Jakarta,Victoriousnews.com- Memasuki bulan Desember, suasana Natal mulai terasa di setiap sudut negeri. Gemerlap lampu, pohon terang, hiasan merah-hijau, dan kidung pujian mewarnai pusat perbelanjaan, kantor pemerintahan, rumah-rumah warga, hingga gereja-gereja di berbagai daerah. Bahkan, kini jutaan umat Kristiani di seluruh dunia pun tengah bersiap menyambut kelahiran Sang Juru Selamat.
Namun, di tengah keceriaan itu, Indonesia kembali diuji. Erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur, banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara—mulai dari Kota Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan hingga Kota Medan—serta bencana serupa di Aceh dan Sumatera Barat, meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga. Banyak yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang-orang yang mereka kasihi.

Di tengah situasi ini, makna Natal justru menjadi lebih dalam. Ketua Umum Sinode Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN), Pdt. Dr. Melianus H. Kakiay, M.Th, menegaskan bahwa Natal bukan sekadar momen penuh kenyamanan. “Natal bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang kehadiran Allah,” ujar hamba Tuhan yang akrab disapa Pendeta Ferry ini.
Ia mengingatkan bahwa Yesus tidak lahir di istana megah, tetapi di kandang yang sederhana—dalam suasana ketidakpastian, kekurangan, dan kesempitan. “Allah tidak menunggu keadaan baik baru Dia hadir. Justru di tengah kekacauan, Dia datang,” tegasnya. Karena itu, hadirnya bencana bukan tanda ketiadaan Allah, melainkan bukti bahwa Ia tetap menyertai, bahkan di tengah kesusahan terdalam.
Pdt. Ferry juga menekankan bahwa terang Kristus bekerja paling kuat saat dunia diliputi kegelapan. Seperti para gembala yang diterangi cahaya surgawi di malam penuh ketakutan, demikian pula manusia yang sedang kehilangan arah tetap dapat menemukan harapan melalui terang Kristus. “Bencana tidak menghilangkan sukacita Natal. Terang itu tetap bersinar ketika manusia berada dalam ketakutan dan kebingungan,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Natal membawa pengharapan bagi mereka yang hancur. Di tengah penderitaan para korban bencana, janji Immanuel—Allah beserta kita—menjadi penopang bagi jiwa-jiwa yang rapuh. “Jika Dia menyertai, maka Ia memberi kekuatan, membebat luka, menghibur, dan membuka jalan bagi pertolongan,” ujarnya penuh keyakinan.
Natal, menurutnya, juga memanggil umat Kristen untuk menjadi agen kasih. Gereja, panitia natal, dan umat diajak menjadikan momen ini sebagai kesempatan nyata untuk menolong sesama, terutama mereka yang berada di daerah terisolir, terpinggirkan, dan terlupakan. “Wujud kasih Kristus adalah ketika kita menghibur yang berduka, menguatkan yang kehilangan, dan berbagi berkat kepada yang menderita,” tambahnya.
Gembala GBIN Kapernaum ini juga mengajak umat untuk menumbuhkan kepedulian, terlebih dalam bulan yang secara khusus diingat sebagai bulan kasih. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi semangat gotong royong, dan umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus dalam tindakan nyata. “Kita semua sedang susah, tetapi kita punya Kristus. Minimal kita mendoakan, menghibur, dan tidak saling menyalahkan,” pesannya.
Menutup refleksinya, Pdt.Ferry mengingatkan bahwa Natal adalah momentum untuk kembali memahami karya keselamatan Allah melalui kedatangan Yesus Kristus. Natal seharusnya membawa perubahan hidup, membuat umat semakin bertumbuh dalam pertobatan dan kebaikan. Bencana demi bencana juga sejatinya menjadi peringatan agar bangsa ini hidup takut akan Tuhan—mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam ucapan.“Jangan sampai kita berkata tentang Tuhan, tetapi tindakan kita tidak mencerminkan Dia,” paparnya.
Natal 2025 hadir di tengah luka bangsa. Namun justru di sanalah maknanya semakin nyata: bahwa di tengah air mata, ada pengharapan; di tengah kegelapan, ada terang; dan di tengah bencana, Allah hadir—Immanuel, Allah beserta kita. SM


















