JAKARTA,VictoriousNews com – Pengamat militer dan intelijen Dr. John N. Palinggi, MM, MVA menegaskan bahwa setiap peperangan pada dasarnya tidak pernah menghasilkan pemenang sejati. Yang tersisa justru kerusakan besar, dendam berkepanjangan, serta kehancuran infrastruktur dan aset negara.
Menurutnya, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukanlah persoalan baru. Akar masalahnya telah berlangsung lama dan sarat kepentingan geopolitik.
“Dalam peperangan tidak ada yang benar-benar menang atau kalah. Yang ada adalah sisa-sisa perang berupa kehancuran infrastruktur, kerugian ekonomi, dan munculnya dendam berkepanjangan,” ujar Pria kelahiran 1 Juni yang pernah mengajar di Lemhanas.
Perebutan Sumber Daya di Balik Konflik
John Palinggi menilai, di balik konflik militer kerap tersembunyi perebutan sumber daya strategis seperti mineral dan energi. Hal ini menurutnya sering menjadi faktor utama yang jarang terlihat di permukaan.
Ia mencontohkan berbagai intervensi militer yang pernah dilakukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seperti di Irak, Suriah, dan Kuwait. Bahkan dalam kasus lain, menurutnya, dinamika geopolitik juga terlihat saat ketegangan terjadi di Venezuela.
“Di balik konflik sering ada pembicaraan lain yang tidak terlihat publik. Bisa saja negara-negara besar berbeda di permukaan, tetapi pada akhirnya memiliki kepentingan yang sama, misalnya soal pembagian sumber daya,” katanya.
Perang Modern Berlapis: Dari Psikologi hingga Teknologi
John menjelaskan bahwa perang modern tidak selalu dimulai dengan tembakan senjata. Ia menyebut ada beberapa tingkatan perang yang kerap terjadi secara berlapis.
Pertama adalah perang psikologi, yakni penyebaran informasi atau propaganda yang bertujuan memengaruhi opini publik.
Kedua, perang dagang, yang terlihat melalui kebijakan tarif atau tekanan ekonomi antarnegara.
Ketiga, perang mata uang, yang berdampak pada nilai tukar dan stabilitas ekonomi suatu negara.
Keempat, perang teknologi dan persenjataan modern.
Sementara tingkat paling berbahaya adalah perang senjata biologi, yang menurutnya berpotensi menimbulkan korban sangat besar jika benar-benar digunakan.
“Banyak informasi yang beredar seolah-olah pasti benar. Padahal dalam perang, informasi sering kali bagian dari strategi psikologis,” jelasnya.
Kritik terhadap Analisis Spekulatif di Media Sosial
Sebagai pengamat Militer, John juga menyoroti maraknya analisis perang di media sosial yang menurutnya sering tidak didukung informasi valid.
Ia mengingatkan bahwa konflik bersenjata sangat bergantung pada operasi intelijen yang biasanya bersifat rahasia. Karena itu, klaim mengenai kehancuran suatu negara atau kematian tokoh tertentu sering kali tidak dapat diverifikasi dengan cepat. “Peperangan itu tidak pernah diumumkan secara terbuka soal strategi, jenis senjata, atau operasi intelijen. Banyak orang hanya membaca informasi di media sosial lalu langsung memberi analisis,” ujarnya.
Ia menilai hal tersebut berpotensi menyesatkan masyarakat jika tidak disertai kehati-hatian dan verifikasi yang kuat.
Seruan Menghormati Kepemimpinan Nasional
Dalam konteks dalam negeri, John juga mengingatkan agar diskursus publik tetap menghormati kepemimpinan negara. Ia menilai kritik boleh disampaikan, tetapi harus melalui mekanisme yang tepat dan tetap menjaga etika.
Menurutnya, keputusan strategis negara berada di tangan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
“Jika ada aspirasi atau kritik, salurkan melalui mekanisme resmi seperti DPR. Jangan sampai ruang publik dipenuhi narasi yang merendahkan kepala negara,” katanya. SM


















