Jakarta, VictoriousNews.com — Fellowship pejabat Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN) se-Jabodetabek yang digelar pada hari Selasa, 5 Mei 2026 di kediaman Ketua Umum sinode GBIN Pdt. Dr. Melianus Kakiay, M.Th di kawasan Petamburan IV Tanah Abang, Jakarta Pusat, terasa istimewa. Karena bukan hanya pertemuan rutin, tetapi juga perayaan ucapan syukur hari lahir Ketum GBIN Pdt Melianus yang genap berusia 67 tahun.
Fellowship dihadiri penasehat Pdt. Dr Berthy Monor, Pdt. John Lokolo, Ketua Umum GBIN Pdt. Dr Melianus Kakiay, Ketua BPD DKI Jakarta, Pdt. Jeremias Panggabean, M.Th, Sekretaris 1 & BPD Banten Pdt. Agustinus Samalle serta sejumlah pejabat GBIN lainnya.
Dalam ibadah singkat, Ketua BPD GBIN DKI Jakarta, Pdt. Jeremias Panggabean, M.Th., menyampaikan refleksi kotbah dengan mengangkat kitab Yohanes 6:1–13 tentang mujizat lima roti dan dua ikan.
Dalam kotbahnya, Pdt. Jeremias menekankan bahwa ada kebutuhan mendesak yang tidak bisa diselesaikan secara “natural”. Menurutnya, situasi pelayanan hari ini menuntut respons supranatural.
“Masalahnya bukan sekadar kebutuhan, tetapi penyimpangan antara kenyataan dan kehendak Tuhan. Di bumi ini seharusnya seperti di surga, tetapi faktanya justru sebaliknya. Solusinya hanya satu: pergi beritakan Injil,” tegasnya.
Ia bahkan menyentil kebiasaan sebagian orang yang sibuk menggali bahasa Yunani dan Ibrani, tetapi enggan bergerak. “Mau dibuka bahasa aslinya seperti apa pun, arti ‘pergi’ tetap pergi. Jangan sampai kita hanya tahu, tapi tidak melakukan,” ujarnya.
Tiga Syarat Terjadinya Mujizat
Pdt. Jeremias mengurai tiga prinsip utama agar mujizat terjadi dalam gereja:
1. Hadirnya Yesus sebagai pusat
Tanpa kehadiran Kristus, tidak ada mujizat. Ia menegaskan pentingnya kehidupan doa dan menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama. “Jangan berani menghadapi hari tanpa terlebih dahulu menghadap Tuhan. Tanpa Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa.”
2. Hidup dalam kasih, bukan egoisme
Ia menyoroti sosok anak kecil dalam kisah Injil yang rela memberikan bekalnya.
“Kalau mau lihat mujizat, jangan hidup egois. Kasih itu bukan teori, tapi tindakan. Gereja harus murah hati, bukan pelit,” katanya tegas.
3. Iman yang menyerahkan segalanya kepada Tuhan
Menurutnya, mujizat terjadi ketika apa yang kecil diserahkan kepada Yesus.
“Kalau anak itu bagikan sendiri, tidak akan cukup. Tapi saat diserahkan kepada Tuhan, terjadi kelimpahan.”
Pdt. Jeremias juga mengingatkan bahwa orang di luar Tuhan secara rohani adalah “mati”, sehingga gereja tidak bisa menunggu, tetapi harus aktif menjangkau. “Kita ini seperti disuruh memandikan mayat. Tidak mungkin mayat datang sendiri. Kita yang harus pergi!”
Merespons firman Tuhan yang disampaikan Pdt. Jeremias, Ketua Umum Sinode GBIN, Pdt. Dr. Melianus Kakiay, M.Th.,meneguhkan kembali inti pesan kotbah tersebut.
Ia merangkum tiga kunci mengalami mujizat: Ikuti Yesus, bukan manusia “Jangan ikut pendeta atau pemimpin. Ikuti Tuhan Yesus, di situlah mujizat terjadi.” Hidup dalam kasih dan pengorbanan “Mengasihi Yesus berarti siap memberi dan berkorban untuk Kerajaan Allah.”
Serahkan yang kecil kepada Tuhan “Apa yang kecil di tangan kita, bisa menjadi besar di tangan Tuhan.”
Ia juga menyampaikan kesaksian pertumbuhan GBIN yang kini telah mencapai puluhan jemaat lokal dalam waktu singkat, sebagai bukti nyata pekerjaan Tuhan.
Ajakan Bergerak dan Bersatu
Pdt. Melianus mengingatkan bahwa waktu hidup manusia terbatas. Karena itu, setiap orang percaya harus memanfaatkannya untuk melayani.
“Selagi masih ada waktu, mari melayani Tuhan. Hidup sederhana, rendah hati, mengasihi, dan siap berkorban,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh pejabat untuk ambil bagian dalam perayaan HUT ke- 3 GBIN di Bali, bukan sekadar perjalanan, tetapi sebagai momentum membangun persekutuan, dipersatukan, diperkuat, dan diperluas.
Menatap Bali dengan Iman: Panitia Matangkan HUT ke-3 GBIN di Tanah Sejarah Blimbingsari, Bali
Seusai ibadah, dilanjutkan Rapat persiapan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 GBIN yang dipimpin Ketua Panitia, Pdt. John Lokolo. Dalam suasana serius namun sarat keyakinan, satu pesan ditegaskan: perayaan ini bukan sekadar agenda, melainkan pergerakan iman.
“Kita terus berdoa dengan iman, Tuhan mencukupkan dana yang kita butuhkan,” tegasnya. Panitia kini tengah merampungkan pendataan pejabat dan jemaat yang akan ambil bagian dalam perjalanan menuju Bali. Skema keberangkatan pun disiapkan matang—mulai dari bus rombongan dari Jakarta hingga opsi transportasi lain seperti pesawat atau kereta api menuju Banyuwangi, sebelum menyeberang ke Pulau Dewata.
Puncak perayaan HUT ke-3 GBIN akan digelar pada 16–18 Juni di Desa Blimbingsari, Melaya Jembrana —sebuah lokasi yang bukan hanya indah, tetapi sarat makna sejarah dan spiritual. Acara ini akan dirangkaikan dengan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) nasional, mengusung tema besar: “Dikuatkan, Dipersatukan & Diperluas” (Kisah Para Rasul 2:42–47).
Desa Blimbingsari: Dari Hutan Sunyi Menjadi Simbol Iman
Memilih Blimbingsari bukan tanpa alasan. Desa ini adalah monumen hidup dari perjuangan iman. Berdiri sejak 30 November 1939, Blimbingsari lahir dari keberanian 30 kepala keluarga Kristen Bali yang membuka hutan lebat demi mendapatkan ruang hidup yang bebas dari tekanan adat dan konflik keyakinan di wilayah asal mereka.
Nama Blimbingsari sendiri diambil dari pohon belimbing yang dahulu mendominasi kawasan tersebut. Di tengah keterbatasan, para perintis seperti Made Regug dan Pendeta Made Rungu membangun desa ini dengan semangat gotong royong—bahkan gereja pertama berdiri hanya dalam hitungan bulan.
Kini, Blimbingsari dikenal sebagai desa wisata religius yang unik: 100 persen penduduknya beragama Kristen, namun tetap menjaga warisan budaya Bali dalam arsitektur, busana, dan adat istiadat. Sebuah harmoni antara iman dan budaya yang hidup berdampingan. SM

















