Seminar Nasional BAMAGNAS–Kemenhan RI,  Brigjen TNI G Eko Sunarto: Bela Negara Adalah Tanggung Jawab Setiap Anak Bangsa!

banner 468x60

Jakarta,Victoriousnews.com– Menjelang perayaan  HUT RI ke-80,  Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (BamagNas) bersama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemenhan RI) menggelar Seminar Nasional Bela Negara bertema “Meningkatkan Rasa Bela Negara Dalam Menyongsong Indonesia Emas”, Kamis (14/8/2025). Acara yang berlangsung di Rehobot Hall, STT Eukumene Lantai 5, Mal Artha Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara ini menghadirkan suasana yang hangat sekaligus membangkitkan rasa cinta tanah air.

Pdt. Gilbert Lumoindong menerima Plakat dari Panitia

Sejumlah narasumber  tampil memberikan wawasan strategis, di antaranya: Direktur Bela Negara Kemenhan RI Brigjen TNI G. Eko Sunarto, S.Pd, M.Si; Guru Besar Universitas Pertahanan Kol. Sus. Prof. Dr. Drs. Mhd. Halkis, MH; Kasubdit Penyuluhan Ditjen Bimas Kristen Effendy Hutabarat, M.Th (mewakili Dirjen Bimas Kristen Jeane Tulung); serta Pdt. Dr. Gilbert Lumoindong, M.Th yang memandu diskusi sebagai moderator.

 

Seminar ini  dihadiri  sekitar 500 peserta yang terdiri dari para tokoh agama, pendeta, ketua sinode, gembala sidang, akademisi, aktivis gereja lintas denominasi, hingga tokoh masyarakat.

Acara dibuka dengan ibadah singkat yang dipimpin langsung oleh Pdt. Dr. Japarlin Marbun, dilanjutkan dengan  lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Bela Negara, dan Mars BamagNas. Suasana semakin meriah ketika panggung dihiasi tarian-tarian nusantara oleh mahasiswa STT Samuel Elisabeth Jakarta, mulai dari tarian Betawi yang enerjik, tarian Bali yang anggun, tarian Batak yang penuh semangat, hingga tarian Papua yang membakar jiwa persaudaraan.

Ka-ki: Brigjen TNI G Eko Sunarto memukul gong sebagai tanda meresmikan seminar Bela Negara  didampingi Dr.Eli Brigitta Purba, Ketum DPP Bamagnas Pdt.Dr. Japarlin Marbun, Ketua Panitia Pdt. Imanuel Pangaibali, S.Th, SH, MH dan Ketua Bamagnas- DKI Jakarta, Pdt.Dr.Elider Tampubolon, di STT Eukumene lt.5 MAG Kelapa Gading, Kamis (14/8/25).

Mewakili Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsuoeddin yang berhalangan hadir, Brigjen TNI G. Eko Sunarto secara resmi membuka seminar dengan memukul gong tiga kali—sebuah simbol dimulainya tekad bersama untuk menghidupkan semangat bela negara. Ia didampingi Ketum DPP Bamagnas Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Ketua Bamagnas DKI Jakarta Pdt. Dr. Elider Tampubolon, Ketua Panitia Pdt. Imanuel Pangaibali, S.Th, SH, MH, dan Dr. Eli Brigitta Purba.

Cinta Tanah Air dan Patriotisme Harus Jadi Nafas Bangsa

Direktur Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI G. Eko Sunarto, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa pembinaan kesadaran bela negara merupakan kunci pertahanan dan keamanan bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Menurutnya, kesadaran bela negara bukan sekadar kewajiban militer, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh warga negara tanpa terkecuali. “Bela negara adalah sikap, perilaku, dan tekad warga negara yang dilandasi kecintaan kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945, dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara,” ujarnya.

Brigjen Eko memaparkan lima nilai dasar bela negara yang harus dihayati setiap warga: cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta memiliki kemampuan awal bela negara. Nilai-nilai ini, kata dia, merupakan bagian dari soft power Indonesia yang berperan mempertahankan eksistensi bangsa di tengah ancaman ideologi, informasi, hingga infiltrasi budaya.

Strategy soft power ini membangun ketahanan nasional dari akar, yaitu masyarakatnya. Sejarah menunjukkan, negara yang kuat adalah negara yang warganya memiliki nasionalisme dan patriotisme yang tinggi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap kedaulatan tidak selalu berbentuk serangan fisik. Perang pola pikir (mindset) dan perang informasi menjadi tantangan baru, di mana fitnah, hoaks, dan propaganda dapat merusak persatuan bangsa jika tidak diwaspadai.

Dalam kesempatan tersebut, Brigjen Eko mengutip pepatah kuno dari Vegetius Renatus, Si Vis Pacem Para Bellum — “Jika kau menghendaki perdamaian, bersiaplah untuk perang.” Ungkapan ini, katanya, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan mental, fisik, dan intelektual seluruh elemen bangsa. “Prajurit sejati tidak menginginkan pertempuran, tetapi selalu siap bertempur jika dibutuhkan. Begitu pula bangsa yang besar, tidak mencari konflik, namun selalu siap menghadapi ancaman demi menjaga kedamaian dan keutuhan negara,” ungkapnya.

Menumbuhkan & Memperkuat Kesadaran Masyarakat Dalam Bela Negara 

Dalam kata sambutannya, Ketua Panitia Seminar Bela Negara, Pdt. Imanuel Pangaibali, S.Th, SH, MH mengungkapkan, bahwa, bangsa Indonesia saat ini berada di titik krusial sejarah. Menuju 100 tahun kemerdekaan pada 2045, negeri ini dihadapkan pada berbagai tantangan sekaligus peluang besar. Visi Indonesia Emas bukan sekadar cita-cita di atas kertas, melainkan membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda.

Pdt. Imanuel menegaskan, seminar ini bertujuan menumbuhkan dan memperkuat kesadaran bela negara di tengah masyarakat, khususnya di kalangan umat beragama. “Dalam situasi dan tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, dibutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen bangsa untuk mempertahankan kedaulatan negara, menjaga persatuan, dan memperkokoh ketahanan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua BamagNas DKI Jakarta, Pdt. Dr. Elider Tampubolon, menekankan bahwa Bela Negara bukan hanya soal mengangkat senjata atau berperang. “Bela Negara mencakup kesadaran, semangat, dan tindakan nyata menjaga keutuhan bangsa dan negara. Di era digital, hal itu bisa diwujudkan dengan menjaga ideologi yang diwariskan para pendiri bangsa,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada 2045. “Untuk mencapainya, kita membutuhkan generasi muda yang cerdas, tangguh, berkarakter, dan cinta tanah air, sambil mewaspadai gerakan intoleransi yang kembali bergerak,” tegasnya.

Pdt. Elider juga mengajak gereja dan ormas Kristen untuk menjadi mitra pemerintah dalam membangun generasi emas. “Tidak cukup hanya berdoa atau mengkritisi. Kita harus terjun menyampaikan program-program pemerintah, membentuk generasi unggul, berkarakter, dan saling menghargai perbedaan,” tandasnya.

Lawan Intoleransi Dengan Semangat Bela Negara 

Ketua Umum DPP  BamagNas Pdt. Dr. Japarlin Marbun, M.Pdk, mengingatkan bahwa semangat bela negara bukan hanya urusan mengangkat senjata, tetapi juga mempertahankan nilai kebangsaan, persatuan, dan kebebasan beribadah yang dijamin konstitusi.

Dalam seminar bela negara, ia menyoroti ancaman nyata yang kini dihadapi umat Kristen di Indonesia—bangkitnya intoleransi beragama di berbagai daerah. “Penutupan gereja, pembubaran ibadah—semua ini bukan sekadar berita di media sosial, tapi fakta yang kita alami dan saksikan sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi ini terjadi di tengah dunia yang sedang bergolak, di mana arus globalisasi dan pergerakan internasional ikut mengikis nilai nasionalisme. “Kita perlu menghidupkan kembali rasa bela negara agar kita dapat tinggal di Indonesia ini dalam keadaan nyaman, aman, dan penuh sukacita,” ujarnya.

Mengutip Yeremia 29:7, “Usahakanlah kesejahteraan kota dan bangsa di mana kamu tinggal…”, Pdt. Japarlin menegaskan bahwa iman harus diimplementasikan dalam tindakan nyata untuk membangun bangsa. “Jika setiap orang berkomitmen menjaga persatuan dan menolak intoleransi, Indonesia akan semakin hari semakin baik dan sejahtera. Semangat bela negara ini tidak boleh padam,” pungkasnya.

Dengan perpaduan nilai iman dan nasionalisme, seminar ini menjadi momentum penting bagi umat Kristen dan seluruh elemen bangsa untuk meneguhkan komitmen menjaga persatuan, merawat toleransi, dan membangun masa depan Indonesia yang sejahtera.SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60