Victoriousnews.com- Mene, Mene, Tekel Ufarsin. Apakah itu? Rona Raja Belsyazar menjadi pucat ketika jari-jari tangan manusia tertulis pada plester dinding istana raja di depan kaki dian. Wajah raja tampak dihinggapi rasa takut. Sendi-sendi pangkal pahanya lemas dan lututnya gemetaran. Berserulah raja, “Setiap orang yang dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan kepadaku maknanya akan dikenakan pakaian dari kain ungu, kalung rantai emas, dan kekuasaan sebagai orang ketiga.”

Seluruh 1000 tamu undangan dan semua orang yang menghadap tidak sanggup membaca tulisan di dinding istana raja, termasuk menerjemahkan tulisan yang dimaksud. Raja Belsyazar pun semakin cemas dan mukanya semakin pucat. “Di kerajaan Tuanku ada seorang yang penuh dengan roh ilah-ilah yang kudus. Pada zaman Raja Nebukadnezar (ayahnya) orang itu dikenal memiliki kecerahan, akal budi dan hikmat seperti hikmat ilah-ilah. Orang itu telah diangkat menjadi kepala para ahli ilmu gaib, tukang jampi, para Kasdim, dan para ahli nujum. Karena roh yang luar biasa, pengetahuan, dan akal budi untuk menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi, dan menyelesaikan masalah. Dia adalah Daniel (disebut juga Beltsazar). Dia akan memberitahukan tulisan dan maknanya,” ucap permaisuri.
“Mene, mene, tekel ufarsin. Makna ‘mene’ adalah bahwa masa pemerintahan Tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri. ‘Tekel’ mengungkap makna bahwa Tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. ‘Peres’ bermakna bahwa kerajaan Tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia,” jelas Daniel.
Tulisan di dinding istana raja dalam Bahasa Aram untuk satuan uang. Mene (satu mina), Tekel (satu syikal), dan Peres (setengah mina). Kitab Daniel 5 mencatat tentang hal tersebut dan bercerita seputar keruntuhan Kekaisaran Babilonia Agung yang tergenapi sebelum fajar menyingsing.
Pada malam ketika Raja Belsyazar dibunuh, Darius I dari Persia menjadi raja (Daniel 5:31). Darius menjadi raja ketika berusia 62 tahun.
Sebagian kisah Kitab Daniel 5 tersebut menjadi bahan perenungan firman Tuhan pada Ibadah Raya GBI-REM kedua wilayah Jakarta Barat. Ibadah berlangsung di lantai 2 Hotel Aston Kartika (Grogol, Jakarta Barat) pada pukul 10.00 WIB dan dipimpin Ps Pengky Andu dari Surabaya (Jawa Timur).
Disampaikan, Ps Pengky Andu mempersiapkan tema ‘The Distrupstion’ (Distrupsi) terkait eskalasi politik nasional yang sedang memanas. “Distrupsi adalah sebuah inovasi perubahan besar untuk mengubah tatanan lama secara fundamental,” demikian dijelaskan Google. Pandangan Ps Pengky Andu selaras dengan hal tersebut. “Soal krisis, bukan hanya krisis 2025 atau krisis 1998 yang saya alami, krisis tahun 1965 berdampingan dengan saya. Sungai kecil yang berdekatan dengan tempat tinggal saya penuh darah dan mengapung hal-hal yang tidak biasa,” ucapnya.
“Krisis 1998, ketika itu, lokasi gereja beralamat di Jalan Tubagus Angke (Jakarta Utara). Sopir taksi menurunkan saya sekitar 300-500 meter dari lokasi gereja dan saya menyusuri Jalan Tubagus Angke Raya untuk mencapai tempat tersebut. Sementara, di kanan dan kiri penuh dengan orang-orang yang mempersenjatai diri. Dengan stelan jas dan Alkitab di tangan, saya melangkah penuh keyakinan. Tangan kanan pegang Alkitab. Apakah itu senjata? Saat itu, saya tidak tahu. Tetapi, Tuhan telah menyelamatkan dan meluputkan saya dari bahaya yang mengancam,” urainya.
“Sepenggal krisis 2025 sudah terkuak di publik. Pemicunya adalah pernyataan-pernyataan segelintir pejabat yang mengedepankan kearogansian masing-masing. Mereka pikir sudah hebat dan penuh kuasa. Mereka lupa bahwa penguasa sesungguhnya adalah Raja segala raja. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa kekuasaan raja berhenti sesaat kemudian. Raja ketakutan ketika ada tulisan di dinding istana dan tidak tahu apa sesungguhnya,” jelasnya.
Ekskalasi politik nasional memuncak ketika segelintir pejabat negara mengeluarkan pendapat dan perilaku yang tidak bijak. Pernyataan ‘guru menjadi beban negara’ dan ‘orang paling tolol sedunia’ menunjukkannya ketidakarifan sebagai pejabat publik. Tingkah joget-joget di Gedung Wakil Rakyat sebagai tindakan yang tidak hormat terhadap rakyat yang diwakili. Sehingga kekuasaannya diakhiri sesaat kemudian. Jayalah bangsaku, sejahteralah rakyat! @epa_phm


















