Kiprah Politik Ahmad Noor Supit, Mandeg Pandito atau….

Oplus_0
banner 468x60

Jakarta,Victoriousnews.com-Setelah memimpin Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI)  selama 25 Juli 2020-20 Mei 2025 sebagai Ketua Umum, sepanjang 27 Oktober 2022-17 Oktober 2024 sebagai Anggota V Badan Pemeriksa Keuangan, dan sejak tahun 1992 hingga periode 1999-2024 sebagai Anggota DPR-RI,, Dr Ir H Ahmadi Noor Supit CSFA CGRE (dikenal Ahmadi Noor Supit atau Noor Supit) didapuk sebagai Ketua Dewan Pembina SOKSI (20 Mei 2025-2030). “Saya mohon diri, karena pimpinan SOKSI periode 2025-2030 adalah sosok yang muda,” ucap Noor Supit pada Musyawarah Nasional XII SOKSI di Jakarta. “Saya terima dan berharap kepada Allah. Dengan dukungan kader seluruh Indonesia, saya kibarkan di seluruh wilayah Republik Indonesia,” tegas Dr H Mukhamad Misbakhun SE MH setelah terpilih sebagai Ketua Umum SOKSI periode 2025-2030.

Praktis tinggal menyisakan segelintir jabatan yang mungkin akan ditempatinya seorang Ahmadi Noor Supit. Apakah sebagai pimpinan kementerian (menteri) atau duta besar negara sahabat. Atau menjadi sesepuh organisasi dan Partai Golkar sebagai Ketua Dewan Pembina SOKSI.

Pria keturunan Manado (Sulawesi Utara) dan Banjar (Kalimantan Selatan) serta lahir di Purwakarta (Jawa Barat), 1 September 1957 ini seperti sebagai generasi pamungkas (penutup) setelah puluhan tahun organisasi dan Partai Golkar dipimpin oleh sosok yang berpengalaman. Di masa Orde Lama, Golkar yang memenangi dengan meyakinkan di Pemilihan Umum terus menunjuk Soeharto (Presiden ke-2 selama 12 Maret 1967-21 Mei 1998, lahir: 8 Juni 1922 dan wafat: 27 Januari 2008) sebagai pimpinan negara. Kala didapuk sebagai Presiden, Soeharto dibebaskan memilih wakil presiden yang mendampinginya. Tercatat sejumlah nama yang menjadi wakil presiden ketika Soeharto menjabat Presiden Republik Indonesia, termasuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1973-1978), Adam Malik (1978-1983), Umar Wirahadikusumah (1983-1988), Soedarmono (1988-1993), Try Soetrisno (1993-1998), dan BJ Habibie (11 Maret 1998-21 Mei 1998). BJ Habibie kemudian meneruskan jabatan Presiden Republik Indonesia ke-3 (21 Mei 1998-20 Oktober 1998) setelah Soeharto mengundurkan diri pada 1998 akibat gelombang reformasi. Sepeninggal BJ Habibie, tokoh Golkar terus lolos (kalah) dalam pencalonan pimpinan nasional (presiden).

Hingga kemudian Golkar mengusung sosok Gibran Raka Bumingraka, putra sulung Joko Widodo (Presiden ke-7 periode 20 Oktober 2014-20 Oktober 2024) pada pencalonan Presiden Prabowo Subianto Djojohadikusumo di Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tanggal 14 Februari 2024. Ketika dicalonkan sebagai Wakil Presiden, Gibran berusia 36 tahun. Gibran sendiri bukan kader Golkar, dan menjabat sebagai Walikota Solo (21 Februari 2021-16 Juli 2024) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Setelah terpilih sebagai Wakil Presiden ke-14, Gibran yang telah dikeluarkan partainya bernaung dalam politik memilih berada di jalur independen (non-partai).

Usia 36 tahun seorang Gibran Raka Bumingraka seperti menjadi pemantik sang Pohon Beringin ke mana arah angin kemudian dan akan berhembus. Partai Golkar yang semula dipimpin figur-figur yang matang berpolitik dan berpengalaman seakan melepas tradisi. Tercatat dua sosok Golkar yang mencapai posisi Wakil Presiden sebelumnya, yaitu Soedharmono dan BJ Habibie. Soedharmono menjadi satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang mencapai kursi Wakil Presiden di usia 66 tahun. BJ Habibie yang kader Golkar berusia 61-62 tahun saat menjadi Wakil Presiden dan Presiden ke-3 Republik Indonesia.

Terpilihnya Bahlil Lahadalia di usia 48 tahun saat ditetapkan pada Musyawarah Nasional XI Partai Golkar tanggal 21 Agustus 2024 tentu mengikuti ke mana arah angin berhembus, maka ke sanalah ranting-ranting beserta dahannya mengikuti atau bergoyang. Bahlil yang menjabat Ketua Umum Partai Golkar, kemudian menunjuk Muhammad Sarmuji SE MSi yang berusia 50 tahun sebagai Sekretaris Jenderal. Bendahara Umum Partai Golkar juga dikendalikan oleh figur wanita berusia di bawah 50 tahun yaitu Ir H Sari Yuliati MT (kelahiran 2 Juni 1976).

Noor Supit yang menapaki usia 68 tahun telah menjadi Ketua Dewan Pembina SOKSI semenjak dirinya meletakkan jabatan itu. Terdapat dua posisi yang belum pernah diduduki, yaitu menteri dan duta besar negara sahabat. Berikutnya akan diketahui kiprah sosok keturunan Manado (Sulawesi Utara) dan Banjar (Kalimantan Selatan) ini. Mandeg Pandito (dewan pembina SOKSI) menjadi pamungkas pengabdian kepada partai dan negara kala tidak terpilih menduduki salah satu dari dua posisi yang tersisa tersebut. @epa_phm

banner 300x250

Related posts

banner 468x60