JAKARTA,VictoriousNews.com — Sinode Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN) menetapkan Pulau Bali sebagai lokasi perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 yang akan digelar pada 16–18 Juni 2026. Momentum bersejarah ini dipastikan berlangsung di Desa Blimbingsari,Melaya- Jembrana, Bali, sekaligus dirangkaikan dengan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) nasional.
Keputusan tersebut terungkap dalam rapat pimpinan yang dihadiri Ketua Umum GBIN Pdt. Dr. Melianus Kakiay, Sekretaris Umum Pdt. Roy Nayoan, Sekretaris I Pdt. Agus Samalle, Ketua DPD GBIN Jakarta Pdt Jeremias Panggabean, serta penasihat Pdt. Dr. Berty Momor. Sementara itu, Pdt Benny Kurniawan ketua II dari Blitar dan Pdt Noldi dari Bali, mengikuti jalannya rapat secara daring, Kamis (19/2/2026).
Rapat terbatas yang digelar secara hybrid tersebut dipimpin Pdt. Agus Samalle selaku sekretaris panitia, mewakili Ketua Panitia Pdt. John Lokolo yang berhalangan hadir. “Sejauh ini panitia telah menyusun proposal pencarian dana, menyiapkan iklan running text di videotron, merancang kebutuhan anggaran, serta membentuk kepanitiaan lokal sebagai tuan rumah,” ujar Pdt. Agus.
Sekum GBIN Pdt. Roy Nayoan menambahkan bahwa draf rundown atau susunan acara telah dirancang dan akan segera disempurnakan. “Kami membuka ruang untuk masukan agar acara ini semakin matang dan berdampak luas,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketum GBIN Pdt. Dr. Melianus Kakiay menegaskan perayaan HUT ke-3 ini akan dihadiri para pejabat dan pelayan GBIN dari seluruh Indonesia. “Jumlah pejabat GBIN saat ini tercatat 164 orang di seluruh Indonesia. Kami berharap semuanya dapat hadir,” tegasnya.
Pdt. Melianus juga membeberkan tema yang diangkat dalam HUT ke-3 sekaligus KKR GBIN adalah “Dikuatkan, Dipersatukan & Diperluas” (KPR 2:42-47). “Kita berdoa agar seluruh rangkaian acara berjalan baik dan nama Tuhan ditinggikan di Pulau Bali,” ungkapnya.
Jaga Sikap, Jangan Jadi “Party Popper”
Sebelum rapat dimulai, suasana diperkaya dengan renungan singkat yang disampaikan penasihat GBIN, Pdt. Dr. Berty Momor. Ia mengangkat istilah informal bahasa Inggris, party pooper—yang ia sebut sebagai sikap “party popper”—yakni seseorang yang merusak suasana sukacita dalam sebuah perayaan karena sikap negatif dan tidak antusias. “Mereka sering kali bersikap negatif, enggan berpartisipasi, sehingga membuat suasana menjadi canggung,” tutur Pdt. Berty.
Ia kemudian mengajak peserta merenungkan firman Tuhan dalam Ester 5:14. Haman, yang sedang berada di puncak kehormatan karena diundang dalam jamuan Ratu Ester, justru kehilangan sukacitanya hanya karena satu hal kecil: Mordekhai tidak sujud kepadanya.
“Hati yang dipenuhi iri dan ego mudah menjadi party pooper dalam hidup sendiri maupun orang lain,” tandasnya.
Menutup renungan dengan kutipan Roma 12:15, Pdt. Berty menegaskan bahwa orang yang hidup dalam Tuhan dipanggil untuk menjaga damai dan menahan diri. “Orang yang hatinya penuh iri akan selalu menemukan alasan untuk merusak suasana. Tetapi orang yang hidup dalam Tuhan akan memilih mengampuni, menjaga persatuan, dan membangun sukacita bersama,” pungkasnya.
Sekilas Desa Blimbingsari: Desa Wisata Terbersih & Mayoritas Kristen
Desa Blimbingsari dikenal sebagai desa wisata terbersih di Bali sekaligus desa Kristen yang unik dan memikat. Mayoritas—sekitar 99 persen—warganya memeluk Kristen Protestan, namun denyut adat dan budaya Bali tetap terasa kuat dalam setiap sudut kehidupan.
Desa wisata berbasis masyarakat ini tampil rapi, hijau, dan sangat bersih. Tata ruangnya dirancang berbentuk salib, menjadi simbol iman yang menyatu dengan kearifan lokal. Keunikan semakin nyata lewat bangunan gereja berarsitektur Bali, lengkap dengan ukiran khas yang memancarkan harmoni antara tradisi dan kekristenan.
Keramahan warga serta lingkungan yang asri menjadikan Blimbingsari destinasi favorit wisatawan. Tercatat sekitar 85 homestay milik warga siap menyambut tamu dengan kehangatan keluarga. Tak hanya itu, desa ini juga memiliki air terjun indah yang mudah diakses kendaraan bermotor, menambah daya tarik alamnya.
Blimbingsari bukan sekadar tujuan wisata, melainkan potret indah toleransi, kebersamaan, dan perpaduan iman dengan budaya yang hidup dalam keseharian SM


















