JAKARTA,VictoriousNews.com— Damai sejahtera sejati bukan berarti hidup tanpa persoalan, melainkan memiliki ketenangan hati ketika badai kehidupan datang menerpa. Kekayaan, jabatan, kesuksesan, dan kenyamanan dunia tidak selalu mampu menghadirkan kedamaian. Sebaliknya, iman kepada Kristus memberikan kekuatan untuk tetap teguh sekalipun hidup berada dalam tekanan.
Pesan itulah yang disampaikan advokat senior yang juga Evangelist Dr. Jhon Panggabean, SH, MH, saat menyampaikan khotbah bertema “Damai Sejahtera” di Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Damai Sejahtera, Jalan Kebantenan III No. 30, Semper Timur, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (11/10/2026).

Di hadapan jemaat yang digembalakan Pdt. Robinson Purba, Jhon menekankan bahwa damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan Yesus Kristus berbeda dari ketenangan yang ditawarkan dunia. Mengutip Yohanes 14:27, ia mengingatkan jemaat agar tidak membiarkan kegelisahan dan ketakutan menguasai hati.
Menurutnya, kehidupan manusia tidak pernah sepenuhnya bebas dari persoalan. Ada pergumulan ekonomi, masalah keluarga, tekanan pekerjaan, tantangan kesehatan, hingga berbagai ketidakpastian sosial. Namun, semua itu tidak seharusnya merampas pengharapan orang percaya.
“Damai sejahtera bukan berarti semua masalah selesai, melainkan kita tetap memiliki ketenangan dan pengharapan karena Tuhan menyertai kita.” ujar Jhon.
Dari Kehidupan yang Kacau Menuju Pemulihan
Bagi Jhon, pesan tentang damai sejahtera bukan sekadar pengetahuan teologis. Ia membagikan kesaksian perjalanan hidupnya, ketika masa muda yang diwarnai kebiasaan minum-minuman keras dan kehidupan malam membuatnya kehilangan ketenangan.
Di tengah kehidupan yang tampak menyenangkan dari luar, ia menyadari bahwa materi dan kesenangan dunia tidak mampu memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya. Pengalaman melihat perubahan hidup orang terdekat yang tekun beribadah turut mendorongnya untuk mencari Tuhan dan mengambil keputusan untuk hidup dalam iman.
Perjalanan tersebut menjadi titik balik. Ia mulai meninggalkan kebiasaan lamanya dan membangun kehidupan yang berpusat pada Tuhan. Namun, keputusan untuk mengikuti Kristus bukan berarti seluruh pergumulan langsung berakhir.
Dalam kesaksiannya, Jhon menceritakan perjuangan menghadapi penyakit berat, termasuk penyakit autoimun, yang membuatnya berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mengisahkan masa-masa ketika kondisi fisiknya sangat lemah, aktivitasnya terbatas, dan harapan untuk kembali sehat menjadi pergumulan tersendiri.
Di tengah keadaan itu, ia tetap berdoa dan berpegang pada imannya. Jhon bersaksi bahwa dirinya kemudian mengalami pemulihan dan pertolongan Tuhan. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa manusia memiliki keterbatasan, tetapi pengharapan tidak harus berakhir ketika kekuatan fisik melemah.
Kesaksian itu menjadi pengingat bahwa iman bukan jaminan seseorang terbebas dari penderitaan. Iman justru menjadi pegangan untuk bertahan, menjalani proses, dan tetap berharap ketika jalan keluar belum terlihat.
Kesuksesan Bukan Sumber Utama Kedamaian
Sebagai advokat yang telah menekuni profesinya sejak 1989, Jhon juga menyinggung perjalanan panjangnya di dunia hukum dan kehidupan profesional. Ia mengakui bahwa pencapaian dalam pekerjaan maupun pendidikan tidak dengan sendirinya menjamin ketenangan batin.
Dalam kesaksiannya, ia menceritakan bagaimana kehidupan yang dahulu sempat kehilangan arah perlahan berubah. Ia kembali menata masa depan, melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral, serta menjalani tanggung jawab profesinya dengan keyakinan bahwa setiap kesempatan merupakan anugerah Tuhan.
Ia juga mengenang masa-masa sulit ketika kondisi keuangan dan pekerjaan menghadirkan tekanan. Dalam situasi tersebut, pertolongan yang datang melalui orang-orang di sekitarnya menjadi pengalaman yang ia maknai sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan.
Bagi Jhon, kesuksesan bukan alasan untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, semakin banyak berkat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk bersyukur, menolong sesama, dan menggunakan kemampuan yang dimiliki bagi kebaikan.
Ia juga mengingatkan jemaat agar tidak berhenti berusaha. Doa harus berjalan bersama kerja keras, ketekunan, dan kesediaan untuk terus belajar. Masa lalu yang kelam tidak harus menentukan masa depan seseorang apabila ia bersedia berubah dan menjalani kehidupan dengan sungguh-sungguh.
Damai Sejahtera yang Menjaga Hati dan Pikiran
Mengutip Filipi 4:7, Jhon menekankan bahwa damai sejahtera Allah melampaui segala akal dan memelihara hati serta pikiran orang percaya dalam Kristus Yesus.
Ia mengajak jemaat untuk berhati-hati terhadap pikiran negatif, kebencian, godaan, serta berbagai pengaruh yang dapat merusak kehidupan rohani. Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, orang percaya perlu bijaksana dalam memilih apa yang dilihat, didengar, dan disimpan dalam hati.
Sementara itu, melalui Kolose 3:15, ia mengingatkan agar damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati. Artinya, iman tidak cukup berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus tampak dalam sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari.
Pesan tersebut juga menyentuh kehidupan keluarga. Jhon mengajak para suami dan istri untuk saling menghargai, memahami pengorbanan pasangan, serta tidak membiarkan ego dan persoalan sehari-hari merusak keharmonisan rumah tangga.
Baginya, kedamaian harus dimulai dari hati, kemudian diwujudkan dalam hubungan dengan keluarga, gereja, dan sesama. Orang yang mengalami kasih Tuhan dipanggil untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan tetap memilih kebaikan.

Ia juga mengutip Roma 5:1 untuk menegaskan bahwa melalui iman kepada Yesus Kristus, orang percaya memperoleh pendamaian dengan Allah. Hubungan dengan Tuhan itulah yang menjadi dasar untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Menjadi Saksi di Tengah Pergumulan
Menutup khotbahnya, Jhon mengajak jemaat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup. Selama masih diberi waktu, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, bertumbuh dalam iman, mengembangkan talenta, dan menjadi berkat bagi orang lain.
Ia menegaskan bahwa pelayanan dan kesaksian bukan hanya tugas pendeta atau pelayan gereja. Setiap orang percaya dapat menjadi saksi Kristus melalui pekerjaan, keluarga, lingkungan pergaulan, serta tindakan nyata yang mencerminkan kasih Tuhan. SM



















Comment