Wakil Ketua BPD GBI Jakarta, Pdt. Sapto Edhi Rahardjo: Puasa dalam Kekristenan Itu Menguatkan Iman & Menghidupi Kasih

banner 468x60

JAKARTA,VictoriousNews.com– Puasa dalam kekristenan bukanlah tradisi musiman yang dilakukan sekadar mengikuti momentum tertentu. Puasa adalah disiplin rohani yang lahir dari kesadaran iman, bukan karena arus atau kebiasaan. Hal itu ditegaskan Wakil Ketua Badan Pekerja Daerah Gereja Bethel Indonesia (BPD GBI) DKI Jakarta, Pdt. Sapto Edhi Rahardjo.

Menurutnya, puasa orang Kristen bukanlah sekadar menahan lapar dan haus selama 30 hari karena mengikuti suasana religius tertentu. “Puasa dalam kekristenan adalah tindakan sadar untuk menahan diri—baik dari makanan maupun aktivitas tertentu—demi memfokuskan diri pada perkara-perkara rohani seperti doa, pertobatan, pengampunan Tuhan, dan mengampuni sesama,” ujarnya.

Puasa yang Dikehendaki Tuhan

Dalam Perjanjian Lama, makna puasa ditegaskan secara tajam melalui nabi dalam Kitab Yesaya 58:5–7. Di sana Tuhan menolak puasa yang hanya bersifat ritual tanpa perubahan hati. Puasa yang dikehendaki-Nya adalah puasa yang membebaskan orang dari penindasan, melepaskan belenggu ketidakadilan, membagi roti kepada yang lapar, dan memberi tumpangan kepada yang miskin.

Artinya, puasa bukan hanya perkara tidak makan dan tidak minum, melainkan keberpihakan kepada yang lemah. Puasa adalah tindakan kasih yang nyata. Ia membentuk kepekaan sosial sekaligus kedalaman spiritual.

Teladan Para Tokoh Alkitab

Alkitab mencatat banyak tokoh iman yang menjadikan puasa sebagai bagian penting dari perjalanan rohani mereka.

>>Tuhan Yesus berpuasa selama 40 hari sebelum memulai pelayanan-Nya (Matius 4). Dalam kondisi lapar, Ia berkata, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Puasa menjadi persiapan rohani untuk menghadapi pencobaan dan menjalankan panggilan.

>>Nabi Daniel menjalani puasa dengan tidak memakan santapan raja, melainkan hanya sayur dan air (Daniel 1, 10). Puasa ini kemudian dikenal sebagai “Puasa Daniel”.

>>Ratu Ester mengajak bangsanya berpuasa tiga hari sebelum ia menghadap raja untuk menyelamatkan umatnya (Ester 4). “Puasa Ester” menjadi simbol penyerahan total di tengah ancaman besar.

>>Musa berpuasa 40 hari ketika menerima hukum Tuhan di Gunung Sinai (Keluaran 34). “Semua itu menunjukkan bahwa puasa dilakukan oleh orang-orang pilihan Tuhan dalam momen-momen genting dan menentukan,” jelas Pdt. Sapto.

Ragam Metode Puasa Tapi Satu Tujuan

Dalam praktiknya, metode puasa bisa beragam, tergantung pengajaran gereja atau sinode. Di lingkungan GBI, jemaat mengenal beberapa bentuk puasa seperti puasa Ester (tidak makan dan minum dalam waktu tertentu), puasa Daniel (pantang makanan tertentu), atau puasa sebagian dengan membatasi frekuensi makan.

Namun ia menekankan, metode bukanlah inti. Yang terutama adalah tujuan: mengalahkan keinginan daging dan memusatkan hati pada Tuhan. “Puasa membantu kita memindahkan fokus dari hal-hal duniawi kepada perkara-perkara rohani,” katanya.

Ia juga menyinggung ayat dalam Injil Matius 17:21, yang menyebut bahwa ada jenis persoalan rohani yang tidak dapat diatasi kecuali dengan doa dan puasa. Dalam kondisi tertentu—baik pergumulan berat, tekanan hidup, bahkan pergumulan melawan kuasa gelap—puasa menjadi sarana pendalaman iman.

Disiplin Rohani dan Manfaat Jasmani

Menariknya, Pdt. Sapto juga membagikan pengalaman pribadinya. Selain untuk pertumbuhan rohani, ia merasakan manfaat kesehatan dari puasa. Dengan mengatur pola makan dan memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat, kondisi kesehatannya kerap membaik tanpa harus bergantung pada obat.

Namun ia mengingatkan, motivasi utama tetaplah rohani. Puasa bukan diet secara jasmani melainkan penyerahan diri total kepada Tuhan.  Dalam keadaan lapar, manusia belajar bahwa hidupnya bukan bergantung pada kenikmatan dunia, melainkan pada firman dan janji Tuhan.

Seruan bagi Orang Percaya

Puasa, lanjut Pdt. Sapto, adalah kebutuhan orang percaya—bukan kewajiban formal, apalagi ikut-ikutan. Ada saat-saat di mana manusia tidak mampu mengatasi persoalan dengan kekuatannya sendiri. Dalam kondisi demikian, puasa menjadi jalan untuk merendahkan diri, mencari wajah Tuhan, dan mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya.

Ketika dunia menawarkan berbagai distraksi dan kenikmatan, puasa menjadi tindakan perlawanan rohani. Ia mengajar penguasaan diri, memperdalam keintiman dengan Tuhan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. “Puasa itu perlu dan sangat penting bagi orang percaya. Kita mengambil waktu untuk berpuasa dalam situasi-situasi tertentu, supaya kita semakin peka, semakin dekat, dan semakin teguh memegang janji-janji Tuhan,” pungkasnya. SM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60