah berkumpul di Ruang ICU rela melepas kepergian Ibu Endang yang dipanggil Tuhan pada hari Senin (20/1) tepat pukul 16.30 Wib dan dimakamkan hari Kamis (23/1). Kehilangan pasangan hidup, entah suami ataupun istri pasti menjadi kenyataan hidup yang sangat berat bagi semua orang. Jika mau berkata jujur, pasti semua orang tidak mau ada perpisahan dengan pasangan yang disebabkan oleh kematian. “Setelah istri dipanggil Tuhan, ternyata tidak bisa dibohongi, bahwa hidup saya terasa kosong. Ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya. Biasanya kalau saya pulang ke Surabaya setelah pelayanan dari Jakarta, istri saya ada di rumah. Kini istri sudah tiada. Rumah terasa sepi. Karena anak-anak saya sudah punya tempat tinggal sendiri,” tutur Pdt. Pengky Andu yang sangat setia melayani di GBI REM hingga saat ini (28 tahun).

Suasana kebersamaaan dengan  Pdt. Pengky Andu selama di Surabaya

Menurut Pdt.Pengky, sejatinya setiap orang yang ditinggalkan pasangannya, pastilah hal-hal baik yang terkenang. “Selama saya menikah 52 tahun, belum pernah ribut besar. Tapi kalau kecil-kecil ya sering, namanya juga rumah tangga. Kan keinginan saya belum tentu sama dengan istri. Apapun kekurangan/kelemahan pasangan saya selama hidup, tetapi ketika sudah meninggal, yang terlihat hanyalah kebaikannya. Dan ternyata memang kalau dipikir, manusia itu tidak ada yang jahat, semuanya baik. Saya dan istri itu banyak sekali persamaannya. Contoh kecilnya, selama berumahtangga, istri tidak pernah periksa isi dompet saya, begitupun sebaliknya. Almh istri juga tidak pernah bertanya uang kita ada berapa atau hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi. Karena dia sangat yakin bahwa Tuhan pasti memenuhi kebutuhan rumahtangga,” ungkap Pdt. Pengky tertawa sembari mengenang sang istri yang dulunya terkenal “kembang desa” karena kecantikannya semasa muda.

TIM Pastoral GBI REM Mengunjungi Pdt. Pengky Andu di Surabaya

Tim Pastoral GBI REM

Kabar duka berpulangnya Ibu Endang ke rumah Bapa di Sorga sangat mengejutkan keluarga besar GBI REM di Jakarta.Mulai dari Gembala Sidang, Pdt. Paulus Supit, pengerja hingga jemaat juga turut merasakan kesedihan yang mendalam. Namun sayangnya, kabar tersebut diterima oleh GBI REM sehari setelah Ibu Endang dimakamkan, yakni Jumat (24/1) malam. Seketika itu, grup Whatsapp keluarga besar GBI REM dipenuhi dengan ucapan duka untuk memberikan penghiburan kepada Pdt. Pengky.

Baca Juga :Sosok Sang Mama Di Mata Anak-Anak Pdt.Pengky Andu: Teladan Mama Yang Patut Dicontoh Adalah Ketegasan Mendidik Anak-anaknya Agar Tidak Terlambat Ibadah & Pelayanan!

Beberapa hari kemudian (30 s/d 31 Januari) sebagai bentuk simpati kepada Pdt. Pengky Andu yang tengah berduka, para hamba Tuhan yang terdiri dari: Ps. Paulus T Supit (Gembala Sidang GBI REM), Ibu Yani (Ibu Gembala), Bapak Johan Cramer, Bapak Yusuf dan Bapak Margianto berkunjung ke kediaman Pdt. Pengky Andu di perumahan Ciputra di kawasan di Trosobo, Sidoarjo-Surabaya. Tim pelayanan GBI REM berangkat naik KA Argo Bromo dari stasiun Gambir Pukul.08.15 wib dan tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya Pukul. 18.30 Wib.Setibanya di sana tim GBI REM dijemput oleh Pdt. Pengky Andu. Suasana kekeluargaan pun sangat terasa, ketika Pdt. Pengky Andu menyambut hangat serta dengan rendah hati berkenan menjadi driver untuk mengantar tim GBI REM menuju hotel tempat menginap. “Mewakili keluarga besar GBI REM, kami menyampaikan turut berduka sedalam-dalamnya kepada Pak Pengky dan keluarga besar. Kami terus berdoa, kiranya Pak Pengky terus diberikan kesehatan, sukacita, dan damai sejahtera. Biarlah Pak Pengky terus bersemangat dan menjadi tetap kuat di dalam Tuhan serta tetap setia melayani Tuhan,” ujar Gembala Sidang GBI REM Pdt. Paulut T Supit menyampaikan kata-kata penghiburan mewakili Tim Pastoral yang berkunjung saat itu.

Pdt. Pengky pun membalas dengan rasa haru karena tim pastoral GBI REM mau mengunjunginya ke Surabaya meskipun informasi dukanya terlambat. “Saya sangat berterimakasih kepada teman-teman yang berkenan mengunjungi saya ke Surabaya. Saya senang sekali dikunjungi dan sangat terhibur, karena teman-teman sangat peduli,” tukas Pdt. Pengky.

Pada hari kedua tepatnya pukul 9.00 Wib, Tim GBI REM yang menginap di hotel Ibis Jemur Sari, Surabaya dijemput oleh Pak Khusnul (driver langganan Pdt. Pengky) untuk diantar ke kediaman Pdt. Pengky Andu di perumahan Ciputra di kawasan Trosobo, Sidoarjo. Setibanya di rumah Pdt. Pengky tampak sumringah menyambut tim dan mempersilakan untuk masuk ke dalam rumah yang saat itu sedang dilakukan renovasi ruangan tengah akibat plafon yang ambrol. “Selamat datang di rumah saya. Inilah rumah yang saya tinggali bersama istri. Banyak sekali kenangan di rumah ini. Mohon maaf jadi kurang nyaman, karena sedang ada renovasi plafon ruang tengah. Beberapa hari setelah nyonya dipanggil Tuhan, plafonnya ambrol, jadi sekarang saya juga nungguin tukang,” papar Pdt. Pengky sembari mengajak tim berkeliling ruangan dan menunjukkan foto keluarga bersama almh istri tercinta.

Di rumah tersebut, tim GBI REM yang dipimpin oleh Pdt. Paulus Supit mendoakan Pdt. Pengky agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, penghiburan serta kesehatan yang luar biasa. Beberapa jam sebelum kembali ke Jakarta, tim diajak berkeliling kota Surabaya dan menikmati kuliner khas Surabaya.SM