VictoriousNews.com- Di balik mimbar yang tampak kokoh, kerap tersembunyi perjalanan panjang yang dipenuhi air mata, pergumulan, dan ketaatan. Demikian pula kisah hidup Pdt. Moses Christianto—seorang hamba Tuhan yang tidak lahir dari kenyamanan, melainkan ditempa melalui proses yang tidak mudah. “Sejak kecil, saya sudah menyimpan kerinduan yang sulit dijelaskan—sebuah panggilan untuk melayani Tuhan. Saya bertumbuh di lingkungan gereja GPdI. Saat duduk sebagai jemaat, saya sering membayangkan suatu hari bisa berdiri di mimbar untuk menyampaikan firman Tuhan,” ungkap Moses mengawali kisahnya.
Awalnya, ia mengira itu hanyalah kekaguman masa kecil terhadap sosok hamba Tuhan. Namun seiring waktu, terutama saat memasuki masa SMP, dorongan itu semakin kuat—meski belum diwujudkan dalam pelayanan nyata. Saat SMA, Moses harus merantau ke Pacitan, Jawa Timur. Jauh dari orang tua, ia memegang teguh pesan sederhana namun mendalam: “Jangan pernah lupa Tuhan, dan carilah gereja di mana pun berada.” Di kota itulah, Tuhan mulai membentuknya. Ia menemukan gereja kecil di dekat tempat kosnya dan mulai terlibat pelayanan—tanpa bayaran, tanpa sorotan.
Selama dua tahun, ia dipercaya memegang kunci gereja: menata kursi, membersihkan halaman gereja, menyiapkan konsumsi, melayani jemaat dengan setia. Semua dilakukan dengan sukacita, sebagai bentuk tanggung jawab kepada Tuhan. Puncaknya, saat kelas tiga SMA, ia dipercaya menjadi Ketua Remaja. Di situlah ia diminta berkhotbah. Meski hanya 15 menit, baginya terasa seperti satu jam penuh pergumulan.
Karier Dunia yang Menjanjikan
Selepas sekolah, Moses merantau ke Surabaya dan membangun usaha bersama rekannya sebagai supplier bahan bangunan. Usahanya berkembang pesat, menjangkau wilayah NTT, NTB, Bali, hingga Sulawesi. Secara finansial, kehidupannya mapan. Omzet dan keuntungan terus meningkat. Tahun 2005, ia memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikah dengan gadis yang dicintai, bernama Nancy Lestuny.
Panggilan Ilahi Pergi ke Kupang, NTT
Hanya sebulan setelah menikah, Moses menerima visi untuk pindah ke Kupang. Tanpa diutus siapa pun, ia melangkah dalam iman. Sebuah peristiwa tak terduga menjadi titik balik: Seorang custumer yang adalah pemilik toko—tanpa konteks rohani— tiba-tiba berkata,“Pak Moses, sepertinya Anda cocok meninggalkan pekerjaan dan melayani Tuhan.” Kalimat itu menancap kuat di hatinya. Setelah melalui doa dan konfirmasi rohani, ia yakin: itu adalah suara Tuhan.
Tahun 2006, ia mengambil keputusan besar—meninggalkan usaha yang mapan dan melayani Tuhan sepenuh waktu, tanpa dukungan finansial.
Masuk ke “Padang Gurun Iman”
Keputusan itu membawa Moses dan keluarganya masuk dalam masa yang ia sebut sebagai “padang gurun iman.” Tabungan habis. Penghasilan tidak ada. Di saat yang sama, istrinya sedang mengandung anak pertama. Bahkan pernah, selama seminggu, mereka makan bubur terpaksa, dan kadang hanya makan satu bungkus nasi yang dibagi bertiga, yaitu dia, istri dan doggynya. Namun di titik terendah itulah, mereka belajar satu hal: bergantung penuh kepada Tuhan. Dan Tuhan tidak pernah terlambat. Secara ajaib, bantuan datang tanpa diminta—sembako diantar, kebutuhan dipenuhi. Pemeliharaan Tuhan nyata, bahkan di saat paling gelap sekalipun.
Pukulan Terberat: Kehilangan Anak Pertama

Di tengah pergumulan ekonomi dan pelayanan, tragedi datang. Anak pertama mereka meninggal dalam kandungan di usia tujuh bulan. Pukulan itu begitu dalam. Sang istri bahkan mengalami tekanan emosional hebat selama hampir sebulan. Pertanyaan “mengapa?” terus menggema—tanpa jawaban. Namun melalui penguatan firman dan sebuah buku rohani, mereka belajar menerima: Ada hal-hal yang tetap menjadi rahasia Tuhan. Dengan hati hancur namun iman yang bertahan, mereka tetap melangkah.
Pelayanan Lintas Bangsa: Dari Kupang ke Timor Leste
Dari Kupang, Moses terlibat dalam perintisan gereja hingga berdiri. Kemudian ia diutus ke Dili, Timor Leste, untuk mrmbantu membuka pelayanan baru. Selama dua tahun (2008–2010), ia merintis jemaat dari nol hingga menjadi gereja yang berdiri resmi. Dalam masa itu, ia juga harus menjalani pergumulan berat— terpisah dari keluarga hingga mengalami tekanan mental. Karena sang istri saat itu tinggal di Jakarta. Akhirnya, ia memutuskan kembali ke Jakarta demi menjaga keutuhan keluarga.
Sekembalinya di Jakarta, Moses memiliki visi pribadi untuk merintis pelayanan di Ambon. Namun semua pintu tertutup—dukungan finansial yang dijanjikan tiba-tiba hilang. Di situlah ia sadar: tidak semua visi berasal dari Tuhan. Akhirnya ia taat, melayani di Jakarta bersama pembimbing rohaninya, yakni Pdt. Kiki Harjadi (Ketua Rayon 1D). Dari sinilah Tuhan mulai membentuknya dalam pelayanan pastoral yang lebih luas.
Dipercaya Menggembalakan Jemaat di Tengah Kehilangan
Perjalanan pelayanan Moses Christianto menghadirkan sebuah pola yang tak biasa—sekaligus sarat makna. Dalam beberapa momentum penting, ia justru dipercaya melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di tengah duka, menggantikan para pemimpin rohani yang telah berpulang.
Kisah itu dimulai saat ia terlibat aktif dalam pelayanan di bawah kepemimpinan Pdt. Kiki Hariadi di Rayon 1 D. Di sana, Moses dipercaya mengemban tanggung jawab membantu Departemen Pastoral Care di GBI Tampak Siring. Setahun kemudian ia diutus ke GBI Sunter Mall untuk menjalankan fungsi kesekretariatan dan pastoral menggantikan wakil gembala yang meninggal. Kepercayaan itu bukan sekadar penugasan, melainkan ujian awal dalam membangun kembali kekuatan jemaat yang sedang berduka.
Peristiwa serupa kembali terulang. Ia diangkat menjadi Ketua Departemen Pastoral Care di Rayon 1D (GBI Tampak Siring), menggantikan pemimpin sebelumnya yang juga telah wafat. Tidak berhenti di situ, pada tahun 2015, Moses kembali dipercaya menggembalakan jemaat di GBI Raden Inten, Gedung Wira Purusa LVRI Jalan Radin Inten, Jakarta Timur, setelah kepergian pendahulunya, Pdt. Yonathan Sudarjadi—tokoh penting yang pernah menjabat sebagai Ketua BPD GBI DKI Jakarta.
Rangkaian peristiwa ini bukan sekadar kebetulan. Ada panggilan yang menuntut keteguhan hati dan kedewasaan rohani. Sebab, melanjutkan kepemimpinan yang telah ada seringkali jauh lebih sulit dibanding merintis dari awal. Di tengah luka kehilangan, seorang pemimpin dituntut bukan hanya hadir, tetapi juga mampu memulihkan, menyatukan, dan mengarahkan kembali langkah jemaat.
Dengan pendekatan konsolidasi yang kuat dan semangat membangun kebersamaan, Moses perlahan menata ulang fondasi pelayanan. Ia membawa jemaat pada satu visi yang sederhana namun mendalam: “Membangun Super Team, bukan Superman.” Sebuah prinsip yang menegaskan bahwa pelayanan bukan tentang sosok hebat, melainkan tentang kekuatan kolektif yang saling menopang.
Bagi Moses, menjadi gembala bukanlah posisi yang membanggakan secara duniawi. Sebaliknya, itu adalah beban mulia yang menuntut integritas dan ketekunan. Ia menyadari, tanggung jawab seorang gembala mencakup menjaga pertumbuhan rohani jemaat, terus memperlengkapi diri dengan kebenaran firman Tuhan, serta memimpin beragam karakter dalam satu kesatuan yang utuh.
Lebih dari itu, ia terpanggil untuk menjadi jawaban di tengah derasnya arus dunia yang kerap menggoyahkan iman. Dalam sunyi tanggung jawab dan beratnya panggilan, Moses memilih untuk tetap setia—melayani bukan untuk dilihat, tetapi untuk menguatkan.
Di tengah kehilangan, ia hadir sebagai penguat. Di tengah ketidakpastian, ia menjadi penunjuk arah. Sebuah panggilan yang tidak mudah, namun dijalani dengan hati yang teguh dan iman yang tidak tergoyahkan.
Gembala yang Terus Belajar: Menjaga Otoritas di Tengah Jemaat Kritis
Bagi Pdt. Moses Christianto, pelayanan mimbar bukan sekadar rutinitas berkhotbah. Ia menyadari betul, seorang gembala yang berdiri di depan jemaat tanpa kedalaman firman dan fondasi teologi yang kuat, justru berisiko kehilangan otoritas rohaninya.
“Kalau gembala tidak membekali diri dengan pemahaman firman yang cukup, bisa jadi jemaatnya lebih pintar dan lebih kritis,” ungkapnya lugas.
Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk terus bertumbuh. Baginya, tanggung jawab seorang gembala bukan hanya memastikan pertumbuhan rohani jemaat, tetapi juga mengembangkan kapasitas diri—terutama dalam penguasaan firman Tuhan. Sebab, pelayanan yang sehat lahir dari pemimpin yang terus ditempa, bukan yang merasa sudah selesai.
Namun tantangan pelayanan tidak berhenti di sana. Memimpin jemaat berarti berhadapan dengan beragam karakter, latar belakang, dan cara berpikir. Moses merasakan langsung kompleksitas itu saat melanjutkan kepemimpinan di GBI Raden Inten.
Dalam dua tahun pertama, ia harus menghadapi realitas yang tidak sederhana. Mayoritas pengerja dan jemaat berasal dari Suku Batak, Sumatera Utara, dengan karakter yang dikenal tegas dan vokal. Dari sekitar 30 pengerja, ia menyebutnya sebagai “30 kepala” dengan ide dan aspirasi yang beragam.
“Menampung dan mengelola semua itu tidak gampang. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi paling tidak keputusan yang diambil harus menjadi jawaban, baik bagi pengerja maupun jemaat,” ujarnya.
Di sinilah, menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar soal posisi, tetapi tentang kemampuan mengelola perbedaan dan menyatukan visi. Prinsip leadership menjadi kunci agar keberagaman tidak berubah menjadi perpecahan.
Dari Kecemasan Menuju Keyakinan: Dipilih dan Diperlengkapi Tuhan
Di balik keteguhan yang terlihat hari ini, Moses mengakui pernah diliputi kecemasan yang mendalam. Bahkan, pada awal penugasannya di GBI Raden Inten, ia sempat mengalami hari-hari tanpa tidur.
Bayangan tentang perbedaan budaya, karakter jemaat, serta ekspektasi yang tinggi sempat menghantui pikirannya. Ia menyadari dirinya bukan berasal dari latar belakang yang sama dengan mayoritas jemaat. Namun di tengah pergumulannya, ia menemukan satu kebenaran yang menguatkan: “Setiap Tuhan memilih seseorang, Tuhan juga memperlengkapi.”
Keyakinan itu menjadi titik balik. Ia percaya, panggilan Tuhan tidak pernah datang tanpa penyertaan. Bukan sekadar diutus, tetapi juga diperlengkapi dengan hikmat, kemampuan, dan kreativitas untuk menjalani tugas yang dipercayakan. “Kalau hanya dipilih tapi tidak diperlengkapi, kita tidak akan mampu. Tapi saya percaya, Tuhan selalu menyiapkan bekal bagi setiap panggilan,” tuturnya.
Jejak Pendidikan dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Keseriusannya dalam memperlengkapi diri terlihat dari perjalanan pendidikannya. Ia menempuh studi teologi di Sekolah Tinggi Teologi Alkitabia Ekklesia (STTAES) Semarang dan meraih gelar Sarjana Teologi.
Tidak berhenti di sana, ia aktif mengikuti berbagai kursus dan seminar teologi. Pada tahun 2012, ia melanjutkan studi S2 di salah satu STT di Jakarta. Namun perjalanan itu tidak berjalan mulus. Saat hampir menyelesaikan tesis, institusi tersebut mengalami persoalan internal yang membuat angkatannya terhenti. Meski demikian, Moses tidak larut dalam kekecewaan. Ia memilih untuk tetap melangkah dengan iman. “Kalau nanti mau lanjut, saya siap mulai dari awal lagi,” kata papa dari Michael Benaiah dan Gabrielle Evangelyn Sharon.
Sikap ini mencerminkan kerendahan hati sekaligus keteguhan—bahwa proses tidak selalu berjalan sesuai rencana, tetapi panggilan tetap harus dijalani.
Keluarga dan Iman yang Diuji
Di balik pelayanan yang terlihat kuat, tersimpan kisah pribadi yang menguji iman. Moses dan istrinya, Pdp. Nancy Lestuny, juga seorang hamba Tuhan, pernah mengalami kehilangan anak pertama.
Tidak hanya itu, anak perempuan mereka, Gabrielle Evangelyn Sharon, didiagnosis menderita Global Developmental Delay (GDD) dan hingga kini masih membutuhkan perhatian khusus. Situasi tersebut sempat diwarnai berbagai komentar yang menyakitkan dari lingkungan sekitar—mulai dari tuduhan kurang doa hingga stigma yang mengaitkan kondisi anak dengan kesalahan orang tua.
Namun Moses memilih untuk tidak tenggelam dalam suara-suara tersebut. “Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Yang bisa kita lakukan adalah tetap percaya,” ujar Pria kelahiran 28 Mei 1980.
Dengan kerendahan hati, ia tetap datang kepada Tuhan, memohon pengampunan jika ada kesalahan, namun sekaligus belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan secara manusiawi.
Melayani Adalah Kehormatan
Moses memegang satu prinsip hidup yang sederhana namun kuat: melayani adalah sebuah kehormatan. Baginya, setiap kesempatan pelayanan adalah anugerah yang tidak bisa disia-siakan. Karena itu, ia memilih untuk mengerahkan seluruh energi, kemampuan, dan sumber daya yang Tuhan percayakan. “Kesempatan itu terbatas. Tidak selamanya kita punya waktu untuk melayani,” ungkapnya.
Dari mimbar hingga kehidupan pribadi, dari tantangan kepemimpinan hingga pergumulan keluarga, satu benang merah terlihat jelas: kesetiaan dalam panggilan. Bagi Pdt. Moses Christianto, pelayanan bukan tentang kemudahan, melainkan tentang ketaatan. Bukan tentang pengakuan, tetapi tentang pengabdian. Dan di tengah segala keterbatasan, ia terus berjalan—setia melayani, karena ia tahu, itulah kehormatan tertinggi dalam hidupnya. SM

















