Gereja Makin Marak, Pdt. Mulyadi Sulaeman: Antara Panggilan Pelayanan dan Godaan “Industri”

banner 468x60

Jakarta,Victoriousnews.com– Setelah masa panjang ibadah daring akibat pandemi Covid-19, umat Kristen kembali memenuhi bangku-bangku gereja. Suasana persekutuan yang lama dirindukan terasa hidup lagi. “Kekristenan adalah keluarga atau komunitas. Jadi mereka yang lahir dari gereja pasti rindu berkumpul kembali,” ungkap Pdt. Dr. Mulyadi Suleman, mantan Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta di Indonesia (GSPDI) selama 3 periode.

Pdt. Mulyadi menekankan, kebutuhan hadir secara fisik dalam ibadah tak tergantikan. Ia mencontohkan bagaimana teknologi hiburan rumah tak mampu menyingkirkan pesona bioskop. “Penonton mencari suasana, bukan sekadar gambar dan suara. Begitu pula ibadah,” katanya. Namun, ia menilai ibadah daring kini berubah: “Dulu orang tetap rapi beribadah di rumah. Sekarang banyak yang nonton online pakai celana pendek sambil ngemil kacang,” ujar Gembala GSPDI jemaat Filadelfia Belezza, Permata Hijau, Jakarta Selatan sembari mengutip kitab Ibrani 10:25 sebagai dasar pentingnya pertemuan jemaat: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang…”

Ledakan Gereja Baru dan “Branding” Rohani

Pasca pandemi, marak gereja baru bermunculan. Menurut Pdt. Mulyadi, ada dua pemicu: kerinduan membentuk komunitas seiman yang lebih dekat, dan pertimbangan jarak tempuh. “Ada istilah bahasa Inggris katakan “The Birds with same involve, The Bird the same feathers flock together– Burung-burung yang warnanya sama itu berkumpul  bersama-sama. Jemaat yang dulu menempuh perjalanan jauh kini memilih gereja terdekat. Itulah peluang lahirnya gereja-gereja baru, entah cabang sinode lama atau baru,” jelasnya.

Fenomena ini memantik pertanyaan: apakah gereja kian menyerupai industri? “Kalau mau disebut franchise, bisa saja,” ujarnya lugas. “Brand gereja itu nyata. Jemaat mencari ‘brand’ tertentu—di kota mana pun mereka pindah, mereka ingin tetap di brand itu. Secara bisnis menguntungkan, meski secara penginjilan bisa memprihatinkan.”

Antara Pelayanan dan Nafkah

Pdt. Mulyadi menegaskan, Alkitab memberi ruang bagi hamba Tuhan untuk hidup dari pelayanan, merujuk 1 Korintus 9:13–14. Namun ia mengingatkan bahaya ketika kepemimpinan gereja diwariskan tanpa kesiapan. “Masalah sering muncul di generasi kedua—bukan soal panggilan, tapi aset. Gedung gereja bisa jadi rebutan,” tuturnya.

Ia mendorong pemisahan jelas antara penggembalaan dan kepemilikan aset, serta mendidik anak gembala agar mandiri. “Kalau semua anak menggantungkan hidup dari persembahan, gereja akan rentan konflik. Tapi jika ada yang menekuni profesi lain, gereja justru makin kuat.”

Gereja Bukan Perusahaan

Meski ada yang sinis menyebut gereja “industri”, Pdt. Mulyadi menegaskan hakikat gereja tetap pelayanan non-profit. “Yesus berkata, di atas batu karang ini Aku akan mendirikan gereja-Ku. Gereja yang sejati milik Tuhan, bukan bisnis keluarga,” tegasnya.

Menurutnya, branding dan strategi pertumbuhan boleh saja selama tujuannya membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. “Dalam dunia pelayanan, upah itu datangnya dari Tuhan, bukan dari sinode,”pungkasnya.  SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60