JAKARTA,Victoriousnews.com,-Setiap bulan Desember tiba, jutaan umat Kristiani di seluruh penjuru dunia ini pasti disibukkan dengan perayaan Natal—merayakan hari kelahiran sang Juruselamat. Pernik-pernik dan ornamen bernuansa Natal pun sudah tampak menghiasi perkantoran, mal, perumahan, gereja, dan fasilitas publik—seolah menambah suasana Natal semakin semarak. Lalu bagaimana sebenarnya umat Kristiani memaknai Natal di tengah Pandemi Corona yang mewabah secara global?

Menurut Ketua Harian Badan Interaksi Sosial Masyarakat (BISMA), Dr. John N Palinggi.,M.BA, bahwa Makna Natal itu tidak berubah sejak kelahiran Yesus Kristus sampai sekarang dan seterusnya. “Makna natal sesungguhnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan pandemi covid-19, bencana alam maupun kerusuhan. Sebab ada atau tidak kesengsaraan, kepahitan, dan kesenangan sekalipun, makna Natal itu sama. Sama artinya, yaitu sebagai tanda kasih sayang Tuhan kepada umat manusia. Kata pertama yang tercetus oleh malaikat kepada gembala, ‘kamu jangan takut’, karena Aku menyertai kamu. Jadi orang Kristen yang percaya Yesus, tidak perlu takut kepada segala sesuatu termasuk pandemi corona saat ini. Karena kalau takut itu melanggar firman Tuhan. Dan orang yang melanggar firman Tuhan itu pendosa,” tutur John.

Dr. John N Palinggi., MBA (Ketua Harian BISMA)

John berpesan, di tengah pandemi covid-19 ini, umat Kristiani tidak usah berlebihan dalam merayakan Natal. “Rayakan Natal biasa saja. Jangan berlebihan, hiruk pikuk, dan jangan merayakan natal besar-besaran. Yesus saja lahir di Palungan kok. Kenapa kita mesti merayakan besar-besaran?. Kita jangan sok mewah merayakannya. Kita harus teladani sikap Tuhan Yesus, karena DIA dilahirkan di Palungan, di kandang domba. Oleh karena itu memaknai Natal harus bersumber di dalam hati kita. Kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Kalau kita rayakan Natal terus menerus, tetapi kelakuan busuk, ya sia-sia. Tidak rukun dengan sesama, tidak toleran dengan sesama, ya sia-sia. Sudah semestinya, memaknai Natal itu justru memacu kita untuk produktif. Jangan menjadi orang yang tergantung kepada orang lain. Mengemis sana-sini atau menjadi pemalas dan jangan numpang makan terus di keluarga,” ungkap John.

See also  Pdt. Gomar Gultom & Pdt. Jacky Manuputty Pimpin PGI Periode 2019 sd 2024

John berharap, dalam merayakan Natal tahun 2020 ini umat Kristiani dapat menyesuaikan diri dengan tantangan-tantangan dan kesulitan hidup yang ada. “Termasuk merayakan Natal di tengah pandemi Covid-19 saat ini, harus menyesuaikan diri. Tentu saja kita harus menghormati pemerintah, yaitu menjalankan protokol kesehatan. Kuncinya adalah kita harus taat kepada pemerintah, produktivitas, jangan takut dan rayakan Natal secara sederhana. Jika Natal dirayakan dalam keluarga itu kan lebih bermakna,” ujarnya.

Lanjut John,menyambut tahun 2021, umat Kristiani harus tetap kuat dan berpengharapan kepada Tuhan. “Karena tahun 2021 itu tantangannya akan lebih berat. Bayangkan saja, pandemi covid ini, memicu perputaran ekonomi akan melambat dan dampaknnya akan negatif kepada semua orang. Makanya kita harus kuat dan penuh pengharapan. Bahwa Tuhan akan menolong. Syarat menyambut tahun 2021, kita harus menjadi orang benar dan berubah ke arah yang lebih baik,” pungkas John yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang dan Distributor Indonesia (ARDIN). SM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *