Jakarta,VictoriousNews.com — Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi momentum memperkuat persatuan, merawat nilai leluhur, serta meneguhkan etika kehidupan dan bisnis. Pesan itu disampaikan Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John N. Palinggi, MM, MBA, dalam refleksi menyambut Tahun Kuda Api.
Menurut John, semangat Imlek selaras dengan harapan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat Indonesia terus menjaga kerukunan, baik di dalam negeri maupun dalam pergaulan antarbangsa. Ia menilai keharmonisan keluarga sebagai inti perayaan yang menjadi fondasi keberhasilan sosial dan ekonomi.

“Imlek mengajarkan kebersamaan keluarga, penghormatan kepada leluhur, serta doa agar tahun baru membawa kesejahteraan,” ujar pengusaha nasional yang dikenal dekat dengan sejumlah pemimpin bangsa sejak era Presiden Soeharto hingga kini, Presiden Prabowo Subianto.
Makna Imlek, Jejak Sejarah & Ucapan Selamat Tahun Baru
John menjelaskan, Imlek berlandaskan kalender lunar yang mengikuti siklus bulan dan telah berlangsung sejak dinasti-dinasti kuno di Tiongkok. Sejak masa Dinasti Shang, masyarakat merayakan pergantian tahun sebagai ungkapan syukur atas panen sekaligus harapan keberuntungan.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia dan dunia: “Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai, Wan Shi Ru Yi, dan Shen Ti Jian Kang,” yang bermakna doa kebahagiaan,keberuntungan,tercapainya harapan, dan kesehatan.
Tradisi Imlek, lanjutnya, tidak lepas dari legenda monster laut Nian yang diyakini dapat diusir dengan warna merah, suara petasan, serta cahaya lampion. Bagi John, simbol-simbol tersebut mencerminkan keberanian menghadapi ketakutan dan semangat memulai lembaran baru.
Transformasi Diri dan Etika Bisnis
John menegaskan, pesan utama Imlek adalah transformasi diri—meninggalkan kebiasaan buruk dan membangun karakter yang lebih baik. Nilai tersebut juga ia terapkan dalam perjalanan bisnisnya selama lebih dari 45 tahun, yaitu belajar dari prinsip atau falsafah Tiongkok.
Salah satu prinsip yang ia pegang adalah, “Seribu teman masih kurang, satu musuh terlalu banyak.” Baginya, relasi yang luas menjadi kunci keberlangsungan usaha karena dunia bisnis dibangun atas dasar saling mendukung.
Ia juga mengingatkan filosofi “minum air harus tahu sumbernya” sebagai bentuk penghargaan kepada pihak yang pernah membantu. Kerja keras dan konsistensi, katanya, jauh lebih penting daripada keuntungan instan. “Tidak ada hasil besar bagi mereka yang bekerja setengah hati,” tegasnya.
Dalam pandangannya, keberhasilan usaha bertumpu pada tiga prinsip: keterbukaan, saling menghormati, dan saling menguntungkan. Kemitraan bisnis harus dijaga seperti berada dalam satu perahu, di mana kepercayaan menjadi fondasi utama.
Kepercayaan sebagai Nafas Dagang

John menilai kekuatan jaringan bisnis Tionghoa terletak pada reputasi dan integritas. Dalam relasi yang matang, transaksi kerap berlangsung tanpa prosedur rumit karena kejujuran menjadi jaminan utama. “Sekali tidak jujur, semuanya selesai, ditinggalkan dan tidak dipercaya lagi,” ujarnya.
Ia mengkritik mentalitas instan yang ingin meraih keuntungan tanpa kontribusi nyata. Menurutnya, pemenang sejati bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan yang terus bangkit dan tidak menyerah.
Reformasi dan Kebangkitan Ekspresi Budaya
John juga menyinggung perubahan besar sejak era reformasi. Sebelum tahun 2000, perayaan Imlek masih terbatas, namun situasi berubah ketika pemerintah membuka ruang kebebasan budaya di era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur). Momentum tersebut kemudian diperkuat oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional pada 2003. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai simbol pengakuan terhadap keberagaman Indonesia.

Pada masa transisi tahun 2000 itu, ia mengenang peran tokoh lintas agama sekaligus cendekiawan Muslim Prof. Dr. Nurcholish Madjid yang menggagas lahirnya BISMA sebagai wadah membangun dialog sosial tanpa mencampuri wilayah akidah. Fokus organisasi ini, katanya, adalah memperkuat relasi kemanusiaan dan tanggung jawab sosial bersama.
John menekankan pentingnya tiga lapisan kerukunan: internal umat beragama, antarumat beragama, serta hubungan harmonis antara masyarakat dan negara. Tanpa peran pemerintah, stabilitas sosial sulit terjaga.
Harapan Tahun Kuda Api

Melalui momentum Imlek, John mengajak masyarakat Tionghoa di Indonesia dan dunia untuk terus berkontribusi bagi pembangunan nasional serta mendukung program pemerintah. Ia menegaskan bahwa semangat tahun baru harus tercermin dalam perilaku sosial dan dunia usaha.
“Imlek adalah ajakan meninggalkan keburukan dan melangkah menuju kebaikan,” kata pengusaha sukses yang menerima APEC Travel Business Card-Bebas visa bepergian ke 19 negara Asia Pasific & Amerika hingga sekarang.
Ia menutup refleksi dengan doa agar seluruh masyarakat Tionghoa senantiasa diberi kesehatan, perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa, serta terus menjaga persatuan bangsa dalam semangat kerukunan. SM

















